"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Permainan
Prosedur transfer embrio telah selesai. Di sebuah ruangan privat yang lebih mirip kamar hotel bintang lima daripada bangsal rumah sakit, Sasha terbaring diam. Ia diperintahkan untuk beristirahat total selama beberapa jam pertama. Di dalam tubuhnya, benih Adrian kini tengah berjuang untuk menetap—sebuah awal kehidupan yang lahir dari perjanjian hukum yang dingin.
Adrian duduk di kursi samping tempat tidur. Ia tidak memegang tangan Sasha, namun tatapannya tak lepas dari wajah gadis itu. Keheningan di antara mereka terasa sangat berat, dipenuhi oleh kata-kata yang tidak berani mereka ucapkan.
"Apa kamu merasa sakit?" tanya Adrian pelan, suaranya sangat lembut, kontras dengan nada bicaranya yang biasanya otoriter.
Sasha menggeleng kecil, senyum tipis menghiasi bibirnya yang pucat. "Hanya merasa... sedikit aneh. Menyadari ada sesuatu yang sangat berharga di dalam sini, tapi aku tahu itu bukan milikku."
Adrian merasakan dadanya sesak. "Aku akan memastikan kamu mendapatkan yang terbaik, Sasha. Apa pun yang kamu butuhkan. Bukan hanya sebagai ibu dari anakku, tapi karena aku..."
Adrian menggantung kalimatnya. Ia ingin mengatakan karena aku peduli padamu, atau mungkin lebih dari itu. Namun, bayangan Maya yang berdiri di depan pintu menghentikannya.
________________________________________
Maya masuk ke ruangan dengan langkah yang tidak lagi menghentak. Wajahnya yang tegang selama beberapa hari terakhir kini tampak lebih tenang, bahkan cenderung manis. Ia membawa buket bunga tulip putih dan meletakkannya di meja samping tempat tidur Sasha.
"Bagaimana perasaanmu, Sasha?" tanya Maya dengan nada keibuan yang sangat meyakinkan. "Dokter bilang prosedurnya berjalan sempurna. Sekarang, tugasmu hanyalah menjaga dirimu dan... anak kami."
Adrian mengerutkan kening, curiga dengan perubahan sikap istrinya yang mendadak melunak. Maya menyadari tatapan curiga suaminya dan hanya membalasnya dengan senyum tipis.
"Mas, bisakah kamu keluar sebentar? Aku ingin bicara dari hati ke hati dengan Sasha. Sesama wanita," pinta Maya.
Adrian ragu, namun Sasha memberikan anggukan kecil tanda bahwa ia baik-baik saja. Dengan enggan, Adrian melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat namun hatinya tetap tertinggal di dalam ruangan itu.
________________________________________
Begitu Adrian keluar, kehangatan di wajah Maya menguap, meski ia tidak kembali menjadi dingin. Ia duduk di pinggiran tempat tidur Sasha, merapikan selimut gadis itu dengan gerakan yang sangat mekanis.
"Kamu cantik, Sasha. Dan aku tahu suamiku melihat itu," buka Maya langsung ke inti permasalahan. "Aku tidak buta. Aku melihat bagaimana dia menatapmu. Itu adalah tatapan yang sudah lama hilang dari matanya untukku."
Sasha mencoba duduk, namun Maya menahannya. "Tetaplah berbaring. Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan marah padamu karena Adrian jatuh cinta padamu. Pria seperti dia memang mudah goyah saat melihat kesucian yang kamu tawarkan."
Sasha menelan ludah, suaranya bergetar. "Nyonya, saya tidak bermaksud—"
"Aku tahu," potong Maya lembut namun tajam. "Itulah sebabnya aku melunak. Aku ingin kita bekerja sama. Aku akan memberimu kenyamanan luar biasa selama sembilan bulan ini. Aku akan memberimu bonus dua kali lipat dari nilai kontrak jika kamu bisa menjaga jarak emosional dari Adrian."
Maya mengusap pipi Sasha dengan jemarinya yang dingin. "Setelah bayi itu lahir, aku ingin kamu menghilang seolah-olah kamu tidak pernah ada. Kembali ke Polandia, selesaikan studimu, jadilah seniman hebat. Tapi tinggalkan suamiku. Biarkan dia kembali ke pelukanku. Dia mungkin mencintaimu sekarang, tapi dia membutuhkanku untuk mempertahankan dunianya."
"Anda sangat mencintainya, bukan?" tanya Sasha lirih.
"Aku memilikinya, Sasha. Di duniaku, memiliki jauh lebih penting daripada sekadar mencintai," jawab Maya tenang. "Jangan hancurkan masa depanmu dengan berharap menjadi Nyonya Ardilwilaga yang baru. Kamu hanya akan menjadi selingan yang menyakitkan baginya."
________________________________________
Beberapa jam kemudian, saat Maya sedang mengurus administrasi kepulangan mereka ke Jakarta, Adrian berhasil menyelinap kembali ke kamar Sasha. Ia membawa sebuah buku sketsa kecil dan pensil berkualitas tinggi yang ia beli dari toko seni di lobi bawah.
"Aku tahu kamu merindukan studimu," kata Adrian, menyerahkan buku itu.
Mata Sasha berbinar. "Terima kasih, Tuan Adrian. Ini sangat berarti."
"Sasha," Adrian merendahkan suaranya, berdiri sangat dekat hingga napasnya menerpa kening Sasha. "Apa yang Maya katakan padamu tadi?"
Sasha menatap mata abu-abu Adrian. Ia bisa melihat kerinduan dan penderitaan di sana. Ia ingin menceritakan semuanya, tentang ancaman halus Maya, tentang kecemburuan yang disamarkan. Namun, ia teringat pada janin yang sedang ia kandung—janin yang masa depannya bergantung pada stabilitas keluarga ini.
"Dia hanya meminta saya menjaga kesehatan bayi Anda," bohong Sasha, meski hatinya perih.
Adrian tidak percaya begitu saja. Ia meraih tangan Sasha, menggenggamnya erat. "Jangan takut padanya. Dia mungkin punya kekuasaan, tapi aku punya kekuatan untuk melindungimu. Jangan pergi terlalu jauh dari jangkauanku, Sasha."
Sasha merasakan air mata menggenang. Daya tarik pria ini terlalu kuat. Ia merasa seperti ngengat yang mendekati api; ia tahu ia akan terbakar, namun ia tidak bisa berhenti terbang menuju cahaya itu.
Tepat saat itu, pintu terbuka. Maya berdiri di sana, melihat tangan mereka yang bertautan. Alih-alih meledak marah seperti sebelumnya, Maya hanya tersenyum tipis—senyuman yang membuat bulu kuduk Sasha meremang.
"Mobil sudah siap, Mas. Mari kita bawa Sasha ke apartemen rahasia kita di Jakarta. Tempat di mana ia bisa 'bersembunyi' sampai perutnya membesar," ajak Maya dengan suara merdu.
Di balik senyumnya, Maya membatin: Nikmatilah sisa waktumu, Sasha. Karena setiap hari bayimu tumbuh, setiap hari pula waktumu bersama Adrian berkurang hingga mencapai nol.