NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Jejak yang Terpendam

Kapal kargo The Silent Marauder membelah perairan hitam yang tenang menuju perbatasan utara. Di atas dek yang bergetar pelan karena mesin, Kayra berdiri menatap lampu-lampu kota yang kini hanya berupa titik-titik cahaya kecil di cakrawala. Udara laut yang asin dan dingin menusuk kulitnya, namun rasa panas di telapak tangannya, bekas genggaman Harry tadi, masih terasa nyata.

"Kau seharusnya berada di dalam. Angin malam ini tidak baik untuk paru-parumu." Suara Harry muncul dari balik kegelapan dek.

Kayra menoleh, melihat Harry berjalan mendekat dengan langkah mantap. Pria itu sudah mengganti pakaiannya yang compang-camping dengan kaus hitam polos dan celana taktis. Harry berhenti tepat di sampingnya, meletakkan lengannya di pagar besi kapal.

"Aku hanya butuh oksigen yang tidak berbau darah dan antiseptik," sahut Kayra pelan. Ia menatap tangan Harry yang kini memegang pagar kapal. "Bagaimana kondisi Enzo?"

"Stabil. Tim medis cadangan di dalam sudah mengambil alih tugasmu. Dia pria yang tangguh, dia akan pulih dalam beberapa minggu," Harry menatap Kayra, matanya berkilat di bawah cahaya bulan yang redup. "Kau sudah bekerja melampaui batas hari ini, Kayra. Sejak di rumah sakit pusat hingga di dalam van ... kau tidak pernah berhenti."

Kayra tersenyum pahit. "Aku tidak punya pilihan lain, bukan? Duniamu tidak memberiku kemewahan untuk sekadar duduk diam dan menangis."

Harry terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangan, menyentuh bahu Kayra, memutar tubuh wanita itu agar menghadapnya sepenuhnya. "Kita hampir sampai di markas perbatasan. Itu adalah tempat di mana keluargaku memulai semuanya. Tempat itu aman, tapi tempat itu juga menyimpan banyak hantu."

"Hantu?"

"Rahasia, Kayra. Sesuatu yang bahkan aku sendiri baru mulai memahaminya sejak kau muncul dalam hidupku."

Dua jam kemudian, kapal kargo itu merapat di sebuah dermaga pribadi yang tersembunyi di antara tebing-tebing curam perbatasan utara. Di atas tebing itu, berdiri sebuah bangunan tua bergaya Gotik yang terbuat dari batu hitam, dikelilingi oleh hutan pinus yang lebat. Itulah The Citadel, markas rahasia keluarga Marcello yang paling kuno.

Harry menuntun Kayra masuk ke dalam bangunan itu. Interiornya kontras dengan eksteriornya yang menyeramkan. Di dalam, bangunan itu merupakan perpaduan antara kemewahan klasik dan teknologi keamanan modern.

"Bawa Dokter Valeska ke sayap barat, kamar utama," perintah Harry kepada seorang pelayan pria yang tampak lebih menyerupai seorang prajurit.

"Harry, aku ingin melihat data yang kau ambil dari brankas Aris tadi," potong Kayra. "Aku butuh kebenaran itu sekarang."

Harry menatap Kayra dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada keraguan di matanya, sesuatu yang jarang Kayra lihat. "Malam ini sudah terlalu berat bagimu. Istirahatlah. Kita akan membahasnya besok pagi."

"Tidak. Aku tidak akan bisa tidur sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi dua tahun lalu. Dan ... kenapa Elena bersikeras bahwa Aris menjual dataku kepada Luca," Kayra bersedekap, menantang Harry dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.

Harry menghela napas panjang, lalu mengangguk. Ia membawa Kayra menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di menara utara. Ruangan itu dipenuhi dengan rak buku tua dan layar monitor yang menyala. Harry duduk di balik meja mahoni besarnya dan memasukkan flashdisk yang ia curi dari rumah sakit pusat.

"Sebagian besar data ini berisi transaksi gelap Aris," Harry menjelaskan sambil membuka beberapa dokumen terenkripsi. "Tapi ada satu folder yang dilabeli dengan nama yang tidak asing."

Harry membuka folder berjudul Project Genesis - 2005.

Kayra mengerutkan kening. "2005? Itu dua dekade lalu. Aku masih di panti asuhan saat itu."

"Lihat ini," Harry memutar sebuah rekaman audio yang sudah dibersihkan dari distorsi.

Suara seorang pria yang sangat dikenal Kayra terdengar, suara Direktur Aris yang jauh lebih muda. "Eksperimen pada subjek 01 dan 02 gagal. Pasangan Ardeane tidak mau bekerja sama lebih lanjut. Mereka mengancam akan melaporkan protokol ini ke dewan medis internasional. Kita tidak punya pilihan selain mengeliminasi variabel tersebut."

Gelas berisi air yang dipegang Kayra terlepas dari genggamannya, pecah berkeping-keping di lantai. Wajahnya pucat pasi. "Ardeane? Itu ... itu nama orang tuaku."

Harry bangkit, ia memutari meja dan berdiri di samping Kayra, bersiap menahan tubuh wanita itu jika ia jatuh. "Orang tuamu bukan hanya dokter biasa di rumah sakit itu, Kayra. Mereka adalah peneliti utama untuk proyek regenerasi saraf yang sekarang sedang dikembangkan Luca. Aris dan Luca sudah bekerja sama sejak lama. Skandal malpraktikmu dua tahun lalu bukan sekadar untuk menyingkirkanmu, tapi untuk memastikan kau tidak pernah menemukan apa yang sebenarnya mereka lakukan pada orang tuamu."

Kayra merasa dunianya seolah terhisap ke dalam lubang hitam. "Kecelakaan mobil yang membunuh mereka ... itu bukan kecelakaan?"

"Bukan." Suara Harry terdengar seperti guntur yang dingin. "Itu pembunuhan yang dirancang agar terlihat seperti kecelakaan. Aris adalah orang yang menandatangani sertifikat kematian mereka, dan dia juga orang yang memastikan kau masuk ke panti asuhan yang berada di bawah pengawasannya."

Kemarahan yang belum pernah dirasakan Kayra sebelumnya meledak di dadanya. Rasa sakit dikhianati oleh mentornya kini berganti menjadi api dendam yang membara. Ia mencengkeram tepi meja hingga jari-jarinya memutih.

"Jadi selama ini aku dibesarkan oleh pembunuh orang tuaku sendiri?" bisik Kayra, suaranya bergetar hebat. "Dia menganggapku anak ... dia memberiku beasiswa ... semuanya hanya untuk mengawasiku agar aku tidak pernah tahu?"

Harry menarik Kayra ke dalam pelukannya. Kali ini, Kayra tidak menolak. Ia membenamkan wajahnya di dada Harry, menangis tanpa suara. Namun, tangisannya bukan lagi tangis kesedihan, melainkan tangis kemurkaan. Harry mendekapnya dengan sangat erat, meletakkan dagunya di atas kepala Kayra.

"Aku akan membantumu menghancurkan mereka, Kayra. Sampai ke akarnya," gumam Harry. "Kau bukan lagi dokter yang tidak berdaya. Kau adalah Valeska, dan di sisimu ada Marcello. Kita akan membakar kerajaan mereka bersama-sama."

Harry menjauhkan sedikit tubuhnya, menangkup wajah Kayra dengan kedua tangannya. Ia menatap mata Kayra yang kini dipenuhi oleh tekad yang gelap. "Jangan biarkan emosi ini melemahkanmu. Gunakan ini sebagai bahan bakar. Besok, kita akan mulai melacak sisa-sisa proyek Genesis yang masih aktif."

Kayra menatap Harry, merasakan koneksi yang semakin dalam di antara mereka. Harry bukan hanya pelindungnya, dia adalah satu-satunya orang yang memberinya kebenaran, sepahit apa pun itu.

"Kenapa kau memberitahuku sekarang?" tanya Kayra parau.

"Karena di tempat ini, di The Citadel, ayahku juga dibunuh oleh jaringan yang sama karena dia menolak memberikan jalur distribusi kepada Luca," Harry mengaku dengan suara rendah. "Kita sedang berburu monster yang sama, Kayra. Sejak awal, takdir kita sudah terikat oleh darah yang tumpah dua puluh tahun lalu."

Kayra menyentuh punggung tangan Harry yang masih merangkup wajahnya. "Kita akan menang, kan?"

Harry tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya merunduk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Ia tidak mencium bibir Kayra, namun ia mencium keningnya dengan sangat lama, sebuah ciuman yang melambangkan janji setia yang lebih kuat dari kata-kata cinta.

"Tidur sekarang," bisik Harry. "Besok, dunia akan tahu bahwa Kayra Valeska telah kembali untuk menuntut warisannya."

Kayra mengangguk lemah. Ia membiarkan Harry menuntunnya menuju kamar. Di dalam keheningan markas besar itu, Kayra menyadari bahwa hidupnya yang tenang telah berakhir selamanya. Namun di tengah badai pengkhianatan ini, ia menemukan sebuah pelabuhan yang kuat, seorang pria yang memegang senjatanya dengan satu tangan dan memegang hatinya dengan tangan lainnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!