*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.
Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINTU KE ALAM LAIN
Ayahku terbaring lembut di pelukanku, napasnya sudah mulai lemah dan tidak teratur. Cahaya putih dari gua itu semakin besar dan terang, menyinari seluruh desa dengan warna yang menyilaukan tapi juga menenangkan. Aku bisa merasakan bahwa energi yang keluar dari sana bukanlah kekuatan jahat tapi sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang tidak bisa kubayangkan sebelumnya.
“Jangan khawatir padaku, cintaku,” bisik ayahku dengan suara yang hampir tidak terdengar, menyentuh wajahku dengan jari yang dingin. “Kamu telah melakukan yang terbaik. Sekarang kamu harus melihat ke masa depan untuk desa, untuk semua orang yang kamu cintai.”
Dia menarik napas terakhir yang panjang, lalu matanya perlahan-lahan tertutup. Aku merasakan bahwa tubuhnya menjadi sangat ringan, lalu mulai menyala dengan cahaya putih yang lembut sebelum menghilang sepenuhnya. Hanya tersisa cincin pernikahannya yang jatuh ke tanah di pangkuanku dingin dan kering di tangan yang penuh dengan air mata.
Suara tangisan dari orang-orang desa terdengar di sekitarku, menyatu dengan suara angin yang mulai bertiup dengan kuat. Dari dalam gua itu terdengar suara nyanyian yang indah suara seperti ribuan orang yang sedang menyanyi bersama dalam harmoni yang sempurna.
Kita semua mendekati pintu gua dengan hati-hati, cahaya putih dari dalamnya membuat kita harus menyipitkan mata. Kapten Hasan berdiri di sisiku, tangannya menempel di bahuku dengan lembut. “Apa yang akan kita lakukan sekarang, Sevira?” tanyanya dengan suara yang penuh kekhawatiran. “Apa yang ada di dalam sana?”
Aku melihat ke arah Rio yang sudah menangis bersama dengan orang lain dari desa. Dia mengambil tanganku dengan kuat, dan aku bisa merasakan bahwa dia sedang berusaha untuk kuat untukku. “Kita harus melihatnya,” kataku dengan suara yang jelas dan kuat. “Ini adalah satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”
Saat kita memasuki gua, aku menemukan bahwa dalamnya jauh lebih besar dari yang kukira. Dinding gua dihiasi oleh lukisan-lukisan baru yang belum pernah kudapatkan sebelumnya lukisan tentang masa depan desa yang damai dan bahagia, dengan orang-orang hidup berdampingan dengan mereka yang sudah pergi ke dunia bawah tanah. Di tengah ruangan besar ada sebuah portal besar yang bersinar dengan cahaya putih yang menyilaukan, dengan simbol yang sama dengan yang ada di kalungku di atasnya.
Dari portal itu muncul bayangan ibu ku, nenekku yang pertama dan kedua, serta banyak orang lain yang sudah kita kenal dan hilangkan. Mereka semua tersenyum dengan wajah yang penuh kedamaian dan cinta. “Kamu telah melakukan hal yang benar, Sevira,” suara ibu ku terdengar dengan jelas dan kuat. “Kamu telah mengakhiri kutukan yang sudah ada selama seribu tahun.”
Dia menjelaskan bahwa portal itu adalah pintu ke alam baru alam di mana orang yang hidup dan mati bisa hidup berdampingan dalam kedamaian. Perjanjian lama yang dibuat nenekku sudah tidak lagi diperlukan, karena kekuatan cinta yang kita tunjukkan telah cukup untuk menyatukan kedua dunia menjadi satu.
“Tetapi ada sesuatu yang kamu harus ketahui,” lanjutnya dengan wajah yang menjadi lebih serius. “Ratu Kegelapan tidak sepenuhnya hilang. Bagian kecil dari kekuatannya masih ada di dalam hati setiap orang itu adalah bagian alami dari kehidupan yang tidak bisa dihilangkan. Tapi sekarang kamu semua tahu bagaimana cara mengendalikannya dengan cinta dan pengertian.”
Saat kita berbicara, aku merasakan bahwa ada sesuatu yang menyentuh pundakku dari belakang. Aku menoleh dan menemukan seorang wanita muda dengan wajah yang mirip dengan wanita tua itu bibiku yang telah kembali ke bentuk muda dan aslinya. Dia tersenyum padaku dengan lembut, tangannya membawa sebuah surat tua.
“Ini adalah surat yang aku tulis sebelum aku mulai melakukan hal-hal mengerikan itu,” katanya dengan suara yang penuh penyesalan. “Aku ingin kamu memberikannya kepada semua orang di desa sebagai permintaan maaf yang paling tulus dariku.”
Surat itu berisi permintaan maaf yang panjang kepada semua orang yang pernah dia sakiti, serta harapannya bahwa mereka semua bisa hidup damai dan bahagia di alam baru yang akan datang. Di bagian bawah surat ada tulisan kecil: “Cinta adalah satu-satunya kekuatan yang benar-benar bisa mengubah segalanya.”
Saat kita membaca surat itu bersama-sama, aku melihat bahwa portal itu mulai terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Cahaya putih yang menyala semakin terang, dan aku bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi alam baru itu mulai menyatu dengan dunia yang sudah kita kenal. Rumah-rumah yang pernah terbakar mulai muncul kembali dengan sendirinya, pepohonan yang sudah layu mulai hijau kembali, dan bunga-bunga mulai mekar di setiap sudut desa.
“Waktunya sudah tiba,” ujar nenekku yang pertama dengan suara yang penuh hikmat. “Kita semua bisa hidup bersama sekarang tidak ada lagi pembatasan antara dunia ini dan dunia lain.”
Tetapi kemudian aku merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dari kejauhan, aku bisa merasakan adanya energi yang kuat dan tidak dikenal energi yang tidak berasal dari kekuatan cinta atau kegelapan yang pernah kita kenal. Aku melihat ke arah langit yang sudah mulai kembali normal dan menemukan bahwa ada awan gelap yang mulai muncul dari arah yang berlawanan dengan desa, membawa dengan dirinya suara gemuruh yang mengganggu dan bau yang menyengat seperti logam yang terbakar.
“Apakah itu apa yang kurasakan?” bisik Rio dengan suara yang gemetar, melihat ke arah langit dengan wajah yang penuh ketakutan.
Aku mengambil kalungku dengan erat, merasakan bahwa kekuatan Pembawa Cahaya mulai meningkat di dalam diriku. Aku melihat ke arah semua orang yang telah membantu aku selama perjalanan ini Kapten Hasan, Rio, dan semua orang dari desa yang sedang menatapku dengan harapan yang dalam. Aku tahu bahwa perjuangan kita memang sudah selesai tapi perjuangan baru bagi dunia yang lebih besar baru saja dimulai.
“Aku harus pergi melihatnya,” kataku dengan suara yang jelas dan kuat, mulai berjalan ke arah awan gelap itu. “Ada sesuatu yang datang sesuatu yang bisa mengancam tidak hanya desa kita, tapi seluruh dunia.”
Kapten Hasan mendekatiku dan mengambil tanganku dengan kuat. “Kita akan pergi bersamamu,” katanya dengan suara yang penuh tekad. “Kita tidak akan pernah membiarkanmu pergi sendirian lagi.”
Aku tersenyum padanya dengan lembut, lalu melihat ke arah portal yang masih terbuka dengan lebar. Aku bisa melihat bahwa alam baru itu sudah siap menerima semua orang tapi aku tahu bahwa tugasku belum selesai. Aku harus pergi melindungi yang lebih dari sekadar desa kita aku harus melindungi semua orang yang pernah hidup dan akan hidup di dunia ini.
Saat kita mulai berjalan ke arah awan gelap itu, cahaya dari kalungku menyinari jalan depanku dengan sangat terang. Aku tidak tahu apa yang akan kita temui di sana tapi aku tahu bahwa dengan cinta dan persahabatan yang kita miliki, kita bisa mengalahkan segala sesuatu yang datang menghadang kita.