Ditinggalkan oleh suami di hari pertama pernikahan bukanlah keinginan Shakira Aisha. Sejak Fauzi sang suami tahu masalalunya, pria itu pergi entah ke mana.
Karena cinta yang Shakira Aisha miliki dan ingin mempertahankan rumahtangganya, dia mencari Fauzi ke suatu kota atas petunjuk yang ia dapatkan.
Kepindahannya ke suatu tempat justru malah mempertemukannya lagi dengan pria masa lalu, pria yang sudah menorehkan luka dan menghancurkan segala mimpinya diusia muda.
"Kita bertemu kembali? tak akan kubiarkan kamu pergi lagi."
"Sial, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Menghamilimu!" Mario menyeringai penuh kelicikan.
"Aku sudah menikah!"
Deg.
Siapakah pria yang akan Shakira Aisha pilih? laki-laki masa depannya yang sudah menikahinya ataukah pria masalalunya?
Mampukah Mario meluluhkan Aisha-nya? Wanita yang telah ia permainan sedemikian rupa. Dan akankah Fauzi mempertahankan istrinya disaat ada laki-laki lain terang-terangan mengajaknya bersaing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 - Kesan pertama
Lain tempat.
Seorang pria berparas tampan tengah bersiap memasukan kopernya ke dalam bagasi, dia sudah rapi mengenakan pakaian santai. Kaos polos berwarna putih dipadukan dengan kemeja lengan pendek tidak dikancingkan, tak lupa celana jeans hitam menjadi pilihannya dan sepatu sneaker berwarna putih menjadi alas kaki yang dia gunakan hari ini.
"Bang berapa lama elo di Bandung?" tanya seorang wanita remaja cantik berseragam SMA, hari ini wanita remaja itu akan menjalani ujian kelulusan, tinggal satu langkah lagi dia lulus sekolah SMA.
"Kayaknya sampai pembangunan hotel selesai, sampai kapannya tergantung cepatnya pengerjaan. Tapi lo tenang aja, gue akan pulang satu Minggu sekali di hari Sabtu Minggu, itu sudah jadi peraturan perusahaan suami elo. Gue harus profesional dalam bekerja karena gue dipercaya mengatur keuangan disana."
Pria yang sering dipanggil Mario itu menjelaskan sedikit pekerjaannya di luar kota, sebenarnya dia berat meninggalkan adiknya yang saat ini sedang mengandung 5 Minggu. Ya, adiknya Aqeela menikah muda saat masih sekolah.
Dia juga bekerja di perusahaan adik iparnyanya sebagai karyawan dibagian keuangan, dia dipercaya untuk mengatur bagian keuangan di daerah Bandung, pembangunan hotel dibawah naungan perusahaan Alexandria, milik Vaughan Alexander.
"Jangan lupa bawa calon istri, Mario!" sahut sang Tante dari dalam rumah. Kakak dari mendiang ibunya dan salah satu keluarga yang Mario punya selain Aqeela sang adik.
"Bawa calon istri gak semudah bawa cilok, Tan. Perlu kecocokan di hati sama harus ada getaran di dada, baru Mario bisa bawa."
"Bilang aja lo belum bisa move on dari cewek masa lalu lo, Bang. Makanya jangan main-main sama perasaan, giliran udah cinta malah datang terlambat, menyesal pun tiada guna sebab dia sudah pergi entah kemana. Kalau dia punya a ..."
Grep.
Lagi-lagi mulut adiknya suka asal bicara. "Qeel, jangan berisik," gumamnya penuh peringatan.
"Mar, kamu ini kenapa sering bungkam mulut Aqeela? Emangnya kalian punya rahasia apa sampai enggan orang lain tahu?" tanya Tante serius.
Aqeela menggelengkan kepalanya masih dengan mulut di bekap Mario.
"Aqeela suka ngasal ngomong, Tan. Mulutnya lemes juga, kadang suka bikin orang berpikir negatif, Tante tahulah gimana Aqeela, mulut ceplas ceplos."
Aqeela berhasil melepaskan tangan Mario, mendelik kesal atas tindakan sang kakak. "Bang, gue bisa mati, lo pikir di bekap kayak gitu gak engap? Nafas gue bisa habis tau."
"Sorry, makanya mulut lo jaga, jangan suka asal ucap."
"Udah, udah, jangan berantem terus, kamu harus segera berangkat kan, Mar?"
"Iya."
"Ya udah buruan berangkat."
"Nunggu suami nih bocil," tunjuk Mario pada adiknya.
"Lah, bang Vaughan juga ikut, Bang?"
"Iyalah ikut, sekaligus meninjau proyeknya udah sejauh mana."
"Abaaaang!!!" mengetahui sang suami akan pergi lagi, Aqeela merasa sedih, baru saja pulang 1 Minggu yang lalu sudah mau ditinggal lagi, padahal dia masih rindu sama suaminya.
"Mulai, mulai, cengeng amat cil, itu laki mau kerja cari nafkah buat elo dan bayi lo, jangan drama ya."
"Ishh nyebelin, lo ngeselin." dan orang yang dibicarakan keluar dari rumah juga, menghampiri mereka.
"Sudah siap, Mar?"
"Lahir batin siap asalkan gaji 2x lipat," balas Mario semangat bekerja.
"Bang jangan jadi bang Toyib ya," ucap Aqeela bergelayut manja pada lengan suaminya.
"Sayang aku, bukan bang Toyib yang tak pulang pulang, yang tak pasti kapan dia datang."
"Dih calon bapak malah nyanyi, buruan berangkat." Ajak Mario menggelengkan kepala, tidak biasa adik iparnya ini suka nyanyi.
"Ahh gak mau, Tante masa aku ditinggal lagi, Tan."
"Katanya mau rumah impian, jangan protes!" sahut Tante mencebik lalu masuk lagi ke dalam rumah.
*********
Bandung
"Sampai juga di tempat ini. Eh, tapi ini seperti pondok asrama? Apa iya pak Kyai memintaku ngajar disini?" Gumam Fauzi setelah memperhatikan bangunan di depan matanya.
Bangunan megah dengan dinding yang kokoh, diatas gerbang bertuliskan yayasan Nurul Huda, yang katanya banyak anak-anak sekolah disana, di belakang bangunan ini katanya ada pondok pesantren juga untuk putra dan putri.
Madrasah (Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah) atau sekolah umum yang memiliki kekhususan Islam (seperti SDIT, SMPIT, SMAIT, atau sekolah dengan kurikulum khusus Islam seperti yang ditawarkan beberapa sekolah Islam swasta). Jenjang pendidikan ini setara dengan SD, SMP, dan SMA, namun dengan penekanan pada pendidikan agama Islam di samping kurikulum nasional.
"Lebih tepatnya pondok tapi juga sekolah juga. Sepertinya pekerjaanmu di sini pengajar deh, Zi. Di kota juga kamu mengajari anak-anak kecil dan kemungkinan di sini juga jadi pengajar, bedanya di sini jadi pengajar anak-anak remaja," ujar Raka. Dia mengantarkan Fauzi ke sana sekaligus kerja juga di asrama itu.
"Tempat seperti ini yang akan membuat gue tenang, setidaknya gue bisa menghibur diri mengalihkan segala masalah untuk sementara waktu di sini," lirihnya. Ia masih teringat pada Shakira, istri kecilnya yang dia tinggalkan seorang diri.
"Maafkan aku, Sha. Aku belum siap menghadapi kenyataan pahit ini, aku memilih menenangkan diri dulu," gumamnya dalam hati merasa bersalah sudah sejauh ini bertindak.
"Sampai kapan?"
"Entahlah."
"Lebih baik masalah itu di hadapi, bukan di hindari, Zi. Kalau dihindari terus tidak akan pernah terselesaikan dan tidak akan pernah menemukan titik terangnya. Ya sudah, ayo kita turun." Raka hanya bisa menasehati sahabatnya.
Keduanya turun dari dalam mobil angkutan umum, baik Raka dan Fauzi sepakat untuk tidak membawa kendaraan dikarenakan keduanya akan bekerja disana.
"Luna buruan! Bentar lagi masuk, kamu lelet banget sih. Kita sudah telat nih, pasti Bu Nyai nungguin kita, cepetan ayo!" pekik seorang wanita dari belakang Fauzi dan Raka.
"Tunggu sebentar Fira, barang belanjaannya belum di turunkan, bantuin atuh," balasnya sambil menurunkan belanjaan dari beca.
"Urus saja sendiri, aku lagi capek ya habis keliling pasar, giliran kamu yang bawa barangnya," balas Fira berjalan duluan meninggalkan Luna yang tengah kesusahan membawa barang belanjaannya.
"Fir kita berangkat bareng, belanja bareng, bawa barang-barang pun harus barengan. Ini berat loh." Kedua tangannya penuh, berjalan pun sedikit ke kesusahan.
Interaksi keduanya diperhatikan oleh Fauzi maupun Raka.
"Mereka salah satu murid di sini sekaligus menjadi salah satu orang kepercayaan Bu Nyai untuk menyiapkan makanan di sini. Ayo, Zi." Raka menepuk pundak Fauzi.
Pria itu mengangguk mengerti tapi pandangannya tak pernah berhenti menatap Luna. Wajahnya yang polos, cantik, dan tutur katanya yang lembut sedikit mengusik hatinya.
"Hei! Buruan masuk! Malah bengong, ngapain sih? Terpesona sama kecantikan dan kepolosan wajahnya?"
"Hah, enggak. Siapa juga yang terpesona, ngawur kamu." Fauzi gelagapan, tak menampik jika ia sedikit terpesona pada perempuan bernama Luna.
Brukk.
Tiba-tiba saja benda jatuh terdengar, langkah Raka maupun Fauzi terhenti menoleh ke belakang. Rupanya Luna terjatuh akibat kesusahan.
Fauzi sedikit tergesa menghampirinya, berjongkok di depan Luna. "Kamu tidak apa-apa?"
Luna mendongak. "Hah!"
pst s luna buat byk cara spy ga dceraikan sm fauzi...
pasti sluna drama mnt dnikahin.
baguslah syakira bs lepas dr cowok gaa tegas ky s fauzi.
jgn2 s bp manggil warga buat gerebek anak sendiri biar d nikahin fauzi.