"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Lobi kantor Dirgantara Group mendadak sunyi saat pintu otomatis terbuka. Rangga melangkah masuk dengan setelan jas charcoal yang sangat rapi. Di sampingnya, Alya berjalan dengan anggun, tangannya menggandeng lengan Rangga, sebuah gestur yang terlihat romantis bagi orang luar, namun sebenarnya adalah cara Alya untuk merasakan jika otot Arka mulai menegang karena amarah.
Ini adalah hari pertama Arka kembali menjabat sebagai CEO setelah setahun "cuti medis".
"Selamat pagi, Pak Rangga. Selamat datang kembali," sapa sekretaris barunya, seorang pria paruh baya bernama Pak Danu. Alya sengaja meminta Rangga mempekerjakan pria paru baya untuk menghindari pemicu kecemburuan gila suaminya.
Rangga hanya mengangguk kaku. Matanya menyapu ruangan, memperhatikan setiap karyawan yang menunduk hormat. Alya bisa merasakan denyut nadi Rangga di lengannya berdetak lebih cepat.
"Mas, ingat janji kita? Tarik napas, tetap tenang," bisik Alya sangat pelan saat mereka berada di dalam lift pribadi.
"Mereka menatapku seperti aku ini bom yang siap meledak, Alya," geram Rangga rendah. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. "Aku bisa melihat ketakutan di mata mereka. Itu... itu membuatku ingin memberi mereka alasan untuk benar-benar takut."
Alya segera berdiri di depan Rangga, menghalangi pandangannya ke cermin lift. Ia meletakkan kedua tangannya di pipi Rangga, memaksa pria itu menatap matanya. "Tatap aku, Mas. Hanya aku. Kamu di sini untuk bekerja, untuk membuktikan bahwa kamu sudah berubah. Jangan biarkan kegelapan itu menang hari ini."
Rangga memejamkan mata, mengatur napasnya sesuai instruksi dokter jiwa. Setelah beberapa saat, ia membuka mata dan senyum tipis yang tampak normal kembali muncul. "Hanya karena kamu yang memintanya, Sayang."
Rapat dewan direksi berjalan dengan ketegangan yang kental. Rangga duduk di kursi kebesarannya, mendengarkan laporan keuangan dengan wajah datar. Semuanya berjalan lancar sampai pintu ruang rapat terbuka.
Seorang pria muda masuk membawa berkas tambahan. Dia adalah asisten magang baru. Saat ia meletakkan berkas di depan Rangga, tangannya tidak sengaja menyenggol gelas air Arka hingga sedikit tumpah ke dokumen penting di depannya.
"Ma-maaf, Pak! Saya tidak sengaja!" pria muda itu panik dan refleks mengambil sapu tangan untuk menyeka meja, yang secara tidak sengaja menyentuh tangan Rangga.
Suasana ruangan langsung membeku. Semua direktur yang tahu reputasi "temperamen" Rangga menahan napas.
Alya, yang duduk di sofa pojok ruangan, langsung berdiri. Ia melihat tatapan mata Rangga berubah—kilatan dingin yang sangat ia kenali muncul kembali. Tangan Rangga perlahan meraih pulpen besi di atas meja, mencengkeramnya seolah itu adalah senjata.
"Kau menyentuhku?" suara Rangga rendah, bergetar oleh kemarahan yang tertahan.
"Maaf Pak, saya..."
"Keluar," potong Rangga.
"Tapi Pak—"
"KELUAR SEBELUM AKU MEMASTIKAN TANGANMU TIDAK BISA MENYENTUH APAPUN LAGI!" teriak Rangga sambil menghantamkan pulpen itu ke meja hingga patah menjadi dua.
Seluruh ruangan gemetar. Pria muda itu lari keluar dengan wajah pucat pasi. Rangga berdiri, napasnya memburu, matanya merah karena emosi yang meluap. Ia menoleh ke arah Alya dengan tatapan yang liar.
"Lihat, Alya! Mereka tidak kompeten! Mereka ceroboh! Dia berani menyentuhku!"
Alya segera menghampiri Rangga, mengabaikan tatapan bingung para direksi. Ia memeluk Rangga dari belakang, mencoba meredam api yang membakar jiwa suaminya. "Mas, cukup. Bubarkan rapatnya. Kita pulang sekarang."
Sore harinya, setelah kantor sepi, Rangga masih berada di ruang kerjanya. Alya sedang menyiapkan teh di pantry kecil di dalam ruangan itu.
Rangga duduk di kursinya, menatap meja kerjanya yang kosong. Namun, saat Alya tidak melihat, Rangga membuka laci rahasia di bawah meja. Di sana, terdapat sebuah buku catatan kecil berwarna hitam.
Rangga menuliskan satu nama di sana: Bima - Asisten Magang.
Di bawah nama itu, Rangga menggambar sebuah lingkaran merah. Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri, "Alya bilang aku harus sembuh... tapi dia tidak bilang aku tidak boleh membersihkan 'sampah' yang mengganggu ketenanganku."
Alya masuk kembali dengan secangkir teh, dan Rangga dengan cepat menutup lacinya, kembali menunjukkan wajah suaminya yang lembut dan penuh kasih.
"Ini tehnya, Mas. Ayo kita pulang, besok adalah hari baru," ajak Alya dengan senyum tulus, tanpa menyadari bahwa di balik sikap patuh Rangga, sang predator hanya sedang belajar cara berburu yang lebih rapi.
Bersambung.......
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/