Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Buah Kemenangan
Kembali ke markas Klan Gong setelah turnamen terasa seperti mimpi.
Sepanjang perjalanan pulang, Hyun dan Bi tak henti-hentinya bercerita tentang pengalaman mereka. Hyun dengan medali emasnya, Bi dengan buku-buku kuno hadiahnya. Mereka seperti anak kecil yang baru pulang dari taman bermain—meskipun Hyun sudah empat belas tahun dan Bi tiga belas.
Tapi aku tahu, pengalaman ini akan mengubah mereka selamanya.
Begitu rombongan kami tiba di gerbang markas, pemandangan tak terduga menanti. Ribuan penduduk berkumpul, bersorak, melambaikan bendera kecil. Mereka sudah mendengar kabar kemenangan Hyun dan Bi dari utusan yang dikirim lebih dulu.
"SELAMAT DATANG PUJANGGA KLAN GONG!"
"HYUN! BI! KALIAN HEBAT!"
Hyun tersipu, tidak terbiasa jadi pusat perhatian. Bi malah melambai-lambai dengan senyum lebar, menikmati momen.
Hyerin di sampingku berbisik, "Lihat mereka, Oppa. Generasi baru."
"Generasi yang akan melampaui kita."
---
Pesta penyambutan digelar malam itu juga.
Lapangan utama markas dipenuhi meja-meja panjang dengan makanan berlimpah. Para penduduk menari, menyanyi, bersulang untuk kemenangan Hyun dan Bi. Suasana meriah, seperti perayaan tahun baru.
Hyun duduk di kursi kehormatan, dikelilingi para prajurit muda yang meminta cerita tentang pertarungannya. Dia bercerita dengan rendah hati, selalu memuji lawan-lawannya.
Bi, di sisi lain, dikerumuni para wanita dan anak-anak yang ingin tahu tentang turnamen pengetahuan. Dia menunjukkan buku-buku hadiahnya, menjelaskan isinya dengan sabar.
Aku dan Hyerin duduk agak jauh, mengamati.
"Mereka tumbuh cepat, Oppa."
"Terlalu cepat. Rasanya baru kemarin Hyun lahir."
Dia meraih tanganku. "Tapi kita berhasil membesarkan mereka dengan baik."
"Berkat kau."
"Berkat kita."
---
Keesokan harinya, konsekuensi kemenangan mulai terasa.
Utusan dari berbagai klan berdatangan. Ada yang ingin menjalin hubungan, ada yang ingin belajar, ada yang sekadar penasaran. Klan Gong, yang dulu hampir musnah, kini menjadi perbincangan di seluruh Murim.
Jin-wook sibuk menerima tamu. Song Hwa sibuk mengatur jadwal pertemuan. Baek Dongsu sibuk memverifikasi latar belakang setiap utusan.
Aku sendiri lebih banyak di belakang layar, mengarahkan, memastikan tidak ada yang salah.
Suatu sore, Hyun menemuiku di ruang kerja.
"Ayah, aku bisa bicara sebentar?"
"Tentu, Nak. Duduklah."
Dia duduk di hadapanku, wajahnya serius.
"Ayah, aku... aku tidak tahu harus jadi apa setelah ini."
"Maksudmu?"
"Semua orang memuji aku. Menganggap aku hebat. Tapi aku merasa... tidak sehebat itu. Aku hanya beruntung."
Aku tersenyum. Kerendahan hati yang jarang dimiliki pemenang.
"Hyun, kemenanganmu bukan karena keberuntungan. Kau latihan keras setiap hari. Kau belajar dari ibu dan para pelatih. Kau punya bakat. Tapi yang lebih penting, kau pun hati yang baik." Aku menatapnya. "Itu yang membuatmu hebat, bukan medali."
Dia diam, merenung.
"Tapi Ayah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Dengan semua perhatian ini?"
"Terima dengan rendah hati. Tapi jangan biarkan itu mengubahmu. Tetap latihan, tetap belajar. Suatu hari nanti, kau akan jadi pemimpin klan ini. Dan saat itu tiba, kau harus siap."
Dia mengangguk pelan. Lalu bertanya, "Ayah dulu juga begitu? Waktu mulai memimpin?"
Aku tertawa. "Ayah dulu tidak punya pilihan. Tiba-tiba jadi pemimpin, tanpa persiapan. Banyak salah, banyak jatuh. Tapi untungnya, ada Hyun Moo, ada ibu, ada banyak orang yang membantu."
"Hyun Moo... pengawal Ayah yang mati dulu?"
"Iya. Dia orang pertama yang percaya padaku. Tanpa dia, mungkin aku sudah mati diracun Hojun."
Hyun diam, lalu berkata, "Aku ingin jadi seperti dia. Seseorang yang bisa dipercaya."
"Kau sudah di jalan itu, Nak."
---
Bi juga punya pergulatannya sendiri.
Suatu malam, dia datang ke kamarku dengan buku catatan tebal.
"Ayah, aku punya ide."
"Ide apa?"
"Aku ingin menulis buku. Tentang semua yang Ayah ajarkan. Tentang sains, tentang mesiu, tentang bagaimana dunia bekerja. Supaya orang lain bisa belajar."
Aku terkejut. "Buku? Kau masih tiga belas tahun."
"Usia tidak penting, Ayah. Yang penting isinya."
Dia benar. Aku sendiri di usianya dulu sudah mulai belajar hal-hal rumit.
"Kau yakin bisa?"
"Aku sudah punya draf." Dia membuka buku catatannya. Halaman demi halaman penuh tulisan rapi, diagram, dan rumus. "Ini baru bab satu. Tentang dasar-dasar."
Aku membaca. Kagum. Penjelasannya sederhana tapi akurat. Bahkan aku yang menciptakan ilmu ini bisa mengerti.
"Ini... ini luar biasa, Bi."
Dia tersenyum malu. "Aku hanya menulis apa yang Ayah ajarkan."
"Tapi caramu menjelaskan... lebih baik dari Ayah." Aku menatapnya. "Lanjutkan, Nak. Selesaikan buku ini. Ayah akan bantu."
Dia melompat kegirangan. "Terima kasih, Ayah!"
---
Tiga bulan kemudian, buku pertama Bi selesai.
Judulnya: "Dasar-Dasar Ilmu Alam untuk Pemula"—sederhana, tapi tepat. Isinya seratus halaman, membahas tentang api, air, tanah, logam, dan tentu saja, mesiu.
Kami mencetak seratus eksemplar pertama dengan biaya sendiri. Sebagian untuk perpustakaan Akademi Jin, sebagian untuk dijual ke klan-klan yang berminat.
Reaksinya di luar dugaan.
Dalam sebulan, semua eksemplar habis. Klan-klan lain meminta lebih. Bahkan Klan Pusat mengirim utusan untuk membeli lima puluh eksemplar.
Bi menjadi terkenal. Bukan sebagai putri pemimpin, tapi sebagai penulis. Orang-orang memanggilnya "Cendekiawan Cilik".
Tapi dia tetap rendah hati. Setiap pujian dijawabnya dengan, "Itu semua ajaran Ayahku."
---
Suatu hari, saat sedang makan malam bersama, Hyun berkata.
"Ayah, Bi sudah punya buku. Aku belum punya apa-apa."
Aku menatapnya. "Kau punya medali emas."
"Itu bukan karya. Itu hanya hasil pertarungan."
Bi menyenggolnya. "Kakak, pertarungan juga karya. Kau sudah latihan keras, kau sudah korbankan waktu dan tenaga. Itu karya."
Hyun diam. Lalu tersenyum. "Kau selalu tahu cara menghiburku, adik."
"Itu tugasku."
Aku dan Hyerin tertawa melihat interaksi mereka.
---
Tapi kedamaian tidak pernah bertahan lama.
Suatu malam, Baek Dongsu datang dengan wajah pucat. Ini jarang terjadi—dia sudah puluhan tahun jadi kepala intelijen, sudah terbiasa dengan berita buruk.
"Tuan, ada kabar dari timur."
Aku tegang. "Apa?"
"Klan Timur... mereka mengirim pasukan ke perbatasan. Bukan untuk menyerang, tapi untuk... berjaga-jaga. Tapi jumlahnya besar. Lima ribu."
Lima ribu? Itu lebih dari seluruh pasukan kami.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba?"
"Aku tidak tahu. Tapi intelijen bilang, mereka khawatir dengan pengaruh kita yang semakin besar. Mungkin mereka lihat kita sebagai ancaman."
Ini berita buruk. Klan Timur adalah salah satu Empat Klan Besar. Armada laut mereka legendaris. Pasukan darat mereka juga tidak bisa diremehkan.
"Panggil Jin-wook, Song Hwa, dan semua pemimpin. Rapat darurat."
---
Rapat berlangsung tegang.
Jin-wook memaparkan posisi pasukan Timur. Mereka berkemah di seberang sungai perbatasan, sekitar tiga hari perjalanan dari markas. Belum ada gerakan agresif, tapi kehadiran mereka sudah cukup untuk bikin resah.
"Mereka mungkin hanya ingin tekanan," katanya. "Tunjukkan kekuatan, buat kita takut."
"Atau mereka tunggu saat yang tepat untuk menyerang," sahut Song Hwa.
Aku diam, memikirkan. Lalu bertanya pada Baek Dongsu, "Ada kontak dengan mereka? Utusan?"
"Belum. Mereka diam saja."
Ini aneh. Biasanya, kalau mau tekanan, mereka akan kirim utusan dulu. Tawar-menawar, ancam, sesuatu. Tapi diam? Ini tidak biasa.
"Jaga kewaspadaan. Perkuat patroli. Tapi jangan provokasi." Aku menatap mereka. "Kita tunggu."
---
Seminggu berlalu dalam ketegangan.
Pasukan Timur tetap diam di seberang sungai. Tidak maju, tidak mundur. Hanya berkemah.
Penduduk mulai resah. Beberapa mengungsi ke dalam markas. Para pedagang dari luar berhenti datang. Aktivitas ekonomi melambat.
Hyun dan Bi merasakan ketegangan itu. Mereka lebih sering di rumah, jarang keluar.
Suatu malam, Hyun bertanya.
"Ayah, kita akan perang lagi?"
Aku menghela napas. "Aku tidak tahu, Nak. Tapi kita harus siap."
"Kalau perang, aku mau ikut."
"Tidak. Kau masih anak-anak."
"Ayah, aku empat belas tahun. Di dunia persilatan, itu sudah bisa jadi prajurit."
"Aku tidak peduli dunia persilatan. Kau anakku. Aku tidak akan biarkan kau bertarung."
Dia diam. Lalu berkata, "Tapi kalau mereka serang, aku tidak bisa diam."
Aku menatap matanya. Matanya tajam, penuh tekad. Sama seperti Hyerin dulu.
"Baik. Kalau mereka benar-benar serang, kau boleh di barisan belakang. Bantu logistik, jaga komunikasi. Tapi tidak di garis depan."
Dia mengangguk, meskipun kecewa.
---
Dua minggu kemudian, misteri terjawab.
Seorang utusan dari Klan Timur datang. Bukan dengan ancaman, tapi dengan undangan.
Panglima Tertinggi Klan Timur ingin bertemu denganku. Sendirian. Di kapal perangnya, di tengah sungai perbatasan.
Jin-wook curiga. "Ini jebakan, Tuan."
"Mungkin. Tapi kalau tidak datang, mereka akan anggap kita takut. Dan itu lebih berbahaya."
"Tuan, biar aku yang pergi."
"Tidak. Mereka minta aku. Kalau aku kirim wakil, mereka akan tersinggung."
Keputusan sudah bulat. Aku akan pergi.
---
Hyerin menangis malam itu.
"Oppa, jangan pergi. Aku takut."
"Aku harus."
"Kalau kau mati di sana..."
"Aku tidak akan mati." Aku memeluknya. "Aku punya alasan untuk hidup. Kau, Hyun, Bi, klan ini. Aku akan kembali."
Dia menangis di dadaku. Lalu tertidur, lelah.
Aku memandanginya lama. Wajahnya yang cantik, meskipun sudah tidak muda lagi, tetap sama seperti saat pertama kali kulihat.
Maafkan aku, Sayang. Tapi ini tugasku.
---
Esok harinya, aku berangkat.
Sendirian, dengan perahu kecil, menuju kapal perang Klan Timur yang besar. Di belakang, pasukan kami bersiap di tepi sungai—kalau terjadi apa-apa.
Kapal itu megah. Lima tingkat, seratus meter panjangnya. Layar-layar putih berkibar. Di geladak, ratusan prajurit berjaga.
Aku naik ke kapal dengan tenang. Seorang perwira menyambutku, membawaku ke ruang komandan.
Di dalam, seorang pria paruh baya duduk di kursi besar. Wajahnya keras, tapi matanya... matanya bijaksana.
Panglima Tertinggi Klan Timur, Jenderal Laut Yoon Sung-hoon.
"Jin Tae-kyung," sapanya. "Duduk."
Aku duduk di hadapannya.
"Kau pasti bertanya-tanya, kenapa pasukanku diam di sini selama berminggu-minggu."
"Pertanyaan itu sempat terlintas."
Dia tersenyum tipis. "Aku sengaja. Untuk melihat reaksimu. Untuk melihat seberapa kuat mentalmu."
"Lalu?"
"Kau lulus." Dia mencondongkan tubuh. "Kau tidak panik. Tidak mengirim pasukan besar. Tidak memprovokasi. Kau hanya... waspada. Sabar. Itu sifat pemimpin sejati."
Aku diam. Ini bukan pujian biasa.
"Aku di sini bukan untuk perang." Dia mengeluarkan gulungan kertas. "Tapi untuk menawarkan aliansi."
---
Aliansi?
"Klan Timur selama ini netral," lanjutnya. "Tapi keadaan berubah. Klan Utara lemah setelah kematian Dae-ho. Klan Selatan hancur. Klan Pusat sibuk dengan urusan sendiri. Hanya Klan Barat yang masih kuat—dan mereka mulai serakah."
"Dan kau butuh sekutu."
"Kami butuh sekutu yang kuat. Dan kau... kau punya sesuatu yang tidak dimiliki klan lain." Dia menatapku. "Mesiu. Senapan. Meriam. Dengan senjata itu, armadaku tak terkalahkan."
Ini tawaran besar. Tapi juga berisiko.
"Apa imbalannya?"
"Perlindungan. Ketika perang besar pecah—dan pasti akan pecah—kita saling melindungi. Juga akses ke pelabuhan-pelabuhan timur untuk perdaganganmu."
Aku diam, memikirkan. Lalu bertanya, "Kenapa tidak dari dulu? Kenapa baru sekarang?"
Dia tersenyum getir. "Karena aku butuh bukti. Bahwa kau bukan sekadar pemimpin biasa. Dan kau sudah memberikannya. Dengan kemenangan putramu di turnamen. Dengan buku putrimu. Dengan caramu memimpin selama ini."
---
Aku tidak langsung menjawab.
"Ini keputusan besar. Aku perlu bicara dengan keluargaku."
"Tentu. Aku tunggu tiga hari. Setelah itu, pasukanku akan mundur—entah dengan perjanjian, entah tanpa."
Aku mengangguk, lalu pergi.
---
Kembali ke markas, aku langsung memanggil rapat.
Semua pemimpin berkumpul. Hyerin, Jin-wook, Song Hwa, Baek Dongsu. Juga Hyun dan Bi—aku ingin mereka belajar.
Aku ceritakan semuanya. Tawaran aliansi. Risiko. Keuntungan.
Suasana hening. Lalu Jin-wook angkat bicara.
"Ini kesempatan besar, Tuan. Dengan Klan Timur, kita punya akses laut. Perdagangan kita bisa meluas."
"Tapi juga risiko," sahut Song Hwa. "Kalau Klan Barat tahu, mereka bisa anggap kita musuh."
"Klan Barat jauh. Tapi Klan Timur dekat. Lebih baik punya tetangga yang jadi teman daripada musuh."
Perdebatan berlangsung lama. Akhirnya, semua setuju—kecuali Hyerin. Dia diam sejak awal.
Setelah rapat, aku bertanya padanya.
"Kau tidak setuju?"
Dia menggeleng. "Bukan tidak setuju. Tapi aku takut, Oppa."
"Takut apa?"
"Takut kau terlalu sibuk jadi pemimpin besar sampai lupa keluarga." Dia menatapku. "Kita baru saja punya waktu tenang. Hyun dan Bi tumbuh. Aku takut semuanya berubah."
Aku memeluknya. "Tidak akan berubah. Kalian tetap nomor satu."
"Janji?"
"Janji."
---
Tiga hari kemudian, aku kembali ke kapal Klan Timur.
Perjanjian ditandatangani. Di atas kertas dan dengan sumpah. Klan Gong dan Klan Timur resmi bersekutu.
Jenderal Yoon Sung-hoon menjabat tanganku. "Selamat datang di keluarga besar, Jin Tae-kyung. Semoga kerja sama kita langgeng."
"Semoga."
Dari geladak kapal, aku melihat pasukan Timur mulai berkemas. Mereka akan pulang.
Di tepi sungai, Hyerin, Hyun, dan Bi melambai. Senyum mereka menghangatkan hati.
Aku tersenyum balik.
Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, kita tidak sendiri.
---
[Bersambung ke Bab 36]