Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil Kabur
Shahinaz merasakan kesadarannya perlahan kembali, disertai dengan rasa dingin yang menusuk dan berat di seluruh tubuhnya. Ketika matanya terbuka, dia melihat langit-langit ruangan rumah sakit yang putih dan bersih. Suara beep yang konstan dari monitor medis dan bau obat-obatan yang khas, memberikan petunjuk bahwa dia berada di rumah sakit sekarang.
Kepalanya terasa berat dan penuh kabut, dan setiap napasnya terkessn terengah-engah tidak teratur. Shahinaz mencoba untuk mengingat bagaimana dia sampai di sini, namun memori itu terasa jauh dan kabur. Dengan kesulitan, Shahinaz menggerakkan tangan kanannya dan merasakan beban berat dari selang-selang medis yang terpasang di tubuhnya.
Shahinaz bisa melihat peralatan medis di sekelilingnya-alat pemantau detak jantung, infus, dan mesin oksigen, semua itu pasti berfungsi untuk menopang hidupnya. Apa dia sudah kembali ke dunia nyata?
"Shahinaz, lo udah sadar. Gue panggilin Dokter dulu." kata Venelattie dengan wajah penuh haru. Dia berjalan semakin mendekat, memastikan kalau Shahinaz benar-benar sudah siuman, lalu menekan tombol darurat di sekitar area itu.
Shahinaz tersenyum tipis, merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu sahabat satu-satunya. Venelattie pasti menemaninya sepanjang hari di sini, mengingat wajahnya yang kelelahan dan kurang tidur. Shahinaz berusaha meraih tangan Venelattie, namun dia merasa napasnya semakin pendek saja jika dipikir-pikir lebih lanjut.
"V... Venelattie... Maafin gue. Se... Selama ini gue... Pasti selalu... Ngerepotin lo." suara Shahinaz terdengar lemah dan tidak jelas. Venelattie menganggukkan kepalanya, mengerti dengan apa yang baru saja Shahinaz katakan.
"Sha, bertahan ya. Dokter sebentar lagi ke sini kok, lo nggak boleh ninggalin gue sendirian. Gue janji bakalan selalu ada buat lo, apapun kekurangan lo nanti." balas Venelattie sambil menggenggam tangan Shahinaz dengan lembut, "Karena cuma lo yang sayang sama gue di dunia ini Sha. Bokap Nyokap gue makin pilih kasih dan selalu marahin gue karena bodoh dan nggak berprestasi kaya Kakak gue Sha. Tolong bertahan ya."
Shahinaz merasakan kehangatan tangan Venelattie, memberikan sedikit kenyamanan di tengah rasa sakit yang semakin mendera tubuhnya. Dadanya semakin sesak, tapi Shahinaz berusaha mempertahankan kesadarannya, masih banyak yang ingin dia bicarakan kepada sahabatnya.
"Dari... dari dulu... gue juga... merasa... lo yang paling... berarti, Venelattie," ujar Shahinaz dengan suara yang semakin lirih saja, "Dan lo... Nggak bodoh... Lo hebat... Lebih... Dari... Kakak lo sendiri. Jaga diri... Baik-baik ya."
Venelattie meneteskan air mata, menghapusnya dengan cepat sambil berusaha tetap kuat untuk sahabatnya, "Sha, jangan ngomong kayak gitu. Lo harus percaya, kita akan melalui ini. Lo masih banyak waktu, banyak hal yang harus kita lakukan bersama."
Shahinaz tidak menjawab, tetapi Venelattie tetap di sisi Shahinaz, menggenggam telapak tangan sahabatnya yang semakin mendingin, sambil meneteskan air mata dengan deras, "Shahinaz, tolong, jangan pergi. Lo harus tahu betapa berarti lo bagi gue. Lo keluarga gue satu-satunya, dan gue nggak akan pernah menyerah untuk lo."
Dengan susah payah, Shahinaz mencoba untuk menggeleng, dia sadar takdirnya sudah hampir habis di dunia ini, "Te... Tetap... Jadi Penulis. Meski... Novel lo... Yang terakhir... Jelek."
"Bisa-bisanya lo masih ngeledek gue di saat sekarat begini!" seru Venelattie dengan kesal, namun kekesalan itu musnah ketika Shahinaz perlahan menutup matanya lagi, "Ehhhh, Sha, Sha... Tolong bertahan sebentar aja Sha. Lo nggak boleh pergi dengan cara kayak gini!"
Terlambat, Shahinaz sudah memejamkan matanya lagi dan kesadarannya perlahan hilang. Dia juga merasakan tubuhnya menjadi ringan, melayang menuju tempat yang lebih baik. Apakah akhirnya dia akan bertemu dengan kedua orang tuanya di atas sana?
......................
Sayangnya bukannya bertemu dengan kedua orang tuanya, Shahinaz justru terbangun di dunia yang tidak bisa ditangkap oleh akal sehatnya lagi. Dia kembali berada di dalam novel sahabatnya, tempat terakhir sebelum akhirnya dia kembali ke dunia nyata dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Hipotesis itu dia dapat karena ketika dia membuka matanya lagi, ternyata dia tidak sendiri. Ada Dreven yang tidur di sampingnya, namun Shahinaz tidak ada niatan untuk membangunkan. Karena dia yakin, pasti dia sudah banyak merepotkan laki-laki itu.
"Gue belum mati ternyata." kata Shahinaz sambil mencabut infus di tangan kanannya tanpa beban, dia merasa sudah baik-baik saja sekarang.
Shahinaz menitikkan air matanya sebentar.
Beruntung dia masih diberi kesempatan untuk bertemu Venetheil, meminta maaf sebanyak-banyaknya kepada sahabatnya, lalu dia juga sudah mengutuk novel yang dibuat Venelattie persis di depan gadis itu sendiri.
Dia memang harusnya bersyukur diberi kesempatan kedua, tapi kenapa Shahinaz harus terjerat dengan antagonis utama cerita? Jika Shahinaz bisa me-reply ulang kejadian yang telah terjadi, Shahinaz lebih baik untuk mengulang cerita itu saja dari awal.
"Lidah gue pahit banget sumpah." kata Shahinaz sambil mencari minuman terdekat, namun sayangnya Shahinaz tidak menemukan apa-apa.
Dia butuh air minum sekarang. Menyingkirkan tangan Dreven yang sejak tadi memeluknya, lalu menyingkirkan handuk kecil yang sejak tadi bertengger didahinya. Beruntung di kamar besar milik Dreven ini ada lemari es yang disediakan juga di sana. Dia ingin mengeceknya, meskipun terkesan tidak sopan sekarang.
"Mau kemana?" Dreven terbangun karena terusik dengan pergerakan Shahinaz meski sudah dibuat sepelan mungkin.
Sedangkan Shahinaz menunjuk ke arah depan, "Haus, mau minum."
Membuka kulkas dengan buru-buru, lalu tatapan matanya melotot tak percaya setelah membuka isi kulkas Dreven, "Lo- Ehh maksudnya kamu, mengkonsumsi alkohol dari kapan? Emang minuman keras kayak begini legal ya di sini?"
"Ekhmmm..." bahkan Dreven salah tingkah, tidak bisa menjawab pertanyaan Shahinaz sama sekali. Sebaliknya, dia baru sadar jika Shahinaz melepas infusnya juga, "Kenapa infusnya dicopot?"
Shahinaz tidak menjawab, sebaliknya dia berkacak pinggang tak habis pikir dengan isi otak Dreven. Meski Shahinaz baru mengenalnya, bukannya minuman-minuman dihadapannya ini tidak baik untuk dikonsumsi untuk jangka panjang?
"Mengkonsumsi alkohol untuk jangka panjang itu nggak baik, apalagi kamu masih muda. Sesakit apapun atau sebesar apapun masalah yang kamu hadapi, bukannya nggak boleh menyakiti atau merusak diri sendiri." kata Shahinaz yang sepertinya jika Auretheil mendengar ceramahan panjang lebarnya, mungkin di adalah orang yang paling pertama menertawakannya.
Shahinaz dengan cekatan mengeluarkan botol minuman keras. Dia berharap Dreven membencinya atau marah, karena justru Shahinaz menginginkan hal itu terjadi agar tidak terjerat dengan Dreven lagi. Total ada tiga belas botol, dan Shahinaz bertanya-tanya apa yang ada dalam pikiran Dreven sampai menyetok minuman sebanyak itu.
Dreven berdiri dengan senyuman tipis. Setelah sekian lama, akhirnya ada yang menceramahinya meski terlihat canggung. Dia tidak masalah Shahinaz melakukan apapun, asal satu, Shahinaz tidak boleh pergi dari hidupnya.
"Aku nggak peduli kalau kamu mau marah, ini demi kesehatan kamu." kata Shahinaz selanjutnya.
"Buang aja, nggak apa-apa." balas Dreven.
Shahinaz berpikir Dreven akan marah, ternyata tidak. Tapi karena dia tau minuman keras seperti itu dikehidupan sebelumnya termasuk ilegal, Shahinaz membuang botol-botol itu satu per satu ke tempat sampah.
"Jangan minum air dingin, kamu masih sakit." cegah Dreven ketika Shahinaz sudah meraih air mineral di sana dan hendak meminumnya.
"Aishhh, orang udah nggak sakit!" protes Shahinaz namun tidak ditanggapi oleh Dreven, benci sekali Shahinaz dengan makhluk yang satu ini.
Shahinaz mengembungkan pipinya dengan kesal, melihat Dreven menyerahkan air hangat entah di dapat darimana. Mungkin karena tadi fokus dengan penjarahan kulkas Dreven, Shahinaz tidak tau jika Dreven sempat memanggil bawahannya untuk memberikannya air minum.
Shahinaz menerima gelas air hangat dari Dreven dengan tatapan malas, sambil bergumam, "Okay fine, thanks."
Dreven menyentuh dahi Shahinaz memastikan sesuatu, "Kenapa infusnya dicabut? Suhu badan kamu belum turun."
"Gue- Aisshh maksudnya aku, udah merasa lebih baik, jadi mending dicabut aja. Lagipula, aku nggak mau repotin orang lebih lama lagi."
Dreven mengerutkan kening, terlihat masih khawatir. "Kamu sebaiknya tetap menggunakan infus sampai dokter memeriksamu. Aku panggilin Dokter lagi ya."
"Aishhh, udah jam tiga pagi, nggak boleh ganggu orang tidur," balas Shahinaz kesal, namun sedetik kemudian dia teringat sesuatu, "Tapi btw, aku boleh pulang kan sekarang?"
"Pulang kemana? Ini juga rumah kamu. Jangan buat keributan lagi, sayang."
Shahinaz merinding sebenarnya. Dreven ini bisa-bisanya menahan perempuan yang masih belum menjadi pasangan sahnya, apa Dreven tidak takut digerebek warga?
Namun melihat bagaimana senjata api dan alkohol dilegalkan di dunia ini, sepertinya tidak ada hukum khusus yang diterapkan selagi kamu memiliki kuasa. Itu yang bisa Shahinaz simpulkan secara sekilas untuk sementara.
"Males debat sama orang gila." kata Shahinaz yang kakinya hendak mengarah ke arah balkon, tetapi dengan cepat Dreven menghalangi jalan Shahinaz, membawa gadis itu untuk beristirahat lagi di tempat tidur.
"Cuacanya dingin, kamu lagi sakit." kata Dreven sambil merebahkan tubuh Shahinaz di atas ranjangnya dengan lembut, dia juga turut merebahkan tubuhnya disisi Shahinaz.
Shahinaz memejamkan matanya meredam rasa kesal yang semakin menjadi-jadi. Besok pagi saja, Shahinaz akan pergi secara diam-diam, apapun kondisinya.
Sudah dikatakan Shahinaz butuh waktu untuk sendiri dan bermeditasi dengan tenang. Sekarang energi positifnya sudah dirampas habis oleh Dreven, jadi dia perlu membangun energi positif baru yang lainnya.
"Kamu belum sehat, jangan aneh-aneh sayang. Setelah sehat nanti, kamu bisa pergi dari sini jika aku mengizinkan." lanjut Dreven meskipun dia tidak yakin dengan kata-katanya. Karena dia sudah cukup nyaman dengan keberadaan Shahinaz di sampingnya.
Shahinaz mendengus kasar. Ini yang harusnya berada diposisi ini adalah Lynelle, kenapa sekarang menjadi dirinya? Dreven terlalu menyeramkan, apa yang dia mau seolah harus dituruti jika tidak ingin mendapatkan konsekuensinya.
"Aku besok harus sekolah, makanya aku harus pulang." kata Shahinaz, namun dijawab gelengan oleh Dreven.
"Libur dulu aja, aku yang ngurus." jawab Dreven enteng.
Shahinaz tidak menjawab lagi. Daripada dia menyemburkan larva api yang tentu saja akan menjadi bumerangnya sendiri, lebih baik Shahinaz diam saja. Sedangkan Dreven tersenyum tipis.
Membawa Shahinaz ke dalam pelukanya, lalu mencium pipi Shahinaz sebentar sebelum akhirnya ikut memejamkan matanya juga.
Yang menjadi pertanyaan, apa Shahinaz berhasil kabur dari Dreven nanti?