Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah itu dia?
Siang itu dapur rumah Nadira dipenuhi aroma kue yang baru keluar dari oven. Ravela berdiri di samping meja, membuat adonan sambil sesekali mencicipi dengan ujung jarinya.
“Jangan kebanyakan tepungnya, nanti bisa keras,” ujar Nadira tanpa menoleh.
“Iya, Bunda cantik,” jawab Ravela.
Ponsel Ravela bergetar di saku celananya. Ia melirik layar, alisnya sedikit naik. Di layar ponselnya terpampang nama Lettu Lingga, Ajudan Letkol Armand. Ia segera menjauh sedikit dari meja tempatnya membuat kue.
“Selamat siang, Kapten Ravela,” suara di seberang terdengar formal. “Saya Lingga, ajudan Letkol Armand.”
Ravela spontan berdiri lebih tegap. “Siap.”
“Ada perintah. Anda diminta segera ke markas.”
“Siap. Saya berangkat sekarang.”
Telepon ditutup. Ravela menarik napas pendek lalu kembali ke dekat ibunya.
“Bunda, aku harus siap-siap,” katanya sambil melepas sarung tangan plastik. “Aku dipanggil ke markas. Perintah dari Letkol Armand.”
Nadira menoleh cepat. “Sekarang? Bukannya kamu lagi cuti?”
“Iya, Bun. Tapi aku diminta datang segera.”
Nadira menghela napas. “Ada apa memangnya?”
“Belum tahu. Disuruh datang dulu.”
Nadira mengangguk pelan, “Ya sudah. Hati-hati.”
Ravela berjalan keluar dapur. Di lorong, ia hampir berpapasan dengan ayahnya.
“Kok kelihatannya buru-buru? Ada apa?” tanya Dharma.
“Aku dipanggil Letkol Armand, Yah. Disuruh ke markas sekarang.”
Dharma mengangguk paham. “Pasti tugas mendadak lagi?”
“Aku juga kurang tahu, Yah. Aku mau siap-siap dulu.”
Ravela tak menunggu jawaban. Ia berlari kecil menuju kamar. Beberapa menit kemudian ia sudah rapi dengan seragamnya. Ia berpamitan singkat, mencium tangan kedua orang tuanya, lalu pergi.
Lapangan markas siang itu lebih ramai dari biasanya. Ravela melihat wajah-wajah yang ia kenal.
“Letda Kirana?” Ravela menyapa.
“Siap, Komandan! Ternyata anda dipanggil juga,” jawab Kirana sambil hormat ke Ravela.
Tak lama Dimas dan Bima bergabung. Setelah semua perwira berkumpul, Letkol Armand melangkah ke depan.
“Saya minta perhatian,” katanya tegas. “Pertama-tama, saya minta maaf karena memanggil kalian di tengah masa cuti.”
Semua perwira berdiri tegap.
“Kalian dipanggil karena ada perintah langsung dari Bapak Presiden. Desa X membutuhkan bantuan tambahan. Kondisi di sana memburuk. Ada longsor susulan dan tenaga di lapangan kurang,” lanjut Letkol Armand menerangkan.
Tak ada satu pun yang bersuara.
“Kalian akan diberangkatkan hari ini juga,” kata Letkol Armand kemudian menoleh ke Ravela. “Kapten Ravela.”
“Siap, Letkol.”
“Kamu saya tunjuk sebagai koordinator lapangan.”
“Siap, Letkol.”
“Kalian punya waktu dua jam untuk persiapan. Sore ini berangkat. Bubarkan.”
Para perwira berpencar. Dari kejauhan terdengar Bagas bergumam, “Baru juga libur sudah bertugas lagi...”
Ravela menghampiri dan menepuk bahunya.
Bagas tersentak. “Siap, Komandan!” katanya refleks.
“Sebagai prajurit, kita harus siap dipanggil kapan saja,” ujar Ravela.
Bagas menggaruk tengkuknya. “Siap, salah, Komandan!”
Ravela tersenyum tipis lalu melangkah pergi.
Di rumah, Ravela tak menunda waktu. Ia langsung menyampaikan kepada orang tuanya bahwa dirinya harus berangkat dan ditugaskan ke Desa X yang sedang dilanda bencana banjir dan tanah longsor.
“Berangkat ke desa X?” tanya Nadira dengan wajah kagetnya.
“Iya, Bun. Sore ini.”
Nadira terlihat hendak membantah, tapi Dharma lebih dulu bicara. “Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Dulu Ayah juga kan sering begitu, Bun.”
Nadira terdiam lalu mengangguk. “Jaga dirimu baik-baik disana, Nak.”
“Pasti Bun.”
Ravela menyiapkan perlengkapan seperlunya dan kembali ke markas.
Sore hari, bus militer bergerak meninggalkan markas. Pukul delapan malam mereka tiba di lokasi. Beberapa tenda berdiri rapi. Salah satunya diperuntukkan bagi para perwira.
Namun Ravela tidak langsung menuju tenda itu.
“Ayo ke Komandan Posko dulu,” katanya pada Dimas dan Bima.
Mereka bertiga melangkah masuk ke tenda utama. Seorang perwira berpangkat kolonel menoleh dari peta yang terbentang di atas meja.
“Lapor,” kata Ravela tegas sambil hormat. “Kapten Ravela Natakusuma, Koordinator Lapangan. Bersama Letnan Satu Dimas Wicaksana dan Sersan Mayor Bima Santosa. Membawa personel sesuai daftar.”
Perwira itu bangkit dari kursinya, membalas hormat Ravela, Dimas, dan Bima. “Saya Kolonel Surya Pradipta, Komandan Posko. Selamat datang. Silakan duduk.”
Kolonel Surya mulai menjelaskan kondisi terkini. Ia menunjuk beberapa titik di peta. Area rawan longsor susulan, lokasi warga yang sudah dievakuasi, jalur yang masih bisa dilalui kendaraan, serta kebutuhan mendesak di lapangan.
“Kalian fokus di sektor timur,” kata Kolonel Surya menutup briefing. “Di sana masih banyak warga yang butuh bantuan. Koordinasi dengan tim medis dan relawan sipil.”
“Siap Kolonel,” jawab Ravela.
Di tenda relawan dan tim proyek, suasana yang tadinya tenang berubah riuh. Beberapa pekerja baru saja kembali dari luar tenda, wajah mereka tampak antusias, suara bisik-bisik cepat menyebar dari satu sudut ke sudut lain.
“Eh, kalian lihat rombongan yang baru datang barusan?” ujar seorang staf proyek sambil menuang air minum.
“Lihat. Itu tentara semua. Tapi yang bikin heboh, ada dua tentara wanita, ”jawab temannya cepat.
“Cantiknya tidak wajar,” timpal yang lain sambil tertawa kecil. “Saya sampai mikir, itu beneran tentara atau salah kostum.”
Seorang pria yang duduk di dekat pintu tenda ikut nimbrung. “Yang satunya saya lihat biasa saja. Tapi yang satunya lagi itu lho ada tahi lalat di pipinya. Mukanya beda. Auranya juga beda. Seperti bukan orang Indonesia asli.”
“Ah lebay,” sahut yang lain, meski matanya berbinar. “Tapi iya sih, kelihatan tegas tapi elegan. Saya tidak kebayang dia bisa pegang senjata.”
Obrolan itu makin ramai. Beberapa orang tertawa, yang lain saling adu komentar, sampai suara mereka terdengar ke telinga Kaivan.
Di sudut tenda, Kaivan yang sedang menandai beberapa berkas menoleh. Tangannya masih memegang map, ekspresinya tetap datar. “Ada apa ribut-ribut?” tanyanya singkat.
Percakapan langsung mereda. Sandy melangkah mendekat sambil tersenyum kecil. “Maaf, Pak. Anak-anak lagi heboh. Barusan datang rombongan tentara tambahan.”
Kaivan mengangguk tipis. “Lalu?”
“Katanya ada dua tentara wanita. Dan, ya... katanya cantik-cantik,” jelas Sandy.
Kaivan mendengus pelan. “Itu yang bikin ribut?”
“Bukan cuma cantik. Yang satu katanya paling mencolok. Sampai ada yang bilang harusnya jadi artis atau model, bukan tentara.”
Kaivan menggeleng pelan. “Kalian fokus kerja saja, jangan aneh-aneh.”
Sandy terkekeh. “Namanya juga kita di proyek mulu, Pak. Jarang lihat yang bening-bening seperti itu.”
Di belakang mereka, beberapa staf masih berbisik-bisik.
“Kalau saya sih, lebih kepikiran yang ada tahi lalatnya,” kata salah satu.
“Iya. Tatapannya dingin dan tajam. Bikin orang jadi segan,” balas temannya.
Kaivan tanpa sadar menangkap potongan obrolan itu. Ia melirik sekilas ke arah luar tenda, lalu kembali menatap Sandy. “Sudah,” katanya datar. “Mereka datang kesini untuk tugas, bukan jadi bahan gosip.”
Sandy mengangguk, lalu menyeringai usil. “Tapi jujur, Pak. Dari semua cerita mereka, cirinya mirip sama tipe yang Bapak sebut pagi tadi.”
Kaivan menoleh cepat. “Tipe apaan.”
“Yang Bapak bilang. Wanita yang cantik, kuat dan pemberani.”
Kaivan terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan. “Kamu terlalu banyak bicara, Sandy.”
“Baik. Maaf salah, Pak,” jawab Sandy.
Kaivan tidak menanggapi lagi. Ia kembali fokus ke berkas di atas mejanya.
Namun pikirannya sempat tersangkut pada obrolan orang-orang tadi.
Seorang tentara wanita, sorot mata tajam, sikap tegas, dan sebuah tahi lalat kecil di pipinya. Ciri-ciri itu terasa terlalu familiar bagi Kaivan.
“Tidak mungkin itu dia. Dia kan masih di Lebanon," gumam Kaivan.