Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Tanah Awal
Ruang bukanlah ruang. Waktu bukanlah waktu. Xu Hao terlempar, atau lebih tepatnya, ditarik dengan kekerasan yang melampaui pemahaman, melalui sebuah lorong yang bukan lorong. Dindingnya berwarna keemasan, berputar, berdesis, memancarkan getaran hukum yang begitu primordial sehingga nalurinya menjerit. Ini bukan teleportasi biasa. Ini adalah robekan, pelanggaran terhadap tatanan alam yang ia kenal.
Tidak ada suara. Hanya sensasi tubuhnya yang direnggangkan, dimampatkan, dipelintir, lalu dilemparkan bagai anak panah dari busur raksasa. Pikirannya yang selalu tajam pun sempat kosong, dilanda oleh kengerian murni menghadapi kekuatan seperti ini. Inilah kekuatan Dataran Tengah, bahkan hanya dalam cara masuknya.
Titik cahaya di ujung lorong itu membesar dengan cepat, dari sebesar kuku menjadi sebesar gerbang istana, lalu menyapu seluruh pandangannya. Cahaya putih menyilaukan.
Lalu, tibalah hentakan.
---
Udara. Dingin, segar, dan penuh dengan sesuatu yang membuat setiap sel tubuhnya bergetar kegirangan. Xu Hao muncul tiba-tiba di langit, beberapa puluh meter di atas permukaan. Tubuhnya, yang telah mencapai tingkat Dao Awakening, bereaksi otomatis. Ia mengatur aliran energinya, memperlambat jatuh, lalu mendarat dengan ringan bagai sehelai bulu di atas sebuah bukit kecil.
Kakinya menyentuh tanah. Rumput hijau zamrud, lembut, dan basah oleh embun pagi. Ia langsung berlutut, satu tangan menekan tanah, merasakannya. Matahari di sini terasa berbeda. Lebih dekat, lebih terang, memancarkan cahaya keemasan yang hangat.
Tapi itu bukan yang membuatnya terkesima. Napas pertama yang ia tarik di dunia baru ini hampir membuatnya pingsan.
Energi spiritual.
Di dunia luar, energi spiritual seperti kabut tipis, harus disaring, ditarik dengan susah payah. Di tempat-tempat pusat energi seperti istana kerajaan atau gua tersembunyi, ia seperti sungai dangkal. Di sini…
Di sini, energi spiritual adalah lautan. Udara itu sendiri terasa kental, manis, memabukkan. Setiap tarikan napas seperti meneguk eliksir kehidupan kelas tertinggi. Energi itu meresap ke dalam pori-porinya dengan sendirinya, mengisi meridian yang bahkan tidak ia sadari kosong, membuat inti jiwanya bergetar nyaman.
"Ini…" gumam Xu Hao, suaranya serak. Ia berdiri, memandang sekeliling dengan mata yang membelalak. Bukit tempatnya berdiri adalah bagian dari rangkaian perbukitan rendah yang ditutupi hutan lebat dengan daun-daun berwarna perak dan biru, jenis yang belum pernah ia lihat. Di kejauhan, menjulang gunung-gunung raksasa yang puncaknya menembus awan, berkilauan dengan salju abadi dan cahaya formasi pelindung yang samar. Langitnya lebih biru, lebih dalam. Awan-awan berarak lambat, berbentuk aneh, beberapa seperti pulau mengambang.
Suara alam pun berbeda. Kicauan burung terdengar merdu dan penuh kekuatan, seolah setiap notanya mengandung energi. Desir angin melalui daun-daun hutan seperti nyanyian hukum alam itu sendiri.
"Tianxu…" ia berbisik. Jantung Dunia Tianxu. Pusat dari segalanya. Domain Dataran Tengah. Semua legenda, semua cerita yang ia dengar, ternyata masih meremehkan kenyataan. Tempat ini bukan hanya kaya energi. Tempat ini adalah energi itu sendiri, yang telah memadat menjadi tanah, air, udara.
Jika seseorang bisa lahir dan besar di sini, betapa kokohnya fondasi mereka? Betapa mudahnya mereka melangkah? Kemudian, betapa kejamnya persaingan untuk mendapatkan sumber daya yang lebih baik lagi?
Pikiran Xu Hao berputar cepat. Kekaguman awal digantikan oleh kewaspadaan yang dalam. Ia tiba-tiba merasa seperti katak yang keluar dari sumur, hanya untuk menyadari bahwa ia bukan hanya melihat langit, tapi memasuki alam semesta yang penuh dengan naga dan phoenix sejati. Kepercayaan dirinya sebagai Dao Awakening, yang ia pikir akan cukup untuk setidaknya bertahan, sekarang terasa goyah.
Ia harus tetap rendah hati. Harus bersembunyi. Harus belajar.
Tiba-tiba, seperti dikutuk oleh pikirannya sendiri, sebuah peringatan dari Xiou Jianxin berdesing di kepalanya. Cermin Silsilah Darah.
Hampir bersamaan, di suatu tempat yang sangat jauh, di kedalaman sebuah istana megah yang mengambang di antara gunung-gunung dan awan, di ruang yang dijaga oleh segel dan pengawal paling ketat, sebuah artefak kuno bereaksi.
Cermin itu besar, setinggi tiga orang, bingkai kayu hitam tua yang dipenuhi ukiran naga dan phoenix yang tampak hidup. Permukaannya bukan kaca, tapi semacam cairan perak yang selalu bergolak. Saat Xu Hao menginjakkan kaki di Dataran Tengah, permukaan cairan perak itu mendadak tenang, lalu memancarkan denyut cahaya merah tua yang redup.
Bum… Bum…
Seperti detak jantung raksasa. Dua denyut.
Seorang penjaga tua yang duduk bersila di depan cermin itu membuka matanya. Matanya keriput, tapi sorotnya tajam bagai elang. Ia mendekati cermin, mengamati denyut cahaya merah itu. Ekspresinya sedikit berubah, tapi tidak terkejut. Keturunan Xu yang tersesat kembali atau baru masuk adalah hal yang kadang terjadi, meski jarang.
Ia mengamati arah umum yang ditunjukkan cermin: sebuah area luas di perbatasan barat daya, wilayah yang cukup terpencil. Kemudian ia memperkirakan kekuatan, cahaya itu redup, menunjukkan darah yang murni tapi kekuatan individu yang relatif… lemah. Baru memasuki tahap Dao Awakening, mungkin bahkan baru awal.
Penjaga tua itu menghela napas, sedikit meremehkan. Satu lagi anak hilang, atau mungkin keturunan cabang yang baru menemukan jalan masuk. Tidak penting. Kecuali mereka menunjukkan bakat luar biasa atau membawa masalah, klan tidak akan repot-repot. Wilayahnya pun terpencil. Biarkan saja pengawas wilayah setempat yang menanganinya nanti, jika mereka sempat.
Dengan gerakan malas, ia mencatat kejadian ini di sebuah lempung giok.
"Hari ke-7.227 kalender Langit. Denyut darah murni terdeteksi, tingkat Dao Awakening perkiraan awal. Lokasi: wilayah Barat Daya, sektor 89. Tidak ada tanda darurat. Prioritas rendah."
Lalu ia kembali bersila, menutup matanya, kembali ke meditasinya. Sebuah titik kecil di lautan besar Klan Xu.
Xu Hao, di bukit yang jauh, tidak merasakan apa-apa. Teknik penyamaran Xiou Jianxin bekerja, setidaknya untuk saat ini. Darahnya telah memicu reaksi, tetapi sinyalnya lemah dan tersamarkan cukup untuk tidak memicu alarm besar. Ia masih aman, tidak tahu bahwa namanya (atau lebih tepatnya, keberadaan darahnya) sudah tercatat di suatu tempat.
up up up