Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Aku tertawa kecil, sedikit terkejut dengan betapa cepatnya dia beradaptasi dengan panggilan "sayang" itu. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia meresmikan hubungan kami di depan umum.
"Kael..." panggilku pelan.
"Kenapa, sayang?" jawabnya tanpa ragu. Suara baritonnya terdengar jauh lebih lembut sekarang, sangat kontras dengan nada dinginnya saat mengusir Rian tadi.
Aku meremas ujung kemeja putihnya dengan canggung. "Eh, aku... aku belum sarapan pagi."
Kaelen langsung menghentikan langkahnya tepat di depan pintu laboratorium. Dia menepuk keningnya sendiri, tatapannya berubah menjadi penuh penyesalan. "Astaga, maafkan aku. Aku terlalu sibuk memastikan tidak ada serangga yang mendekatimu sampai lupa kalau Penjaga Bungaku ini butuh energi.
"
Dia melihat jam tangan peraknya. Jam kuliah pertama akan dimulai sepuluh menit lagi. Tanpa pikir panjang, Kaelen merogoh saku jas laboratoriumnya dan mengeluarkan sebuah kunci.
"Salsa!" panggil Kaelen pada Salsa yang masih mengekor di belakang kami dengan wajah fangirl-nya.
"I-iya, Kak?" Salsa langsung tegak berdiri.
"Tolong bawa Kazumi ke kafetaria fakultas. Belikan dia roti lapis dan susu cokelat paling enak di sana. Bilang pada penjualnya pakai akun asisten laboratorium Kaelen," perintahnya sambil memberikan sebuah kartu kantin pada Salsa.
"Siap, Kakak Ipar! Laksanakan!" Salsa langsung menyambar kartu itu dan menarik tanganku.
Sebelum aku pergi, Kaelen menahan pergelangan tanganku sejenak. Dia mendekat dan berbisik di telingaku, "Makan yang banyak. Kalau kamu pingsan di kelas karena lapar, aku bisa menghancurkan mikroskop di lab karena panik."
Aku tersenyum lebar, merasa sangat diperhatikan. "Iya, Pak Asdos. Sampai ketemu di kelas nanti!"
Salsa menarikku menjauh sambil bersorak kegirangan. "Gila, Zu! Dibayarin asisten lab paling ganteng! Aku harus beli porsi dobel sebagai upah jadi saksi sejarah!"
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, merasa bahwa hidup di kota ini ternyata tidak seburuk yang kubayangkan, apalagi dengan Kaelen yang sekarang resmi menjadi pelindung pribadiku—sekaligus pacar posesifku.
Aku baru saja berbalik untuk mengikuti Salsa menuju kantin, langkahku masih terasa ringan karena sisa tawa tadi. Namun, tiba-tiba saja sebuah sentakan keras membuat kepalaku terdongak ke belakang. Rasa perih yang tajam menjalar di kulit kepalaku saat seseorang menjambak rambut hitam bergelombangku dengan kasar.
"Akh!" aku memekik kesakitan, berusaha memegangi pangkal rambutku.
"Oh, jadi ini cewek yang kegatelan itu?" sebuah suara melengking penuh nada sinis terdengar tepat di telingaku. "Baru jadi mahasiswa baru saja sudah berani menggoda Kak Kaelen dan merusak reputasinya di depan umum?"
Aku melihat tiga orang mahasiswi senior berdiri mengelilingiku. Yang menjambakku adalah seorang gadis dengan riasan tebal yang tampak sangat marah. Rupanya, pengumuman status "pacar" dari Kaelen tadi memicu badai kecemburuan di fakultas ini.
"Lepasin!" Salsa mencoba membantu, tapi dia didorong oleh dua teman gadis itu.
Tiba-tiba, suasana di koridor itu mendadak sunyi senyap. Suhu udara terasa turun drastis, seolah-olah musim dingin merayap masuk ke dalam gedung beton ini. Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat.
Bruk!
Sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangan senior yang menjambak rambutku itu. Cengkeramannya pasti sangat kuat, karena gadis itu langsung memekik kesakitan dan melepaskan rambutku seketika.
Kaelen berdiri di sana. Aura kegelapan yang dulu ia miliki di Dunia Seberang seolah bangkit kembali, meski tanpa sihir. Matanya yang biru elektrik berkilat sangat dingin—lebih dingin dari es mana pun. Ia menarikku ke belakang tubuhnya, melindungiku sepenuhnya.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhnya?" suara Kaelen rendah, bergetar karena amarah yang tertahan.
"K-kak Kael... dia ini cuma mahasiswa baru, dia nggak pantes buat Kakak—"
"Dengar baik-baik," potong Kaelen dengan suara yang menggema di seluruh koridor, membuat semua orang yang menonton gemetar. Ia menatap tajam ke seluruh penjuru lorong, memberikan peringatan kepada siapa pun yang menyaksikan kejadian itu.
"Mulai hari ini, jangan pernah ada yang berani menyentuh, mengganggu, atau bahkan menatap Kazumi dengan niat buruk. Jika aku melihat ada satu helai saja rambutnya yang jatuh karena ulah kalian, aku pastikan kalian tidak akan pernah melihat pintu laboratorium ini lagi—atau lebih buruk."
Ia berhenti sejenak, suaranya kini terdengar sangat posesif dan mutlak.
"Dia adalah pacarku. Dan aku tidak pernah bermain-main dengan milikku."
Gadis senior itu pucat pasi, air mata mulai menggenang di matanya karena takut. Ia dan teman-temannya langsung lari terbirit-birit menjauh tanpa menoleh lagi.
Kaelen langsung berbalik ke arahku. Wajahnya yang menyeramkan tadi berubah seketika menjadi penuh kekhawatiran. Ia mengusap kepalaku, memeriksa bagian rambut yang dijambak tadi dengan jemarinya yang gemetar karena emosi.
"Sakit, sayang?" bisiknya pelan, suaranya sangat kontras dengan teriakan menggelegarnya tadi. "Maafkan aku... aku seharusnya tidak membiarkanmu berjalan sendiri."
Kaelen terdiam sejenak, tatapannya yang tajam melunak seketika saat mendengar suaraku yang bergetar. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, memeriksa bagian kepala yang memerah akibat jambakan tadi dengan sangat hati-hati.
"Sakit banget, Kael... Seketika selera makanku hilang, aku jadi nggak mau makan," ucapku sambil memalingkan wajah, bibirku mengerucut karena kesal sekaligus ingin bermanja. Aku benar-benar merajuk sekarang, membiarkan rasa sakit itu menjadi alasan agar dia merasa lebih bersalah karena sempat membiarkanku berjalan sendiri.
Wajah Kaelen tampak sangat menyesal. "Jangan bilang begitu, sayang. Kamu belum sarapan sejak pagi. Kalau kamu tidak makan, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."
Tanpa memedulikan tatapan ratusan pasang mata mahasiswa di koridor, Kaelen tiba-tiba menggendongku ala bridal style. Aku memekik kaget dan refleks mengalungkan tanganku di lehernya.
"Kael! Turunin! Banyak orang!" bisikku malu, tapi dia malah mempererat pelukannya.
"Aku tidak peduli. Kita ke kantin sekarang, dan aku sendiri yang akan memastikan makanan itu masuk ke perutmu," tegasnya.
Tepat saat itu, Ren muncul dari balik kerumunan sambil membawa dua botol air mineral dingin. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah posesif Kaelen yang sudah di luar batas wajar manusia biasa.
"Aduh, Kael! Tenang sedikit," ucap Ren sambil menyodorkan botol air dingin itu ke arah Kaelen agar emosinya mendingin. "Kau hampir saja membekukan seluruh koridor ini dengan auramu. Jangan buat Kazumi makin pusing dengan keributan ini."
Kaelen mengambil botol itu dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap menahan tubuhku. Ia menempelkan botol dingin itu ke dahi dan kepalaku yang terasa panas akibat jambakan tadi.
"Ren, tolong gantikan aku sebentar di depan laboratorium. Bilang pada mereka kelas dimulai telat lima belas menit," perintah Kaelen pada sahabatnya.
Ren menghela napas panjang tapi tetap tersenyum jenaka. "Siap, Pangeran Pelindung. Nikmatilah waktu 'menyuapi' pacarmu itu. Tapi hati-hati, jangan sampai dia makin merajuk karena kamu terlalu berlebihan."
Kaelen mengabaikan ledekan Ren dan terus membawaku menuju kafetaria. Salsa, yang tadi sempat terdorong, langsung berlari mengekor di belakang kami sambil membawa tas kuliahku.
"Zu! Gila, ini beneran kayak di novel-novel!" bisik Salsa penuh semangat meski nafasnya terengah-engah.
"Kak Kael, nanti kalau Kazumi tetap nggak mau makan, aku punya ide! Suapin pakai pesawat-pesawatan, pasti manjur!"
Kaelen melirik Salsa sekilas, lalu kembali menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. "Dengar itu? Pilihannya hanya dua: kamu makan sendiri dengan aku yang menemani, atau aku suapi kamu di depan semua orang di kantin."
Aku menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang, merasa kalah telak. "Iya, iya... aku makan. Tapi turunin sekarang, aku malu dilihatin orang sesekampus!"
Kaelen terkekeh rendah—sebuah suara yang sangat jarang kudengar namun sangat merdu. "Tidak sampai kita duduk di kursi kantin."