NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PERJAMUAN HINAAN DI ISTANA PRIYAYI

Malam itu, aula besar Istana Priyayi Jawa dipenuhi kilauan lampu minyak yang memantulkan cahaya di setiap ukiran kayu jati dan perabot emas yang tersusun rapi. Aroma cendana dan bunga melati yang dikeringkan membaur dengan rempah nasi tumpeng, membentuk atmosfer kolonial yang mewah sekaligus menekan. Para bangsawan hadir dengan pakaian resmi mereka: kain batik berlapis emas, selendang sutra, keris yang terselip di pinggang, dan kalung mutiara yang memantulkan cahaya lilin.

Di sudut aula, Melati berdiri tegap meski tubuhnya gemetar. Gaunnya sederhana, kontras dengan kemewahan sekelilingnya. Ia dipaksa hadir sebagai ‘pajangan’ Kenjiro, yang duduk di kursi berat berlapis emas dengan senyum sinis di wajahnya, tangannya memegang gelas anggur, matanya menyapu setiap tamu dan mengamati setiap reaksi Melati dengan puas.

Di ujung ruangan, Raja dan Ratu Jawa, orang tua Pangeran Aris, duduk dengan wibawa yang menekan. Tatapan mereka yang tajam mampu membuat para tamu yang lebih rendah kasta menunduk dan menyesuaikan gerakan. Gusti Ajeng Sekar, tunangan Aris, duduk di samping mereka, menatap Melati dengan mata yang menyala penuh kecemburuan dan kesombongan, senyum tipisnya membentuk garis kemenangan yang menyinggung harga diri Melati.

“Lihatlah, betapa rapuhnya ia di hadapan kita,” bisik Gusti Ajeng Sekar sambil mencondongkan tubuh ke arah Raja dan Ratu. “Bunga yang sudah layu… diinjak sepatu bot asing. Tidakkah menggelikan, bahwa seorang gadis desa harus berdiri di sini seolah dirinya istimewa?”

Melati menunduk, tubuhnya gemetar, wajahnya merah menahan malu. Setiap kata yang keluar dari bibir Gusti Ajeng Sekar seperti belati yang menembus udara, menusuk jantungnya. Ia hanya bisa menatap lantai, mencoba menahan diri agar tak meneteskan air mata di tengah kemewahan dan tatapan dingin para bangsawan.

Pangeran Aris tetap diam, wajahnya pucat, tangan yang tergenggam di pangkuan gemetar. Ia ingin membela Melati, ingin menegur Gusti Ajeng Sekar, namun setiap gerakan kecil harus dia timbang. Tatapan orang tua yang menekan membuatnya seakan dipaku di tempatnya. Satu langkah membela Melati bisa berarti kutukan sosial yang tak tertahankan, bahkan bisa memupus seluruh rencana pernikahannya sendiri.

Kenjiro menatap adegan itu dengan mata bersinar dingin. Ia berdiri perlahan, melangkah di antara para bangsawan, tangannya memegang gelas anggur. “Indah, bukan? Dunia ini memiliki rasa yang tajam—di mana seorang gadis desa bisa dipermalukan di hadapan bangsawan, dan tunangan pangeran hanya diam terpaku.”

Gusti Ajeng Sekar mencondongkan tubuh ke arah Aris, matanya menatapnya dengan sindiran halus namun menusuk. “Apakah kau hanya akan berdiri di sana, Pangeran? Melihat bunga desa ini diinjak-injak, sementara kau tidak berani mengangkat suara?”

Melati tetap diam, menunduk, merasa tubuhnya kecil dan tak berdaya di hadapan para bangsawan. Ia menyadari betapa setiap gerakan, setiap pandangan, dan setiap kata yang keluar dari mulut orang kaya dan berkuasa di sekelilingnya memiliki bobot yang menekan. Dunia mereka adalah panggung kesombongan, dan ia hanya menjadi properti di tengah pertunjukan.

Para pelayan memasuki aula dengan piring-piring berlapis emas, menata hidangan dengan gerakan anggun dan pelan, seakan tiap gerakan adalah ritual sakral. Nasi tumpeng berdiri tinggi di tengah meja, lauk pauk berlapis rempah berkilau, manisan tropis dan daging panggang yang harum memikat indera. Tapi bagi Melati, setiap aroma adalah pengingat betapa ia berbeda, betapa rendahnya posisinya dibandingkan para bangsawan yang tertawa dan mengobrol di sekelilingnya.

Gusti Ajeng Sekar berdiri dan berjalan melewati Melati, menepuk pundaknya dengan anggun namun penuh ejekan. “Semoga kau belajar tempatmu, bunga desa. Dunia ini bukan untukmu. Kau seharusnya tahu bahwa Kenjiro hanya mempermainkanmu untuk kesenangan semata.” Ia menoleh ke arah para bangsawan lain, menatap mereka dengan tatapan menantang, dan beberapa dari mereka menanggapi dengan anggukan persetujuan atau tawa kecil yang menegaskan dominasi sosialnya.

Aris masih terpaku, matanya menatap Melati, tapi setiap gerakan atau kata yang ingin ia ucapkan terhambat oleh rasa takut terhadap kutukan orang tua. Ia merasa tercekik, seperti tubuh dan hatinya dikekang oleh tradisi dan rasa takut akan kehormatan keluarga. Setiap detik berlalu menjadi siksaan, melihat orang yang dicintainya dipermalukan sementara ia tak berdaya.

Kenjiro berjalan ke sisi Melati, menepuk bahunya perlahan, tatapannya menyorot para bangsawan. “Biarkan mereka melihat. Biarkan dunia menyaksikan bagaimana kesabaran dan ketenangan bisa menjadi tameng yang jauh lebih kuat daripada ejekan atau hinaan.”

Melati menunduk, merasakan ketegangan yang menekan seluruh tubuhnya. Ia menatap potongan meja jati di hadapannya, merasakan setiap ukiran yang memantulkan cahaya lilin, setiap detail seperti mengingatkannya pada kesombongan yang menyelimuti dunia bangsawan. Ia tetap diam, membiarkan dunia menekan, memandang, dan menilai, meski hatinya menahan badai emosi yang ingin meledak.

Raja dan Ratu Jawa menatap Gusti Ajeng Sekar dengan senyum tipis, seakan memberi restu atas ejekan itu. Suasana aula terasa seperti arena gladiator, di mana satu kesalahan kecil bisa membuat seseorang jatuh di mata semua orang. Para bangsawan berbisik di antara mereka, menatap Melati dengan campuran rasa ingin tahu, hinaan, dan sedikit rasa kagum terhadap keteguhan gadis desa itu.

Hidangan terus disajikan, musik gamelan mengalun di latar, para tamu mengobrol dengan suara rendah tapi tegas. Di tengah kemegahan itu, Melati berdiri, tubuhnya tegang, namun matanya tetap menatap ke depan, menghadapi setiap ejekan, setiap tatapan sinis, dan setiap senyum kemenangan Gusti Ajeng Sekar. Ia tahu bahwa dunia ini keras, penuh intrik, kesombongan, dan kutukan sosial, namun ia tetap berdiri, walau secara fisik ia hanyalah seorang gadis desa yang dipaksa menjadi pajangan.

Kenjiro meneguk anggurnya, menatap adegan itu dengan mata yang bersinar sinis. “Indah bukan? Dunia ini penuh permainan—dan kau, Melati, berada di tengahnya. Tapi lihat, meski dunia menekan dan menghina, ada satu hal yang tidak bisa mereka sentuh: ketegaranmu.”

Gusti Ajeng Sekar, yang menyadari bahwa ia tidak mampu mematahkan ketenangan Melati sepenuhnya, menepuk meja dan mencondongkan tubuh ke arah Aris. “Pangeran… tidakkah kau merasa bertanggung jawab atas bunga desa ini? Atau apakah kau hanya akan membiarkannya diinjak tanpa perlawanan?”

Aris menelan ludah, bibirnya bergetar, namun ia tetap diam. Tatapan orang tua, suara musik gamelan, bisik-bisik para bangsawan—semua menekan, membungkam keinginan membela Melati. Ia menatap wajah Melati yang tetap tegak, matanya menatap ke bawah, tubuhnya rapuh tapi tenang, dan hatinya sadar bahwa keberanian sejati bukan selalu diucapkan dengan kata-kata, tapi terkadang dipegang dalam diam yang menahan diri.

Perjamuan terus berjalan, hidangan disajikan berlapis-lapis, para tamu tertawa, mengobrol, dan bersenda gurau. Namun bagi Melati, dunia itu terasa seperti labirin hinaan, kesombongan, dan intrik sosial. Ia tetap berdiri, tubuhnya tegang, menghadapi dunia yang ingin memaksa tunduk, namun tidak pernah membiarkan hatinya dikalahkan.

Lampu-lampu minyak berkelip, bayangan para bangsawan menari di dinding aula besar, musik gamelan mengalun halus, dan dunia ini—meski penuh hinaan dan ejekan—tetap menjadi panggung di mana keteguhan seorang gadis desa diuji. Dalam diamnya, Melati menyadari satu hal: meski dunia ingin mempermalukan, menekan, dan menghancurkan, kekuatan sejati terletak pada keberanian hati yang tetap berdiri, walau tubuhnya dipaksa tunduk.

Para tamu terus berbicara, tertawa, dan menilai, namun Melati tetap tegap di sudut aula, sebuah sosok kecil di tengah kemegahan, namun kuat dalam ketenangan yang tak bisa dilihat oleh mata dunia. Kenjiro tersenyum sinis, Aris diam terpaku, dan Gusti Ajeng Sekar tetap berusaha memecah ketenangan itu. Tetapi dunia ini—penuh keangkuhan, pengaruh, dan kutukan sosial—tidak mampu menundukkan keteguhan seorang gadis desa yang dihadapkan pada hinaan di aula megah Istana Priyayi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!