NovelToon NovelToon
ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Pelakor jahat / CEO / Romantis / Ibu Pengganti / Duda / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Selama tiga tahun menikah, Elena mencintai suaminya sepenuh hati, bahkan ketika dunia menuduhnya mandul.

Namun cinta tak cukup bagi seorang pria yang haus akan "keturunan".
Tanpa sepengetahuannya, suaminya diam-diam tidur dengan wanita lain dan berkata akan menikahinya tanpa mau menceraikan Elena.

Tapi takdir membawanya bertemu dengan Hans Morelli, seorang duda, CEO dengan satu anak laki-laki. Pertemuan yang seharusnya singkat, berubah menjadi titik balik hidup Elena. ketika bocah kecil itu memanggil Elena dengan sebutan;

"Mama."

Mampukah Elena lari dari suaminya dan menemukan takdir baru sebagai seorang ibu yang tidak bisa ia dapatkan saat bersama suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. DEBAT

Kafe itu mendadak terasa sesak. Suara riuh pelanggan yang tadi memenuhi udara kini seolah lenyap di telinga Elena. Hanya detak jantungnya yang terasa begitu jelas, berdegup kencang seiring sorot mata tajam pria di hadapannya.

Hans Morelli.

Nama itu kembali menyeruak dari masa lalu seperti pisau yang baru saja diasah. Pria itu berdiri tegak, mengenakan jas hitam yang kontras dengan sinar mentari siang yang menembus kaca besar kafe. Matanya yang kelam menatap Elena dengan ketegasan yang sama seperti dulu; tegas, dingin, dan penuh perhitungan.

Tapi kini ada sesuatu yang berbeda. Tatapan itu tidak hanya dingin, melainkan juga marah.

"Kau menculik anakku?" Suara Hans berat, dalam, dan menusuk.

Elena yang masih duduk terpaku hanya mampu menggeleng pelan, matanya menatap Theo yang kini bersembunyi di diri Elena dengan wajah ketakutan.

"Jangan bodoh, Hans," kata Elena akhirnya, suaranya bergetar namun tegas. "Aku bahkan baru saja bertemu anak ini beberapa menit lalu."

Hans mendengus kecil, matanya menyipit. "Beberapa menit? Lalu kenapa dia memanggilmu 'Mama' dan duduk di pangkuanmu seperti itu?"

Nada sarkastik itu membuat darah Elena mendidih. Ia berdiri, menatap balik tanpa gentar.

"Kalau kau tidak terlalu sibuk dengan urusan kantormu, mungkin kau akan tahu kenapa anakmu bisa tersesat di tempat umum seperti ini, sendirian!" tukas Elena.

Beberapa orang mulai melirik. Suara mereka berdua mulai naik tanpa sadar.

Hans menahan rahang, wajahnya menegang. "Jaga bicaramu, Elena. Aku tidak minta ocehan darimu tentang bagaimana aku membesarkan anakku."

Elena menyilangkan tangan di dada, nada bicaranya penuh sindiran. "Tapi jelas kau membutuhkannya. Anak sekecil ini sampai memanggil orang asing 'Mama'. Kau tahu apa artinya itu, Hans? Dia kesepian."

"Cukup!" suara Hans meninggi, tegas, dingin, memotong kalimat Elena begitu saja.

Namun sebelum Elena sempat membalas, suara kecil yang gemetar memecah ketegangan itu.

"Papa, jangan marahi Mama!"

Keduanya serentak menoleh.

Theo kini menatap Hans marah, matanya mulai berkaca-kaca, tangannya menggenggam erat sisi mantel Elena.

"Theo ...," Hans berusaha menurunkan nada suaranya, tapi bocah itu menggeleng keras.

"Jangan marah-marah pada Mama! Mama baik! Mama tidak jahat! Mama jaga Theo," ujar bocah itu.

Elena tersentak pelan. Bocah itu kini sudah memeluknya, kecil namun begitu erat, seolah takut seseorang akan merenggut Elena darinya.

Hans menatap pemandangan itu dengan campuran bingung dan frustrasi. Ia menarik napas panjang, menunduk sedikit agar sejajar dengan Theo.

"Theo, dengarkan Papa. Itu bukan Mama. Papa sudah bilang-"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Theo menjerit kecil. "Tidam! Ini Mama! Ini Mama Theo!"

Tangisnya meledak. Seketika wajah mungil itu merah, dan air matanya menetes membasahi baju Elena. Ia memeluk Elena makin erat, sementara orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik melihat pemandangan itu.

Elena menatap Hans tajam. "Lihat apa yang kau lakukan? Kau membuatnya menangis."

Hans menegakkan tubuhnya, mengusap wajah dengan frustrasi. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

"Sebenarnya?" Elena memelototinya. "Atau kau terlalu dingin untuk mengerti perasaan anakmu sendiri?"

Hans terdiam, rahangnya mengeras. Ia terbiasa menghadapi lawan bisnis yang keras kepala, tapi entah mengapa, menghadapi Elena selalu terasa berbeda. Wanita itu tahu cara menusuk sisi terlemahnya tanpa berteriak, tanpa kekerasan, cukup dengan kata-kata dan tatapan matanya.

"Elena ...," ucap Hans dengan nada lebih tenang, "aku minta maaf jika aku terdengar kasar. Tapi Theo adalah anakku, dan aku-"

"Aku tahu," potong Elena cepat, menunduk sambil menepuk lembut punggung Theo yang masih terisak. "Tapi anakmu ini sedang ketakutan, Hans. Setidaknya jangan buat dia berpikir kalau dunia ini terlalu kejam untuknya."

Hans hanya terdiam. Matanya tertuju pada tangan Elena yang dengan lembut mengusap kepala Theo, pada cara wanita itu menunduk dengan penuh kesabaran, menenangkan bocah kecil itu tanpa satu pun nada marah.

Ia terpaku.

Dulu, saat masih muda, ia selalu berpikir Elena hanya tahu cara berdebat dan mengalahkan lawan. Tapi sekarang, di hadapannya, ia melihat sisi Elena yang sama sekali berbeda, lembut, tenang, dan hangat.

Sisi yang selama ini tak pernah ia bayangkan dari seorang wanita yang dulu ia anggap batu karang di dunia bisnis.

Theo perlahan mulai berhenti menangis, tapi masih menempel erat di tubuh Elena, menatap papanya dengan wajah cemberut.

"Papa jahat," gumam Theo dengan hidung tersumbat. "Papa marah sama Theo dan Mama."

Hans tertegun. Ia menghela napas panjang, lalu berjongkok di depan anaknya.

"Papa minta maaf, Theo." Nada suara Hans lembut, tapi bocah itu justru memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya di dada Elena.

Elena yang melihat itu menatap Hans, separuh geli, separuh jengkel. "Lihat? Dia marah padamu."

Hans mengangkat alis. "Dan tampaknya dia lebih percaya padamu daripada pada ayah kandungnya."

Elena menatap balik dengan pandangan tajam yang sedikit mengandung ironi.

"Mungkin karena kau tak pernah memberinya waktu untuk percaya," balas Elena.

Hans ingin membalas, tapi menahan diri. Ia tahu, entah kenapa, kali ini Elena tidak sepenuhnya salah. Ia menatap Theo lagi, bocah kecil itu masih memeluk Elena seolah tak mau dilepaskan.

Keheningan yang janggal menggantung di antara mereka sampai akhirnya seseorang datang menghampiri. Seorang pria berjas abu-abu, lebih muda dari Hans, dengan senyum kikuk yang mencoba mencairkan suasana.

"Hans," panggilnya. "Kau di sini rupanya. Kami butuh tanda tanganmu untuk pertemuan investor jam tiga."

Hans menoleh. "Ronald?"

Ronald Morelli, adik bungsu Hans yang juga tangan kanannya di perusahaan Morelli Corporation, kini berdiri di sampingnya sambil melirik Elena dan Theo secara bergantian.

"Uhm ... aku mengganggu sesuatu, ya?" tanya Ronald bingung akan situasi Hans dan Elena yang tegang.

"Elena Wattson," ucap Hans singkat, nadanya datar. "Kau mungkin sudah dengar tentangnya."

Ronald langsung teringat. Nama itu bukan asing di telinganya, rival bisnis keluarga Morelli sejak lama ketika wanita itu berkerja di perusahaan orang tua dulu.

"Oh. Jadi ini Elena Wattson, atau yang dulu dipanggil Miss. Alvarez. Senang bertemu denganmu," ujar Ronald.

Elena hanya mengangguk, tidak ingin berdebat lebih jauh. Ia terlalu lelah untuk basa-basi dengan keluarga Morelli.

Namun sebelum ada yang bicara lagi, Hans menatap jam tangannya dan menghela napas. Ia berjongkok lagi, menatap Theo dengan serius.

"Theo, Papa harus kerja. Kau ikut Uncle Ronald, ya?" pinta Hans pada anaknya.

Theo menggeleng cepat, memeluk Elena makin erat. "Tidak mau! Theo sama Mama!"

"Elena bukan Mama Theo," Hans mengingatkan dengan nada lembut tapi tetap tegas.

Tapi bukannya mendengarkan, Theo justru menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

"Papa jahat! Theo tidak mau! Theo mau Mama!" seru sang bocah.

Beberapa pelanggan kembali melirik, bahkan ada yang mulai berbisik-bisik lagi. Ronald memandang kakaknya dengan ekspresi canggung.

"Hans ... mungkin lebih baik jangan dipaksa di sini. Anakmu bisa trauma kalau ...." Ronald melihat Theo yang menempel pada Elena.

Hans menatap adiknya seolah meminta solusi. Theo masih memeluk Elena, dan Elena hanya bisa menatap keduanya dengan wajah kebingungan.

"Aku tidak tahu harus bagaimana," kata Elena jujur, suaranya pelan tapi terdengar jelas. "Aku bahkan tidak tahu kenapa anakmu bersikeras memanggilku Mama."

Hans mengusap pelipis, frustrasi. "Karena aku pernah bilang padanya kalau suatu hari ia akan mengenali ibunya dari hatinya. Tapi aku tidak menduga dia akan ...." Ia menghentikan kalimatnya, menatap Elena sekilas.

Ronald menepuk bahu kakaknya pelan. "Biar aku bantu. Theo tampaknya merasa nyaman dengan Mrs. Elena. Lagi pula, kau harus ke kantor, kan?"

Hans terdiam sejenak, menatap anaknya, lalu ke Elena yang masih memeluk Theo di pangkuannya. Akhirnya ia mengembuskan napas panjang, menyerah.

"Baiklah. Ronald, bawa mereka pulang ke rumah. Aku tak mau Theo menangis di tempat umum," pinta Hans.

Ronald sempat terkejut. "Apa? Bawa pulang ke rumah?"

Hans menatap tegas. "Kau dengar aku, 'kan?"

Ronald mengangguk pelan, sementara Elena menatap tak percaya.

"Tunggu dulu, Hans. Maksudmu aku ikut ke rumahmu?" tanya Elena.

Hans menatapnya dengan dingin. “Kau lihat sendiri, Elena. Dia tidak mau berpisah denganmu. Aku tidak punya waktu untuk berdebat. Aku butuh seseorang yang bisa menenangkannya, dan untuk alasan yang entah kenapa, kau bisa melakukannya."

Elena membulatkan mata, ingin membantah, tapi tatapan Hans sudah beralih pada Theo.

Ia menunduk, mengelus rambut anaknya lembut.

"Theo, Papa harus kerja dulu, ya. Jangan nakal, dengar kata Uncle Ronald dan ...," mata Hans terarah pada Elena "... dengar kata Mama."

Elena hampir tersedak udara sendiri. "Hans!" protesnya cepat.

Tapi Hans hanya menatap dengan ekspresi datar, lalu menunduk untuk mengecup kepala Theo.

"Papa pulang sore ini," katanya lembut. "Jangan menangis lagi, Theo."

Theo tersenyum kecil di antara air mata yang belum kering. "Iya, Papa."

Hans menatap Elena sesaat, tatapan yang sulit diartikan, antara getir dan penasaran, sebelum ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kafe.

Ronald yang kini kebingungan akhirnya menghela napas panjang. “Baiklah, sepertinya aku jadi pengemudi hari ini.”

Elena menatapnya tak percaya. "Ini benar-benar gila. Aku tidak seharusnya ikut-"

"Percayalah," potong Ronald sambil tersenyum canggung. "Kakakku lebih keras kepala daripada yang kau kira. Kalau kau tidak ikut, Theo bisa menangis sampai malam."

Theo yang mendengar itu langsung memeluk Elena lagi, seolah takut Elena menghilang.

"Mama ikut pulang, ya?" kata Theo dengan suara pelan namun memohon.

Elena menatap bocah itu lama, lalu akhirnya menyerah. Ia menghela napas, menatap Ronald lelah.

"Baiklah. Tapi hanya untuk hari ini," ucap Elena.

Ronald mengangguk lega. "Good."

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil hitam milik Elena. Ronald yang menyetir dengan hati-hati sesekali melirik lewat kaca spion, memerhatikan Elena di kursi belakang yang memangku Theo dengan sabar.

Bocah itu kini tampak tenang, bahkan sesekali tertawa kecil ketika Elena memainkan jari-jari mungilnya.

Elena sendiri hanya bisa tersenyum samar.

Ia memandangi wajah kecil itu, lembut, polos, dan begitu damai. Jari-jari mungil yang menggenggam gaunnya dengan erat membuat dadanya terasa hangat.

"Mama ...," Theo berbisik setengah mengantuk. "Nanti Mama tidur di rumah Theo, ya?"

Elena tersenyum lembut, mengusap rambutnya. "Kita lihat nanti, Sayang."

Ronald yang mendengar percakapan itu hanya bisa tertawa kecil.

"Kau tahu, Elena? Aku belum pernah lihat Theo tersenyum selebar itu. Biasanya dia diam dan susah didekati," kata Ronald.

Elena menatapnya dari kaca spion, lalu kembali menunduk ke arah Theo. "Mungkin dia hanya butuh seseorang yang mendengarkannya."

Ronald mengangguk pelan. "Atau mungkin ... dia memang menunggu seseorang sepertimu."

Elena tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela, menyembunyikan senyum kecil yang tiba-tiba muncul.

Mobil itu terus melaju di bawah langit sore yang mulai berwarna keemasan.

Theo tertidur di pangkuannya, masih dengan tangan kecil yang menggenggam jemarinya.

Dan untuk pertama kalinya setelah hari yang panjang dan penuh luka, Elena merasa dadanya tidak sesakit itu.

Mungkin begini rasanya menjadi seorang ibu, pikir Elena senang dalam hati.

Merasakan cinta yang datang tanpa syarat, tanpa pamrih, hanya dengan sentuhan tangan kecil dan panggilan lembut, Mama.

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰💐💐💐💐💐💐
Mutaharotin Rotin
ayo cerai dari Suamimu alena
ollyooliver🍌🥒🍆
kan bukan elenanya..dia menyesal hanya karena fakta ..dia tdk.merasa sakit dan buakn cemburu karena elena gk spesial buat raven😌
ollyooliver🍌🥒🍆
bukan karena elenanya tapi fakta ttng mandul
ollyooliver🍌🥒🍆
lah..kok kebahagian elena mengunrangi rasa bersalahnya? enak banget..emnya yg bagaimana ada keterikatan anatara bahagia elena dan rasa bersalah?
ollyooliver🍌🥒🍆
coba deh kalau gk tau fakta itu apakah raven akan meminta maaf? gk kan..bahkan setelah dia menghina..gk ada rasa bersalah atau menyesal karena ya..sampai sekarang dia minta maaf bukan karena elenanya tapi karena sebuah fakta
ollyooliver🍌🥒🍆
nahkan..bapaknya aja dibuat liat seperti anaknya gk menyesal karena kehilangan elena akan perbuatannya..gw dah bilang pemain wanita utama.kalah saing sama jessy🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
tapi semua yg dikatakan raven bukanlah penyesalan setelah kehilangan elena..tapi karena fakta ttng dirinyaa. so dia gk bener" menyesal karena elena. justru sebaliknya jika bayi itu anak kandungnya..aadkah penyesalannya dan rasa bersalahnya pd elena? jawabannya..gk ada. so elena itu gk berrti apa" bahkan pesonanya kalah dengan jessy🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
enk dong revannya..masih bisa nyari wanita lain jadi istrinya..harusnya jangan hanya dibuat mandul, lumpuh juga..biar dia tau bahwa dia gk layak hidup berdampingn dengan wanita. seperti dia yg ingin melempar jessy, jessy itu lebih banyak ruginya sedangkan raven? mandul doang
ollyooliver🍌🥒🍆
lah...jadi kalau anak itu anak kandungnya. jessy ndk akan diputuskan? jadi kesimpulannya..penghianat ttp bersaama memjadi keluarga cemara begitu? trus sia" dong kebahagian alena. sdh disakitin eh penghianat malah bahagia🙂
ollyooliver🍌🥒🍆
dia kasihan pd jessy atau karena raven gk bisa memproduksi anak laagi pd jessy?
Memey Nyoman
gblk sih kata akuuu
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah kan, mana nih si diana diani itu pengen di sodorin hasil usg nya di depan mata nya langsung 😜
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kan di bilang juga ape, mulutnya di jaga, kemarin ngehina elena perkara rahim, sekarang sm Yang Kuasa di bikin dia yg ga ada rahim 😔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kalo sampe elena nanti bisa hamil awas aja ya, ku ketawain sambil ngopi caramel machiato sm makan bakwan kawi di pojokan 😜
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bisa2 nya anak seumur jagung ngomong tentang ga bisa punya anak 🥲 pr matematika lu noh di garap, malah ngurusin ibu nya temen kayak ibu2 komplek julid aja 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢: iya padahal jaman dulu pol mentok cuma ejek2an nama bapak aja kak wkwk
total 2 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo mah status jelas harusnya jangan mau sama suami orang, dimana2 stigma selingkuhan itu ga baik dia malah test drive 🙏🏻🙂
Archiemorarty: Hahaha... selingkuhan kan kalau baper gitu, lupa dia siapa🤣
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
miris bgt masih ada yg percaya sm kata laki-laki "kalo hamil aku bakal tanggung jawab" padahal ga ada jaminan apa2, orang pinjem duit aja pake jaminan tanda pengenal, ini dia ngasih harga diri nya ga pake jaminan apa2 ke cowo yg bahkan dia tau udah beristri 🙂 secara umur dia bukan anak di bawah umur yg harusnya paham perempuan adalah pihak yg paling rugi slnya kalo udah ga di nikahin tp mau di gituin 🙂
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lagi hamil ih mulutnya jangan jahat2 mbak wkwk di dunia ini aku percaya kuasa Tuhan di atas segalanya, Tuhan bisa bikin elena hamil & Tuhan juga bisa bikin kamu tiba2 rahim nya rusak karena rahim itu area kekuasaan-Nya jd mulutnya di jaga 🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!