Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 213
Aula Utama Labirin – Di Tengah Badai Darah.
TING! TING! TING!
Suara benturan logam bergema ribuan kali dalam satu tarikan napas.
Namun, tidak ada percikan api biasa. Setiap kali pedang Leviathan Asura milik Shi Hao berbenturan dengan jari-jari pucat Xing Tian, ruang di sekitar mereka retak seperti kaca pecah.
Xing Tian tidak menggunakan senjata. Dia tidak butuh.
Kuku-kukunya yang panjang dan terawat dialiri oleh Qi Darah Iblis, membuatnya lebih tajam dari artefak suci mana pun. Setiap gerakan tangannya adalah tarian yang anggun namun mematikan, seperti seorang seniman yang sedang melukis... atau seorang tabib gila yang sedang membedah manusia.
SRET.
Sebuah goresan tipis muncul di pipi Shi Hao. Darah emas menetes.
Shi Hao melompat mundur, menjaga jarak. Lukanya perih, bukan karena sakit fisik, tapi karena ada energi asing yang mencoba menyusup masuk ke aliran darahnya energi yang ingin "memakan" kekuatannya dari dalam.
"Gerakanmu kaku, Anak Muda," Xing Tian tersenyum lembut, menjilat darah Shi Hao yang menempel di kukunya.
"Kau bertarung dengan beban. Kau memikirkan teman batumu tadi? Atau gadis kucing yang kau tinggal di luar?"
Shi Hao menyeka pipinya. "Banyak bicara untuk ukuran mayat hidup."
Xing Tian berhenti menyerang. Dia berdiri tegak di tengah aula, dikelilingi oleh tumpukan mayat yang mengering. Matanya yang hitam pekat menatap Shi Hao dengan sorot yang aneh campuran antara kelaparan dan... nostalgia.
"Kau mengingatkanku pada seseorang," kata Xing Tian pelan.
"Siapa?"
"Diriku sendiri. seribu tahun yang lalu."
Xing Tian mengibaskan jubah putihnya yang bernoda darah. Dia mulai berjalan memutari Shi Hao, seolah sedang menceramahi seorang murid.
"Dulu, aku tidak bernama Xing Tian si Pemangsa. Dulu, namaku adalah Xing Chen (Bintang Pagi)."
"Aku adalah Pahlawan Sektor Utara. Aku menyelamatkan tujuh galaksi dari invasi Ras Void. Aku dipuja sebagai 'Santo Bintang'. Aku melindungi yang lemah, persis sepertimu."
Mata Xing Tian meredup, kilatan kebencian yang dalam muncul di sana.
"Tapi tahukah kau apa hadiah yang diberikan Hukum Langit atas jasaku?"
Shi Hao terdiam, cengkeramannya pada pedang mengerat. Dia teringat pada Mata Raksasa yang mencoba menghapusnya di Alam Dewa.
"Mereka mengkhianatimu," tebak Shi Hao.
"Lebih buruk," desis Xing Tian. "Mereka mencoba Mendaur Ulang diriku."
"Ketika kekuatanku menyentuh ambang batas yang diizinkan, Penjaga Semesta datang. Mereka bilang keberadaanku 'mengganggu keseimbangan'. Mereka membantai keluargaku, menghancurkan sekteku, dan menyegelku di kegelapan abadi ini untuk mati perlahan."
"Mereka bilang Pahlawan harus mati demi Kestabilan."
Xing Tian tertawa. Tawa yang penuh kepahitan dan kegilaan.
"Saat itulah aku sadar. Hukum Langit itu munafik. Mereka memakan potensi kita untuk menjaga kekuasaan mereka."
"Jadi aku memutuskan... Jika Langit ingin memakanku, maka aku akan memakan Langit terlebih dahulu."
Xing Tian merentangkan tangannya. Aura merah darah meledak di belakangnya, membentuk bayangan mulut raksasa yang siap menelan dunia.
"Aku membuang jalan Pahlawan. Aku memeluk Dao Pemangsa. Aku memakan musuhku, temanku, siapa pun... untuk menumpuk kekuatan hingga aku bisa merobek Langit."
Xing Tian menatap Shi Hao dengan lembut.
"Aku melihat 'Tanda' itu padamu. Tanda Keberadaan. Penjaga Semesta sudah mengincarmu, bukan?"
"Kau tidak punya masa depan sebagai Pahlawan. Cepat atau lambat, orang-orang yang kau lindungi akan melihatmu sebagai monster, dan Langit akan mengirimkan petir surgawi untuk memusnahkanmu."
Xing Tian mengulurkan tangannya yang pucat ke arah Shi Hao.
"Bergabunglah denganku."
"Jadilah muridku. Aku akan mewariskan Seni Melahap Surga (Heaven Devouring Art) padamu. Kita berdua, guru dan murid, akan memakan seluruh peserta turnamen ini, menyerap kekuatan mereka, lalu mendobrak keluar dari Labirin ini untuk membakar Kekaisaran Pusat."
"Jangan jadi domba yang menunggu disembelih. Jadilah serigala."
Tawaran itu menggema di aula yang sunyi.
Bagi kultivator biasa yang putus asa, tawaran ini sangat menggiurkan. Menjadi murid Dewa Sejati senior? Mendapatkan kekuatan instan? Membalas dendam pada sistem yang tidak adil?
Shi Hao menunduk. Rambutnya menutupi matanya.
"Kau benar soal satu hal, Pak Tua," suara Shi Hao tenang.
"Hukum Langit memang brengsek. Aku juga sudah merasakannya. Mereka mencoba menghapusku hanya karena aku ada."
Mata Xing Tian berbinar. "Jadi kau mengerti? Kau menerimanya?"
Shi Hao mendongak. Matanya jernih, bersinar dengan cahaya Abu-abu Nirwana yang suci bertolak belakang dengan aura merah Xing Tian.
"Tapi kau salah soal sisanya."
Shi Hao mengangkat pedangnya, ujungnya lurus mengarah ke jantung Xing Tian.
"Aku bukan Pahlawan. Aku tidak peduli dengan menyelamatkan dunia."
"Tapi aku punya satu aturan sederhana: Aku tidak memakan apa yang aku lindungi."
Shi Hao tersenyum miring, mengejek.
"Kau bilang kau ingin melawan Langit? Jangan bercanda."
"Kau memakan yang lemah untuk menjadi kuat. Itu sama saja dengan apa yang dilakukan Langit. Kau tidak memberontak, Xing Tian. Kau hanya meniru penindasmu."
"Kau bukan Iblis Agung. Kau cuma anjing yang kelaparan dan ketakutan."
Senyum di wajah Xing Tian lenyap seketika.
Wajah tampannya berubah menjadi dingin dan datar, seperti patung es.
"Anjing...?"
Aura merah di sekitar Xing Tian memadat menjadi hitam pekat. Tekanan udara di aula itu turun drastis, membuat dinding batu mulai retak.
"Aku menawarkanmu takhta, dan kau meludahinya."
"Sayang sekali."
Xing Tian menarik tangannya kembali. Kuku-kukunya memanjang menjadi cakar setajam pisau bedah sepanjang satu jengkal.
"Jika kau tidak mau menjadi muridku..."
Xing Tian membuka mulutnya, memperlihatkan deretan gigi yang kini runcing seperti hiu.
"...Maka kau hanya akan menjadi makan malamku."
"Seni Iblis Seribu Benang Darah!"
Xing Tian mengibaskan sepuluh jarinya.
ZING! ZING! ZING!
Ratusan benang merah tipis yang terbuat dari Qi Darah yang dipadatkan melesat memenuhi ruangan. Benang-benang itu tak terlihat oleh mata telanjang, membentuk jaring laba-laba mematikan yang bisa memotong tubuh Dewa Sejati menjadi potongan-potongan kecil.
Shi Hao tidak mundur.
"Kalau begitu, mari kita lihat..."
Shi Hao memutar pedangnya, menciptakan pusaran Kekacauan.
"...Apakah gigimu cukup kuat untuk mengunyahku."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛