"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."
Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.
"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."
Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.
Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.
"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"
Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Bukan Boneka Pesta
"Nyonya, tolong jangan banyak protes. Pak Elzian secara khusus meminta tim kami untuk mengubah penampilan Nyonya agar... lebih pantas bersanding dengannya."
Seorang pria dengan kemeja bunga-bunga dan syal sutra melilit di leher memandang Ziva dengan tatapan menilai yang merendahkan. Namanya Pierre, stylist kenamaan ibu kota yang biasa menangani artis papan atas. Tangannya memegang sebuah gaun sifon berwarna merah muda pastel yang penuh dengan renda dan pita.
Ziva menatap gaun itu dengan alis terangkat tinggi. "Pantas? Maksudmu aku harus terlihat seperti kue mangkuk berjalan?"
Pierre mendecakkan lidah, tidak sabar. "Ini fashion, Nyonya. Warna baby pink ini akan memancarkan aura polos, manis, dan penurut. Pak Elzian suka wanita yang terlihat lembut. Nyonya harus sadar, di pesta nanti Nyonya akan bertemu banyak kolega bisnis Pak Elzian. Jangan sampai Nyonya terlihat... terlalu agresif."
Ziva tertawa pendek. Tawa yang kering dan tanpa humor. Dia bangkit dari kursi rias, mengabaikan asisten Pierre yang sedang memegang kuas bedak.
"Dengar, Pierre. Aku tidak tahu apa yang dibisikkan asisten Elzian padamu, tapi aku bukan boneka pajangan yang bisa kau dandani sesuka hati," ucap Ziva tegas. Dia berjalan menuju deretan gaun yang tergantung di rak besi. Jarinya menelusuri kain-kain mahal itu dengan cepat.
"Pak Elzian membayar saya mahal untuk memastikan Nyonya tampil sempurna!" seru Pierre panik. "Kalau Nyonya pakai baju sembarangan, reputasi saya hancur!"
"Kalau aku pakai baju badut itu, reputasi suamiku yang hancur," balas Ziva.
Tangan Ziva berhenti pada sebuah gaun di ujung rak. Gaun itu tersembunyi di balik gaun-gaun payet yang mencolok. Warnanya hitam pekat, terbuat dari bahan beludru premium yang jatuh berat namun lembut. Potongannya sederhana di depan, tapi Ziva tahu persis bagaimana bentuk belakangnya.
Ziva menarik gaun itu keluar. "Aku pakai ini."
Mata Pierre melotot horor. "Itu? Nyonya, itu koleksi lama! Warnanya terlalu gelap, potongannya terlalu berani. Itu model backless dengan belahan paha tinggi. Itu bukan gaun untuk istri baik-baik!"
"Simpan ceramah moralmu," potong Ziva dingin. Dia menyambar gaun itu dan masuk ke ruang ganti. "Tugasmu cuma memastikan rambutku tidak seperti singa. Sisanya biar aku yang urus."
Sepuluh menit kemudian, Ziva keluar.
Ruangan hening seketika. Pierre menjatuhkan sisir yang dipegangnya.
Gaun beludru hitam itu membalut tubuh ramping Ziva dengan sempurna, seolah diciptakan khusus untuk kulitnya. Kain itu menempel ketat di pinggang, lalu jatuh menjuntai hingga menyapu lantai. Saat Ziva berjalan, belahan tinggi di sisi kiri gaun itu menampakkan kaki jenjangnya yang putih mulus di setiap langkah.
Ziva duduk kembali di depan cermin. Dia mengambil tisu basah, menghapus make-up tipis ala "gadis polos" yang tadi dipoleskan asisten Pierre.
"Berikan lipstik merah itu," perintah Ziva pada asisten yang bengong.
"Y-ya, Nyonya."
Ziva mengambil alih kuas. Dengan tangan yang terbiasa memegang pisau bedah, dia menggoreskan eyeliner hitam pekat di kelopak matanya. Tajam, runcing, dan mematikan. Tatapan matanya yang tadi terlihat lelah, kini berubah menjadi tatapan predator. Terakhir, dia memulas bibirnya dengan warna merah darah matte.
Dia bukan lagi Ziva si dokter kucel yang kelelahan jaga malam. Dia adalah ratu kegelapan yang siap memangsa siapa pun yang berani meremehkannya.
"Selesai," Ziva berdiri, memasang anting berlian panjang yang menjuntai di leher jenjangnya. "Sekarang minggir. Aku tidak mau terlambat."
Di ruang tengah lantai bawah, Elzian duduk di kursi rodanya dengan gelisah. Jam dinding besar sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dia benci menunggu. Tangannya membolak-balik halaman koran bisnis tanpa benar-benar membacanya.
"Raka, cek ke atas. Apa wanita itu ketiduran di kamar mandi?" tanya Elzian ketus tanpa menoleh.
"Baik, Pak—"
Kalimat Raka terhenti. Matanya terpaku ke arah tangga.
Suara ketukan stiletto di lantai marmer terdengar. Tak. Tak. Tak. Iramanya pelan, percaya diri, dan mengintimidasi.
Elzian merasakan perubahan atmosfer di ruangan itu. Dia melipat korannya dengan kasar dan menoleh ke arah tangga, siap untuk melontarkan komentar pedas tentang keterlambatan istrinya.
Namun, kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.
Ziva sedang menuruni tangga utama.
Gaun hitam pekat itu kontras dengan kulitnya yang putih pucat di bawah sorot lampu kristal. Rambut hitamnya digelung rapi ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah tegasnya. Leher jenjangnya terekspos sepenuhnya, mengundang siapapun untuk menatap.
Tapi yang membuat napas Elzian tercekat adalah saat Ziva berputar sedikit di bordes tangga untuk menuruni sisa anak tangga.
Punggungnya.
Gaun itu membiarkan seluruh punggung Ziva terbuka hingga batas pinggang bawah. Tulang belikatnya yang indah, lekuk tulang punggungnya, semuanya terpampang nyata. Begitu mulus, begitu menggoda, dan begitu... berbahaya.
Elzian merasa mulutnya kering. Dia mencengkeram pegangan kursi rodanya erat-erat, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu kencang. Dia pernah melihat banyak wanita cantik, Sienna salah satunya. Tapi Ziva malam ini berbeda. Dia tidak terlihat manis. Dia terlihat seperti dosa yang paling indah.
Ziva sampai di lantai bawah. Dia berdiri di hadapan Elzian, menatap suaminya dengan alis terangkat.
"Kenapa diam saja?" tanya Ziva, suaranya tenang. "Jelek ya? Pierre bilang aku seperti janda hitam yang mau pergi ke pemakaman suami."
Elzian berdeham keras, berusaha mengembalikan kewarasannya. Dia mengalihkan pandangan sejenak, mengatur napas.
"Pierre itu banyak bicara," gumam Elzian dengan suara serak. "Ayo berangkat. Kita sudah terlambat."
Elzian menjalankan kursi rodanya menuju pintu keluar. Ziva mengedikkan bahu, lalu berjalan mendahului Elzian menuju mobil.
Saat Ziva berjalan melewatinya, aroma parfum vanilla bercampur musk yang elegan menguar, menggelitik indra penciuman Elzian. Dan sekali lagi, pemandangan punggung terbuka itu terpampang jelas di depan mata Elzian.
Elzian menghentikan kursi rodanya mendadak.
"Tunggu."
Ziva berhenti dan berbalik. "Apa lagi? Tadi katanya terlambat."
Elzian tidak menjawab. Dia melepaskan jas tuxedo hitam mahalnya dengan gerakan cepat. Dengan kekuatan tangannya, dia mendorong kursi rodanya mendekat ke arah Ziva.
Tanpa peringatan, Elzian menyampirkan jas besar itu ke bahu Ziva, menutupi punggung telanjang istrinya yang terekspos angin malam. Aroma maskulin tubuh Elzian langsung menyelimuti Ziva.
Ziva terkejut. Dia hendak menarik jas itu. "Hei, apa-apaan ini? Nanti gaunku kusut! Lagipula aku tidak kedinginan."
Tangan besar Elzian menahan tangan Ziva di dada, mencegah wanita itu membuka jasnya. Mata hitam Elzian menatap manik mata Ziva lekat-lekat. Ada kilatan gelap di sana—bukan kemarahan, tapi sesuatu yang jauh lebih intens. Rasa kepemilikan yang purba.
"Pakai saja," perintah Elzian dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Ziva meremang.
"Kenapa? Kau malu melihat istrimu berpakaian terbuka?" tantang Ziva.
Elzian mendekatkan wajahnya sedikit, menatap bibir merah darah Ziva sebelum kembali menatap matanya.
"Bukan malu," bisik Elzian. "Tapi aku tidak mau memberi makan mata lapar pria-pria tua di pesta nanti. Pemandangan ini... terlalu mahal untuk dinikmati gratisan."