NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERHENTI MENJADI TEMPAT SAMPAH

Kanaya berdiri mematung di lorong rumah sakit yang mulai sepi, menatap punggung ketiga orang itu yang perlahan menghilang di balik belokan koridor. Napasnya masih menderu, dadanya terasa sesak oleh kombinasi rasa sakit fisik di pipinya dan rasa muak yang sudah mencapai ubun-ubun.

"Ayah itu mimpi apa?" gumam Kanaya lirih, suaranya parau namun penuh penekanan. "Datang merasa pahlawan, merasa punya hak untuk menasihati, padahal dia bahkan bukan siapa-siapa di hidupku sekarang."

Ia menyeka sisa air mata di sudut matanya dengan kasar. Di kepalanya, bayangan laki-laki itu—adik kandung ibunya yang seharusnya menjadi pelindung setelah ayahnya sendiri pergi entah ke mana—terasa begitu menjijikkan. Seorang adik yang dibiayai sekolahnya oleh Maya, yang disuapi dari gaji guru honorer Maya hingga bisa mapan, namun justru membalas dengan membawa wanita lain dan menelantarkan keponakannya sendiri.

"Pahlawan?" Kanaya tertawa pahit sendirian. "Pahlawan macam apa yang membiarkan kakaknya sekarat dan keponakannya terkurung dalam trauma, lalu datang hanya untuk memamerkan keluarga barunya?"

Bagi Kanaya, sosok itu sudah mati. Kehadirannya barusan hanyalah sebuah gangguan dari masa lalu yang gagal. Status "Ayah" yang diberikan secara biologis atau "Paman" secara darah sudah tidak memiliki nilai apa pun di mata Kanaya. Laki-laki itu hanyalah orang asing yang kebetulan memiliki nama belakang yang sama.

Kanaya memutar tubuhnya, kembali menghadap pintu kamar rawat Maya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan emosinya sebelum masuk. Ia tidak ingin Maya melihat sisa amarahnya. Ia ingin Maya melihat bahwa meskipun mereka hanya berdua, itu sudah lebih dari cukup.

Saat ia melangkah masuk, ia melihat Maya masih memejamkan mata, namun air matanya terus mengalir membasahi bantal. Rupanya, Maya mendengar semuanya. Maya mendengar bagaimana anak perempuannya yang selama ini diam, kini berdiri tegak melawan adik yang paling ia sayangi sekaligus paling ia benci.

Kanaya duduk di kursi samping ranjang, meraih tangan Maya, dan menggenggamnya erat. "Dia sudah pergi, Bu. Jangan dipikirkan lagi. Ada Naya di sini. Naya yang akan urus semuanya. Naya yang akan jaga Ibu."

Maya membuka matanya sedikit, menatap Kanaya dengan tatapan yang hancur sekaligus takjub. Untuk pertama kalinya, ia melihat dalam diri Kanaya bukan lagi seorang anak yang bisa ia kendalikan dengan rasa takut, melainkan seorang wanita dewasa yang menjadi satu-satunya benteng pertahanannya.

Setahun berlalu, dan rumah itu kini dihuni oleh dua wanita yang hidup dalam kesunyian yang teratur. Kanaya bukan lagi gadis yang ragu-ragu; ia telah bertransformasi menjadi sosok yang efisien dan dingin. Di toko "Grosir Barokah", ia bukan lagi sekadar keponakan yang menumpang kerja, melainkan tangan kanan Tante Rosa yang disegani. Ia mengelola stok, mengatur anak buah, dan menghadapi pemasok dengan ketegasan yang tak terpatahkan. Jarak sepuluh menit yang dulu terasa seperti jerat, kini ia jalani sebagai rutinitas tanpa makna, layaknya robot yang diprogram setiap harinya.

Maya, yang kini fisiknya mulai pulih meski tak lagi sekuat dulu, seringkali duduk di beranda memperhatikan kepulangan anaknya. Ada penyesalan yang mulai tumbuh di hati Maya saat melihat mata Kanaya yang kehilangan binar hidupnya. Ia mendapatkan apa yang diinginkannya—anaknya ada di rumah, tidak pergi ke Kalimantan, dan tidak menikah dengan laki-laki yang ia takuti. Namun, Maya menyadari bahwa ia telah memenangkan pertempuran tetapi kehilangan jiwa anaknya. Kanaya memang ada di sana, raganya menyuapi obat dan membantunya mandi, tapi hatinya telah terkunci rapat di dasar laut yang dulu sempat mereka seberangi.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk bersama di meja makan, Maya mencoba membuka percakapan yang selama ini menjadi tabu. Ia melihat Kanaya yang hanya fokus pada piringnya, tanpa ada keinginan untuk bercerita tentang harinya. Maya merasa bersalah melihat wajah cantik anaknya yang kini selalu terlihat kaku. Ia teringat Hendri, laki-laki yang dulu pernah ia usir dengan penuh kebencian, namun ternyata adalah satu-satunya orang yang sanggup membuat Kanaya tersenyum tulus.

"Naya," panggil Maya dengan suara lembut yang jarang ia gunakan. "Tadi Tante Rosa bilang, ada keponakannya yang baru pulang dari Australia. Dia orangnya mapan, sopan juga. Katanya dia mau main ke rumah kalau kamu izinkan."

Kanaya berhenti mengunyah, namun ia tidak mendongak. Ia meletakkan sendoknya dengan suara denting yang pelan di atas piring kaca. "Naya sibuk, Bu. Besok ada audit stok di toko. Naya tidak punya waktu untuk tamu yang tidak penting."

"Bukan begitu, Nduk. Maksud Ibu, kamu kan masih muda. Masa mau terus-terusan begini? Ibu sudah semakin tua, Ibu ingin lihat kamu punya sandaran," lanjut Maya, suaranya hampir menyerupai permohonan. "Ibu tidak akan melarang seperti dulu. Ibu sudah sadar kalau Ibu salah..."

Kanaya akhirnya mendongak, menatap ibunya dengan tatapan yang sangat datar. "Sandaran? Untuk apa? Dulu Ibu bilang semua laki-laki itu penipu, seperti Ayah adik Ibu yang pengecut itu. Naya sudah percaya kata-kata Ibu. Naya sudah mematikan rasa itu karena Ibu yang minta. Sekarang, kenapa Ibu malah menyuruh Naya menyalakannya lagi? Hati Naya bukan saklar lampu yang bisa Ibu mainkan sesuka hati."

Kata-kata itu menghujam jantung Maya lebih tajam dari sembilu. Ia terdiam, menyadari bahwa racun yang ia tebarkan selama bertahun-tahun telah bekerja terlalu sempurna. Kanaya telah menjadi benteng yang terlalu kokoh untuk ia robohkan sendiri.

Setelah makan malam selesai, Kanaya mencuci piring dengan gerakan mekanis. Ia teringat Hendri sesaat, namun segera mengusir bayangan itu. Ia merasa hidupnya sekarang sudah "aman". Tidak ada lagi harapan, maka tidak ada lagi kekecewaan. Ia tidak membenci ibunya, tapi ia juga tidak lagi memiliki cinta yang tersisa untuk diberikan kepada siapa pun. Ia memilih untuk tetap menjadi "mati" di dalam kerangkeng sepuluh menitnya, menjaga ibunya sampai waktu yang memisahkan mereka tiba, tanpa pernah ingin membuka pintu hatinya lagi bagi siapapun yang berani mengetuk.

Suasana sore yang tenang di teras rumah itu mendadak hancur berkeping-keping saat sebuah motor berhenti dengan kasar di depan pagar. Ayah Kanaya turun dengan wajah merah padam, matanya menyala penuh amarah yang tidak berdasar. Tanpa permisi, ia merangsek masuk ke halaman, menunjuk-nunjuk ke arah Kanaya yang sedang membantu ibunya duduk di kursi teras.

"Ini semua gara-gara kamu! Adikmu sekarang mogok, tidak mau sekolah!" teriak ayahnya menggebu-gebu, suaranya sampai terdengar ke rumah tetangga. "Karena kamu pergi jalan-jalan pamer, beli handphone baru pamer, maksud kamu apa? Kamu mau menghancurkan masa depan adikmu dengan membuat dia iri, hah?"

Kanaya berdiri mematung. Ia menatap laki-laki itu dengan tatapan yang sulit diartikan—antara muak dan tidak percaya. Maya yang berada di sampingnya tampak gemetar, tangannya mencengkeram lengan baju Kanaya dengan kuat. Ketakutan lama itu kembali membayangi wajah sang ibu.

"Aku bahkan nggak ketemu kalian enam bulan, Yah," ucap Kanaya, suaranya terdengar sangat tenang namun dingin, kontras dengan emosi ayahnya yang meledak-ledak. "Sekarang Ayah datang tiba-tiba, menuduh hal yang nggak pernah aku lakuin. Pamer? Jalan-jalan? Ayah tahu dari mana?"

"Nggak usah bohong! Ibu tirimu lihat postingan di media sosial! Kamu pamer hidup enak, pakai baju bagus, makan di tempat mahal. Adikmu lihat itu dan sekarang dia menuntut dibelikan barang yang sama! Dia malas sekolah karena merasa Ayahnya nggak becus kasih uang seperti kamu punya uang!" Ayahnya semakin mendekat, telunjuknya hampir mengenai wajah Kanaya.

Kanaya menarik napas panjang, lalu ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya masih retak karena kejadian setahun lalu—ponsel yang sama yang tidak pernah ia ganti karena uangnya habis untuk biaya rumah sakit Maya.

"Lihat ini, Yah," Kanaya menyodorkan ponsel tuanya ke depan mata ayahnya. "Media sosial apa? Akun aku sudah lama mati. Aku nggak pernah posting apa pun. Aku kerja di toko grosir dari pagi sampai malam, mengurus Ibu yang sakit karena Ayah telantarkan. Jalan-jalan? Satu-satunya jalan yang aku tahu cuma rumah ke toko yang jaraknya sepuluh menit!"

Ayahnya tertegun sejenak, namun egonya yang terlalu tinggi menolak untuk merasa salah. "Pasti kamu pakai akun lain! Jangan sok suci kamu!"

"Cukup, Yah," potong Kanaya, suaranya kini merendah namun penuh ancaman. "Ayah datang ke sini cuma karena nggak sanggup mendidik anak Ayah sendiri, lalu cari kambing hitam? Kalau adikku malas sekolah, itu karena dia melihat contoh yang salah dari Ayahnya. Dia melihat laki-laki yang kerjanya cuma menyalahkan orang lain atas kegagalannya sendiri."

Kanaya melangkah maju satu langkah, membuat ayahnya sedikit tersentak mundur. "Jangan pernah injakkan kaki di sini lagi untuk urusan sampah seperti ini. Kalau Ayah hidup susah, itu pilihan Ayah. Kalau istri Ayah itu tukang fitnah, itu urusan Ayah. Tapi jangan berani-berani bawa racun kalian ke depan wajah Ibuku lagi."

Maya yang melihat keberanian anaknya, perlahan mulai tegak. Untuk pertama kalinya, ia melihat Kanaya bukan sebagai beban atau tawanan, melainkan sebagai pelindung yang selama ini ia butuhkan. Ayah Kanaya mendengus

Ayah Kanaya tidak berhenti di situ. Ia justru semakin menjadi-jadi saat melihat Kanaya mulai melawan. Wajahnya yang memerah kini tampak semakin gelap, penuh kebencian yang dipaksakan untuk menutupi rasa malunya.

"Bahkan adikmu bilang kamu pacaran sama preman jalanan! Kamu nggak mikir? Mau jadi apa kamu? Sudah nggak tahu diri, sekarang mau jadi sampah masyarakat juga?!" teriak ayahnya, suaranya melengking menyakitkan.

Kanaya terdiam sejenak. Kalimat itu benar-benar menjadi tetes terakhir yang menghancurkan sisa kesabarannya. Ia menatap ayahnya dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang membedah isi kepala laki-laki itu.

"Ayah ini kalau ngomong dipikir dulu apa nggak?" tanya Kanaya, suaranya rendah namun bergetar karena emosi yang tertahan. "Setiap aku salah, aku dimarahi atas kesalahanku sendiri. Aku terima. Tapi kenapa setiap adikku yang salah, aku juga yang ikut dimarahi? Kenapa aku selalu jadi tempat sampah untuk semua kegagalan kalian?"

Kanaya menyeka sudut matanya yang kering, hatinya sudah terlalu panas untuk sekadar mengeluarkan air mata.

"Ayo!" bentak Kanaya tiba-tiba, suaranya menggelegar membuat ayahnya tersentak. "Kita datangi dia sekarang! Aku nggak takut sama anak brengsek itu. Kita buktikan siapa yang berbohong di depan mukanya langsung!"

Tanpa menunggu jawaban, Kanaya menyambar kunci motornya yang tergeletak di meja teras. Ia melangkah dengan kaki yang kokoh, mengeluarkan motor dari garansi dengan gerakan kasar.

"Naya! Mau ke mana, Nduk?" seru Maya panik, namun ia juga tidak ingin tertinggal. Ketakutan Maya berubah menjadi dorongan untuk membela anaknya.

"Ikut Naya, Bu! Kita selesaikan drama murahan ini sekarang!" sahut Kanaya sambil menyalakan mesin motor.

Kanaya memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah ayahnya yang selama ini tidak pernah ingin ia injak. Di belakangnya, ayahnya menyusul dengan motornya sendiri, dan Maya yang nekat membonceng tetangga demi memastikan Kanaya tidak melakukan hal nekat.

Begitu sampai di depan rumah minimalis milik ayahnya, Kanaya tidak mengetuk pintu. Ia langsung menendang pagar hingga menimbulkan suara dentum yang nyaring.

"Keluar kamu!" teriak Kanaya di depan rumah itu. "Keluar, bocah pengecut! Sini bilang depan mukaku siapa preman jalanan yang kamu maksud!"

Pintu terbuka, memperlihatkan wajah adik tirinya yang pucat pasi, disusul oleh ibu tirinya yang tampak kaget melihat kedatangan "tamu" yang tidak diundang itu. Suasana mendadak menjadi sangat panas di bawah langit sore yang kian jingga. Kanaya berdiri tegak di tengah halaman, menantang semua fitnah yang selama ini mengurung namanya dalam kebohongan.

1
Mega Arum
luar biasa
Mega Arum
bagus sekali ceritanya.. menguras airmata,
sukensri hardiati
👍💪🙏/Rose//Heart//Ok/
sukensri hardiati
astagaa....bagaas...bagaas...
sukensri hardiati
semuanya sakit...psikis dan fisik
sukensri hardiati
masyaa Allah...kanaya...hebaat kamu...
sukensri hardiati
bagas dateng salah.....nggak dateng salah juga...mbah kung mbingungke...yaaah..kanaya yg jadi korban
sukensri hardiati
banyak sekali yg sayang kanaya.../Rose/
falea sezi
q ksih ne bunga lagi tp kasih boncap banyakkkk
falea sezi
Duh seru lo tambah boncap donk thor/Shame/
nanuna26: boncap itu apa ka
total 1 replies
falea sezi
q ksih bunga karena cerita mu bagus menguras air mata/Sob/
falea sezi
Wanda baik bgt sih uda Hendri urus aja bini mu itu q kira qm. setia perjuangan kan Kanaya nyatanya bini nya lagi hamil dih
nanuna26: kak makasih banyak ya, ini kisah nyata author walau endingny belum sebahagia kanaya hehe
total 1 replies
falea sezi
move on nay qm nanti pasti ketemu jodoh
falea sezi
biarin aja bapak mu yg urus itu kakaknya
Boa: serius kak?
total 2 replies
falea sezi
gila bner. maya ne harusnya di rmh sakit jiwa aja
falea sezi
pergi aja Kanaya ngekos maya jd gila. karena. jd perawan tua
falea sezi
berikan naya bahagia
falea sezi
nyesek amat Kanaya astaga
falea sezi
pengen tak bejek2 si bagas
falea sezi
pergi aja dr situ bagas laki kok. lembek. krja lah ajak anakmu pergi jauh
nanuna26: kak falea makasi udh support
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!