Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Dua Front di Bawah Badai
Gia memacu motor bebek tua milik Pak RT menyusuri jalan tikus yang membelah rimbunnya pohon sengon. Angin malam menusuk hingga ke tulang, tapi rasa dingin itu tak sebanding dengan api yang berkobar di dadanya. Di belakangnya, desa dan kedai kebanggaannya perlahan menghilang, digantikan oleh kegelapan jalan pintas menuju perbatasan kabupaten.
"Bapak, bertahanlah," bisiknya di balik helm yang kacanya sudah retak.
Pesan Rian terus terngiang: Cari Pak Jaka, buka file 'Proyek Jembatan Runtuh'. Gia tahu, Jakarta bukan lagi rumah baginya, melainkan sarang ular. Namun kali ini, ia tidak akan datang sebagai korban yang melarikan diri. Ia akan datang sebagai badai yang akan menyapu bersih kebohongan keluarga Mahendra.
Sementara itu, Rian melangkah dengan tenang menyusuri dermaga tua yang sudah puluhan tahun tidak disinggahi kapal besar. Kayu-kayu dermaga berderit di bawah injakan sepatunya, seolah memperingatkan akan bahaya yang mengintai di balik kabut laut. Bau amis garam dan kayu busuk memenuhi udara.
Tepat di ujung dermaga, sebuah kapal motor berukuran sedang tampak bersandar dengan mesin yang masih menderu halus. Tiga orang pria berbadan tegap dengan sorot mata dingin sudah menunggu di sana. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang pria paruh baya yang mengenakan jas hujan mahal. Ia adalah asisten kepercayaan Tuan Mahendra, orang yang dikenal sebagai "Pembersih".
"Kamu datang tanpa 'kuncinya', Rian?" pria itu bertanya dengan suara datar, nyaris tak terdengar di antara deburan ombak.
Rian berhenti tiga meter di depan mereka. Ia tidak membawa tas, tidak membawa ponsel di tangannya. Hanya kedua tangannya yang masuk ke dalam saku jaket flanelnya yang lembap.
"Aku nggak sebodoh itu, Pram," sahut Rian. "Bebaskan Pak Jaya sekarang, maka aku akan kasih tahu di mana server cadangan itu berada. Kalau satu jam lagi aku nggak kasih sinyal ke orangku, semua data itu akan terpublikasi otomatis ke kantor pusat FBI dan Interpol. Bukan cuma urusan jembatan, tapi urusan pencucian uang kalian di Singapura."
Pram tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu. "Kamu selalu suka menggertak, Rian. Kamu lupa siapa yang melatihmu dulu? Kami sudah memutus semua sinyal di area ini. Orangmu tidak akan menerima sinyal apa pun."
Pram memberi isyarat, dan dua pria di sampingnya mulai melangkah maju mengepung Rian. Rian tetap tenang. Ia merasakan pisau lipat di sakunya, tapi ia tahu ia tidak bisa menang melawan tiga orang bersenjata hanya dengan itu. Ia butuh sesuatu yang lebih besar.
"Sinyal seluler memang mati, Pram," Rian berbisik sambil mengeluarkan sebuah remote kecil dari sakunya. "Tapi frekuensi radio jarak pendek... itu cerita lain."
Tiba-tiba, lampu sorot dari kapal motor di belakang mereka meledak. Suara dentuman kecil terdengar dari arah mesin kapal, diikuti oleh asap hitam yang mengepul. Kekacauan singkat itu memberikan celah bagi Rian untuk bergerak.
Di saat yang sama, Gia baru saja mencapai terminal bus pinggiran kota. Ia tidak berani menggunakan ponselnya untuk memesan tiket daring. Ia langsung melompat ke bus arah Jakarta yang paling cepat berangkat. Di dalam bus yang remang-remang, Gia membuka ransel kecilnya. Di sana, terselip sebuah buku catatan kecil milik Rian.
Gia membukanya, berharap menemukan instruksi tambahan. Namun, ia justru menemukan sebuah foto lama yang terselip di halaman belakang. Foto Rian yang sedang tersenyum bangga di depan sebuah maket gedung megah, dan di sampingnya ada seorang pria muda yang wajahnya tampak familiar.
Danu. Gia teringat cerita Rian tentang sahabat yang mengkhianatinya. Di bawah foto itu, ada tulisan tangan Rian: "Integritas adalah beban yang berat, tapi kebohongan adalah penjara yang abadi."
Gia menutup buku itu dengan tangan gemetar. Ia menyadari bahwa misi ini bukan hanya tentang menyelamatkan ayahnya, tapi juga tentang mengembalikan kehidupan Rian yang telah dicuri.
Perjalanan menuju Jakarta memakan waktu enam jam yang terasa seperti selamanya. Begitu sampai di ibu kota, Gia tidak menuju apartemen lamanya atau kantor lamanya. Ia langsung menyelinap menuju kawasan kumuh di Jakarta Utara, tempat Pak Jaka menyembunyikan "bom waktu" terakhir mereka.
Kembali di dermaga, Rian sedang bergelut dengan maut. Ia berhasil menjatuhkan satu lawan dengan teknik kuncian lantai yang cepat, namun Pram mengeluarkan senjata api.
"Cukup permainannya, Rian! Berikan lokasinya atau aku lubangi kepalamu sekarang!" teriak Pram.
Rian berdiri dengan napas tersengal, sudut bibirnya berdarah. Ia menatap moncong pistol itu tanpa rasa takut. "Tembak saja, Pram. Kalau aku mati, rahasia itu mati bersamaku, dan Tuan Mahendra akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara seumur hidup karena pengkhianatanmu."
"Apa maksudmu?" Pram mengernyitkan dahi.
"Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu sudah memindahkan sebagian dana Mahendra ke rekening pribadimu di Cayman Island? Aku punya log transaksinya, Pram. Kalau data itu terbuka, Mahendra akan tahu siapa pencuri sebenarnya di dalam rumahnya sendiri."
Pram membeku. Tangannya yang memegang pistol mulai bergetar. Inilah keahlian Rian yang sebenarnya: bukan otot, tapi informasi. Ia selalu tahu kelemahan lawan di saat yang paling kritis.
"Kita bisa negosiasi, Pram," bisik Rian, perlahan mendekat. "Kamu lepaskan Pak Jaya, aku hapus jejak pencurianmu. Kita berdua bisa bebas dari Mahendra selamanya."
Pram tampak bimbang. Keserakahan beradu dengan loyalitas yang sudah retak. Di tengah ketegangan itu, sebuah suara dari pengeras suara kapal terdengar memecah malam.
"PRAM! JANGAN DENGARKAN DIA! DIA HANYA MEMANCING WAKTU!"
Itu suara Niko. Ternyata pria itu ada di dalam kapal, memantau segalanya.
Di sebuah ruko tua di Jakarta, Gia akhirnya menemukan Pak Jaka. Pria tua itu tampak lebih kurus dan waspada. Begitu melihat Gia, ia segera menariknya masuk.
"Rian dalam bahaya besar, Neng," ujar Pak Jaka tanpa basa-basi. "Orang-orang Mahendra baru saja membersihkan semua bukti fisik di gudang lama. Hanya satu jalan tersisa."
"Buka file 'Proyek Jembatan Runtuh', Pak," tegas Gia. "Rian bilang itu kunci untuk menekan polisi di kabupaten dan melepaskan bapak saya."
Pak Jaka mengangguk, ia menyalakan sebuah komputer tua yang layarnya berkedip-kedip. Tangannya yang kasar dengan lincah mengetik kode akses. "Ini bukan cuma soal jembatan, Neng. Ini soal keselamatan ratusan nyawa yang terancam karena beton yang mereka pakai itu palsu. Kalau ini keluar, bukan cuma Mahendra yang jatuh, tapi setengah dari pejabat di kementerian ini akan terseret."
Gia menatap layar monitor yang mulai mengunggah data-data maut tersebut. "Lakukan, Pak. Biar Jakarta terbakar pagi ini."
Di dermaga, situasi pecah. Niko keluar dari kabin kapal dengan amarah yang meluap-luap. Ia merebut pistol dari tangan Pram.
"Kamu selalu merasa paling pintar, Rian!" teriak Niko. "Tapi peluru nggak butuh kepintaran!"
Niko menarik pelatuk.
BANG!
Suara tembakan menggema, membelah sunyi dermaga. Rian terjatuh ke dalam air laut yang dingin bersamaan dengan sirine kapal polisi air yang tiba-tiba muncul dari balik kabut, lampunya yang biru merah menyapu permukaan air yang kini mulai berwarna merah.