Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam dengan keluarga.
Tidurlah, tubuhmu perlu berehat sejenak. Jangan terlalu memaksa kehendak. Mungkin ada jalan untuk mengejar cinta.
🌞🌞🌞
Di waktu yang sama. Namun, berbeda tempat. Adnan baru saja tiba di rumah. Dari luar sudah terdengar suara 2 orang anak laki-laki dan perempuan. Siapa lagi, kalau bukan adik sepupunya.
"As-salamu'alaikum," ujar Ardan sembari masuk ke bagian rumah paling dalam.
"Wa'alaikum salam," jawab Lisa, Zahra dan Egi.
Adam dan Hawa, nama kedua anak dari pasangan Egi dan Zahra berlari menghampiri Adnan. Mereka berebut meminta Kakak sepupunya menggendong. Egi yang melihat itu segera mengambil alih Hawa, lalu membiarkan Adam di gendong Adnan.
"Kamu baru pulang? Apa pekerjaanmu terlalu banyak?" tanya Egi seakan mengintrogasi.
"Paman, aku baru saja sampai. Biarkan aku bernapas dulu."
"Memang sejak tadi kamu tidak bernapas?"
"Aih, aku selalu kalah, kalau berdebat dengan Paman. Sudahlah, cacing di perutku dari tadi demo terus."
Adam mendaratkan sebuah kecupan manja di pipi Adnan sambil berbisik, "Kakak, nanti belikan aku coklat, ya?"
Adnan mencubit gemas hidung Adam. "Ok, kembaran."
Suara tawa renyah keluar dari mulut Adam. Mereka melangkah mendekati Lisa dan Zahra. Adnan meraih tangan Lisa dan menciumnya.
"Kami nunggu kamu pulang, Nak. Syukurlah, kamu pulang dengan selamat," tutur Lisa.
"Maaf, Bunda, tadi ada urusan sedikit," sesal Adnan.
"Engga apa-apa, Nak. Mandi dulu, ya." Lisa tersenyum kecil.
Adnan menurunkan Adam ke bawah, selanjutnya pergi ke lantai atas. Egi menatap penuh tanda tanya. Sorot mata Adnan mengisyaratkan sesuatu. Ada hal yang keponakannya itu rahasiakan dari semuanya. Mungkinkah?
Singkat waktu, Adnan telah kembali dengan wajah segar. Mandi membuatnya menghilangkan penat dalam diri dan juga menyegarkan badan. Papanya tampak sudah bergabung di meja makan. Adnan menarik kursi di dekat bundanya.
"Kak Lisa, semua ini masakan Kakak?" tanya Zahra, terkagum melihat masakan banyak nan lezat tersebut.
"Iya. Makan yang banyak, ya. Kata Egi, kamu sedang program kehamilan lagi," ungkap Lisa.
Egi yang tengah minum langsung tersedak. Kapan ia mengatakan itu? Kakaknya memang sering bercanda. Zahra seketika memberi tatapan tajam pada Egi. Dengan cepat Egi menampik perkataan kakaknya.
"Mungkin Kakak salah denger. Tapi, engga masalah, kalau kalian mau nambah anak. Adam dan Hawa sudah lumayan besar. Mumpung masih muda. Jangan seperti Kakak yang cuman bisa melahirkan satu anak." Wajah Lisa mendadak muram.
Rendy mengusap beberapa kali punggungnya. "Sudahlah, lagian nanti Adnan bisa kasih kita cucu sebelas."
Bola mata Adnan membulat sempurna. Sebelas anak? Bagaimana rasanya? Apa rumahnya nanti akan jadi base camp pemain sepak bola? Mungkin, jika anaknya laki-laki semua. Membayangkannya saja sudah pusing duluan.
"Kamu sudah punya calon?" Perkataan itu lolos begitu saja dari mulut Egi pada Adnan.
"Calon apa, Paman?" tanya Adnan balik.
"Calon istri," jelas Egi.
Adnan menggeleng. "Belum ada."
Egi diam. Ia tak merespon atau mengajukan pertanyaan kembali. Mereka makan dengan tenang. Egi dan Zahra bergantian menyuapi Hawa dan Adam. Lisa yang senang dengan kehadiran dua anak itu pun ikut menyupi.
Makan selesai. Zahra dan Lisa bergantian membersihkan piring kotor. Sedangkan Rendy, Adnan, dan Egi duduk di ruangan santai sembari menonton acara kartun kesukaan Adam dan Hawa.
Hawa duduk dipangkuan Adnan, sedangkan Adam tengah bergelayut maju dengan Rendy. Mereka tertawa bersama menikmati tontonan khusus anak-anak tersebut.
"Kamu tidak mau menikah?" Kembali lagi Egi memulai percakapan. Topik yang ia angkat pun masih sama.
"In Syaa Allah, kalau sudah waktunya, Paman," sahut Adnan.
"Nak, usiamu sudah matang untuk berumah tangga. Apa lagi bundamu ingin cepat menggendong anak kecil," sela Rendy.
"Iya, benar. Kalau belum ada calon. Kak Lisa bisa mencarikan untukmu," usul Egi membenarkan perkataan Kakak iparnya.
Adam dan Hawa beringsut turun dari pangkuan. Mereka berlarian saling mengejar sambil tertawa riang. Mulut Adnan mengunci, ia tak ingin membahas terlalu jauh. Dicarikan calon istri, itu tidak buruk kedengarannya. Namun, hati kecil Adnan menolak.
"Bagaimana dengan gadis bar-bar itu? Bundamu cerita, jika kamu bertemu dengannya lagi." Egi teringat perkataan kakaknya saat di telepon.
Rendy menyimak, ia ingin melihat ekspresi dari anak lelakinya. Sementara itu Adnan bingung. Haruskah ia mengatakan kejadian hari ini pada keluarganya?
"Dia gadis yang menarik bukan?" Egi kembali bersuara.
"Papa jadi mau bertemu dengan gadis itu," ungkap Rendy.
"Jangan, Pa. Dia gadis keras kepala. Aku yakin, Papa pasti kesal dibuatnya. Aku aja pusing tujuh keliling menghadapinya." Adnan bercerita tanpa beban.
Sebuah senyuman tercipta dari wajah Egi dan Rendy. Adnan, sosok pemuda di hadapan mereka jarang sekali membicarakan seorang wanita sampai sedetail ini. Kesimpulannya, Adnan memang tidak pernah terbuka perihal dunia pribadinya.
"Kamu suka gadis itu, Nak?" Rendy menatap lekat anaknya. "Bawa dia ke rumah. Bunda dan Papa ingin berkenalan juga."
Deg!
Membawa Alina ke rumah? Berarti ia harus menemui orang tua gadis itu, untuk meminta izin. Mengenalnya saja belum terlalu jauh. Namun, mengingat ucapan spontannya tadi di cafe mungkin saja gadis bar-bar itu sudah bercerita pada keluarganya.
"Kamu perlu bantuan Paman, untuk meminta izin pada orang tuanya? Tapi, mungkin kamu belum tau di mana rumahnya," Perkataan Egi seakan sebuah sindiran, akan tetapi dalam konteks penyemangat bagi Adnan.
"Tidak perlulah, Paman. Aku tau tempatnya." Tak sadar pemuda yang beberapa bulan lagi akan mengingak usia 27 tahun itu mengatakan hal tersebut.
"Berarti kamu pernah mengantar gadis itu pulang? Sedekat apa hubungan kalian?" desak Egi.
Adnan mengacak rambut, prustasi. Pamannya seperti tengah mengintrogasi penjahat. Menyudutkan dirinya hingga tak bisa bergerak.
"Paman, aku dan dia hanya pernah bertemu beberapa kali saja," protes Adnan. "Kami mana bisa lebih dekat dari itu. Dia terlalu jutek, kasar dan keras kepala. Ah, sudahlah, pikiranku selalu ruwet jika menyangkut Alina."
"Jadi, nama gadis itu Alina," sela Rendy sembari mengulur senyum.
"Iya, Pa," sahut Adnan.
Mereka berbicara banyak hal. Egi dan Rendy terus menggoda Adnan tentang Alina. Zahra dan Lisa telah bergabung bersama mereka. Adam dan Hawa merajuk, karena mulai mengantuk. Lisa dengan cepat meminta Egi dan Zahra, juga kedua anaknya untuk menginap. Sudah lama rasanya mereka tak bermalam. Egi setuju, Adam dan Hawa pun antutias mendengarnya.
Zahra juga Lisa membawa sepasang anak kembar itu untuk ditidurkan di kamar tamu. Sedangkan Rendy pamit ke kamarnya, karena harus segera tidur. Kesehatannya masih belum pulih sepenuhnya. Tinggallah Adnan dan Egi yang masih menutup mulut usai kepergian yang lain.
Adnan, lelaki itu lebih dekat pada Egi. Mungkin, karena Egi begitu menyayanginya. Namun, bukan berarti Adnan pun tak dekat dengan papanya. Hanya saja, sedari kecil Adnan lebih banyak bercerita pada paman berhati kulkas tersebut.
"Paman melihat kejadian di cafe tadi sore," ungkap Egi yang diikuti rasa terkejut dari Adnan.
"Paman ada di sana. Tak sengaja bertemu denganmu dan gadis itu. Mendengar pengakuanmu di hadapan pengunjung cafe dan lelaki yang bersama kalian," tambah Egi.
"Untuk apa Paman ke cafe Cantik?" telisik Adnan.
"Bibimu ingin minuman favorit di sana. Jadi, kami menyempatkan mampir dulu. Saat kamu berkata dia calon istrimu, Paman baru beres mengambil pesanan."
"Paman, lihat kejadian selanjutnya?"
Egi menggeleng. "Tidak. Paman langsung keluar."
"Syukurlah." Ardan bernapas lega, setidaknya Pamannya tidak mengetahui perdebatan konyol mereka.
Egi menoleh ke arah Adnan. Menepuk bahu keponakannya itu. "Pikirkan baik-baik ucapanmu. Bisa saja, ada keluarganya yang sudah tau kejadian cafe tadi. Apa kamu tidak malu mengakui anak gadis orang sebagai calon istrimu yang jelas-jelas kamu sendiri belum melamarnya? Datangilah orang tuanya. Paman tau kamu menyukai Alina."
...****************...
BERSAMBUNG~~
Jangan lupa kasih aku apa?
Klik tombol like.
Tulis komentarmu.
Boleh vote aku seikhlasnya😊