(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dominasi Sang Raja
Dasar pagoda kuno itu bergetar hebat, namun bukan karena sisa-sisa reruntuhan yang runtuh. Getaran itu berasal dari langit—sebuah tekanan yang begitu suci namun menindas, seolah-olah seluruh berat Sembilan Surga sedang mencoba memaku kembali Lembah Nafas Naga ke dasar ketiadaan.
Chen Kai berdiri tegak di tengah pelataran bawah tanah yang kini dipenuhi partikel perak yang melayang. Di belakangnya, Ah-Gou meringkuk ketakutan di balik pilar yang retak, sementara Mo Yan menatap Chen Kai dengan mata yang membelalak. Sebagai seorang alkemis, Mo Yan bisa merasakan frekuensi energi yang dipancarkan Chen Kai saat ini tidak lagi berasal dari dunia bawah; itu adalah esensi yang mampu melahap realitas.
Simbol perak di telapak tangan kiri Chen Kai berdenyut pelan, memancarkan aura Hukum Kekosongan. Setiap kali denyut itu terjadi, ruang di sekitarnya tampak terus-menerus terhapus dan tercipta kembali.
"Mereka cepat sekali, Nak," suara Kaisar Yao bergema dari dalam Mutiara Hitam, nadanya kini mengandung kewaspadaan yang dingin. "Unit Penegak Langit. Mereka adalah anjing pelacak Kaisar Hampa. Pemimpin mereka berada di ambang Manifestasi Dao Tahap Akhir."
"Mo Yan, jaga Ah-Gou di sini," perintah Chen Kai, suaranya terdengar ganda dan bergaung. "Jangan keluar dari jangkauan auraku jika kalian tidak ingin terhapus dari sejarah."
Chen Kai melangkah ke udara. Tanpa menggunakan tenaga fisik, ia seolah-olah "tergelincir" melalui celah ruang, muncul seketika di permukaan tanah Lembah Nafas Naga.
Di atas sana, langit yang tadinya merah tembaga kini tertutup oleh sepuluh kapal perang kristal yang melayang dalam formasi lingkaran sempurna. Dari kapal-kapal itu, puluhan sosok dengan zirah emas putih meluncur turun.
Unit Penegak Langit: Divisi Pembersihan.
Di tengah formasi musuh, berdiri seorang pria jangkung dengan rambut pirang pucat—Kapten Kaelen. "Pendaki Ilegal. Kau telah mencuri harta yang disegel. Atas nama Kaisar Hampa, hukumanmu adalah Peniadaan Total."
Pemimpin itu mengangkat tombaknya. "Aku, Kapten Kaelen, akan menjadi eksekutor terakhirmu."
"Kaelen?" Chen Kai memiringkan kepalanya, rambut peraknya berkilau diterpa cahaya suci. "Nama yang indah untuk seseorang yang akan segera menghilang dari sejarah."
"Lancang!"
Kaelen menghujamkan tombaknya ke tanah. Seketika, gelombang energi cahaya yang sangat padat merambat di atas tanah kristal, membentuk ribuan rantai suci yang melesat untuk mengunci setiap sendi Chen Kai.
"Hukum Cahaya: Penjara Abadi!"
Rantai-rantai itu menyelimuti tubuh Chen Kai dalam sekejap. Para penegak lainnya bersiap untuk meluncurkan serangan pemusnah, yakin bahwa target mereka sudah terkunci.
Namun, Chen Kai tetap berdiri santai. Matanya yang memiliki lingkaran emas menatap rantai-rantai itu dengan bosan.
"Kau menyebut ini hukum?" tanya Chen Kai.
Ia menggerakkan satu jarinya.
"Hukum Kekosongan: Penolakan."
WUNG—
Tanpa ada ledakan, tanpa ada suara benturan. Rantai-rantai cahaya yang seharusnya mampu menahan naga dewa itu tiba-tiba memudar, seolah-olah mereka hanyalah ilusi yang ditiup angin. Mereka tidak hancur menjadi partikel; mereka benar-benar hilang dari realitas, seakan-akan mereka tidak pernah diciptakan.
Kaelen terbelalak. Tombaknya bergetar di tangannya. "Apa... apa yang kau lakukan? Teknik apa itu?!"
"Dunia ini adalah kanvas, dan aku baru saja menemukan penghapusnya," kata Chen Kai pelan.
Ia melangkah maju. Setiap langkah yang diambilnya membuat Unit Penegak Langit mundur secara naluriah. Ketakutan yang belum pernah mereka rasakan selama ribuan tahun kini merayap di sumsum tulang mereka.
"Semua Unit! Serangan Masal! Jangan biarkan dia mendekat!" raung Kaelen panik.
Puluhan penegak melepaskan teknik terkuat mereka. Badai petir suci, pisau angin dimensi, dan panah cahaya dewa menghujani posisi Chen Kai secara bersamaan. Langit Lembah Nafas Naga seolah-olah runtuh oleh intensitas energi tersebut.
Chen Kai mengangkat tangannya ke depan, telapak tangan terbuka.
"Kekosongan Mutlak: Muara Segala Sesuatu."
Seketika, sebuah bola hitam kecil seukuran kelereng muncul di depan telapak tangan Chen Kai. Bola itu tidak memancarkan cahaya, ia justru menghisap segala sesuatu di sekitarnya.
Ribuan serangan yang menuju ke arahnya—semua energi, semua hukum, semua elemen—seperti air yang tersedot ke dalam lubang pembuangan raksasa. Segalanya masuk ke dalam bola kecil itu dan lenyap dalam kesunyian yang mencekam.
Lembah itu kembali sunyi dalam hitungan detik.
"Hanya itu?" tanya Chen Kai.
Ia menjentikkan jarinya ke arah Kaelen.
ZING—
Sebuah garis hitam yang sangat tipis melesat membelah udara. Kaelen mencoba mengangkat tombak dewa-nya untuk menangkis, namun garis hitam itu melewati logam keras tersebut seolah-olah ia hanya udara kosong.
KRAK!
Tombak itu terbelah dua. Dan sedetik kemudian, zirah emas putih Kaelen retak dan hancur menjadi abu, bukan karena serangan fisik, tapi karena ruang di mana zirah itu berada telah "dihapus".
"A-ampun..." Kaelen jatuh berlutut, matanya penuh horor saat melihat tangannya perlahan-lahan mulai memudar menjadi partikel transparan.
"Kembalilah ke takhta tuanmu," bisik Chen Kai, auranya kini menutupi seluruh lembah. "Dan beritahu dia... Raja Hitam telah mengambil kembali kuncinya. Dan takhtanya... adalah targetku selanjutnya."
Chen Kai mengepalkan tangannya.
BOOM!
Sebuah gelombang kejut Kekosongan meledak keluar, menghempaskan seluruh kapal perang dan Unit Penegak Langit menjauh dari Lembah Nafas Naga, melempar mereka kembali ke lapisan atmosfer atas dalam keadaan hancur.
Hening kembali melanda lembah purba itu.
Di bawah pagoda, Ah-Gou dan Mo Yan merangkak keluar dengan tubuh gemetar. Mereka melihat Chen Kai berdiri di tengah kawah yang sunyi, rambut peraknya berkilau menantang langit.
"Tuan..." Mo Yan menelan ludah. "Anda... Anda baru saja menghapus Unit Pembersihan?"
"Hanya menunjukkan bahwa surga mereka tidaklah abadi," jawab Chen Kai. Ia berbalik menatap kedua pengikutnya. "Ayo pergi. Kita kembali ke Kota Awan Putih.”
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪