NovelToon NovelToon
Falling In Love Again After Divorce

Falling In Love Again After Divorce

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Cerai / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Demar

Sean Montgomery Anak tunggal dan pewaris satu-satunya dari pasangan Florence Montgomery dan mendiang James Montgomery yang terpaksa menikahi Ariana atas perintah ayahnya. Tiga tahun membina rumah tangga tidak juga menumbuhkan benih-benih cinta di hati Sean ditambah Florence yang semakin menunjukkan ketidak sukaannya pada Ariana setelah kematian suaminya. Kehadiran sosok Clarissa dalam keluarga Montgomery semakin menguatkan tekat Florence untuk menyingkirkan Ariana yang dianggap tidak setara dan tidak layak menjadi anggota keluarga Montgomery. Bagaimana Ariana akan menemukan dirinya kembali setelah Sean sudah bulat menceraikannya? Di tengah badai itu Ariana menemukan dirinya sedang mengandung, namun bayi dalam kandungannya juga tidak membuat Sean menahannya untuk tidak pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sean @kueMbakAri

Sean membuka ponselnya diam-diam, mengirim pesan singkat pada asisten pribadinya yang tempo hari mengirimkan akun kue viral.

“Cari alamat pengiriman asli dari akun kueMbakAri. Terserah bagaimana caranya, yang jelas ini rahasia.”

Tidak sampai satu menit Linda membalas.

“Baik Pak. Saya akan cek langsung dari lokasi akunnya.”

Sean mengetik, “Jangan tinggalkan jejak!”

“Saya paham Pak.”

Setelah mendapatkan balasan yang ia inginkan Sean langsung menghapus riwayat pesan lalu meletakkan ponselnya di atas meja.

Sean memijat keningnya pelan. Untuk apa ia repot-repot ingin tahu siapa di balik akun kue itu?

Untuk apa mencurigai kalau itu Ariana? Dan kalau memang benar itu Ariana, lalu kenapa?

Ia yang menawarkan perceraian… tidak, memutuskan perceraian. Karna sejak awal Ia tidak memberikan kesempatan pada Ariana untuk bilang ya ataupun tidak.

“Itu bukan hal penting Sean,” katanya pelan pada dirinya sendiri.

***

Hari itu langit kota sedikit berawan. Sean duduk sendirian di ruang kerjanya dengan komputer yang menyala menampilkan file laporan perusahaan. Tapi sorot matanya tidak benar-benaar bergerak ke layar.

Pintu diketuk sekali.

“Masuk.”

Linda melangkah masuk dengan map tipis berwarna krem di genggaman tangannya. Tanpa banyak basa-basi, ia meletakkannya di atas meja.

“Saya sudah menemukan pengirim utama dari akun @kueMbakAri. Nama penerima logistik atas nama Ariani. Tapi dari struktur KTP yang tersimpan dalam file pemesanan offline namanya Ariana Pak.”

Sean mengangkat kepala, Linda melakukan pekerjaannya dengan baik.

“Alamat?”

Linda menyodorkan secarik kertas kecil. Tertulis jelas alamat rumah di sudut kota:

Gang wahana No. 14C. Kompek Lavender.

“Rumahnya di gang kecil tapi ada akses mobil masuk. Saya cross-check, rumah itu dibeli lunas sekitar dua bulan lalu atas nama Ariana, tapi tidak ada Montgomery di belakang namanya.” Linda sedikit menunduk, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. “Saya tidak akan mencatat tugas ini dalam arsip perusahaan.”

Sean mengangguk.

“Terima kasih, Linda.”

Saat pintu menutup kembali, Sean menatap alamat itu lama.

Ariana hidup sendirian di sana. Sean tidak mengerti apa yang terjadi dengannya sekarang. Dua jam setelah menerima alamatnya mobil sedan Sean berhenti pelan di ujung Gang Wahana.

“Di sini, Pak?” Sopir menoleh ke belakang dengan keraguan. Ia takut salah alamat, pasalnya yang suduk di belakangnya sekarang adalah seorang Montgomerry. Sedikit… mustahil melihatnya melangkahkan kaki di gang kecil yang bahkan pas-pasan dilewati mobil mewahnya.

Sean berdehem, sopir menghela napas lega.

“Tunggu di sini, jangan keluar atau membuat gerakan yang memicu kecurigaan warga setempat!” Perintah Sean ketat.

Sean turun sendiri, menginjakkan kakinya di tanah yang sedikit becek sisa hujan tadi pagi. Langkahnya terasa canggung hanya karena alas sepatunya bersinggungan dengan kerikil-kerikil kecil di samping aliran selokan.

Sean berhenti di depan rumah bercat putih gading Nomor 14C. Di depan rumah itu, pot bunga berjejer di atas barisan kayu.

Itu dia rumah Ariana. Rumah ini bahkan tidak lebih besar dari kamar mandinya. Bagaimana Ariana bisa menolak rumah yang ia berikan dan memilih tinggal di rumah kecil ini.

Sean berdiri diam, tidak ada niat mengetuk apalagi memberi salam. Kedua matanya menelusuri setiap bagian, dan di dalam jendela itu muncul bayangan dua manusia bergerak perlahan.

Gadis kecil dan satu lagi… wanita yang sedang hamil.

Sean menahan napas. Tiba-tiba saja bahunya terasa tegang.

“Ariana…” bisiknya lirih.

***

Kali kedua, Sean berdiri setengah tersembunyi di balik pohon cemara kecil yang tumbuh di ujung pagar. Pandangannya tertuju pada jendela itu lagi. Di sana… Ariana duduk di lantai bersama seorang gadis kecil. Mereka melipat sambil bergantian bicara lalu tertawa pelan kemudian.

Ariana…

Ia tersenyum,

Bukan senyum sopan yang pernah ia berikan saat menemaninya ke pesta.

Bukan senyum kaku seperti yang pernah ia berikan di ruang makan Montgomery.

Bukan senyum lirih setelah mereka selesai ‘menjalankan kewajiban suami istri.’

Ini senyuman yang hidup. Senyum yang tidak pernah ia lihat selama tiga tahun pernikahan.

Sean tidak bergerak, mencoba meresapi arti denyutan kecil di dadanya yang muncul saat melihat senyumnya. Wajahnya bersinar dan terlihat sehat. Dan perut itu… ia tidak bisa melihat lebih jelas.

Sean menunduk sembari menahan napas.

***

Lampu kamar Sean hanya menyala satu. Cahaya lampu baca membantu menyinari lembaran laporan yang terbuka di atas ranjang. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.23 dini hari. Tapi kertas-kertas itu sudah tak terbaca sejak sejam yang lalu.

Senyum Ariana, tawanya yang renyah berputar bak kaset VIP di kepalanya.

Sean menyingkirkan semua lembaran laporan di atas ranjang, ia telungkup menghadap bantal berharap sisa-sisa Aroma Ariana ada yang tertinggal.

Hari-hari berlalu, Sean Montgomery mulai menyisihkan waktu hanya untuk menyetir diam-diam ke Gang Wahana No. 14C. Kali kedua dan seterusnya tidak menggunakan sopir lagi. Ia ingin melihat Ariana tanpa ada yang mengawasi. Kadang pagi, kadang sore, kadang di siang hari.

Ariana duduk di bangku depan, memijat pergelangan kakinya sendiri.

Ariana yang berdiri menyiram bunga sambil berbicara pelan dengan gadis kecil yang selalu menempel padanya.

Ariana yang terlihat tertawa. Sean tidak pernah tahu Ariana bisa tertawa selepas itu.

Ariana yang mengatur napas lalu bersandar ke pintu dengan mata setengah terpejam.

Ariana berjalan sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat bulat, disana bagian dari dirinya tumbuh, bayinya.

“Aku ingin dia tahu rasanya disentuh ayah. Sekalipun cuma sekali.”

Sean mengepalkan kedua tangannya, mengapa dadanya terasa sesesak ini? Seperti dihantam sesuatu keras dan tajam. Sean menghapus air mata yang keluar tanpa undangan.

Tapi di antara semuanya itu ada satu hal yang paling mengganggu bagi Sean.

Ariana tidak tampak kecewa, tidak juga tampak hancur.

Ariana selalu terlihat utuh.

Sejak James meninggal, Sean tidak pernah menangis. Bahkan di pemakaman ayahnya, dia hanya berdiri kaku dan tenang. Tapi malam ini, di balik jendela mobil hitam, Sean Montgomery menangis terisak untuk pertama kali. Menangis untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa ia mengerti.

***

Clarissa menatap layar ponselnya. Sudah pukul 20.15 Wib dan Sean belum membalas pesannya.

Hari ini rapat direksi batal, meeting investor dialihkan ke minggu depan. Sean Montgomery, pria paling terstruktur yang ia kenal tiba-tiba menghilang dari rutinitas. Sudah lima hari berturut-turut. Setiap sore menjelang malam, ia akan keluar dari kantor tanpa sopir utama, tanpa pemberitahuan, dan mengangkat panggilan siapa pun. Clarissa berdiri di depan kaca besar apartemennya.

Rambutnya sudah ditata ulang, lipstik merah gelap masih utuh. Tapi ekspresinya tidak setenang biasanya. “Ke mana kamu, Sean?” gumamnya pelan.

Clarissa mengeraskan rahangnya. Ia harus segera melakukan sesuatu. Clarissa mencoba menyuruh orang melacak rute mobil pribadi Sean. Tapi sial dan sial. Sean memutus semua akses digitalnya. Lelaki itu tahu sedang diawasi.

“Dia sedang menyembunyikan sesuatu,” ucap Clarissa, matanya menyipit.

Clarissa membuka ponselnya lagi, belum di baca juga.

Jari-jarinya bergerak cepat membuka kontak yang hanya ia pakai untuk urusan 'diam-diam'.

“Aku butuh alamat Ariana, fotonya terlampir. Secepatnya…”

Clarissa berdiri dari kursinya. High heels merah marunnya mengetuk marmer apartemen mewah dengan nada tajam.

Satu jam kemudian, ia menerima satu pesan:

Nama: Ariana

Alamat: Gang Wahana No.14C

Clarissa menahan napas.

“Ariana…”

1
Datu Zahra
enggak pantes sifatnya Ethan, pembangkan diusia segitu. gedenya jadi apa
Datu Zahra
jahat Ajeng, selingkuh diranjang istri sah, dilihat anak yang bapaknya direbut. bener² ya Ajeng
Datu Zahra
kasihan Florence, wajahr keras hati disakiti suami dengan membawa wanita lain kerumah. gila James jahat
Datu Zahra
umur Sean 35 umur Bryan waktu ketemu Riana 29, empat tahun berarti 33. berarti tua Sean doank. berarti Ajeng pelakor lah
Datu Zahra
dari awal ceritanya bagus. aku nagis sesenggukan. Ceritanya beda dari yang lain, gak pasaran. tapi dipart ini aku kecewa,sampe empat tahun lama hilang. jadi malah kaya novel² lain, pasaran.
Erni Fitriana
pokoknya WOW banget karyamu thor👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾
Juna Dong
luar biasa
Erni Fitriana
🤣🤣🤣🤣🤣celline centil
Erni Fitriana
terimakasih nyonyah aristokrat...walau awal hadir ethan kau sangat menyebalkan..tetapi keberada'anmu membentuk sean..luar biasa...hingga sean pun bisa melancutkan pola didikmu dengan dampingan putri lembut n bijak ariana😘😘😘😘😘😘
Erni Fitriana
florence montgomery kini level mu semakin tinggi ..lihatlah..estavet pola didikmu kini diterapkan sean n ariana😘😘😘😘😘😘😘berjayalah montgomery
Sherly Vi
💪💪
Anonymous
Suka Min semua karyamu
kadang emosi kadang terhsru bahkan menangis tersedu atau malah senyum simpul dan terbshak"
Nano nano dan 👍
Erni Fitriana
kompaknya 4 sekawan..thor...janji ya..nanti ada cerita celline+ethan🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Anonymous
Ethan janga keras kepala kalau Ethan tidak bisa dinasehati lihatlah mama mu nak
Mama akan sangat kecewa Ethan
Anonymous
Ethan kau belum waktunya sayang .....kau genius tapi belum punya oengalaman di dunia luar sayang
Jangan ngotot ya jangan melawan papa
Semua yang papa lakukan demi keselamatan mu nak
Tira Aneri
suuukaaa
Anonymous
Semoga tidak ada lagi gangguan ddan pelakor yang menggerogoti kebahagiaan Sean dan Ariana
Anonymous
Langjah yang berani Sean
Mungkin semua orang membencimu karena kekejamsnmu
Tapi aku salut Sean
Tak perduli kata orang tujuanmu baik untuk anakmu 💪
Anonymous
😭😭😭😭 Untukmu Sean
Anonymous
Sean semoga langkahmu membawa hasil yang membahagiakan
Semigs berhasil membawa pulang Ariana besreta Ethan 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!