Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Kaos Pink
Rea merapikan celemek kafenya dengan semangat. Sebelum benar-benar melangkah keluar pintu kos, ia berbalik dan melambaikan tangan kecilnya. "Paman jaga diri ya di rumah, Rea berangkat dulu. Jangan buka pintu buat orang asing!" serunya mengingatkan, seolah Galen adalah anak kecil yang butuh perlindungan.
Galen hanya menatapnya datar, namun dalam hati ia merasa aneh. Belum pernah ada orang yang menyuruh seorang Galen Alonso untuk "jaga diri".
Begitu sosok mungil itu menghilang di belokan gang, atmosfer di dalam kamar kos langsung berubah. Kehangatan yang dibawa Rea menguap begitu saja, digantikan aura dingin yang mencekam. Galen segera mengambil ponsel tersembunyi miliknya dan mengirim pesan singkat pada Leon, tangan kanannya.
Galen: Bawakan saya makanan. Jangan sampai ketahuan. Kirim ke alamat ini.
Galen: Oh ya, bawakan saya baju juga. Yang pantas. Cepat.
Leon: Siap, Tuan. Perintah segera dilaksanakan.
Kesibukan di Kafe
Sementara itu, di sebuah kafe minimalis yang berjarak 500 meter, Rea sibuk berlarian ke sana kemari. Sifat cerobohnya sesekali muncul—ia hampir saja menjatuhkan nampan saat berselisih jalan dengan rekan kerjanya.
"Maaf, maaf!" ucapnya sambil membungkuk berkali-kali. Meski begitu, senyum manis Rea membuat para pelanggan tidak bisa marah. Sambil mencuci gelas, pikiran Rea kembali melayang pada "Paman Tampan" di kosannya. Apa dia kesepian ya? Apa dia lapar lagi? Kasihan sekali hidup di jalanan, pikirnya polos.
Kedatangan Leon
Satu jam kemudian, sebuah mobil hitam dengan kaca sangat gelap berhenti di ujung gang yang sepi. Leon keluar dengan gerakan waspada, membawa beberapa tas belanja bermerek dan kotak makanan dari restoran mewah.
Leon berhasil menyelinap ke koridor kos dan mengetuk pintu nomor 07 dengan kode khusus. Saat pintu terbuka, Leon hampir saja melepaskan tawa yang bisa membuatnya mati saat itu juga. Di depannya, sang "Grim Reaper" dunia bawah yang biasanya memakai setelan jas seharga ratusan juta, kini berdiri gagah menggunakan kaos pink sempit bergambar kucing milik Rea.
"Tuan... itu..." Leon berusaha menahan diri agar tidak meledak.
"Satu kata lagi keluar dari mulutmu, dan itu akan jadi kata terakhirmu, Leon," desis Galen tajam, merebut tas belanja itu dan langsung menutup pintu dengan kasar. Galen segera mengganti kaos pink tersebut dengan kemeja hitam sutra, merasa jati dirinya telah kembali. Namun, ia tidak tahu bahwa ia lupa membuang bungkus ketoprak semalam yang masih tergeletak di meja, saksi bisu kebaikan gadis lugu bernama Rea.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat jingga di langit kota. Rea mengusap pelipisnya yang berkeringat setelah seharian bekerja keras di kafe.
"Ini uang mukamu, Rea. Besok jangan telat ya," ucap pemilik kafe sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas.
Mata Rea berbinar. "Eh, makasih Bu! Iya, siap, Rea pasti datang tepat waktu kok. Permisi, Bu!" Dengan langkah riang dan hati yang lega karena sudah punya uang untuk makan beberapa hari ke depan, Rea berjalan menuju kosannya.
Begitu pintu kosan terbuka, Rea langsung mematung. Matanya yang bulat membelalak menatap meja kecil di sudut ruangan. Meja itu kini penuh dengan kotak-kotak makanan dari restoran mahal yang aromanya sangat menggugah selera. Di sampingnya, terdapat beberapa tas belanja berisi pakaian baru yang terlihat sangat berkualitas.
"Astaga... darimana makanan sebanyak ini?" gumamnya tak percaya. Ia menoleh ke arah Galen yang kini sudah berpakaian rapi dengan kemeja hitam, meski masih duduk di sofa tua. "Paman! Paman! Darimana makanan ini?"
Galen sempat terdiam sejenak. Ia tidak mungkin bilang kalau anak buahnya yang mengantar semua ini dengan mobil mewah. Dengan ekspresi sedatar mungkin, ia menjawab, "Eee... tadi ada orang baik lewat. Dia melihatku di depan, lalu memberikan makanan dan baju untukku."
Rea memiringkan kepalanya, tampak ragu. "Masa sih, Paman? Orang itu baik sekali sampai memberi baju bermerek begini?" Rea menatap Galen curiga, namun kepolosannya menang. "Ah, ya sudahlah. Mungkin itu rezeki Paman karena sudah mau sembuh."
Rea meletakkan tasnya. "Sekarang Rea mau mandi dulu, Paman. Badanku lengket sekali. Habis itu kita makan sama-sama, ya!"
Rea pun segera menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi tanpa curiga sedikit pun. Di sofa, Galen menghela napas panjang. Ia merasa aneh karena harus berbohong seperti itu, padahal biasanya ia tinggal memerintah. Namun entah kenapa, ia tidak ingin Rea tahu siapa dia sebenarnya—setidaknya, belum sekarang di tahun 2026 yang penuh ketidakpastian ini.
Setelah selesai mandi, Rea keluar dengan penampilan santai. Ia mengenakan kaos hitam yang pas di tubuh mungilnya dan celana pendek di atas lutut, membuat penampilannya terlihat sangat segar meski sederhana.
Rea langsung menghampiri meja dan duduk bersila di depan Galen yang masih duduk di sofa. "Ayo Paman, kita makan!" ajak Rea dengan semangat sambil mulai membuka kotak-kotak makanan mewah itu.
Sambil menyendok makanan, mata Rea sesekali mencuri pandang ke arah wajah tegas Galen. Paman Galen ini sudah menikah belum ya? batin Rea penasaran. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Ah, tapi sepertinya belum. Katanya kan dia orang jalanan, mana mungkin ada yang mau.
"Paman," panggil Rea tiba-tiba, membuat Galen mendongak. "Besok saya belikan Paman HP ya. Pakai uang muka gaji saya tadi."
Galen menghentikan gerakannya yang hendak menyuap makanan. Ia menatap Rea dengan dahi berkerut, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Biar kalau ada apa-apa, Paman bisa mengabari saya. Kalau Paman sakit lagi atau ada orang jahat, Paman tinggal telepon," lanjut Rea dengan senyum polosnya yang tulus.
Galen terdiam seribu bahasa. Di sakunya, ia punya ponsel satelit tercanggih seharga puluhan juta, tapi di depannya, seorang gadis yang bahkan harus bekerja keras seharian hanya untuk makan, justru ingin menyisihkan uang gajinya demi membelikan dia sebuah ponsel.
Ada sesuatu yang aneh berdesir di dada Galen. Ia yang biasanya dingin dan kejam, kini merasa sangat kecil di hadapan kebaikan hati Rea yang luar biasa jujur.
"Tidak perlu," jawab Galen pelan, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Ih, harus mau paman! Pokoknya besok Rea belikan titik!" bantah Rea ceroboh sambil memasukkan potongan daging besar ke mulutnya, sama sekali tidak membiarkan Galen menolak.
Galen hanya bisa menghela napas, menatap gadis di depannya itu dengan tatapan yang mulai sulit diartikan. Gadis ini... benar-benar berbeda, pikirnya.
Setelah selesai makan, suasana kamar kos terasa lebih tenang. Rea menyalakan televisi kecil di sudut ruangan dan duduk di sofa, tepat di sebelah Galen. Ia mulai asyik menonton drama romantis kesukaannya, sementara Galen hanya duduk diam, sebenarnya sedang memikirkan rencana untuk membalas musuh-musuhnya.
Tiba-tiba, adegan di layar berubah menjadi sangat romantis. Pemeran utamanya mulai melakukan adegan ciuman yang cukup intens.
Gadis ini... batin Galen tidak habis pikir. Ia melirik Rea dari sudut matanya, merasa sedikit aneh karena seorang gadis selugu Rea menonton adegan seperti itu tepat di sebelahnya, seorang pria asing.
"Rea," panggil Galen dengan suara rendahnya yang berat. "Apa kau memang suka melihat hal seperti itu?"
Rea tersentak kaget. Wajahnya langsung memerah padam sampai ke telinga. Ia buru-buru meraih remote televisi dan mematikannya dengan gerakan panik.
"Ehhh! Paman... maaf! Tadi itu... tadi kepencet!" seru Rea gugup, salah tingkah sampai hampir menjatuhkan remote-nya. Padahal, itu adalah drama seri yang sudah dia tunggu-tunggu, tapi ia terlalu malu tertangkap basah oleh Galen.
Galen hanya menggelengkan kepalanya perlahan, menahan senyum tipis yang hampir muncul melihat tingkah konyol gadis itu. Baginya, Rea benar-benar seperti buku terbuka yang mudah dibaca.
"Ya sudah... da-dada Paman! Rea ke kamar dulu, ya!" ucap Rea cepat-cepat. Ia segera bangkit dan lari kecil menuju kamarnya, menutup pintu dengan bunyi ceklek yang cukup keras.
Di balik pintu, Rea memegang dadanya yang berdegup kencang. Aduh, memalukan sekali! batinnya. Sementara itu, di sofa, Galen menatap pintu kamar Rea yang tertutup. Kamar kos yang tadinya terasa ramai karena suara Rea, tiba-tiba menjadi sangat sunyi, membuat Galen menyadari bahwa kehadiran gadis ceroboh itu mulai mengisi kekosongan di hatinya yang selama ini dingin.
Setelah pintu kamar Rea tertutup, Galen mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan kepada Leon, "Aku akan pulang lima hari lagi, jemput aku, dan berikan beberapa barang kepada gadis yang menolongku."
Leon membalas, "Siap, Tuan."
Galen baru saja hendak menyimpan ponselnya ketika pintu kamar Rea tiba-tiba terbuka. Rea berlari keluar dengan panik.
"Tikus! Tikus, Paman! Aaaaa!" seru Rea.
Dia menghamburkan dirinya ke gendongan Galen, memeluk lehernya erat.
"Ada apa? Kenapa takut?" tanya Galen.
"Tikus... di kamar ada tikus besar sekali! Rea takut!" jawab Rea sambil gemetar.
Galen terdiam sejenak. Ia merasakan Rea gemetar di pelukannya. Perlahan, tangannya mengusap punggung Rea dengan lembut.
"Hanya tikus, Rea. Tenanglah," bisik Galen.Rea mendongak, matanya yang bulat bersitatap langsung dengan manik mata Galen yang tajam. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Rea baru menyadari betapa dekatnya wajah mereka dan betapa kokohnya lengan Galen yang menopang tubuhnya.
"Ahh... maaf Paman!" Rea berseru panik, wajahnya kembali merah padam. Ia segera turun dari gendongan Galen dan mendarat di sofa dengan gerakan canggung.
Galen berdeham, berusaha menetralisir suasana yang tiba-tiba terasa panas. "Di mana, Rea? Tikusnya di mana?" tanya Galen dengan suara beratnya, mencoba kembali ke mode serius.
"Di bawahhh lemari, Paman! Besar sekali, ekornya panjang!" sahut Rea sambil mengangkat kedua kakinya ke atas sofa, masih ngeri membayangkan hewan pengerat itu.
Galen pun bangkit. Pria yang biasanya berhadapan dengan pengkhianat dan senjata api itu kini harus membungkuk di depan lemari plastik murah milik Rea. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras dan menggebrak sisi lemari sampai akhirnya tikus itu lari keluar menuju celah di bawah pintu depan.
"Sudah. Sudah pergi," ucap Galen sambil berbalik, menatap Rea yang masih tampak trauma. "Cepatlah tidur, ini sudah malam. Besok kau harus bekerja, kan?"
Rea menghembuskan napas lega dan tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Wah, Paman hebat! Makasih ya, Paman."
Galen hanya mengangguk singkat, lalu kembali duduk di sofa dengan gaya angkuhnya yang alami. Ia memperhatikan Rea yang berjalan masuk ke kamarnya dengan langkah kecil yang riang.
Begitu pintu kamar tertutup, Galen menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia memikirkan betapa berbedanya malam ini dengan malam-malam lainnya. Menghadapi tikus ternyata membutuhkan jenis keberanian yang berbeda, dan melihat Rea yang tersenyum lega memberinya perasaan yang tidak biasa. Di malam yang sunyi ini, sang mafia yang kejam itu baru saja menyadari bahwa terkadang, momen-momen kecil yang damai bisa terasa lebih berarti daripada semua pertempuran yang pernah dia hadapi.