Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Hidangan di Balik Bayang-bayang
Musik orkestra yang tadinya mengalun megah kini berganti menjadi irama yang lebih ceria. Sesi dansa formal telah berakhir, digantikan dengan riuh rendah gelak tawa para pemuda dan pemudi yang mulai berkumpul di tengah aula untuk bermain permainan pesta—mencari pasangan melalui teka-teki atau sekadar bertukar mawar.
Genevieve memanfaatkan momen itu untuk melepaskan diri dari dekapan Valerius yang menyesakkan (sekaligus memabukkan). Dengan langkah yang sedikit terburu-buru, ia memisahkan diri dari kerumunan, mencari perlindungan di barisan meja panjang yang tertutup taplak beludru putih di sisi kiri aula.
Matanya berbinar saat melihat deretan hidangan yang tersaji. Ada kue-kue kecil dengan topping buah beri segar yang berkilau, cokelat artisan yang dibentuk menyerupai kelopak bunga, hingga puding sutra yang disiram saus karamel keemasan.
"Luar biasa..." bisiknya pelan.
Sebagai penjaga perpustakaan dengan penghasilan pas-pasan, makanan mewah seperti ini adalah kemewahan yang hanya muncul dalam mimpinya.
Ia mengambil sebuah piring kecil dan mulai mencicipi macaron warna-warni itu dengan penuh sukacita. Untuk sejenak, ia melupakan rasa cemburunya pada Eleanor, melupakan identitas gelap Valerius, dan kembali menjadi gadis muda yang lapar setelah seharian hanya meminum air putih dan teh herbal.
Namun, ketenangannya tak bertahan lama.
Saat ia sedang asyik menikmati sepotong kue tart kecil, ia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Ia mengira itu adalah Valerius yang kembali membuntutinya, namun aroma yang tercium bukanlah mawar liar, melainkan wangi parfum melati yang menyengat dan mahal.
Itu Eleanor.
Sang putri kota berdiri di sana, memegang segelas minuman berwarna merah muda, menatap Genevieve dari balik topeng kristalnya dengan tatapan menyelidik—seolah sedang menilai kualitas kain gaun yang dikenakan Genevieve.
"Kue-kue itu memang enak, bukan?" suara Eleanor terdengar manis namun mengandung nada merendahkan yang tajam. "Sayang sekali jika gaun seindah itu harus terkena remahan makanan hanya karena pemakainya tidak terbiasa makan di tempat seperti ini."
Genevieve membeku, tangannya yang memegang garpu kecil terhenti di udara. Ia tahu, konfrontasi yang ia takuti akhirnya dimulai.
Genevieve menundukkan kepalanya dalam-dalam, pura-pura sangat sibuk dengan potongan kue cokelat di piringnya.
Ia bisa merasakan tatapan Eleanor yang tajam seperti belati, menusuk-nusuk sisi wajahnya. Rasa insecure itu datang kembali, menyerang lebih hebat dari demamnya tadi pagi.
Di depan Eleanor yang merupakan putri ketua kota—gadis yang terbiasa dengan kemilau, tata krama tinggi, dan gaun-gaun terbaru—Genevieve merasa dirinya hanyalah debu perpustakaan yang kebetulan mengenakan gaun pinjaman.
Ia tahu betul Eleanor marah karena melihatnya berdansa begitu intim dengan pria misterius yang memikat hati sang putri tadi.
“Kenapa aku harus peduli? Aku hanya sedang lapar,” batin Genevieve mencoba membela diri, meski tangannya sedikit gemetar saat menyuapkan kue.
Ia memilih untuk tetap bungkam. Baginya, diam adalah benteng pertahanan terbaik. Jika ia berbicara, ia takut suaranya yang bergetar akan membongkar ketakutannya. Jadi, ia terus mengunyah dengan pelan, membiarkan rasa manis cokelat itu sedikit menenangkan sarafnya yang tegang.
Ia seolah-olah menciptakan dunianya sendiri di depan meja makan itu, mengabaikan kehadiran Eleanor yang berdiri angkuh di sampingnya.
Eleanor yang merasa diabaikan mulai mendengus kesal. "Kau... apakah kau tidak punya sopan santun? Aku sedang bicara padamu."
Tepat saat Eleanor hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Genevieve dengan kasar, sebuah bayangan besar menyelimuti mereka berdua. Suasana di sekitar meja makanan itu mendadak turun beberapa derajat.
"Dia sedang menikmati makanannya, Nona Muda," suara rendah dan dingin milik Valerius menginterupsi, terdengar tepat di belakang Eleanor.
Eleanor tersentak dan berbalik, wajahnya yang tadi penuh kemarahan langsung berubah menjadi rona merah karena malu dan terpesona saat melihat Valerius berdiri begitu dekat dengannya.
Namun, Valerius sama sekali tidak menatap Eleanor; matanya hanya tertuju pada Genevieve yang masih sibuk mengunyah dengan pipi yang sedikit menggembung.
Valerius menjulurkan tangannya, dengan lembut mengusap sudut bibir Genevieve yang terkena sedikit krim cokelat menggunakan ibu jarinya. "Makanlah sebanyak yang kau mau, Puan kecil.
Aku sudah membayar mahal untuk memastikan kau tetap hidup, bukan untuk mati kelaparan di pesta ini."
Pemandangan di depan meja makan itu benar-benar kontras. Di satu sisi, Eleanor berdiri dengan napas yang tertahan, wajahnya merona merah hingga ke telinga.
Kemarahannya pada Genevieve mendadak menguap, digantikan oleh debar jantung yang tak beraturan setiap kali ia menatap pahatan rahang Valerius yang tegas di balik topeng. Baginya,
pria ini adalah misteri yang harus ia pecahkan—sebuah tantangan romantis yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Sementara itu, Genevieve—sang objek kecemburuan—justru sedang berada di "dunianya sendiri".
Dari balik topeng rendanya, mata Genevieve bergerak ke kiri dan ke kanan, mengamati interaksi keduanya seperti sedang menonton pertunjukan teater yang sangat seru. Ketegangannya tadi hilang, digantikan oleh rasa geli.
Ia menyuapkan sepotong croissant kecil ke mulutnya, mengunyah dengan santai sambil memperhatikan bagaimana Eleanor mencoba mengatur napas agar terlihat elegan di depan Valerius.
"Wah, dia benar-benar terpesona," batin Genevieve sambil menyesap jus anggur dari gelas kristal. "Kasihan sekali, dia tidak tahu kalau pria tampan ini bisa saja menghisap darahnya jika dia terlalu banyak bicara."
Valerius, yang menyadari bahwa dirinya sedang dijadikan "tontonan" oleh Genevieve sambil makan, melirik gadis itu dengan tatapan tajam.
Ia merasa sedikit tersinggung karena Genevieve tampak begitu menikmati makanannya seolah-olah Valerius bukanlah ancaman atau pria yang tadi berdansa mesra dengannya.
"Kau tampak sangat terhibur, Puan kecil," bisik Valerius dingin, mengabaikan kehadiran Eleanor yang masih berdiri mematung menanti sapaannya.
Genevieve hanya mengerjapkan mata, menelan sisa kuenya, lalu menjawab pelan,
"Makanannya sangat enak, Valerius. Kau harus coba puding ini sebelum Eleanor membawamu pergi untuk berdansa lagi."
Mendengar nama "Eleanor" disebut oleh Genevieve, sang putri kota itu langsung tersadar dari lamunannya. Ia melihat celah untuk masuk.
"Ah, benar! Tuan yang terhormat, musik berikutnya akan segera dimulai. Apakah Anda bersedia memberikan kehormatan itu kepadaku?" Eleanor bertanya dengan suara yang dibuat semanis mungkin, mengulurkan tangannya yang halus.
keren
cerita nya manis