NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Dermaga kecil itu hampir tak terlihat di balik kabut.

Kayu lapuk berderit saat diinjak. Air laut memukul tiang-tiang penyangga dengan ritme berat dan dingin. Di ujung dermaga, sebuah perahu motor tua terikat longgar, bergoyang pelan seolah menunggu atau mungkin memperingatkan.

“Aidan, perimeter!” seru Kael.

Aidan sudah bergerak lebih dulu, naik ke tumpukan peti kayu untuk mendapatkan sudut pandang lebih tinggi. Senjatanya terangkat, matanya mengunci bayangan di balik kabut.

Lucian berlutut di samping mesin perahu, membuka panel dengan gerakan cepat.

“Mesin tua,” gumamnya. “Tapi masih punya hati.”

Damian dan Lyra tiba terakhir di ujung dermaga. Napas Damian semakin berat, tapi ia tidak memperlambat langkah.

Lyra memegang lengannya lebih kuat.

“Kau tidak boleh pingsan sekarang.”

“Aku tidak akan,” jawab Damian pelan.

Teriakan dari kejauhan memecah malam. Sorot lampu kendaraan menyapu kabut, semakin dekat, semakin terang.

“Mereka melihat kita,” kata Aidan dari atas.

Kael berdiri di ujung dermaga, tubuhnya seperti tembok hidup.

“Kita punya kurang dari satu menit.”

Lucian memutar kabel terakhir.

“Mesin siap… mungkin.”

“‘Mungkin’ bukan kata favoritku,” kata Lyra.

Lucian tersenyum singkat.

“Percaya padaku sekali saja.”

Tembakan pertama menghantam tiang dermaga. Kayu retak, serpihannya beterbangan.

Kael membalas tembakan dengan tenang. Setiap peluru dilepaskan dengan perhitungan dingin.

Damian menarik Lyra ke dalam perahu.

Gerakan itu tegas, tidak memberi ruang perdebatan.

Lyra menatapnya.

“Kau ikut juga.”

Damian masuk tanpa menjawab.

Aidan melompat turun dari posisi tinggi dan mendarat di perahu dengan gerakan bersih. Kael masuk terakhir, memotong tali pengikat dengan pisau.

“Pergi!” teriaknya.

Lucian menyalakan mesin.

Suara mesin tua meraung, tersendat satu detik—dua detik—lalu hidup penuh.

Perahu meluncur menjauh dari dermaga tepat saat hujan peluru menghantam air di belakang mereka.

Kabut menelan garis pantai.

Hanya suara mesin, angin laut, dan detak jantung yang tersisa.

Lyra duduk berhadapan dengan Damian. Lampu kecil di perahu menerangi wajahnya yang pucat.

Tanpa berkata apa-apa, ia membuka kotak medis lagi dan mengganti perban Damian.

Sentuhannya lebih hati-hati dari sebelumnya.

“Kenapa mereka tidak langsung membunuh kita?” tanya Lyra pelan.

Damian menatap laut gelap di depan mereka.

“Karena mereka ingin sesuatu.”

“Dari siapa?”

“Dariku.”

Hening jatuh.

Angin laut membuat rambut Lyra menari liar di wajahnya.

“Dan aku?” tanyanya akhirnya.

Damian menatapnya.

Tatapan itu tidak dingin seperti biasanya. Ada sesuatu yang lebih berat di dalamnya—pengakuan tanpa kata.

“Mereka ingin tahu seberapa jauh aku akan melindungimu.”

Lyra membeku.

Lucian yang duduk di dekat mesin menatap mereka sekilas, lalu berpura-pura fokus pada arah laut.

Kael berdiri menghadap belakang perahu, tetap berjaga.

Aidan duduk di tepi, matanya memindai horizon gelap.

Lyra menelan napas kecil.

“Jawaban mereka sudah dapat.”

Damian tidak membantah.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

Kabut semakin tebal, menyembunyikan mereka dari dunia.

Namun justru di tengah kesunyian itu, suara kecil terdengar dari perangkat komunikasi Lucian.

Gangguan frekuensi.

Lalu suara masuk… tidak dikenal.

“…Damian Alveros…”

Semua menegang.

Lucian memutar frekuensi cepat. “Mereka menembus saluran cadangan.”

Suara itu kembali, tenang, datar, dan sangat familiar bagi Damian.

“Kau bergerak lebih cepat dari prediksi.”

Lyra menatap Damian.

“Itu dia.”

Pria misterius dari plaza.

Damian mengambil perangkat komunikasi.

“Apa yang kau inginkan.”

Suara di seberang terdengar hampir seperti senyuman.

“Konfirmasi.”

“Konfirmasi apa.”

Bahasa asing samar terdengar di latar belakang transmisi.

Lalu jawaban itu datang pelan.

“Bahwa gadis itu… adalah titik terlemahmu.”

Keheningan menelan perahu.

Lyra merasakan udara di sekitarnya berubah.

Damian menatap gelapnya laut, lalu menjawab dengan suara rendah namun tak tergoyahkan.

“Kau salah.”

Hening singkat.

Lalu ia menambahkan—

“Dia alasanku untuk tetap hidup.”

Lyra terdiam.

Kael menoleh perlahan.

Aidan menatap Damian lebih lama dari biasanya.

Lucian berhenti bernapas sejenak.

Di ujung komunikasi, pria misterius itu tertawa pelan.

“Bagus. Permainan kita akan jauh lebih menarik.”

Transmisi terputus. Perahu terus melaju menembus kabut. Namun sesuatu telah berubah. Ini Bukan hanya perburuan. Juga Bukan hanya strategi. Tapi Kini ini menjadi urusan pribadi.

Dan di tengah laut tanpa arah yang pasti, Lyra menyadari satu kebenaran yang tidak bisa ia hindari lagi—Ia bukan lagi korban keadaan. Ia adalah pusat badai.

---

Angin laut semakin dingin ketika perahu melaju menjauh dari garis pantai yang tak lagi terlihat.

Kabut menutup segala arah, membuat dunia terasa menyempit hanya pada perahu kecil itu dan orang-orang di dalamnya.

Lyra masih duduk di hadapan Damian.

Ucapan pria itu masih terngiang jelas di telinganya.

Dia alasanku untuk tetap hidup.

Kalimat itu tidak diucapkan dengan emosi. Tidak dengan dramatis. Justru karena diucapkan begitu tenang… kata-kata itu terasa jauh lebih berat.

Lyra menatap tangannya sendiri. Ia tidak terbiasa menjadi alasan bagi siapa pun. Ia terbiasa berdiri sendiri. Melawan sendiri. Bertahan sendiri.

Namun sekarang… Ia tidak sendiri lagi.

Suara mesin perahu mendengung stabil, tapi tubuh Damian mulai kehilangan ketegangan yang selama ini menahannya tetap tegak.

Lyra melihat perubahan kecil itu lebih dulu.

“Kau pusing?” tanyanya pelan.

Damian tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap lurus ke depan, namun napasnya lebih dalam.

“Sedikit,” katanya akhirnya.

Lyra menghela napas panjang, lalu tanpa ragu menggeser posisi lebih dekat.

“Sandarkan punggungmu,” katanya tegas.

Damian menatapnya sekilas, seperti menilai apakah ia bisa mempercayakan keseimbangannya pada gadis itu.

Beberapa detik berlalu.

Lalu perlahan… ia bersandar.

Beban tubuhnya terasa nyata, hangat, dan berat di bahu Lyra. Ia tidak mengeluh. Tidak pula bergerak menjauh.

Tangan Lyra tetap memegang perban di sisi tubuh Damian, memastikan tidak ada darah baru yang merembes.

Di ujung perahu, Kael masih berdiri seperti patung penjaga. Namun tatapannya sesekali melirik ke arah mereka.

Aidan duduk diam, tapi kewaspadaannya tidak berkurang sedikit pun.

Lucian memeriksa peta digital di tabletnya.

“Kita menjauh dari radius pelacakan mereka,” katanya pelan. “Setidaknya untuk sementara.”

“Tidak ada yang sementara,” jawab Kael datar.

Hening kembali turun.

Air laut memercik kecil ke sisi perahu.

Langit malam tanpa bintang terasa luas sekaligus menekan.

Lyra menatap wajah Damian yang kini sedikit lebih rileks dalam kelelahan.

Tanpa sadar, ia berkata pelan,

“Kau tidak harus kuat setiap saat.”

Damian membuka mata.

Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

“Aku tidak punya pilihan,” jawabnya.

Lyra menggeleng kecil.

“Semua orang punya pilihan. Hanya saja… kadang kita takut memilih.”

Hening panjang menggantung di antara mereka.

Suara angin dan mesin menjadi satu-satunya latar.

Damian menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang hampir ia katakan. Namun tidak pernah keluar.

Aidan tiba-tiba berbicara dari sisi perahu, suaranya rendah tapi jelas.

“Kita tidak diikuti.”

Kael menambahkan, “Tapi mereka tidak akan berhenti.”

Lucian mengangguk kecil.

“Mereka sekarang tahu arah kita. Itu cukup bagi mereka.”

Lyra menatap kabut di depan. Permainan ini tidak akan berakhir malam ini. Atau besok. Atau dalam waktu dekat. Namun anehnya, ia tidak merasakan dorongan untuk lari.

Ia menatap Damian lagi.

Pria itu masih bersandar, namun matanya kini terbuka, waspada meski lelah.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Lyra memahami sesuatu dengan jelas— Ia tidak hanya terseret ke dunia Damian. Ia memilih untuk tetap di dalamnya.

Dan mungkin…

Damian juga mulai melakukan hal yang sama.

Perahu terus melaju membelah laut gelap. Tidak ada tujuan pasti di depan mereka. Namun satu hal kini tidak terbantahkan Takdir mereka tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.

Dan badai yang menunggu di depan… akan mereka hadapi bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!