"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Di Meja Kerja
Suasana pagi di pusat kota Jakarta selalu sama; bising, panas, dan menyesakkan. Namun, bagi Alana, sesak yang ia rasakan saat ini bukan karena polusi, melainkan karena setelan rok span hitam dan blazer yang terasa terlalu ketat di tubuhnya.
Ia berdiri di depan cermin besar di lobi gedung pencakar langit "Arkananta Group". Tangannya gemetar hebat saat merapikan kacamata berbingkai hitam yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Rambutnya yang biasa dibiarkan terurai kini digelung rapi, sangat mirip dengan gaya rambut kakaknya, Elena.
"Ingat, Alana... kamu adalah Elena. Kamu adalah sekretaris profesional. Jangan ceroboh atau ibu tidak akan bisa dioperasi," bisiknya pada diri sendiri.
Suara Elena di telepon tadi malam kembali terngiang. Kakaknya itu kabur bersama kekasihnya ke luar negeri, meninggalkan tumpukan utang dan tanggung jawab sebagai sekretaris pribadi Arkananta—CEO paling ditakuti di industri properti. Jika Alana tidak menggantikan posisi itu hari ini, Elena akan dipecat secara tidak hormat, tuntutan hukum akan melayang, dan yang paling mengerikan: biaya rumah sakit ibu mereka akan dihentikan.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 45. Lantai tertinggi yang hanya diisi oleh satu ruangan: ruang kerja Sang Presdir.
Begitu Alana melangkah keluar, keheningan menyambutnya. Lantai itu berlapis marmer hitam yang sangat mengkilap hingga Alana bisa melihat bayangan wajahnya yang pucat. Di ujung lorong, terdapat meja sekretaris yang rapi, dan di belakangnya adalah pintu jati besar setinggi tiga meter.
Baru saja Alana duduk di kursi kebesarannya yang baru, sebuah suara bariton yang berat dan dingin terdengar melalui interkom.
"Elena, masuk sekarang. Bawa laporan audit bulanan dan kopi tanpa gula."
Jantung Alana seakan melompat ke tenggorokan. Itu dia. Sang Monster Es.
Dengan tangan gemetar, Alana menyiapkan kopi hitam pekat. Ia mencari-cari map laporan yang dimaksud di atas meja. Setelah menemukannya, ia menarik napas panjang, merapikan blusnya, dan mengetuk pintu jati itu tiga kali.
"Masuk."
Alana mendorong pintu. Ruangan itu luas, dengan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Namun, fokus Alana langsung tertuju pada pria yang duduk di balik meja kerja luas itu.
Arkananta. Pria itu tidak mendongak. Ia sibuk dengan tablet di tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang mengintimidasi. Rahangnya tegas, rambutnya ditata rapi ke belakang, dan aura kekuasaan yang terpancar darinya membuat oksigen di ruangan itu seolah menipis.
"Kopi Anda, Pak," suara Alana mencicit. Ia meletakkan cangkir itu dengan sangat hati-hati.
Arkan berhenti mengetuk meja. Ia mengambil cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu tiba-tiba meletakkannya kembali dengan dentuman keras yang membuat Alana terlonjak.
"Terlalu panas," ucap Arkan dingin. Matanya tetap tertuju pada tablet. "Sejak kapan kamu lupa suhu kopi kesukaanku, Elena?"
"Ma-maaf, Pak. Saya akan menggantinya," Alana membungkuk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Letakkan laporannya dan diam di sana."
Alana meletakkan map itu dengan tangan gemetar. Ia berdiri mematung di depan meja kerja Arkan. Menit demi menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Arkan membaca laporan itu dengan teliti, sesekali mengernyitkan dahi. Alana bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Tiba-tiba, Arkan menutup map itu dengan kasar. Ia mendongak, dan untuk pertama kalinya, mata elangnya menatap langsung ke arah Alana.
Tatapan itu tajam, seolah bisa menguliti semua rahasia yang Alana sembunyikan. Arkan menyipitkan matanya, memperhatikan Alana dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ada yang berbeda denganmu hari ini," ucap Arkan pelan, tapi nadanya penuh kecurigaan.
"Maksud... maksud Bapak?"
Arkan berdiri. Ia berjalan mengitari meja kerjanya, langkah kakinya yang berat terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi itu. Ia berhenti tepat di depan Alana, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatap wajahnya. Arkan terlalu tinggi, dan jarak mereka sekarang terlalu dekat. Alana bisa mencium aroma parfum sandalwood dan maskulin yang sangat kuat.
"Parfummu," Arkan mendekatkan wajahnya ke leher Alana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Elena selalu memakai aroma mawar yang menyengat. Tapi kamu... kamu beraroma seperti vanila dan... sesuatu yang alami."
Alana menahan napas. Ia lupa! Ia lupa memakai parfum milik kakaknya.
"S-saya ingin mencoba suasana baru, Pak," jawab Alana terbata-bata.
Arkan tidak menjawab. Tangannya tiba-tiba terangkat, bukan untuk memukul, melainkan untuk menyentuh kacamata Alana. Dengan satu gerakan cepat, Arkan melepas kacamata itu dari wajah Alana.
"Dan sejak kapan penglihatanmu bermasalah hingga harus memakai kacamata sebesar ini?" Arkan menatap mata Alana yang bulat dan jernih, sangat berbeda dengan mata Elena yang selalu penuh dengan riasan tebal dan ambisi.
Alana merasa dunianya runtuh. Baru sepuluh menit ia berada di ruangan ini, dan penyamarannya sudah berada di ujung tanduk.
"Saya... saya sedang sakit mata, Pak. Dokter menyarankan untuk memakai pelindung," Alana mencoba mencari alasan seadanya.
Arkan terdiam lama, menatap dalam ke mata Alana yang bergetar karena takut. Ada kilat aneh di mata pria itu, sesuatu yang sulit diartikan. Ia kemudian melemparkan kacamata itu ke meja kerja.
"Kembali ke mejamu. Jadwalkan pertemuan dengan dewan komisaris jam sepuluh nanti. Dan Elena..." Arkan menjeda kalimatnya saat Alana hampir mencapai pintu.
"Ya, Pak?"
"Jangan pernah mencoba membodohiku. Sekali saja aku menemukan kejanggalan, kamu tahu apa konsekuensinya."
Alana mengangguk cepat dan hampir lari keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya di tembok, jantungnya berpacu seperti baru saja lolos dari maut.
Ia tidak tahu bagaimana ia bisa bertahan selama satu bulan ke depan. Arkananta bukan hanya sekadar bos yang dingin; pria itu adalah predator yang sangat peka.
Sementara itu, di dalam ruangan, Arkan berdiri di depan jendela kaca besar. Ia menatap ke arah pintu tempat Alana baru saja keluar. Ia mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor.
"Cari tahu ke mana Elena yang asli pergi," perintah Arkan pada orang di seberang telepon.
Ia menyeringai kecil, sebuah seringai yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Ia tahu itu bukan Elena. Ia tahu gadis itu adalah orang yang berbeda sejak pertama kali ia melangkah masuk. Namun, ketakutan di mata gadis itu, kepolosannya, dan aroma vanila itu... memberikan sensasi menarik yang sudah lama tidak Arkan rasakan.
"Permainan yang menarik, sekretaris kecil," gumam Arkan sambil menatap cangkir kopi yang tadi dibilangnya terlalu panas. Ia meminumnya kembali hingga habis.
Pagi itu, Alana mengira ia berhasil menipu Sang Monster Es. Ia tidak sadar bahwa ia sebenarnya baru saja melangkah masuk ke dalam sangkar emas yang sudah disiapkan Arkan untuknya.