NovelToon NovelToon
The Devil’S Kesepakatan Berdarah

The Devil’S Kesepakatan Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Wanita Karir / Nikah Kontrak / Karir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Profil Karakter Utama

Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.

Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.



Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang Terluka

Jakarta menyambut mereka dengan hujan badai yang seolah ingin mencuci dosa-dosa kota tersebut. Arka dan Alea mendarat di pangkalan udara pribadi di pinggiran kota, menghindari radar bandara internasional yang pasti sudah dijaga oleh antek-antek dewan direksi.

Suasana di dalam mobil antipeluru yang membawa mereka menuju rumah sakit sangat mencekam. Alea terus menggenggam map cokelat dari Paris itu, jemarinya memutih karena tekanan. Di sampingnya, Arka tak henti-hentinya berkomunikasi melalui earpiece, memastikan rute yang mereka lalui bersih dari pengintaian.

"Kau tidak harus melakukannya malam ini jika kau belum siap, Alea," ucap Arka lembut, tangannya hinggap di atas genggaman Alea yang gemetar.

Alea menggeleng pelan. "Semakin lama aku menunda, semakin banyak kebohongan yang tumbuh di kepalaku. Aku harus tahu, Arka. Aku harus tahu kenapa Ibu membiarkan aku hidup dalam kemiskinan sementara dia memegang kunci kerajaanmu."

Arka tidak membalas. Ia tahu betul rasa sakit dikhianati oleh darah sendiri. Mobil berhenti di pintu belakang rumah sakit yang sudah disterilkan oleh tim keamanan Arka. Mereka tidak melewati lobi utama, melainkan lift barang yang langsung menuju lantai VVIP.

Begitu pintu lift terbuka, bau antiseptik yang tajam menusuk hidung Alea. Ia melangkah menuju kamar nomor 701. Di depan pintu, Rio berdiri tegak dengan tangan di balik punggung. Ia mengangguk kecil pada Arka dan membukakan pintu untuk Alea.

"Aku akan menunggu di sini," bisik Arka, memberikan Alea ruang yang ia butuhkan.

Alea masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu tidur temaram. Di atas tempat tidur, ibunya—Ratih—tampak begitu rapuh di bawah balutan selimut putih. Mesin pendeteksi jantung berbunyi teratur, satu-satunya suara yang memecah keheningan malam.

Ratih membuka matanya perlahan saat merasakan kehadiran seseorang. "Alea? Kau sudah pulang, Nak?" suaranya lemah, hampir seperti bisikan angin.

Alea duduk di kursi samping tempat tidur. Ia tidak langsung memeluk ibunya. Ia meletakkan foto hitam putih dari Paris itu di atas meja samping tempat tidur.

Ratih melirik foto itu, dan seketika, napasnya tersengal. Wajahnya yang pucat menjadi semakin pias. "Dari mana... dari mana kau mendapatkan ini?"

"Paris, Bu. Apartemen di Le Marais," Alea menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kenapa Ibu tidak pernah bilang kalau Ibu adalah alasan Don Malik terobsesi pada keluarga kita? Kenapa Ibu diam saja saat Ayah 'dihilangkan' karena mencoba menyelamatkan Ibu dari bayang-bayang pria itu?"

Ratih memejamkan mata, air mata mengalir dari sudut matanya yang mulai berkeriput. "Ibu ingin melindungimu, Alea. Ibu pikir dengan hidup miskin dan terpencil, mereka akan melupakan kita. Ibu pikir kemiskinan adalah tabir surya terbaik untuk menyembunyikanmu dari dunia yang kejam itu."

"Tapi Ibu membiarkan aku menjadi yatim! Ibu membiarkan Ayah mati sebagai pengkhianat di mata perusahaan, padahal dia adalah pahlawan bagi kita!" suara Alea meninggi, bercampur dengan isak tangis.

"Ayahmu tahu risikonya, Alea," Ratih meraih tangan Alea, namun Alea menariknya kembali. "Hendra mencintai Ibu lebih dari nyawanya sendiri. Saat Don Malik tahu Ibu hamil dirimu, dia ingin mengambilmu. Dia ingin kau menjadi 'ahli waris' cadangannya jika Arka gagal. Ayahmu tidak akan membiarkan itu. Dia mengaudit Proyek Omega bukan untuk uang, tapi untuk mendapatkan bukti agar dia bisa memeras Don Malik agar membiarkan kita bebas."

Alea tertegun. "Jadi... aku hampir menjadi bagian dari keluarga mereka sejak lahir?"

"Kau adalah segalanya bagi mereka, Alea. Dan sekarang, kau kembali ke tangan putra pria itu," Ratih menatap pintu, seolah tahu Arka ada di balik sana. "Arkaen... dia sangat mirip ayahnya. Ibu takut, Alea. Ibu takut kau hanya menjadi trofi lain baginya."

"Arka berbeda, Bu," ucap Alea, meski ada keraguan kecil yang menyengat hatinya.

"Benarkah?" Ratih tersenyum getir. "Malik tetaplah Malik. Mereka tidak mencintai, mereka memiliki. Pergilah ke laci bawah di rumah lama kita, Alea. Ada sebuah kunci di balik bingkai foto pernikahan Ibu. Kunci itu akan membawamu ke brankas rahasia di Bank Swiss cabang Jakarta. Itu adalah mahar yang diberikan Don Malik untukmu... yang ditolak oleh Ayahmu."

Tiba-tiba, alarm rumah sakit berbunyi nyaring. Suara tembakan terdengar dari kejauhan di koridor. Alea langsung berdiri, jantungnya berpacu liar.

Pintu kamar terbuka dengan bantingan keras. Arka masuk dengan pistol di tangan, wajahnya terlihat sangat tegang. "Alea! Tiarap!"

Arka menarik Alea ke lantai tepat saat peluru menembus kaca jendela kamar, menghancurkan vas bunga di meja. Rio masuk ke dalam ruangan, membalas tembakan ke arah luar jendela.

"Siapa mereka?!" teriak Alea di bawah perlindungan Arka.

"Dewan direksi tidak ingin kau bicara dengan ibumu!" sahut Arka sembari melepaskan dua tembakan ke arah pintu yang mulai didobrak dari luar. "Mereka tahu kau sudah tahu tentang aset itu. Mereka ingin menghapus saksi kunci!"

Arka menoleh pada Ratih yang tampak ketakutan di atas tempat tidur. "Rio! Bawa Nyonya Ratih ke jalur evakuasi medis! Sekarang!"

"Tapi Tuan, bagaimana dengan Anda?"

"Lakukan perintahku!" bentak Arka.

Rio dengan sigap menarik tempat tidur darurat Ratih, sementara beberapa pengawal lain membentuk barikade manusia. Alea mencoba meraih tangan ibunya saat Ratih ditarik keluar ruangan.

"Ibu! Tunggu!"

"Pergilah, Alea! Cari kunci itu!" teriak Ratih sebelum menghilang di balik pintu darurat.

Kamar itu kini hanya menyisakan Arka dan Alea di tengah hujan peluru. Arka menggenggam tangan Alea erat, menariknya menuju balkon.

"Kita harus melompat ke gedung sebelah!" ucap Arka gila.

"Kau gila?! Itu jaraknya tiga meter!"

"Percaya padaku, Alea! Kau ingin keadilan untuk ayahmu, kan? Ini adalah satu-satunya cara!"

Arka tidak menunggu jawaban. Ia merangkul pinggang Alea, berlari sekuat tenaga, dan mereka melayang di udara malam Jakarta yang basah. Untuk sesaat, Alea merasa waktu berhenti. Ia melihat kilatan lampu kota di bawahnya, dan merasakan detak jantung Arka yang memukul dadanya.

BRAK!

Mereka mendarat di atas tumpukan kardus di balkon gedung parkir seberang. Arka mengerang kesakitan karena bahunya yang terluka menghantam lantai beton terlebih dulu untuk melindungi Alea.

Alea segera bangkit, memeriksa kondisi Arka. "Arka! Kau tidak apa-apa?"

Arka terengah-engah, wajahnya meringis menahan sakit, namun ia tetap memaksakan sebuah senyuman miring.

 "Lemparan yang bagus, bukan?"

Alea tertawa di tengah tangisnya, memukul bahu Arka pelan. "Kau benar-benar monster yang merepotkan."

Mereka segera berlari menuju mobil cadangan yang sudah menunggu di lantai dasar gedung parkir. Begitu mereka masuk ke dalam mobil yang melesat pergi, Arka menatap Alea yang sedang menyeka darah di keningnya sendiri.

"Apa yang ibumu katakan?" tanya Arka pelan.

Alea menatap keluar jendela, ke arah rumah sakit yang kini dikepung oleh mobil polisi dan pemadam kebakaran. "Dia bilang aku punya kunci. Kunci untuk menghancurkan Malik Group atau memilikinya sepenuhnya."

Arka terdiam sejenak, lalu ia menggenggam tangan Alea. "Lalu, apa yang akan kau pilih, Alea? Menjadi penghancur atau menjadi ratu?"

Alea menoleh, menatap mata Arka dengan keberanian yang baru ia temukan malam ini. "Aku akan menjadi orang yang menulis ulang sejarah keluarga kita, Arka. Dan aku butuh kau untuk memastikan tidak ada lagi peluru yang menghentikanku."

Arka menyeringai, menginjak gas lebih dalam. "Itu adalah tawaran yang tidak bisa kutolak."

Mobil itu menghilang di kegelapan malam Jakarta, membawa dua jiwa yang terikat oleh dosa masa lalu orang tua mereka, menuju sebuah brankas yang akan mengubah peta kekuasaan kota itu selamanya.

1
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!