Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu
Minggu pagi, Rajendra bangun jam lima—mimpi buruk lagi.
Mimpi yang sama. Ruang kerja. Lantai marmer putih. Darah yang menggenang. Wajah Dera yang dingin. Wajah Jessica yang pucat.
Tapi kali ini ada yang berbeda.
Dalam mimpi, sebelum pisau itu menusuk, ia mendengar suara—suara ayahnya, berbisik dari kegelapan: "Kamu pikir kamu bisa kabur? Kamu pikir kamu bisa mulai lagi? Kamu tetap anak kami. Darah kami. Kamu tidak akan pernah bebas."
Rajendra terbangun dengan napas tersengal—keringat dingin membasahi leher.
Ia duduk di tepi kasur—menatap jendela yang masih gelap—mencoba menenangkan napas.
Hanya mimpi.
Hanya mimpi.
Tapi mimpi yang terasa terlalu nyata.
Ponselnya bergetar—pesan masuk.
Rajendra meraihnya—layar menyala dengan nama: Nomor Tidak Dikenal.
Pesan singkat:
"Rajendra, kita perlu bicara. Ini penting. Jangan abaikan. - Dera"
Rajendra menatap pesan itu beberapa detik—rahangnya mengatup erat.
Dera.
Sudah seminggu sejak rapat keluarga—seminggu sejak ia keluar dari rumah itu—dan baru sekarang Dera menghubungi.
Rajendra menghapus pesan itu—tidak membalas—lalu memblokir nomornya.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
Sesuatu yang tidak nyaman.
Di kehidupan pertamanya, Dera selalu tahu cara masuk—cara menembus pertahanan, cara membuat Rajendra ragu, cara membuat Rajendra merasa bersalah.
Kali ini ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Pukul delapan pagi, Rajendra naik bus TransJakarta menuju Cakung—perjalanan satu setengah jam dari Kuningan dengan tiga kali ganti bus.
Ia duduk di pojok belakang—menatap jendela—melihat Jakarta yang padat, kotor, bising, tapi hidup.
Bus berhenti di halte terakhir—Cakung.
Rajendra turun—berjalan menyusuri jalan kecil yang dipenuhi pabrik tua, gudang, dan truk-truk besar yang parkir sembarangan.
Udara panas. Debu beterbangan. Bau solar dan asap knalpot bercampur jadi satu.
Ia berjalan sekitar sepuluh menit—sampai di sebuah gudang tua dengan cat pudar—plang bertuliskan "Setiawan Logistics" terpasang miring di atas pintu besi.
Rajendra mengetuk pintu—bunyi logam bergema keras.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi—lebih keras.
Kali ini pintu terbuka—seorang pria besar dengan kaos oblong putih lusuh dan celana kain berdiri di ambang pintu—wajahnya keras, kumis tebal, mata tajam.
Bambang Setiawan.
Usia sekitar lima puluhan—postur besar tapi tidak gemuk—otot masih kencang dari kerja fisik bertahun-tahun.
"Rajendra Baskara?" tanyanya—suaranya berat, tidak ramah.
"Iya, Pak."
Bambang menatapnya dari atas sampai bawah—seperti menilai.
Lalu ia mundur—membiarkan Rajendra masuk.
"Masuk. Tutup pintunya."
Rajendra masuk—menutup pintu besi di belakangnya—lalu mengikuti Bambang ke dalam gudang.
Di dalam, gudang itu terlihat setengah kosong—beberapa tumpukan kardus di pojok, dua truk tua terparkir di tengah, meja kerja kecil dengan komputer jadul dan tumpukan dokumen.
Bambang duduk di kursi plastik—menunjuk kursi lain di seberangnya.
"Duduk."
Rajendra duduk—menatap Bambang dengan tenang.
Bambang meraih sebungkus rokok dari meja—menyalakan satu—menghisap dalam-dalam—lalu menghembuskan asap ke samping.
"Jadi," katanya sambil menatap Rajendra dengan tatapan tajam. "Anak keluarga Baskara datang ke tempat kumuh kayak gini. Mau apa?"
"Saya butuh bantuan, Pak. Soal logistik."
Bambang tertawa—tertawa pahit, sinis.
"Bantuan? Dari aku? Keluarga kalian pecat aku dua tahun lalu tanpa pesangon. Tanpa alasan jelas. Cuma bilang 'ketidaksesuaian operasional.' Sekarang kamu mau bantuan?"
Rajendra menatapnya—nadanya tenang tapi tegas.
"Saya bukan keluarga mereka lagi."
Bambang mengerutkan dahi—asap rokok mengepul di antara mereka.
"Apa maksudmu?"
"Saya sudah keluar. Secara resmi. Saya tidak ada hubungan lagi dengan Julian Baskara atau Grup Baskara."
Bambang menatapnya—diam—seperti mencoba membaca apakah ini serius atau main-main.
"Kenapa?"
"Karena saya tahu mereka salah. Karena saya tahu Bapak dipecat bukan karena salah Bapak—tapi karena Bapak tidak mau ikut-ikutan korupsi mereka."
Bambang terdiam—rokok di tangannya berhenti di udara.
"Kamu tahu?"
"Saya tahu banyak hal, Pak. Tentang apa yang mereka lakukan. Tentang apa yang akan mereka lakukan. Dan saya tidak mau jadi bagian dari itu."
Bambang menatapnya—lama—seperti mencoba melihat apakah ada kebohongan di mata itu.
Lalu ia menghisap rokoknya lagi—menghembuskan asap perlahan.
"Oke. Anggap aku percaya. Terus? Mau apa sekarang?"
"Saya lagi bangun startup e-commerce. Namanya LokalMart. Fokus ke produk lokal UMKM. Masalah terbesar e-commerce sekarang adalah logistik—pengiriman lambat, barang rusak, tracking tidak jelas. Saya butuh sistem logistik yang reliable. Dan saya tahu Bapak bisa bantu."
Bambang tersenyum tipis—senyum sinis.
"Kamu lihat gudang ini?" Ia mengangkat tangan—menunjuk sekeliling. "Ini bukan perusahaan besar. Ini cuma bisnis kecil-kecilan. Aku punya dua truk tua, lima orang karyawan, dan orderan seadanya. Kamu pikir aku bisa handle startup e-commerce?"
"Sekarang belum," jawab Rajendra tenang. "Tapi nanti bisa. Saya tidak butuh besar sekarang—saya butuh reliable. Saya butuh orang yang saya bisa percaya. Dan saya percaya Bapak."
Bambang menatapnya—diam—ekspresinya sulit dibaca.
Lalu ia bicara—nadanya pelan tapi serius.
"Kamu tahu kenapa aku dipecat?"
"Karena Bapak tolak manipulasi data pengiriman."
"Benar. Ayahmu mau aku ubah tanggal pengiriman di sistem—biar terlihat lebih cepat—padahal barang belum dikirim. Aku tolak. Karena itu bohong. Dan aku tidak mau perusahaan yang aku bangun dari nol—sistem logistik yang aku rancang sendiri—dipake untuk tipu customer."
Ia menghisap rokok lagi—matanya menatap jauh.
"Seminggu kemudian, aku dipecat. Tanpa alasan jelas. Tanpa hak banding. Dan sejak itu, nama aku rusak di industri. Tidak ada perusahaan besar yang mau pake jasa aku. Mereka semua takut sama keluarga Baskara."
Rajendra mendengarkan—merasakan sesuatu berat di dadanya.
"Maafkan mereka, Pak. Maafkan keluarga saya."
Bambang menatapnya—matanya tajam.
"Kamu minta maaf atas nama mereka?"
"Tidak. Saya minta maaf atas nama diri saya sendiri. Karena dulu saya tidak tahu. Karena dulu saya tidak berbuat apa-apa. Karena saya bagian dari sistem yang menyakiti Bapak."
Bambang diam—rokok di tangannya sudah habis—ia memadamkannya di asbak kecil di meja.
Lalu ia bicara—nadanya lebih lembut sekarang.
"Kamu beda dari ayahmu."
"Saya tahu."
"Tapi itu tidak cukup. Aku butuh jaminan. Aku tidak mau ditipu lagi."
"Saya tidak akan tipu Bapak," kata Rajendra tegas. "Saya akan bayar Bapak sesuai kontrak. Saya akan kasih Bapak equity—1 persen saham LokalMart—kalau Bapak mau jadi partner jangka panjang. Dan saya jamin, tidak ada manipulasi data, tidak ada bohong ke customer, tidak ada sistem kotor."
Bambang menatapnya—lama—seperti menimbang.
Lalu ia berdiri—mengulurkan tangan.
"Oke. Aku coba percaya sekali lagi. Tapi kalau kamu khianati aku—"
"Saya tidak akan," potong Rajendra—berdiri dan menjabat tangan Bambang erat.
Mereka berjabat tangan—pegangan lama, tegas.
"Kapan mulai?" tanya Bambang.
"Dua minggu lagi. Setelah PT resmi berdiri."
"Oke. Aku siap."
Rajendra keluar dari gudang itu dengan perasaan lega—tiga dari tiga sudah lengkap.
Programmer: Arief.
Marketing: Dina.
Logistik: Bambang.
Tim inti sudah ada.
Sekarang tinggal eksekusi.
Ia berjalan menyusuri jalan Cakung yang panas—tangan di saku celana—pikiran sudah merencanakan langkah selanjutnya.
Tapi tiba-tiba—
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di sampingnya—jendela turun—menampilkan wajah yang sangat ia kenal.
Dera Baskara.
Rajendra berhenti—menatap Dera dengan tatapan datar.
Dera tersenyum—senyum yang dulu terlihat hangat, sekarang terlihat palsu.
"Mas Rajendra. Ketemu juga."
Rajendra tidak menjawab.
Dera membuka pintu mobil—turun—berdiri di depan Rajendra dengan jarak dua meter.
"Kamu mengabaikan pesan aku," kata Dera—nadanya tenang tapi ada nada tersinggung di sana.
"Karena tidak ada yang perlu dibicarakan," jawab Rajendra datar.
"Mas, please. Kita keluarga. Aku tahu Mas marah karena rapat kemarin. Tapi itu bisa kita selesaikan. Kita bisa—"
"Kita bukan keluarga," potong Rajendra—nadanya dingin. "Kita tidak pernah benar-benar keluarga."
Dera terdiam—senyumnya luntur.
"Mas kenapa jadi kayak gini? Kenapa tiba-tiba berubah? Dulu Mas tidak pernah kayak gini. Mas selalu baik, selalu—"
"Karena dulu aku bodoh," potong Rajendra lagi—menatap Dera dengan tatapan yang membuat Dera mundur satu langkah. "Karena dulu aku percaya. Sekarang tidak lagi."
Dera menatapnya—wajahnya pucat.
"Mas... aku tidak ngerti. Aku tidak pernah—"
"Kamu tidak pernah apa?" tanya Rajendra—nadanya tetap tenang tapi ada tekanan di sana. "Tidak pernah iri? Tidak pernah merasa tersaingi? Tidak pernah berharap aku menghilang dari keluarga itu?"
Dera terdiam—mulutnya terbuka tapi tidak ada kata keluar.
Rajendra melangkah maju—mendekati Dera—sampai jarak mereka hanya satu meter.
"Aku tahu siapa kamu sebenarnya, Dera," katanya pelan—nadanya berbahaya. "Aku tahu apa yang ada di kepalamu. Aku tahu apa yang kamu rencanakan. Dan aku tidak akan biarkan itu terjadi lagi."
"Lagi?" ulang Dera—bingung. "Mas ngomong apa? Aku tidak pernah—"
"Belum," potong Rajendra. "Kamu belum. Tapi kamu akan. Dan aku akan pastikan kamu tidak bisa."
Lalu ia berbalik—meninggalkan Dera yang berdiri terpaku di tepi jalan.
Dera menatap punggung Rajendra—wajahnya pucat—tangan gemetar.
Ada sesuatu yang salah.
Ada sesuatu yang sangat salah dengan Rajendra.
Seperti dia tahu sesuatu yang seharusnya tidak dia tahu.
Dera meraih ponselnya—menelepon nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.
Nada sambung berbunyi tiga kali.
Lalu suara di seberang—suara wanita muda, lembut.
"Halo?"
"Jessica. Ini aku, Dera. Kita perlu bicara. Sekarang."
Sore itu, Dera dan Jessica duduk di sebuah kafe di kawasan Kemang—kafe sepi dengan musik jazz pelan di latar belakang.
Jessica menyeruput latte-nya—menatap Dera dengan tatapan khawatir.
"Kenapa? Ada apa?"
Dera menatap cangkir kopinya—tangannya gemetar sedikit.
"Rajendra... dia aneh. Dia berubah total. Seperti dia tahu sesuatu."
Jessica mengerutkan dahi. "Tahu apa?"
"Aku tidak tahu pasti. Tapi cara dia bicara... cara dia menatap aku... seperti dia bisa lihat sampai ke dalam kepala aku. Seperti dia tahu apa yang aku pikirkan."
Jessica menatapnya—lalu tertawa kecil.
"Kamu overthinking. Dia cuma lagi marah. Wajar. Kamu tahu dia keras kepala kalau lagi ngambek."
"Bukan cuma itu," kata Dera—nadanya serius. "Dia bilang... dia bilang dia tahu apa yang aku rencanakan. Tapi aku tidak pernah cerita ke siapa pun. Tidak pernah. Bahkan ke kamu."
Jessica terdiam—senyumnya luntur.
"Apa maksudmu?"
Dera menatapnya—lama—lalu bicara pelan.
"Tentang kita."
Hening.
Jessica menaruh cangkirnya pelan—wajahnya berubah serius.
"Rajendra tahu tentang kita?"
"Aku tidak tahu. Tapi dia bicara seolah-olah dia tahu. Seolah-olah dia sudah lihat masa depan."
Jessica menatapnya—lalu menggeleng pelan.
"Tidak mungkin. Kita selalu hati-hati. Tidak pernah ketemu di tempat umum. Tidak pernah chatting pakai nomor asli. Tidak mungkin dia tahu."
"Tapi kalau dia tahu?" tanya Dera—nadanya panik sekarang. "Kalau dia sudah curiga? Kalau dia—"
"Tenang," potong Jessica—meraih tangan Dera, menggenggamnya erat. "Tenang. Kita tidak akan buru-buru. Kita tunggu dulu. Kita lihat apa yang dia lakukan. Kalau memang dia cuma ngambek, dia akan balik sendiri. Kalau dia benar-benar tahu sesuatu... kita handle nanti."
Dera menatap Jessica—mencoba tenang—tapi ada sesuatu di dadanya yang tidak nyaman.
Sesuatu yang mengatakan—ini baru awal.
Ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Malam itu, Rajendra kembali ke kamar kos—duduk di tepi kasur—menatap ponselnya yang menyala dengan notifikasi email baru.
Email dari Anton Wijaya:
Subjek: PT LokalMart Indonesia - Approved
Rajendra,
Kabar baik. PT LokalMart Indonesia sudah disetujui Kemenkumham. Dokumen lengkap akan dikirim besok via kurir. Dana 200 juta akan ditransfer ke rekening perusahaan hari Rabu.
Congratulations. Let's build something great.
- Anton
Rajendra menatap email itu—lalu tersenyum kecil.
Resmi.
LokalMart resmi berdiri.
Sekarang tinggal eksekusi.
Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya—pertemuan dengan Dera tadi siang.
Ia terlalu banyak bicara.
Ia terlalu banyak memberi petunjuk.
Di kehidupan pertamanya, Dera bodoh—ambisius tapi bodoh—mudah diprediksi.
Tapi kalau sekarang Dera mulai waspada—kalau dia mulai curiga—maka permainan jadi lebih rumit.
Rajendra menutup laptop—berbaring di kasur—menatang langit-langit yang retak.
Tidak apa.
Biar mereka curiga.
Biar mereka takut.
Karena ketakutan membuat orang membuat kesalahan.
Dan kesalahan adalah celah.
[ END OF BAB 6 ]