NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Pertemuan di Tengah Tangis

Langkah kaki Amara terasa berat saat menaiki tangga melingkar yang dilapisi karpet tebal itu. Semakin dekat ia ke lantai atas, semakin jelas suara tangisan bayi yang melengking, bercampur dengan suara barang yang digeser kasar. Mbak Lasmi yang berjalan di depannya tampak tegang, berkali-kali merapikan seragamnya sendiri seolah sedang bersiap masuk ke medan perang.

"Tunggu di sini sebentar," bisik Mbak Lasmi saat mereka sampai di depan sebuah pintu kayu jati besar yang tertutup rapat.

Mbak Lasmi mengetuk pintu itu perlahan. "Tuan... pengasuh barunya sudah sampai."

"Masuk!" Suara itu tidak hanya berat, tapi juga mengandung getaran amarah yang tertahan.

Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar itu membuat Amara terpana. Kamar bayi itu sangat luas, mungkin seukuran seluruh rumahnya di desa, namun suasananya terasa begitu menyesakkan. Di tengah ruangan, seorang pria dengan kemeja hitam yang sudah berantakan tampak mondar-mandir sambil menggendong seorang bayi yang terus meronta.

"Dia tetap tidak mau menyentuh botolnya, Lasmi! Sudah tiga jenis susu formula diganti hari ini!" seru Arlan tanpa menoleh. Wajahnya terlihat lelah dengan gurat frustrasi yang nyata di keningnya.

Mbak Lasmi segera memberi kode pada Amara untuk mendekat. Amara melangkah maju, kepalanya tertunduk sesuai instruksi, namun matanya sempat menangkap sosok Arlan dari dekat. Pria itu jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan, dengan rahang tegas dan aroma parfum kayu yang sangat maskulin—bercampur dengan aroma susu bayi yang masam.

"Ini Amara, Tuan. Gadis yang saya ceritakan dari desa," ujar Mbak Lasmi pelan.

Arlan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Amara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya begitu tajam, seolah sedang membedah setiap rahasia yang dibawa Amara.

"Dia? Dia masih anak-anak," desis Arlan dingin. "Apa dia tahu cara mengurus bayi? Kenzo sedang sangat rewel, aku tidak butuh amatiran di sini."

Amara memberanikan diri sedikit mengangkat wajahnya, meski ia segera menunduk lagi saat matanya bertemu dengan mata gelap Arlan yang mengintimidasi. "Saya... saya terbiasa menjaga kedua adik saya sejak kecil, Tuan. Saya mohon beri saya kesempatan."

"Argh!" Arlan mengerang saat Kenzo, bayi di pelukannya, kembali menangis lebih kencang hingga wajahnya memerah. Arlan tampak kehilangan kesabaran. Tanpa banyak kata, ia menyodorkan bayi mungil itu ke arah Amara. "Ambil. Buktikan padaku kalau kau berguna, atau kau akan dipulangkan malam ini juga."

Amara dengan sigap menerima tubuh mungil Kenzo. Begitu kulit bayi itu bersentuhan dengan lengannya, sebuah gelombang hangat yang luar biasa tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh Amara. Dadanya berdenyut kencang, rasa nyeri akibat tumpukan cairan di dalam sana seolah menemukan "pemicunya".

Anehnya, begitu berada di pelukan Amara, Kenzo perlahan mulai tenang. Isakannya mengecil menjadi rengekan halus. Bayi itu menyandarkan kepalanya di dada Amara, tepat di titik yang paling nyeri, dan mulai mengendus-endus seolah mencium aroma yang ia kenali.

Arlan tertegun. Ia menyipitkan mata, memperhatikan bagaimana bayi yang tadinya tidak bisa ditenangkan oleh siapa pun, tiba-tiba menjadi jinak di tangan gadis desa ini.

"Kenapa dia bisa langsung tenang?" tanya Arlan, suaranya kini merendah, namun tetap terasa mengancam.

"Mungkin... Tuan Kenzo hanya butuh pelukan yang nyaman, Tuan," jawab Amara gugup. Jantungnya berdebar bukan karena takut saja, tapi karena rembesan di dadanya semakin tak terkendali. Ia bisa merasakan pakaian dalamnya mulai basah kuyup.

"Lasmi, tinggalkan kami. Biarkan dia mencoba memberi susu sekali lagi di depanku," perintah Arlan mutlak.

Mbak Lasmi memberikan tatapan khawatir pada Amara sebelum keluar dan menutup pintu. Kini, di ruangan luas itu, hanya ada Amara, sang bayi yang mulai gelisah mencari-cari sesuatu di dadanya, dan Arlan yang berdiri hanya beberapa langkah darinya, mengawasi dengan tangan bersedekap.

Amara menelan ludah. Ia tahu Kenzo bukan mencari botol susu plastik yang tergeletak di meja. Kenzo mencari sumber kehidupan yang saat ini sedang menyiksa tubuh Amara.

***

Amara merasa keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Kenzo di pelukannya mulai bertingkah lebih agresif; tangan mungil bayi itu mencengkeram kemeja Amara tepat di bagian dadanya yang kencang, sementara kepalanya terus bergerak liar, mengendus-endus mencari sumber aroma manis yang memabukkan indra penciumannya.

Rasa nyeri di dada Amara sudah tidak tertahankan lagi. Ia tahu, jika ia tidak segera mengeluarkan asinya, bukan hanya Kenzo yang akan meledak dalam tangis, tapi bajunya juga akan basah kuyup karena rembesan yang mulai tak terbendung.

"Tuan... maaf," suara Amara bergetar, ia melangkah mundur satu pijakan. "Bolehkah... bolehkah saya meminta Tuan keluar sebentar saja? Saya ingin mencoba menenangkan Tuan Kenzo sendirian. Mungkin dia butuh suasana yang lebih tenang tanpa ada orang lain."

Alis Arlan bertaut seketika. Matanya yang tajam menyipit, menatap Amara dengan tatapan yang seolah bisa menembus jantung gadis itu.

"Kau mengusirku dari kamar anakku sendiri?" tanya Arlan dengan nada rendah yang sangat mengintimidasi.

"Bukan begitu, Tuan... saya hanya berpikir mungkin Tuan Kenzo merasa tegang karena suasana di sini terlalu... kaku," Amara mencoba mencari alasan, tangannya semakin erat mendekap Kenzo yang mulai merengek frustrasi.

Arlan melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Amara bisa mencium aroma maskulin Arlan yang kuat, yang entah mengapa membuat hormon di tubuhnya semakin bereaksi gila-gilaan.

"Dengar, Gadis Desa," ucap Arlan, suaranya kini tepat di depan wajah Amara. "Aku baru saja mengenalmu sepuluh menit yang lalu. Kau orang asing. Kau pikir aku akan membiarkanmu berduaan dengan putraku tanpa pengawasanku? Jangan harap."

"Tapi Tuan, Tuan Kenzo benar-benar butuh ketenangan. Saya janji tidak akan berbuat macam-macam," pinta Amara nyaris memohon. Bayi itu kini mulai menarik-narik kerah baju Amara dengan mulut yang terbuka, mencari-cari.

"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan sampai aku tidak boleh melihatnya?" tanya Arlan curiga. Matanya turun, memperhatikan tangan Amara yang terus-menerus menekan dadanya sendiri seolah menahan rasa sakit. "Kenapa tanganmu di situ? Kau menyembunyikan sesuatu?"

Wajah Amara memerah padam. "Tidak, Tuan. Saya... saya hanya..."

"Jangan berbohong padaku!" bentak Arlan pelan namun menusuk. "Ambil botol susunya dan berikan padanya sekarang. Di depanku. Aku ingin melihat bagaimana cara kau bekerja."

"Dia tidak mau botolnya, Tuan! Lihatlah, dia menolaknya!" Amara berseru putus asa saat Kenzo mulai menjerit lagi karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tangisan Kenzo kali ini jauh lebih memilukan. Bayi itu menendang-nendang, dan secara tidak sengaja sikutnya menekan dada Amara yang sedang bengkak. Amara merintih pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena perpaduan rasa sakit fisik dan tekanan mental.

"Kenapa kau menangis? Hanya karena aku memarahimu?" Arlan tampak terkejut melihat air mata gadis itu, namun egonya tetap tinggi.

"Tolong, Tuan... saya mohon," bisik Amara di sela isakannya. "Biarkan saya mencoba cara saya. Saya menjamin Tuan Kenzo akan diam dalam lima menit. Kalau tidak, Tuan boleh mengusir saya saat ini juga. Tapi tolong... berikan kami privasi sebentar saja."

Arlan terdiam. Ia melihat putranya yang menderita dan melihat gadis di depannya yang tampak begitu tersiksa oleh sesuatu yang tidak ia pahami. Ada dorongan di dalam hati Arlan untuk membentak lagi, namun melihat kerapuhan Amara, sesuatu yang asing berdesir di hatinya.

"Dua menit," desis Arlan akhirnya sambil berbalik arah menuju pintu. "Aku akan berdiri tepat di balik pintu ini. Jika aku mendengar suara yang mencurigakan, aku akan masuk dan kau akan menyesal karena telah menginjakkan kaki di rumah ini."

BRAK!

Pintu jati itu tertutup dengan keras.

Amara mengembuskan napas lega yang gemetar. Ia segera mengunci pintu dari dalam, meskipun ia tahu Arlan mungkin sedang mengawasinya lewat CCTV atau berdiri tepat di balik kayu itu.

"Cup... cup, Sayang. Maafkan Mbak ya," bisik Amara pada Kenzo.

Dengan tangan gemetar, Amara duduk di kursi goyang di sudut kamar. Ia membuka kancing seragamnya satu per satu. Begitu kain itu terbuka, Kenzo langsung terdiam, matanya yang basah menatap lekat ke arah Amara. Saat Amara mendekatkan bayi itu ke dadanya, Kenzo langsung menyambar dengan rakus, seolah telah menemukan harta karun yang hilang.

Slruup...

Amara memejamkan mata, kepalanya tersandar ke belakang. Rasa sakit yang menyiksa itu perlahan berganti dengan kelegaan yang luar biasa. Namun di balik pintu, Arlan berdiri mematung. Keheningan yang tiba-tiba di dalam kamar itu justru membuatnya semakin penasaran dan... berdebar.

1
Naila Saputri
ini Amara seperti g ad harga diri y ,bus d bentak dan di hina oleh arlan ,mau aja d gituin
Bedjho
si Arlan minta di sapih 😭
your grace: nyebelin ya kakk 🤣
total 1 replies
Vicky Aulia
agak menyebalkan sih episode ini huhu
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok arlan jahat banget..udah kamu kanir aja amara...biar arlan nyesel...
Linda Ayu Tong-Tong
kasihan amara...adih arlan..kamu jadiin amara pelacurmu..jahat banget...lebih jahat dari peran arya🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
double 🤣🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
you crazy arlan🤣🤣🤣
Naila Saputri
arlan udh gila 🤣🤣🤣
Achom
laah si Arlan dia yg salah godain Amara mlulu tp dia yg marah² hadeuhh 😑
Ikaculeng
tulisan terrtata dengan baik
Uthie
menarik ceritanya 👍👍👍
Uthie
mampir 👍
Linda Ayu Tong-Tong
thorrr gerah geraah thor🥵🤣
Linda Ayu Tong-Tong
thor kok kyak diperlakukan kyak binatang
Linda Ayu Tong-Tong
oooohhh🥵🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
waaaow panaasss,🥵🥵
Linda Ayu Tong-Tong
next
Linda Ayu Tong-Tong
wakakaka panas dingin aq thor🤣
afaj
kwkwkwk untuk u g nenek bareng anak u arlan
Linda Ayu Tong-Tong
ohh arlan kamu ketagihan nenennya amara🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!