Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Sandiwara di Balik Pintu Jati
Asap dari sup iga yang mengepul di tengah meja makan seharusnya memberikan kehangatan. Namun, bagi Dimas Alvaro, uap itu terasa seperti kabut yang mendinginkan suasana. Ia merapikan letak kemeja polosnya, lalu melirik jam dinding.
Reina Darmawanti, istrinya, duduk di seberang meja dengan punggung tegak dan dagu terangkat. Jemari lentiknya sibuk memainkan layar ponsel, mengabaikan piring yang sudah Dimas siapkan dengan rapi. Seolah-olah kehadiran suaminya hanyalah bagian dari dekorasi ruangan.
"Reina, makanannya sudah siap. Nanti keburu dingin," ujar Dimas dengan suara bariton yang lembut.
Reina mendongak, matanya yang tajam menatap Dimas dengan kilat kebosanan. Ia meletakkan ponselnya di meja dengan bunyi dentum yang cukup keras, membuat sendok di samping piring sedikit bergetar.
"Aku ada janji temu dengan manajer operasional cafe baru jam delapan malam nanti," sahut Reina ketus. "Jangan buat aku merasa terbebani dengan harus menghabiskan masakanmu."
Dimas hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang menyembunyikan banyak rahasia di balik ketampanannya yang tenang. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam denyut kecewa yang sudah menjadi makanannya sehari-hari selama tiga tahun pernikahan mereka.
"Setidaknya minumlah jusnya. Kamu terlihat lelah setelah seharian di cafe," lanjut Dimas lagi, tetap berusaha menjadi suami yang perhatian.
Reina mendengus, ia berdiri dari kursi makannya tanpa menyentuh setetes pun air di meja. Ia melangkah mendekati Dimas, membuat perbedaan tinggi badan mereka terlihat jelas. Dimas yang setinggi 185 cm harus sedikit menunduk untuk menatap mata istrinya.
"Dengarkan aku, Dimas," bisik Reina dengan nada merendah. "Hanya karena aku setuju menikah denganmu, bukan berarti kamu bisa mengatur hidupku. Fokus saja pada pekerjaanmu yang tidak seberapa itu."
"Aku tidak bermaksud mengatur, Reina. Aku hanya menjalankan peran sebagai suamimu."
"Suami?" Reina tertawa hambar, jemarinya menunjuk dada Dimas dengan sinis. "Suami itu orang yang bisa memberikan kejayaan, bukan cuma sekadar menunggu di rumah dan bekerja serabutan. Beruntunglah aku punya bisnis sendiri, kalau tidak, mau makan apa kita?"
Ketukan keras di pintu depan memecah ketegangan di ruang makan. Suara tawa akrab terdengar dari balik pintu, membuat ekspresi Reina berubah seketika. Wajah yang tadinya dingin dan penuh hinaan, dalam sekejap bertransformasi menjadi lembut dan penuh kasih.
"Itu pasti Papa dan Mama!" seru Reina dengan nada suara yang tiba-tiba ceria.
Ia segera merapikan rambutnya dan berlari kecil menuju pintu. Dimas hanya terpaku di tempatnya, menyaksikan perubahan drastis itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menyiapkan mental untuk drama yang akan segera dimulai.
"Mama! Papa! Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" Reina memeluk ibunya dengan sangat erat seolah mereka adalah keluarga paling bahagia di dunia.
"Kami merindukan kalian, Sayang," ujar Ibu Reina sembari masuk ke dalam rumah. "Dimas, apa kabar, Nak? Maaf ya Papa dan Mama mengganggu waktu istirahat kalian."
Dimas tersenyum sopan, ia melangkah maju dan mencium tangan kedua mertuanya dengan takzim. "Sama sekali tidak mengganggu, Ma. Silakan duduk, kebetulan kami baru saja mau mulai makan malam."
"Lihat, Ma, Dimas selalu rajin memasak untukku," ucap Reina sambil menggandeng lengan Dimas mesra. "Dia benar-benar suami idaman, kan?"
Dimas merasakan jemari Reina mencengkeram lengannya dengan kuat, sebuah peringatan agar ia tetap mengikuti permainan ini. Ia hanya mengangguk pelan, memerankan perannya dengan sempurna.
Suasana di meja makan berubah menjadi hangat secara artifisial. Papa Reina, seorang pria tua dengan kacamata bingkai tebal, menatap Dimas dan Reina bergantian dengan tatapan menyelidik yang penuh harap.
"Jadi, bagaimana?" tanya Papa Reina tiba-tiba, membuat denting sendok dan piring terhenti.
Reina mengerutkan kening, berpura-pura tidak mengerti. "Bagaimana apanya, Pa?"
"Cucu, Reina. Sudah tiga tahun. Teman-teman Papa sudah menimang cucu semua," sahut sang Papa dengan nada menuntut. "Kapan kalian memberikan kabar baik? Apa ada kendala?"
Wajah Reina memucat sesaat, namun ia segera menguasai diri. Ia melirik Dimas, memberikan kode agar suaminya yang menanggung beban jawaban tersebut.
"Kami masih berusaha, Pa," jawab Dimas dengan tenang, meski hatinya terasa perih. "Mungkin memang belum waktunya Tuhan memberikan kepercayaan pada kami."
"Atau mungkin Dimas terlalu sibuk dengan pekerjaannya?" timpal Mama Reina dengan nada yang sedikit menyindir. "Reina kan sudah sukses dengan cafenya, mungkin Dimas juga harus lebih giat lagi supaya stresnya hilang dan bisa fokus ke program kehamilan."
Reina mengelus punggung tangan Dimas di atas meja, seolah memberikan dukungan. "Jangan bicara begitu, Ma. Dimas sudah berusaha keras. Kami hanya butuh waktu berdua lebih banyak, iya kan, Sayang?"
Dimas menatap mata Reina. Di sana tidak ada cinta, hanya ada ancaman yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Dimas tahu benar alasan mereka belum punya anak, Reina bahkan tidak pernah mengizinkannya menyentuh ujung kuku istrinya itu di dalam kamar.
Setelah orang tua Reina pamit pulang, topeng keramahan itu jatuh berantakan di lantai porselen. Reina melepaskan gandengannya pada lengan Dimas dengan gerakan kasar, seolah-olah kulit suaminya adalah sesuatu yang menjijikkan.
"Jangan pernah berani bicara macam-macam di depan Papa tadi," ancam Reina sambil menunjuk wajah Dimas.
"Aku tidak mengatakan apa pun yang salah, Reina. Aku menutupi kenyataan bahwa kamu yang selalu menolakku," balas Dimas, suaranya tetap rendah namun penuh penekanan.
Reina tertawa mengejek, ia berjalan menuju kamarnya namun berhenti di ambang pintu. "Menolakmu? Tentu saja. Aku tidak mau mengandung anak dari pria yang masa depannya tidak jelas seperti kamu. Aku punya standar, Dimas."
"Apa standarmu hanya diukur dari berapa banyak cafe yang kamu miliki?" tanya Dimas, kali ini ada nada tantangan yang jarang ia perlihatkan.
Reina berbalik, matanya berkilat marah. "Setidaknya aku punya sesuatu untuk dibanggakan. Kamu? Kamu cuma pria yang beruntung bisa menikahiku. Ingat itu."
Pintu kamar dibanting keras, meninggalkan Dimas sendirian di ruang makan yang kini terasa sangat luas dan sunyi. Ia berjalan menuju meja, membereskan piring-piring kotor yang bahkan tidak disentuh oleh istrinya.
Dimas mengeluarkan ponsel dari saku celananya yang sederhana. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor rahasia.
“Dokter Dimas, pembangunan rumah sakit baru di Surabaya sudah mencapai 90%. Tim manajemen menunggu kehadiran Anda untuk peninjauan akhir besok pagi.”
Dimas mematikan layar ponselnya. Ia menatap pintu kamar Reina yang tertutup rapat, lalu tersenyum tipis sebuah senyum yang mengandung misteri yang jauh lebih besar dari apa pun yang bisa dibayangkan istrinya.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰