"Apa...! Jadi pacarmu...? Dasar GILA...!"
David Lorenzo CEO perusahaan Switch Company. Dia mempunyai banyak kepribadian yang berbeda akibat trauma masa lalu.
Dia bertemu dengan Michelle, yang berkerja di perusahaannya, pertemuan mereka tidak di sengaja dan banyak kesalahpahaman.
Lambat Laun mereka semakin dekat, dan perlahan saling menyembuhkan luka.
Banyak tingkah lucu dan kocak di antara mereka.
penasaran jangan lupa baca, like dan komen.
Update gak nentu..?
Follow Ig: @Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryy Heryy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
"Seratus juta... Tidak ! tapi... Ambil ! Jangan ?" ucap Michelle dalam hati.
Michelle melirik wajah David yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat serius.
"Bagaimana? Apakah masih kurang jumlahnya? Kalau begitu katakan saja berapa jumlah yang kamu inginkan ?" tanya David dengan tegas.
"Maaf Bos... Saya benar-benar tidak mau menerima uang tersebut dan juga tidak mau berpura-pura menjadi pacar Anda. Tapi saya berjanji tidak akan memberi tahu orang lain tentang kondisi anda!" ucap Michelle.
"Bagaimana aku bisa mempercayai perkataanmu ? bagaimana aku bisa yakin bahwa kamu tidak akan menyebarkan rahasia kesehatan ku ke orang lain?" ucap David.
Saat itu, sebuah ide tiba-tiba muncul dalam benak Michelle. Dia berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang tepat untuk mengubah kondisi kerja nya yang selama ini hanya sebagai karyawan kontrak dengan masa kerja yang tidak pasti.
Dengan hati yang sedikit gemetar, dia mulai mengutarakan permintaannya kepada David.
"Kalau begitu Bos... Bagaimana kalau Bos menjadikan saya sebagai karyawan tetap di perusahaan? Dan saya akan menjaga rahasia Anda dengan sangat baik dan tidak akan pernah memberitahukan kepada siapapun! Bagaimana Bos?" tanya Michelle.
David melirik ke arah Michelle dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. Setelah beberapa saat, akhirnya dia mengangguk dengan lambat dan memberikan senyum yang licik.
"Baiklah jika itu mau mu, tapi ingat jika kondisi ku bocor, kamu akan menanggung akibatnya!" ucap David,
David kemudian mengambil kembali kontrak yang telah dia berikan kepada Michelle dan menyimpannya ke dalam laci mejanya dengan hati-hati.
"Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan ini!" ucap David.
Michelle dengan cepat mengangguk dan mengucapkan terima kasih yang sangat dalam kepada David sebelum segera berjalan keluar dari ruangan CEO.
Dia tidak menyangka bahwa permintaannya bisa diterima oleh sang CEO dan kini dia akan menjadi karyawan tetap dengan masa kerja yang lebih pasti.
Setelah Michelle pergi dari ruangan CEO, Yuda yang selama ini hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka mulai bertanya kepada David dengan suara yang penuh keraguan.
"Boss! Bagaimana jika dia ternyata tidak bisa dipercaya dan akhirnya menyebarkan rahasia Boss ke orang lain nanti? Apa yang akan kamu lakukan jika hal itu benar-benar terjadi dan menyebabkan masalah?" tanya Yuda.
"Kamu tenang saja !" ucap David sambil tersenyum senyum licik yang membuat Yuda merasa sedikit tidak nyaman namun tidak berani bertanya lebih jauh.
"Sementara ini saya bisa merasa tenang dan tidak perlu memikirkan lagi tentang keinginan kakek ku untuk membuatku menikah dengan cepat. Sisanya akan saya urus sendiri dengan cara saya sendiri. Sekarang kamu bisa pergi kembali bekerja atau pulang jika kamu sudah merasa cukup lelah hari ini!" ucap David.
Saat waktunya pulang kerja tiba dan hampir semua karyawan sudah pergi meninggalkan perusahaan, Michelle masih berada di ruangan kerja nya dengan penuh kesibukan menyelesaikan beberapa tugas penting yang tertunda akibat kejadian tadi.
Dia merasa bahwa sebagai karyawan tetap baru, dia harus bekerja lebih keras lagi untuk menunjukkan bahwa dia layak mendapatkan posisi tersebut dan tidak akan mengecewakan perusahaan.
"Astaga! Sudah pukul 22:30 malam! Gara-gara si gila itu membuatku harus lembur sampai sekarang!" ucap Michelle dengan suara kesal.
Dia kemudian mengambil tas kerja nya dan berjalan dengan cepat menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar untuk pulang ke kontrakan.
Saat dia masuk ke dalam lift dan hendak menekan tombol untuk turun ke lantai dasar, pintu lift yang belum tertutup rapat tiba-tiba dibuka kembali dan David masuk dengan membawa beberapa berkas dokumen penting.
Ternyata dia juga baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan sedang akan pulang ke rumah setelah lembur karena kejadian tadi yang membuatnya harus menangani beberapa hal mendadak.
"Sialan! Kenapa si gila ini juga belum pulang dan harus masuk ke lift yang sama dengan aku? Ini pasti akan menjadi perjalanan yang sangat canggung dan tidak nyaman!" ucap Michelle dalam hati dengan kesal.
Michelle segera berpindah ke sudut lift yang paling jauh dari David dan menghindari kontak mata dengannya.
Keadaan di dalam lift menjadi sangat sunyi dan canggung dengan hanya suara napas mereka yang terdengar jelas.
Saat itu, Michelle secara tidak sengaja melihat wajah David yang tinggi dan tampan dari kejauhan. Dia melihat bentuk wajahnya yang jelas, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang sedikit menonjol dan tampak lembut.
Seketika saja dia menelan ludah dengan tergesa-gesa.
"Apa ini ? Michelle! Sadar! apa yang aku pikirkan?" gumamnya dalam hati, segera mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak lagi melihat wajah David.
"Apa tumben sekali dia hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa? Biasanya dia pasti akan berkata sesuatu yang membuat orang tidak nyaman atau memberikan perintah-perintah yang menyebalkan!" lanjutnya dalam hati.
Michelle merasa sangat aneh dengan sikap David yang sangat berbeda dari biasanya saat ini.
Tiba-tiba saja, seluruh lampu di dalam lift dan juga di seluruh perusahaan mati dengan tiba-tiba karena pemadaman listrik yang tidak dijadwalkan.
Mereka terjebak di dalam lift yang sempurna gelap gulita tanpa ada sumber cahaya apapun.
"HAAAA! ADA APA INI? " teriak Michelle dengan suara ketakutan, mulai merasa panik karena berada di dalam ruang tertutup yang sangat gelap.
Saat dia mencoba melihat ke arah David dengan mata yang masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi David.
Dia bisa merasakan bahwa ada gerakan tubuh yang tidak stabil dan suara napas yang mulai terengah-engah serta tidak teratur.
"Bos! Kamu tidak apa-apa kan? Ada apa denganmu? Tolong tolong! Seseorang di luar sana ? tolong bantu kami!" teriak Michelle dengan khawatir.
Michelle mulai mencari ponselnya di dalam tas untuk mencari bantuan dan juga sebagai sumber cahaya sementara.
Kemudian dia berhasil menemukan ponselnya dan menyalakan fitur senter yang ada di dalamnya.
Cahaya yang keluar dari senter ponselnya menerangi bagian dalam lift dan membuatnya bisa melihat kondisi David dengan lebih jelas.
Dia melihat wajah David yang sudah sangat pucat dengan keringat dingin yang menetes di dahinya, tubuhnya menggigil dan wajahnya menunjukkan ekspresi yang penuh ketakutan yang luar biasa.
Pada saat itu, Michelle baru saja menyadari bahwa selain memiliki masalah kepribadian ganda, ternyata David juga sangat takut dengan kegelapan.
"Bos! Tenang saja ! Saya akan segera mencari cara untuk keluar dari sini dan memanggil bantuan! Jangan panik dulu!" ucap Michelle dengan perhatian.
Dia mencoba untuk mendekati David dengan hati-hati agar tidak membuatnya semakin panik.
Namun saat dia hendak mengambil ponselnya untuk menelepon bantuan, layar ponselnya menunjukkan bahwa baterainya sudah benar-benar habis dan mati dengan sendirinya.
"HAIS! SIALAN! Ponselku kehabisan baterai ! Bagaimana ini?" ucap Michelle dengan suara yang penuh kesal dan khawatiran, merasa sangat tidak berdaya dengan kondisi yang semakin sulit ini.
"Tolong... Jangan pergi... Jangan tinggalkan aku sendiri..." ucap David .
Dengan suara yang sangat lembut dan gemetar karena ketakutan, matanya kini hanya menunjukkan rasa takut yang sangat mendalam.
Tanpa bisa mengontrol dirinya sendiri, dia secara tiba-tiba memeluk tubuh Michelle dengan sangat erat dan menyembunyikan wajahnya di leher Michelle seperti seorang anak kecil yang takut akan kegelapan.
Tubuh Michelle menjadi kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa saat merasakan tubuh David yang besar dan kuat sedang memeluknya dengan sangat erat.
Namun rasa kasihan yang muncul. Dia perlahan mulai menepuk pundak David dengan lembut dan mengelus-elus punggungnya dengan penuh kehangatan untuk menenangkannya.
"Tenang saja Bos... Saya tidak akan pergi kemana-mana dan akan tetap di sini menemani Anda. Tidak perlu takut lagi ya..." ucap Michelle dengan suara yang lembut dan hangat.
Seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya yang sedang menangis. Akhirnya, rasa ketakutan David mulai mereda sedikit dan dia bisa bernapas dengan lebih tenang sambil tetap memeluk tubuh Michelle dengan erat.
Malam itu, karena kelelahan yang luar biasa akibat bekerja lembur dan juga kejadian yang menegangkan di dalam lift, mereka berdua tanpa sadar tertidur dengan posisi saling memeluk erat di dalam lift yang masih gelap gulita tersebut.
Paginya, ketika listrik sudah kembali menyala dan seluruh sistem lift berfungsi normal kembali, pintu lift terbuka secara otomatis saat sampai di lantai dasar.
Seluruh karyawan yang baru saja datang untuk bekerja paginya langsung terkejut dan tidak bisa mempercayai dengan apa yang mereka lihat, David dan Michelle sedang tidur bersama di dalam lift.
"HAAAA! APA INI?" teriak salah satu karyawan, membuat seluruh orang di sekitarnya berbalik dan melihat ke arah lift dengan wajah yang sama-sama terkejut dan rasa ingin tahu.
Suara teriakan tersebut membuat David dan Michelle terbangun dengan sangat cepat dari tidur mereka.
"HAAAA!" teriak David dan Michelle secara bersamaan.
Bersambung....
minimal di cakar cakar gitu wkwkwk