menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 22
Pagi itu, atmosfer di kelas 3-1 terasa begitu mencekam. Bunyi detak jam dinding seolah berdentum keras di tengah keheningan yang kaku.
Hanya terdengar suara gesekan pena di atas kertas dan lembaran soal yang dibalik dengan hati-hati.
Sasha duduk di bangkunya dengan dahi berkerut tajam, matanya menatap tajam ke arah soal Fisika seolah sedang menginterogasi tahanan.
Sesekali ia meremas rambutnya, sementara di barisan lain, Aria dan Yudas tampak bekerja dengan ritme yang lebih stabil namun tetap terlihat sangat fokus.
Beberapa jam yang melelahkan berlalu, hingga akhirnya bel tanda berakhirnya ujian berbunyi nyaring.
Guru pengawas mengumpulkan lembar jawaban dan meninggalkan ruangan.
Seketika, kelas yang tadinya sunyi meledak dengan suara keluh kesah para murid.
Aria segera merapikan alat tulisnya dan berjalan menghampiri meja Sasha.
"Bagaimana, Sasha? Menurutmu ujiannya tadi bagaimana?" tanya Aria dengan nada cemas yang tersembunyi.
Sasha menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kelas dengan pandangan kosong.
"Jangan tanya... kepalaku rasanya mau meledak. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku tulis di lembar jawaban tadi," keluh Sasha dengan suara lesu.
Yudas datang mendekat sambil menyeka keringat di dahinya.
"Ujian kali ini benar-benar gila. Sulitnya tidak masuk akal, jauh lebih berat dari ujian semester lalu."
Aria mengangguk setuju. "Mungkin karena kita sudah kelas tiga dan sebentar lagi akan lulus, jadi standar soalnya ditingkatkan secara drastis untuk menguji kesiapan kita. Tapi tetap saja..."
Sasha hanya bisa menghela napas panjang, meratapi nasibnya yang tidak menentu.
---
Sore harinya, koridor di depan ruang guru tampak sepi, namun ketegangan kembali memuncak.
Yudas dan Aria berdiri mematung di luar pintu kayu yang tertutup rapat. Sasha sudah berada di dalam selama hampir tiga puluh menit sejak dipanggil oleh wali kelas mereka.
Tak lama kemudian, Indah muncul dari ujung koridor, diikuti oleh Raka, Lily, dan Kael.
Wajah mereka penuh tanda tanya melihat Aria dan Yudas yang terlihat begitu serius.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdiri di sini dengan wajah seperti sedang menunggu pengumuman perang?" tanya Indah dengan bingung.
Yudas menoleh, wajahnya tegang. "Sasha dipanggil wali kelas tadi sore. Dan sampai sekarang, dia belum juga keluar. Kami khawatir terjadi sesuatu."
Kael langsung menyahut dengan dugaannya yang biasanya liar. "Apa dia membuat masalah lagi? Jangan-jangan dia menghajar seseorang kemarin sore?"
Aria menggeleng cepat. "Tidak, Kael. Kami bersamanya terus sedari tadi. Tidak mungkin dia sempat berkelahi di lingkungan sekolah."
Raka dan Lily hanya bisa terdiam, ikut merasakan aura kecemasan yang menggantung di udara.
Pintu ruang guru tiba-tiba terbuka perlahan. Sasha melangkah keluar dengan wajah yang sulit dibaca.
Semuanya langsung mengerubunginya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Sasha! Apa yang terjadi?" seru Aria.
Tanpa berkata-kata, Sasha perlahan mengangkat tujuh lembar kertas ujian di tangannya.
Ia menunjukkan nilainya satu per satu kepada teman-temannya. Mata mereka membelalak saat melihat angka-angka yang tertera di sana: **Matematika 80, Fisika 78, Biologi 82, Kimia 79, Bahasa Inggris 85, Sejarah 83, dan Bahasa Indonesia 88.**
Semuanya adalah nilai di atas rata-rata—sebuah pencapaian luar biasa bagi seseorang yang biasanya akrab dengan nilai merah.
Sasha mendadak menyeringai lebar, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang meledak-ledak. "Guru wali kelas sangat senang dan terkejut melihat peningkatanku! Makanya tadi pembicaraannya agak lama karena beliau terus bertanya bagaimana aku bisa belajar sehebat ini!" teriak Sasha penuh kemenangan.
Mendengar hal itu, Aria, Yudas, dan yang lainnya serentak mengembuskan napas lega yang sangat panjang.
Ketegangan yang mencekik sejak pagi tadi menguap begitu saja.
"Dasar kau ini! Kami hampir jantungan karena mengira kau akan dikeluarkan!" seru Kael sambil merangkul bahu Yudas.
Mereka semua akhirnya tertawa terbahak-bahak di koridor sore itu, saling mengejek dan merayakan keberhasilan Sasha yang tidak terduga.
Drama ujian musim panas itu pun berakhir dengan senyuman dan tawa bersama di bawah semburat cahaya matahari terbenam.
---
Setelah ketegangan ujian yang mencekik berakhir, Sasha memutuskan untuk merayakan keberhasilannya dengan gaya yang paling ia sukai.
Ia membawa seluruh rombongan—Aria, Yudas, Indah, Kael, Lily, hingga Raka—kembali ke **Starzone Arcade**.
Kali ini, suasana jauh lebih meriah karena mereka datang sebagai tim lengkap yang telah lolos dari ancaman remedial.
"Ayo semuanya! Hari ini tidak ada buku, tidak ada rumus, yang ada hanya rekor tertinggi!" seru Sasha sambil membagikan koin permainan kepada teman-temannya.
Di sudut yang lebih tenang, **Raka dan Lily** memilih mesin *Air Hockey*. Raka yang biasanya kaku dan serius, ternyata memiliki refleks yang tajam.
Lily, yang awalnya ragu, mulai berteriak kegirangan setiap kali berhasil menangkis kepingan plastik yang meluncur cepat dari arah Raka. "Kak Raka, jangan kasih kendor!" teriak Lily sambil tertawa saat berhasil mencetak skor.
Raka hanya tersenyum tipis, tampak sangat menikmati sisi kompetitif yang jarang ia tunjukkan.
Sementara itu, **Indah dan Yudas** terlibat persaingan sengit di mesin basket *Hoop Shot*. Sebagai bintang basket, Yudas memasukkan bola dengan ritme yang sempurna, namun Indah tidak kalah lincah. Tangan mungilnya melemparkan bola dengan presisi tinggi. "Wah, Kak Yudas, jangan sampai kalah dari junior ya!" ejek Indah sambil terus menambah poinnya. Yudas tertawa bangga, merasa terpacu oleh semangat Indah.
Di sisi lain, **Kael** terlihat sedang bertarung melawan mesin *Hammer Strength* (pemukul palu). Ia berkali-kali memukul bantalan mesin itu dengan sekuat tenaga, namun skornya selalu rendah. "Apa-apaan mesin ini! Aku sudah mengeluarkan seluruh tenaga dalamku!" gerutu Kael dengan wajah memerah karena kesal, sementara teman-temannya yang lewat hanya bisa menertawakan ekspresi dramatisnya.
**Sasha dan Aria** berakhir di depan mesin dansa yang paling rumit. Sasha bergerak dengan penuh energi meski gerakannya terkadang terlalu liar, sedangkan Aria berdiri di atas platform dengan wajah sangat bingung.
Kakinya kaku mencoba mengikuti panah yang meluncur sangat cepat di layar. "Sasha, ini terlalu cepat! Aku tidak bisa membedakan mana kanan dan mana kiri!" seru Aria panik. Sasha hanya tertawa puas, "Ikuti saja iramanya, Aria! Jangan pakai otak OSIS-mu itu!"
Setelah puas bermain hingga berkeringat, mereka keluar dari arcade dan menuju stan makanan populer.
Mereka masing-masing membeli **Crepe** berukuran besar dengan berbagai *topping* mulai dari stroberi, cokelat, hingga es krim. Mereka duduk di trotoar pinggir jalan, tertawa bersama sambil menikmati manisnya makanan tersebut di bawah lampu kota yang mulai menyala.
Ini adalah momen kebersamaan yang paling tulus bagi mereka semua.
---
Malam telah tiba dan suasana di rumah mewah keluarga Arka menjadi sangat tenang. Ayah Sasha baru saja melangkah masuk setelah hari yang panjang di kantor.
Saat melewati ruang tamu, matanya menangkap selembar kertas yang tertinggal di atas meja kaca yang luas.
Karena penasaran, sang Ayah mengambil kertas tersebut dan menyesuaikan kacamatanya.
Seketika, senyum hangat merekah di wajahnya yang biasanya tegas. Itu adalah lembar jawaban ujian Sasha yang penuh dengan nilai rata-rata yang stabil.
Tidak ada lagi nilai merah yang menghiasi kertas itu. Beliau menghela napas lega, merasa sangat bangga akan usaha keras putrinya.
Dengan langkah perlahan, sang Ayah berjalan menuju lantai atas.
Ia sedikit membuka pintu kamar Sasha dan mengintip ke dalam. Di sana, Sasha sudah tertidur dengan sangat pulas, masih mengenakan pakaian santainya, dengan buku-buku yang tertata rapi di atas meja belajarnya.
Esok hari libur musim panas resmi dimulai, dan Sasha telah memenangkan haknya untuk beristirahat tanpa beban.
Sang Ayah menutup pintu kamar itu kembali dengan sangat pelan, memberikan privasi bagi putrinya yang sedang bermimpi indah setelah perjuangan panjang yang manis.
Bersambung...