NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Naga

Kembalinya Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Tapak Naga dan Hancurnya Awan

Arena batu yang luas itu masih diselimuti sunyi yang mencekam setelah ujung pedang kayu Wang Long berhenti tepat di depan jakun Sue Lie Ceng. Angin gunung berembus pelan, membawa hawa dingin yang menusuk, membuat jubah putih ratusan murid yang menonton berkibar ringan seperti barisan nisan di pemakaman.

Sue Lie Ceng berdiri kaku. Selama beberapa detik, dunianya seolah berhenti berputar. Namun, rasa malu yang membakar batinnya lebih tajam daripada rasa takut. Perlahan, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat di pelipisnya menegang, berdenyut keras mengikuti detak jantung yang dipenuhi amarah.

“Belum selesai!” geramnya dengan suara parau.

Wang Long menurunkan pedang kayunya dengan gerakan santai, seolah senjata itu hanyalah ranting pohon biasa. “Apa lagi yang ingin kau buktikan?” tanyanya pelan, matanya menatap lurus tanpa kebencian.

Sue Lie Ceng tertawa pendek, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi harga dirinya yang terluka. “Barusan aku hanya bermain-main. Aku belum benar-benar menggunakan kekuatanku!”

Beberapa murid di pinggir arena saling berpandangan dengan ragu. Bermain-main? Padahal semua orang melihat betapa ia terdesak tadi. Wajah Sue Lie Ceng memerah padam, aura putih di sekujur tubuhnya mulai bergetar tidak stabil, menandakan emosi yang mengacaukan kontrol tenaga dalamnya.

Di balkon atas, Ketua Perguruan Awan Putih mengernyitkan dahi. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres. “Sue Lie Ceng, cukup! Ujian ini sudah selesai!” seru sang Ketua dengan wibawa yang menekan.

Namun, Sue Lie Ceng seolah tuli. Ia melangkah mundur beberapa langkah, menciptakan jarak. Matanya berubah menjadi sangat tajam, dipenuhi ambisi gelap untuk menang. “Jika kau benar-benar sang naga, hadapi aku dengan kekuatan penuhmu!”

Wang Long menghela napas pendek, menatap lawan bicaranya dengan ketenangan yang tak tergoyahkan. “Kau ingin lanjut?”

“Ya!”

“Dengan risiko apa pun?”

Sue Lie Ceng menggertakkan giginya hingga berbunyi. “Dengan risiko apa pun!”

Wang Long mengangguk ringan, sorot matanya berubah menjadi sangat serius. “Terserah risiko. Jangan salahkan orang lain nanti.” Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke batin lawan. “Karena itu adalah keinginan Tuan sendiri.”

Kalimat itu sederhana, namun mengandung bobot yang membuat beberapa tetua di balkon atas saling melirik dengan cemas. Mereka tahu, saat seorang pendekar tingkat tinggi melepaskan peringatan seperti itu, maut biasanya sedang mengintai di baliknya.

Sue Lie Ceng menarik napas dalam-dalam. Tangannya bergerak cepat membentuk segel rahasia. Aura putih di sekelilingnya tiba-tiba berubah warna menjadi kelabu gelap. Langit di atas arena yang tadinya cerah, perlahan-lahan tertutup oleh awan tipis yang bergerak memutar secara ghaib.

Salah satu tetua berdiri dari kursinya dengan wajah pucat. “Itu… tidak mungkin… dia berani menggunakan jurus itu?”

Sue Lie Ceng merapal mantra dengan suara berat yang menggetarkan udara. “Ilmu Puncak Awan Putih…” Angin mendadak berputar menjadi badai kecil di tengah arena. “Awan Hitam Hujan Larva — Tingkat Sembilan!”

Sekejap kemudian, langit di atas arena berubah menjadi kelabu pekat yang menyesakkan.

Titik-titik cahaya merah membara muncul dari balik awan, menyerupai hujan yang turun dengan deras. Namun, itu bukan air.

Itu adalah butiran tenaga dalam murni berwarna merah yang bergetar hebat seperti larva api yang siap meledak. Aura panas yang luar biasa menyengat mulai turun, membuat beberapa murid di barisan depan mundur ketakutan.

Belum selesai sampai di situ. Sue Lie Ceng meraung keras, otot-otot di tubuhnya mengembang secara tidak wajar akibat paksaan tenaga dalam yang masif. “Dan… Singa Awan Putih!”

Di belakang tubuhnya, muncul bayangan raksasa sesosok singa putih berukuran tiga kali tubuh manusia.

Matanya menyala merah terang, dan surainya berkibar-kibar menyerupai awan badai. Gabungan dua ilmu puncak. Sebuah teknik terlarang yang jarang sekali disentuh karena risikonya yang mematikan bagi pengguna.

Ketua perguruan berdiri dengan wajah murka bercampur cemas. “Bodoh! Menggabungkan dua jurus puncak secara paksa akan merusak meridianmu selamanya!”

Namun, seruan itu sudah terlambat. Hujan larva merah mulai menghujam bumi. Setiap butir yang menghantam lantai batu marmer meninggalkan lubang kecil yang berasap dan meleleh.

Bayangan singa raksasa itu mengaum keras, getarannya membuat seluruh bangunan di sekitar arena bergetar hebat.

Semua mata kini tertuju pada Wang Long. Pemuda itu masih berdiri mematung di tengah gempuran suhu panas yang ekstrem.

Pedang kayu yang ia pegang tadi kini telah ia letakkan dengan tenang di lantai batu. Tangannya kosong.

Sin Yin menyilangkan tangan di dada, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang dingin. “Benar-benar orang bodoh…” gumamnya.

Yue Lan yang berdiri di sisi lain tersenyum malas sembari memilin ujung rambutnya. “Dia terlalu bodoh karena memaksa naga untuk membuka satu sisiknya saja.”

Di tengah arena yang berguncang, Wang Long memejamkan mata. Ia mulai mengalirkan tenaga dalamnya.

Gerakannya tidak liar, tidak meledak-ledak, melainkan mengalir dengan ritme yang agung seperti sungai hangat yang meluap.

Jurus Tapak Naga Sembilan Matahari — Tingkat Tiga.

Ia hanya menggunakan lima puluh persen tenaga dalamnya. Baginya, itu sudah cukup. Ia tidak ingin membunuh, hanya ingin menghentikan kegilaan ini.

Aura emas tipis mulai muncul menyelimuti telapak tangan kanannya; terang, hangat, namun sangat terkontrol.

Sue Lie Ceng mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke arah langit. “Singa! Hancurkan dia sekarang juga!”

Bayangan singa raksasa itu meluncur menerkam, bersamaan dengan jatuhnya hujan larva merah yang semakin deras.

Langit dan bumi seolah-olah hendak menjepit tubuh Wang Long hingga hancur. Beberapa murid menutup mata mereka, tak sanggup melihat pemuda itu tercabik-cabik.

Namun Sin Yin dan Yue Lan tidak berkedip sedikit pun.

Wang Long membuka matanya. Sangat tenang. Ia mengangkat tangan kanannya ke depan dalam satu gerakan dorongan yang sangat sederhana.

BOOOOM!

Seketika, bayangan naga keemasan yang agung muncul dari lengannya, berputar-putar dengan kecepatan cahaya.

Tubuh naga itu panjang dan berkilau seperti emas cair yang baru mendidih, dengan mata yang menyala terang penuh wibawa purba. Naga itu melesat maju dengan kekuatan yang tak bisa dibayangkan.

Hujan larva merah itu hancur berantakan bahkan sebelum menyentuh jubah Wang Long.

Butiran energi merah itu lenyap tak bersisa seperti debu yang tersapu badai. Singa putih raksasa itu menerjang maju, mencoba mencengkeram, namun saat cakarnya menyentuh tubuh naga emas—

KRAAAK!

Singa itu hancur berkeping-keping seperti bayangan kaca yang dihantam palu godam. Energi putihnya terpecah menjadi butiran cahaya yang padam seketika. Naga emas itu tidak berhenti. Ia melesat lurus menghantam tubuh Sue Lie Ceng.

Ledakan tenaga dalam yang dihasilkan menyapu seluruh permukaan arena. Lantai batu marmer retak dan hancur membentuk pola lingkaran raksasa yang dalam.

Tubuh Sue Lie Ceng terpental hebat seperti daun kering yang diterpa badai gurun. Ia melayang jauh melewati batas arena, menghantam sebuah batu besar berukir lambang Perguruan Awan Putih yang berdiri kokoh di belakang arena.

BOOM!

Batu lambang setinggi manusia itu hancur menjadi serpihan kecil. Debu putih beterbangan menutupi pandangan.

Sunyi kembali menguasai tempat itu. Hujan merah telah lenyap. Awan hitam di langit buyar seketika, mengembalikan sinar matahari yang cerah.

Wang Long menurunkan tangannya perlahan, membiarkan sisa aura naga emas memudar ke udara. Ia berdiri tegak seperti semula, napasnya tetap teratur seolah ia tidak baru saja menghancurkan jurus puncak seorang pendekar inti.

Semua orang ternganga. Beberapa murid bahkan jatuh terduduk, kaki mereka lemas menyaksikan kekuatan yang baru saja dilepaskan. Salah satu tetua di balkon berbisik dengan suara gemetar, “Itu… baru lima puluh persen?”

Sin Yin tertawa kecil melihat kebisuan massal itu. “Sudah kubilang, bukan?”

Yue Lan hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan, tertawa puas melihat kehancuran yang "estetik" itu.

Di balik puing-puing batu lambang, Sue Lie Ceng bergerak sedikit. Perlahan, ia berusaha bangkit.

Seluruh tubuhnya tertutup debu putih. Namun, anehnya, tidak ada darah yang mengalir dari bibirnya. Ia menyentuh dadanya, meraba tulang-tulangnya. Tidak ada yang patah. Tidak ada luka luar yang berarti.

Ia tertawa getir. “Hahaha… luar biasa… kau memang kuat, Wang Long…”

Beberapa murid menghela napas lega, bersyukur karena rekan senior mereka tidak tewas.

Sue Lie Ceng berdiri tegak, wajahnya pucat namun ia memaksakan sebuah senyum bangga karena merasa telah selamat dari maut. Ia mencoba mengerahkan kembali tenaga dalamnya untuk membersihkan debu di jubahnya.

Tangannya membentuk segel. Ia menunggu aliran hangat merambat di nadinya.

Diam.

Ia mengerutkan kening. Mencoba lagi dengan konsentrasi penuh. Napasnya mulai memburu, keringat dingin membanjiri dahinya. “Apa… apa yang terjadi?”

Ia mencoba memusatkan seluruh kesadarannya ke titik dantian. Kosong. Tidak ada aliran energi.

Tidak ada aura putih yang biasa menari di ujung jarinya. Ia mencoba sekali lagi dengan paksa hingga tubuhnya gemetar. Hasilnya tetap sama.

Wajah Sue Lie Ceng berubah menjadi pucat pasi. Matanya gemetar hebat saat ia menatap Wang Long. “Apa… apa yang kau lakukan padaku?!”

Wang Long menjawab dengan nada datar yang menusuk batin. “Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya memutus jalur tenaga dalam yang tadi kau paksa sendiri melampaui batas.”

Sue Lie Ceng terhuyung mundur. “Tidak… tenaga dalamku… di mana tenaga dalamku?!”

Ia mencoba berteriak, mengerahkan tenaga ke perutnya. Kosong. Sunyi. Dantian-nya kini terasa seperti wadah keramik yang telah retak seribu, tak mampu lagi menampung setetes pun energi batin. Ia terjatuh berlutut, menatap telapak tangannya sendiri yang kini terasa asing.

“Aku… aku tak merasakan apa pun…” rintihnya.

Salah satu tetua melompat turun dari balkon dengan cepat, memeriksa denyut nadi dan aliran meridian Sue Lie Ceng. Wajah sang tetua seketika berubah menjadi kelabu. “Meridian utama… hancur total.”

Seluruh arena membeku mendengar vonis itu.

“Dia… dia telah menjadi orang biasa selamanya…” bisik salah seorang murid dengan nada ngeri.

Sue Lie Ceng terduduk lemas di atas tanah. Ia tertawa kecil, namun kali ini suaranya terdengar kosong, tanpa jiwa. “Aku… hanya manusia biasa sekarang…”

Wang Long menatapnya tanpa ada sedikit pun rasa benci atau bangga.

“Kau sendiri yang memilih risiko itu sejak awal. Kau memilih untuk menghancurkan dirimu demi ambisi sesaat.”

Angin gunung kembali berembus dingin, membawa keheningan yang menyesakkan.

Ketua Perguruan Awan Putih turun perlahan ke tengah arena yang telah hancur. Ia berdiri di depan puing-puing batu lambang perguruannya yang kini menjadi kerikil. Lalu, ia menatap Wang Long dalam-dalam.

“Kau menghancurkan simbol kebanggaan kami, Wang Long,” ucap sang Ketua dengan suara yang sulit diartikan.

Wang Long menanggapi dengan tenang, matanya menatap puing-puing itu sejenak.

“Simbol yang hancur bisa dibangun kembali dengan batu yang baru.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap sang Ketua tepat di mata.

“Tapi kesombongan yang menghancurkan diri sendiri… itu tidak bisa dibangun kembali.”

Sunyi panjang menyelimuti arena itu. Tak seorang pun murid berani tertawa. Tak seorang pun berani meremehkan pemuda di depan mereka.

Hari itu, sang naga tidak hanya menunjukkan taringnya yang tajam. Ia menunjukkan bahwa belas kasihnya—yang membiarkan musuhnya hidup meski tanpa kekuatan—jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya.

Bersambung....

1
rozali rozali
👍👍👍👍
Idwan Syahdani: makasih... tongkrongin terus ya... lanjutannya.. 🤭🤭
total 1 replies
Idwan Syahdani
siap, malam ini akan ada 2 - 3 bab ya...
rozali rozali
laaanjut lg thor.
Idwan Syahdani: tunggu ya malam ini kita tambah 2 - 3 bab..
total 1 replies
Nanik S
Kenapa tidak ada cincin ruang untuk menaruh pedangnya
Idwan Syahdani: ini bukan novel Kultuvator kakak.. ini novel silat klasik..
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Hadir...cukup menarik
Nanik S
Wang Long ..dimana Mei Lin adiknya
Idwan Syahdani: nanti mereka bertemu saat sama-sama sudah jadi pendekar..
total 1 replies
Idwan Syahdani
aman kak, semua novel akan tamat kok, sabar ya...
Dian Pravita Sari
dlogok cerita kok gak da yg tamat kl blm siap jgn modal. janji dankejar kontrak makan duit pulsa aja di otak yang gak da rasa tanggung jenmenueledaikan cerita
Idwan Syahdani: semua novel akan saya tamatin kok kak... stay cun aja ya...
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, pertama untuk dukung novel barunya.
Idwan Syahdani: makasih kak... pa kabar, nggak ikut di n.v.a kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!