Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut Garam di Jantung Kota
Pagi itu, Yogyakarta tidak terbangun dengan sapaan hangat matahari. Kota yang biasanya riuh dengan deru motor pelajar dan aroma gudeg hangat itu kini diselimuti selubung aneh. Kabut tipis menggantung rendah di jalanan aspal, tidak putih seperti embun pagi di Kaliurang, melainkan kelabu dan berbau asin.
Sekar berdiri di halte Trans Jogja di Jalan Parangtritis, merapatkan jaket tipisnya. Ia harus meninggalkan Eyang Sumi yang masih terbaring lemah di bawah perawatan Bu Lik Warni, tetangga sebelah yang juga paham sedikit soal pijat urut. Pesan Eyang semalam terus berdengung di kepalanya seperti lebah yang terperangkap: Temui Gusti Pangeran.
Bus datang terlambat. Saat pintu hidrolik terbuka dengan desis pelan, Sekar melangkah masuk. Bus itu penuh sesak. Wajah-wajah lelah dan cemas memenuhi setiap kursi.
"Katanya kebakaran hutan di selatan itu ulah orang bakar sampah," celetuk seorang ibu-ibu yang duduk di dekat pintu, memangku keranjang belanjaan.
"Bukan, Bu," sahut bapak-bapak di sebelahnya yang memakai seragam PNS. "Saya dengar dari teman di BMKG, itu fenomena alam aneh. Apinya susah padam pakai air biasa. Malah makin besar kalau disiram."
Sekar menunduk, mencengkeram tali tas selempangnya. Mereka tidak tahu, batinnya. Mereka tidak tahu kalau air biasa tidak akan mempan melawan api yang berasal dari neraka laut.
Bus melaju pelan menembus kemacetan yang tidak wajar. Di sepanjang Jalan Brigjen Katamso, Sekar melihat sesuatu yang membuat perutnya mulas. Pohon-pohon angsana tua yang berjejer di pinggir jalan... daunnya mengering. Bukan kuning layu karena kemarau, tapi cokelat keriting seolah baru saja disiram air keras.
Dan burung-burung.
Tidak ada burung gereja yang biasanya berebut remah makanan di trotoar. Langit kota kosong. Bahkan burung walet yang biasanya berseliweran di sekitar gedung-gedung tua pun menghilang. Hewan-hewan bersayap itu telah mengungsi, tahu lebih dulu bahwa langit di atas mereka sudah tidak aman.
Sekar turun di halte dekat Alun-Alun Utara. Begitu kakinya menyentuh trotoar, ia merasakan perbedaan tekanan udara yang drastis. Jika di Bantul udaranya panas dan kering, di sini, di dekat pusat spiritual keraton, udaranya berat dan lembap. Rasanya seperti berjalan menembus agar-agar.
Ia berjalan melewati pedagang kaki lima yang tampak lesu. Tidak banyak turis hari ini. Mungkin berita tentang kebakaran aneh di selatan sudah menyebar dan membuat orang takut berkunjung.
Sampai di gerbang Regol Keben, Sekar berhenti sejenak. Ia merapikan jarik dan kebayanya—pakaian wajib jika ingin menghadap—lalu menarik napas panjang. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut bertemu Gusti Pangeran, tapi karena ia merasakan getaran itu lagi.
Getaran yang sama seperti di pantai kemarin.
Tapi kali ini, getarannya datang dari dalam tanah, tepat di bawah tembok keraton yang tebal.
"Mau kemana, Mbak?" tegur seorang penjaga berpakaian peranakan biru tua, lengkap dengan blangkon.
"Saya Sekar, cucu Eyang Sumi dari Bantul. Saya... saya membawa pesan penting untuk Gusti Pangeran Suryo," jawab Sekar, suaranya sedikit bergetar.
Penjaga itu mengernyit. "Gusti Pangeran sedang tidak menerima tamu. Beliau sibuk rapat dengan para sentana dalem sejak subuh tadi."
"Tolong, Pak," Sekar memohon, matanya mulai berkaca-kaca. "Ini soal... soal tamu dari laut barat. Eyang bilang segelnya sudah retak."
Ekspresi penjaga itu berubah seketika. Dari yang tadinya bosan menjadi waspada. Ia menatap Sekar tajam, lalu melirik ke kanan-kiri, memastikan tidak ada turis yang menguping.
"Tunggu di sini. Jangan kemana-mana," bisiknya tegas, lalu bergegas masuk ke dalam kompleks keraton lewat pintu samping.
Sekar berdiri mematung di bawah pohon sawo kecik. Angin bertiup pelan, menggugurkan daun-daun kering. Saat satu helai daun jatuh di bahunya, Sekar mengambilnya. Daun itu... basah. Dan berlendir.
Ia mengusap lendir itu dengan jempolnya. Warnanya biru muda transparan.
Tiba-tiba, tanah di pijakannya berguncang pelan. Sangat pelan, mungkin orang awam akan mengiranya truk besar yang lewat. Tapi Sekar tahu. Itu bukan truk. Itu sesuatu yang sedang mencakar dari bawah.
"Mbak Sekar?"
Sekar menoleh. Seorang pria muda, mungkin baru berusia tiga puluhan, berdiri di ambang pintu regol. Ia tidak memakai pakaian peranakan lengkap, hanya kemeja batik lengan panjang yang lengannya digulung dan celana bahan hitam. Tapi aura kewibawaan yang memancar darinya tidak bisa disembunyikan.
Gusti Pangeran Suryo.
"Mari ikut saya," ucapnya singkat, tanpa basa-basi.
Sekar mengikuti langkah Pangeran Suryo yang cepat. Mereka tidak menuju pendopo utama yang megah, melainkan berbelok ke arah bangsal yang lebih kecil dan tertutup rimbun pohon beringin di bagian belakang kompleks.
Di dalam bangsal itu, suasana hening. Hanya ada sebuah meja kayu jati besar yang penuh dengan gulungan peta kuno dan beberapa keris yang dikeluarkan dari warangkanya. Bau kemenyan dan melati di ruangan itu begitu pekat hingga membuat kepala Sekar sedikit pening.
"Duduklah," perintah Pangeran Suryo, menunjuk kursi kayu di seberang meja. Ia sendiri tidak duduk, melainkan berdiri membelakangi Sekar, menatap lukisan besar Kanjeng Ratu Kidul yang tergantung di dinding. Lukisan itu tampak hidup, mata sang Ratu seolah mengikuti setiap gerakan di ruangan itu.
"Eyangmu... dia masih kuat menahannya?" tanya Pangeran Suryo tanpa menoleh.
"Eyang sakit, Gusti. Semalam beliau muntah darah hitam setelah... setelah mencoba menahan pagar rumah," jawab Sekar lirih.
Pangeran Suryo berbalik. Wajahnya lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya. "Darah hitam. Racun dari laut dalam. Mereka tidak main-main."
Ia berjalan mendekati meja, mengambil salah satu keris. Bilahnya berlekuk tujuh, pamornya terlihat kusam seolah kehilangan cahaya.
"Kamu tahu apa yang sedang terjadi, Sekar?" tanyanya sambil mengusap bilah keris itu dengan kain mori.
Sekar menggeleng pelan. "Saya cuma lihat... sosok raksasa di pantai. Dan air yang mendidih. Eyang bilang namanya Poseidon."
Pangeran Suryo tertawa kecil, tawa yang kering dan hambar. "Poseidon. Neptunus. Apapun namanya. Dia adalah entitas tua yang sombong. Ribuan tahun dia berkuasa di Mediterania dan Atlantik, merasa seluruh samudra adalah jajahan kekaisarannya. Tapi dia lupa satu hal."
Pangeran Suryo menancapkan ujung keris itu ke atas peta kuno yang terhampar di meja. Tepat di titik yang menggambarkan Laut Selatan Jawa.
"Di sini, air memiliki ingatan yang lebih tua dari peradaban Yunani manapun," ucapnya tajam. "Tapi masalahnya, Sekar... kita lengah. Selama berabad-abad kita mengira dia tidak akan pernah melirik ke timur. Kita sibuk dengan urusan duniawi, sampai lupa merawat benteng ghaib."
Pangeran Suryo menatap Sekar tepat di mata. "Segel di Parangkusumo bukan retak lagi. Sudah jebol."
Sekar menutup mulutnya dengan tangan, menahan pekikan.
"Tadi pagi," lanjut sang Pangeran, "Sumur Gumuling di Tamansari meluap. Airnya bukan air tawar. Air asin. Dan di dalam air itu..." Pangeran Suryo berhenti sejenak, seolah enggan mengatakannya. "...ditemukan bangkai ikan-ikan aneh yang tidak pernah ada di perairan tropis. Ikan-ikan dari laut dalam yang hancur karena tekanan."
"Lalu... apa yang harus kita lakukan, Gusti?" tanya Sekar, suaranya parau.
"Bukan 'kita', tapi kamu," koreksi Pangeran Suryo.
Sekar terbelalak. "Saya? Saya cuma abdi dalem rendahan, Gusti. Saya tidak punya kesaktian apa-apa."
"Kamu punya satu hal yang tidak dimiliki prajurit keraton manapun saat ini," kata Pangeran Suryo. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan sesuatu di telapak tangan Sekar.
Sebuah cincin perak tua dengan batu akik berwarna hijau lumut yang gelap.
"Mata batinmu masih murni. Kamu bisa melihat wujud asli mereka tanpa menjadi gila. Prajuritku... dua orang yang aku kirim semalam untuk mengecek Parangkusumo, pulang dalam keadaan buta. Mereka melihat 'cahaya' itu dan mata mereka terbakar."
Sekar menatap cincin di tangannya. Batu itu terasa dingin, tapi berdenyut pelan seirama dengan detak jantungnya.
"Pakai ini. Ini akan menyembunyikan 'bau' manusiamu dari penciuman mereka," jelas Pangeran Suryo. "Tugasmu bukan untuk bertarung. Tugasmu menjadi mata dan telinga kami. Eyangmu benar, mereka bergerak lewat jalur bawah tanah. Sungai-sungai bawah tanah yang menghubungkan Merapi dan Laut Selatan."
"Saya harus ke mana?"
"Ke hulu," jawab Pangeran Suryo mantap. "Ke tempat pertemuan antara sungai Opak dan Oya. Di sana ada pintu air lama yang sudah tidak terpakai. Cek apakah air di sana sudah terkontaminasi."
Baru saja Sekar hendak mengangguk, suara ledakan keras terdengar dari luar. Tanah berguncang hebat, kali ini lebih kuat. Debu-debu berjatuhan dari langit-langit bangsal.
Pangeran Suryo menghunus kerisnya, matanya nyalang menatap pintu.
"Terlambat," desisnya. "Mereka sudah sampai di Alun-Alun Utara."
Dari kejauhan, terdengar jeritan orang-orang. Dan suara itu... suara terompet kerang yang tiupannya berat dan panjang, menggema membelah langit Yogyakarta.
Tuiiiiittt.......
Sekar merasakan cincin di tangannya memanas. Batu hijau itu menyala redup.
"Pergi lewat pintu belakang!" perintah Pangeran Suryo, mendorong bahu Sekar. "Lari ke sungai! Jangan menoleh ke belakang, apapun yang kamu dengar!"
Sekar berlari. Ia menerobos semak-semak, melompati pagar rendah, dan berlari menjauh dari pusat keraton. Di belakangnya, ia mendengar suara benturan logam yang mengerikan.
Dan saat ia sekilas menoleh ke arah langit di atas Alun-Alun, ia melihatnya.
Awan-awan di sana berputar membentuk pusaran raksasa. Dan dari tengah pusaran itu, air laut turun seperti air terjun, mengguyur beringin kembar yang malang. Di tengah guyuran air itu, bayangan kereta kuda terbang melintas, rodanya meninggalkan jejak api biru di udara.
Invasi itu bukan lagi sembunyi-sembunyi. Poseidon telah mendeklarasikan perang terbuka tepat di halaman depan rumah sang Ratu.