NovelToon NovelToon
Dikejar Mantan Suami Kaya Raya

Dikejar Mantan Suami Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: dewisusanti

Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.

Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.

Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.

Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalang Kecil

Promise Hospital.

Setelah berpamitan dengan Leo, Caroline segera turun dari mobil. Namun sebelum ia sempat masuk ke rumah sakit, Marcus memanggilnya.

“Carol, tunggu...”

Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya. “Ya?”

Marcus berhenti satu langkah di depan Caroline. Saat pandangan mereka bertemu, ia tersenyum sebelum berkata, “Aku akan menjemputmu nanti. Pergilah habiskan waktumu bersama kakekmu.”

Caroline terkejut mendengarnya. “Menjemputku? Kupikir kau akan kembali ke markas?” tanyanya dengan bingung.

“Aku baru saja mendapat informasi dari markas kalau aku tidak perlu terburu-buru kembali. Jadi, aku masih punya waktu untuk menjemputmu di sini.”

“Benarkah?” Cahaya di mata Caroline sedikit berbinar.

“Ada sesuatu yang perlu kubicarakan denganmu, Carol...” katanya dengan nada santai, tetapi di dalam hatinya, ia merasa jantungnya hampir meledak.

Caroline mengerutkan kening, sedikit penasaran tentang apa yang ingin ia bicarakan, tetapi ia tidak bertanya apa-apa, ia hanya mengangguk.

“Hubungi aku kalau kau sudah selesai,” kata Marcus sambil menepuk pundaknya dengan lembut. “Aku akan bermain dengan Leo, jangan khawatir tentang dia. Dan kau tidak perlu terburu-buru.”

“Terima kasih, Marcus,” katanya.

“Baiklah, masuklah. Di sini dingin.” Ia mendesaknya untuk masuk ke rumah sakit. Caroline mengangguk dan melanjutkan langkahnya.

...

Setelah meminta informasi dan petunjuk menuju ruang perawatan kakeknya, Caroline berjalan menuju lift.

Saat ia melihat pintu lift hampir tertutup, ia berlari.

“Permisi... Tolong tunggu,” teriak Caroline sambil berlari. Ia merasa lega karena sepatu yang ia kenakan memungkinkannya berlari secepat ini dan nyaris masuk ke dalam lift.

“Terima kasih,” kata Caroline tanpa menoleh ke pria di belakangnya. Dia berdiri di depan dan, saat hendak menekan nomor lantai, ternyata sudah menyala. Sepertinya pria di belakangnya juga menuju lantai yang sama.

Ia mengeluarkan ponselnya untuk memberi tahu Hobson bahwa dia sudah tiba. Namun sebelum sempat mengirim pesan, ia mendengar suara dingin dari pria di belakangnya.

“Tch... Tch... Kau baru muncul saat Kakek sekarat, hah!”

Caroline tersentak. Ia sangat mengenal suara dingin itu. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, menatap cermin di depannya untuk melihat orang itu.

Senyum masam muncul di bibir Caroline saat ia melihat seorang pria gemuk bertubuh gempal dengan rambut cokelat tua berantakan menatapnya dengan tajam.

Caroline tak bisa menahan diri untuk mengutuk nasib buruknya.

Bagaimana mungkin ia bertemu orang ini tepat setelah tiba di rumah sakit?

Caroline tak bisa menahan diri untuk berbalik menghadapnya. “Oh, kakak... Kebetulan sekali...” katanya dengan nada pura-pura terkejut.

Ia melanjutkan sebelum pria gemuk itu sempat berkata apa pun, “Senang bertemu denganmu, kak. Kau terlihat... lebih besar dan sehat, kau sangat menggemaskan...” Ia terkikik pada kakaknya, Ramos Watson.

Wajah Ramos memerah setelah mendengar kata-kata Caroline, tetapi ia mengabaikannya dan bertanya ketus, “Kenapa kau datang sekarang? Kau datang karena tahu Kakek akan segera mati? Kau kesini untuk menuntut warisanmu?”

Caroline mempertahankan senyum ala Monalisa meski di dalam hatinya dia marah.

Beraninya dia mendoakan kematian kakek mereka!?

Jika Caroline tidak ingat bahwa mereka berada di rumah sakit, ia pasti sudah lama memukulinya karena ucapannya yang tidak beradab itu.

“Oh, kakakku tersayang... Kau sangat merindukanku, ya? Aku juga merindukanmu, kakak.” Ia menjawab dengan ekspresi terharu, meskipun tatapan matanya mengatakan hal sebaliknya.

“Apa yang kau bicarakan? Siapa yang merindukanmu?” emosi Ramos meledak. Ia tak tahan mendengar kata-kata perempuan bodoh ini.

Caroline tertawa dalam hati, berhasil membuat kakaknya marah. Seketika, suasana hatinya membaik melihat wajah Ramos kini merah padam.

Ekspresi khawatir melintas di matanya saat ia berkata dengan nada lemah penuh perhatian, “Kakak, tolong tenang, ya? Kau bisa mati muda kalau tidak bisa mengendalikan amarahmu itu.”

Ramos hampir memuntahkan darah mendengar ucapannya.

‘Jalang ini!! Beraninya dia!!’ Ia mengepalkan tinjunya, menahan amarahnya. Ia membuka mulut untuk memarahinya, tetapi ia terdiam saat pintu lift terbuka.

Ding!

Caroline melangkah keluar tanpa menunggu Ramos mengatakan sepatah kata pun. Ia berjalan menuju kamar kakeknya dengan langkah ringan dan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.

Ramos tersadar dari keterkejutannya saat pintu lift hampir tertutup.

“Ya!!” teriak Ramos dengan kesal. “Caroline Watson, kau tidak boleh masuk ke kamar Kakek,” katanya sambil berlari cepat mengejarnya.

Namun Caroline mengabaikannya. Ia justru berjalan semakin cepat. Saat tiba di depan kamar kakeknya, ia berhenti di depan pintu dan menoleh ke arah Ramos.

Ia menahan tawanya saat melihat kakaknya yang gemuk berlari mengejarnya — tubuhnya terlihat berat saat ia mengangkat kaki.

Meski wajah Ramos memancarkan amarah, melihat gaya larinya yang kocak, Caroline tak bisa menahan tawa di dalam hatinya.

“Kakak, sebaiknya kau mulai berolahraga. Baru lari sebentar saja, kau sudah kelelahan,” kata Caroline dengan lembut, tetapi bagi Ramos terdengar seperti tamparan di wajahnya.

Ramos semakin kesal.

“Caroline!! K-Kau—” Ia tak bisa menyelesaikan ucapannya saat melihat adik perempuannya yang menyebalkan itu melambaikan tangan padanya dan santai masuk ke dalam kamar.

’Sialan kau, Caroline!! Tunggu saja, aku akan menelepon Ibu dan Ayah!!’ Ramos hanya bisa meluapkan amarahnya dalam hati sambil mengeluarkan ponsel dari saku jas panjangnya.

Tanpa ragu, ia menekan nomor ponsel ibunya.

“Ramos, kenapa kau menelepon? Bukankah kau mengatakan akan mengunjungi Kakek sekarang?” suara perempuan yang lembut terdengar di seberang.

Wajah Ramos masih terlihat kesal. Ia menjawab, “Ibu, Ibu tidak akan percaya siapa yang kutemui di sini.”

“Siapa?” Nada suara wanita itu terdengar penasaran.

“Jalang kecil itu—” Ramos menyibakkan rambutnya sambil menarik napas dalam-dalam. “Ya, ya... Jalang itu, Caroline... dia muncul di rumah sakit. Dia ada di kamar Kakek sekarang. Baik, baik. Aku akan mencoba menahannya di sini... Cepat, hubungi Ayah juga...”

Setelah menutup telepon, wajah kesal Ramos perlahan berubah. Senyum licik muncul di sudut bibirnya.

“Kau tamat, Caroline!! Ibu dan Ayah akan segera datang kesini.” Ia berbicara pada dirinya sendiri sambil berjalan menuju kamar itu.

1
july
hadir torr
Afifah Ghaliyati
mantap torr moga moga cray up pagi torr
Afifah Ghaliyati
aku lega banget kakeknya nggak beneran sakit
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
Afifah Ghaliyati
Caroline keren banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Afifah Ghaliyati
sumpah adegan ini bikin dada sesak 😭
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah
eva
pintar banget kakek Caroline🤣🤣
eva
terimakasih torr crazy up nya💪💪💪
Uba Muhammad Al-varo
ingat Caroline atas kesakitan mu yang diberikan William makanya kamu jangan mau balik kembali ke William
Uba Muhammad Al-varo
kakek Sebastian nggak tahu Caroline itu pembisnis hebat dan sukses
tia
sudah crazy update oq masih kurang thor
Uba Muhammad Al-varo
ternyata kakek Sebastian pintar juga ngebohongin anak mantu dan cucunya Caroline
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya kakek Bastian sadar dan ini juga awal semuanya memahami kesalahan nya sendiri 🤔🤔
Uba Muhammad Al-varo
good........ Caroline apa yang kamu lakukan sekarang dengan menjawab semua ocehan ayah dan keluarga besar, supaya mereka sadar semua yang terjadi ini akibat dari ketidak mampuan mereka berbisnis
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
wahhh keren update banyak nih tetap semangat terus ya 👍🏻💪🏻😍
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
astagaaa ternyata kakek Caroline ngeprank dan berhasil membuat Caroline pulang dan beliau tahu sendiri anak anaknya pada menyalahkan Carol
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
pasti itu kakeknya Caroline dan salut buat keberanian Caroline mengungkapkan isi hatinya tenang dan tegas tanpa takut
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
bagus Caroline ungkapkan saja apa yang ada dalam hatimu seenaknya saja keluargamu sendiri menyalahkan kamu padahal mereka semua tidak becus bekerja
Dolphin
👍👍👍👍👍
cokky
semangat tor💪💪
kakdew12: semangat juga bacanya👍
total 1 replies
Lacoste
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!