Semoga terhibur. Jangan lupa jejak ya.
Season 1
Memimpikan pasangan yang lebih dewasa, namun selalu terjebak cinta dengan pria berusia muda.
Dia adalah Rina Malinda. Menjalin kasih dengan pria yang lebih muda bukanlah impiannya, namun rasa nyaman yang didapatkan membuatnya susah berpaling dari pesona pria muda yang berhasil masuk ke hatinya.
Restu Andika. Pintar, tampan, humoris dengan segala kesempurnaannya membuat siapa pun termasuk Rina susah menolak pesonanya.
Sempat putus dan harus menghadapi berbagai cobaan, akhirnya hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan.
Season 2
Lima tahun melalui mahligai pernikahan, Dika dan Rina belum juga dianugerahi momongan, bagaimana mereka menghadapi situasi ini?
Andre, pemuda yang selalu berdiri di belakang Dika setelah Dedi menempuh study kini berubah menjadi sosok yang tak kalah keras dengan bosnya.
Bagaimana ia melunakkan hatinya yang keras saat ia justru jatuh hati dengan Hana, wanita berbahaya dan harus dihancurkan olehnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus
"Ada yang nyariin tuh," kata Nita saat melihat Rina tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya.
"Males ah."
Tiba-tiba beberapa orang teman sekelas Rina yang baru saja datang nampak begitu asyik dan heboh mengobrol sesuatu.
"Ya ampun, ganteng banget sih," kata Maya.
"Iya, ramah lagi. Lihat nggak, dia tadi senyum sama aku loh, iihhhh gemes," sahut Desi.
"Iya iya iya," timpal seorang lainnya.
Nita nampak mengalihkan perhatiannya dari Rina pada mereka. "Eh, eh, ada apaan," tanya Nita pada ketiga temannya yang baru saja memasuki kelas.
"Itu tuh, di luar ada cowok, ganteng pake banget, iihhhh," kata Desi antusias.
"Iya, ramah lagi," timpal rekan di sampingnya.
"Oh oke, makasih," kata Nita kemudian. Nita pun penasaran. Dia segera melihat keluar untuk dapat mengetahui siapa sosok yang membuat kelasnya heboh.
"Ya ampun!" pekik Nita tertahan
"Rin, Rina, sini," kata Nita memanggil Rina.
"Ogah. Lemes gue," jawab Nita dengan wajah tenggelam pada kedua lengannya yang dilipat di atas meja tepat di depan dada.
"Tapi lu kudu..." ucapan Nita menggantung kalau melihat sosok yang begitu membuat heboh itu masuk ke dalam kelas. Sosok itu nampak celingak-celinguk mencari keberadaan Rina. Tanpa Rina sadari kini kelas mendadak sunyi.
"Rina, kamu nggak apa-apa kan?"
"Apa sih Nit, gue baik-baik aja, jangan ngajakin ke UKS lagi," ketus Rina.
Ya ampun Rina, sejak kapan suara gue jadi kayak cowok gitu. Kesal Nita dalam hati.
Sebuah tangan terulur untuk mengangkat kepala Rina, dan menangkup pipinya. Rina hanya menurut dengan mata terpejam.
"Nit, tangan kamu kok jadi gede gini sih," kata Rina sambil meraba tangan yang tengah memegang wajahnya.
"Rin, kamu buruan melek deh," ucap Nita.
"Bawel banget ih, masih pengen merem," jawab Nita.
"Tapi..." ucapan Nita kembali menggantung.
Seseorang di depan Rina menginterupsi Nita untuk tak melanjutkan ucapannya.
Rina tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menempel di dahinya. Sontak hal ini membuat matanya segera terbuka. Dia segera memundurkan wajahnya kalau melihat sosok yang menjadi objek kegalauannya kini tepat berada di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat.
Kelas yang semula sepi mendadak riuh dengan berbagai macam jenis teriakan. Mulai dari lengkingan, sorakan, pekikan dan semacamnya.
"Mas Rio," beo Rina.
"Kenapa?" tanya Rio sambil merapikan rambut yang menutupi wajah Rina dan menyelipkan di belakang telinga.
Rina hanya menggeleng.
"Aku tadi cuma mau ngasih ini," kata Rio sambil menyodorkan sebuah ponsel di hadapan Rina.
"Kok bisa di Mas Rio?"
"Iya, tadi ketinggalan di mobil," jawab Rio.
"Makasih ya.
"Iya, mau aku anter ke UKS?"
Rina hanya menggeleng.
"Ya, udah. Aku keluar dulu," kata Rio sambil kembali mengecup puncak kepala Rina.
Para gadis yang tadinya membeku, kini semua meleleh melihatnya.
Rina diam di tempat. Dia baru sadar kalau mereka kini tengah berada di ruang kelas.
Beberapa anak tampak menghampiri Rina begitu Rio meninggalkan kelas mereka.
"Rin, itu siapa?" tanya seorang siswa dengan rambut kuncir kudanya.
"Pacar kamu ya?" tanya satunya lagi.
"Terus yang jemput kemaren siapa?" tanya yang di sebelahnya.
"Yang tadi saudara kamu kan?" tanya cewek berkacamata.
"Rina ih, punya koleksi cowok cakep kok nggak mau bagi-bagi," sambung yang lainnya.
"Udaahhh!!" Rina berteriak sambil menutup kedua telinganya. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kelasnya.
"Rina, yah pergi, Rin!" Panggil mereka yang sebelumnya mengelilingi Rina secara bersahutan.
"Makanya jadi orang enggak usah kepo," kata Nita sambil berlari keluar mengikuti Rina.
SMK Dharma Bhakti
"Dik, lesu amat," tanya Dedi teman sebangku Dika.
"Bolos yuk," ucap Dika tiba-tiba.
"Ha?! Kamu sehat kan?" tanya Dedi.
"Iya," jawab Dika sambil menyambar tasnya dan melenggang keluar kelas.
"Woy, woy!" teriak Dedi.
Seisi kelas mendadak memperhatikan Dedi yang tiba-tiba berteriak sambil menatap Dika yang baru saja keluar dari pintu kelasnya.
"Kenapa Ded," tanya Nanang.
"Tau tuh anak. Aku susul dia ya," kata Dedi sambil menyambar tas dan berlari keluar untuk mengikuti Dika.
Tibalah kini mereka di parkiran.
"Lu mau ke mana Dik," tanya Dedi.
"Nggak tahu," jawab Dika sambil membuka pintu mobilnya.
"Kalau ada masalah cerita napa, jangan kayak gini," kata Dedi yang berdiri di hadapan Dika.
"Jangan banyak b**ot, kalau mau ikut cepat masuk, kalau enggak minggir."
"Oke oke," jawab Dedi sambil mengangkat kedua tangannya. Dia kemudian berlari memutar dan duduk di jok depan di samping kursi kemudi.
Pintu gerbang masih terbuka, Dika tak sedikitpun memelankan kendaraannya saat melewati nya.
Ni bocah kesamber apaan. Batin Dedi. Dan disinilah mereka saat ini, di sebuah lapangan yang terdapat sungai tak jauh darinya.
"Mau ngapain di sini?" tanya Dedi.
"Mau mancing," jawab Dika asal.
"Lu udah nggak waras ya, mancing apa di lapangan yang rumputnya selutut kayak gini," ujar Dedi sambil memperhatikan lapangan tempat mereka singgah ini.
Lapangan yang cukup luas yang nampaknya jarang dipakai dengan rumput ilalang yang tumbuh subur bahkan di beberapa bagian tingginya lebih dari lutut orang dewasa.
"Aku diputusin sama Rina," ucap Dika tiba-tiba.
"Ha!" Dedi tersentak dari lamunannya. "Lu bikin salah apa, atau jangan-jangan Rina mutusin Lu karena dia naksir sama orang lain," lanjutnya kemudian.
"Aku masih belum tahu pastinya, yang jelas tadi pagi dia bilang kalau aku pembohong, setelah itu ada cowok yang datang dan mengaku sebagai pacar Rina."
"Emang lu bohong soal apa?"
Dika tak menjawab. Dia hanya melayangkan pandangannya lurus ke depan, jauh bahkan hingga mampu menembus awan. "Ded, bagaimana kamu memandang keluarga yang enggak utuh?" tanya Dika pada Dedi.
"Nggak utuh gimana maksudnya?" tanya Dedi.
"Iya misal cerai atau ya nggak utuh pokoknya," terang Dika.
"Tergantung. Kenapa emang? Lu mau ngobrolin keluarga siapa?" tanya Dedi beruntun.
"Enggak kok, lagi ngebayangin kalau aku kawin lari sama Rina," jawabku sekenanya.
"Gila kamu. Udah santai aja, cewek nggak cuma Rina," ucap Dedi sambil merebahkan tubuhnya di atas rumput. "Lagian nih ya, lu tu ganteng, pinter, emm tajir, apalagi yang kurang? Percaya deh, cewek yang mau sama elu tuh banyak," ucap Dedi sambil terkekeh. "Apa perlu nih gua siapin audisi, 'Dika mencari cinta', oke tuh kayaknya, hahaha," lanjut Dedi yang diakhiri dengan tawa.
"Serah." Dika kemudian merebahkan tubuhnya di atas hamparan rumput. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
"Sejak kapan lu ngerokok?" tanya Dedi begitu melihat Dika mulai mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.
"Sejak aku tahu sakitnya kehilangan," jawab Dika sambil menghisap kuat kemudian menghembuskan asapnya ke udara.
Dedi tak menjawab, dia nampaknya tengah memainkan peran sebagai teman dan pendengar yang baik.
"Dulu aku pikir kehilangan itu identik dengan rasa sakit. Tapi setelah aku mengenal ini...," kata Dika sambil mengangkat sebungkus rokok di tangannya, "aku baru sadar kalau kehilangan itu juga punya sisi nikmat."
Dika kemudian menghisap kuat batang rokok yang semula sudah dinyalakan, kemudian dihembuskannya pelan. "Ini nggak akan berasa nikmat kalau asapnya nggak dihisap lalu dihembuskan ke udara," ucap Dika kemudian.
"Quote macam apa ini," timpal Dedi.
Dika tak lagi menanggapinya. Dia larut bergumul bersama asap.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
Happy reading, love you all.
kurang bnyakkkkkkkk extrapart ya❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Tinggal Nunggu Kisah Dedi ama Rista
Ry Benci Pakpol Mampir
Menikah jg