NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Pasar Neon

Uap amonia yang menyengat dari pipa pembuangan bawah tanah perlahan memudar, digantikan oleh aroma tajam cengkih sintetis, logam panas, dan keringat ribuan manusia. Li Wei melangkah keluar dari bayang-bayang lorong sempit, tangannya refleks menarik tudung kain lusuhnya lebih rendah. Di depannya, Sektor B-13 membentang seperti luka yang meradang; sebuah pasar gelap yang bernapas dalam pendar neon ungu dan merah yang menyakitkan mata.

"Tetap dekat denganku, Xiao Hu," bisik Li Wei. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh dentuman musik heavy-bass dari bar-bar kumuh di sepanjang jalan.

Xiao Hu menggenggam ujung kain penyamaran Li Wei, matanya yang besar bergerak gelisah menatap kerumunan. "Terlalu terang, Kak. Sensor zirahmu akan berdenyut jika kita terkena cahaya lampu pindaian polisi pasar."

"Jangan khawatir," sela Chen Xi, yang berjalan di sisi lain dengan langkah yang disengaja lunglai, meniru gestur pecandu sirkuit yang banyak berkeliaran di sana. "Aku sudah memasang patch pada frekuensi NS kita. Selama kita tidak memicu lonjakan energi, kita hanya akan terlihat seperti tumpukan sampah bergerak di radar mereka."

Mereka membelah kerumunan. Pasar Neon adalah hutan bagi para pelarian. Di sini, martabat adalah mata uang yang tidak laku. Li Wei, yang biasanya berdiri tegak dengan zirah putih perak yang mengintimidasi, kini harus membungkuk. Ia memanggul sebuah karung besar berisi suku cadang karatan—beban yang sebenarnya tidak ada artinya bagi kekuatan Level 4-nya, namun terasa berat karena harga dirinya yang terus terkikis.

"Lihat itu," Chen Xi menyenggol lengan Li Wei, matanya tertuju pada sebuah monitor hologram raksasa yang menggantung di tengah persimpangan.

Layar itu berkedip, menampilkan wajah Li Wei dan Chen Xi dalam resolusi tinggi. Di bawahnya tertera tulisan besar berwarna merah menyala: BURONAN NEGARA – EKSEKUSI DI TEMPAT.

"Aku terlihat jauh lebih tampan di foto itu daripada aslinya," gumam Chen Xi dengan tawa hambar yang tidak sampai ke matanya.

Li Wei tidak menjawab. Ia menatap wajahnya sendiri di layar, lalu menatap Xiao Hu yang kini menundukkan kepala sangat dalam. Rasa bersalah kembali menghantamnya. Anak ini seharusnya berada di bengkel yang aman, bukan merangkak di antara para kriminal demi menyelamatkan nyawa orang yang telah membunuh kakaknya.

"Kita butuh Core-Stabilizer untuk sarafmu, Li Wei," ucap Chen Xi, kembali serius. "Tanpa itu, reparasi manual yang dilakukan Xiao Hu di bengkel tadi hanya akan bertahan beberapa jam. Kau akan mengalami kelumpuhan saraf sebelum kita mencapai area industri."

"Aku tahu tempatnya," Xiao Hu berbisik, menarik mereka menuju sebuah kios kecil yang terhimpit di antara toko senjata ilegal dan penjual organ tubuh sibernetika. "Paman Lao. Dia sering menjual barang selundupan dari gudang Kekaisaran."

Saat mereka mendekati kios tersebut, dua orang pria berbadan besar dengan modifikasi lengan hidrolik menghalangi jalan. Mereka mengenakan lambang Geng Naga Merah di jaket kulit mereka yang kotor.

"Pasar ini sudah ditutup untuk kuli rendahan seperti kalian," salah satu preman itu meludah ke tanah, matanya menatap tajam ke arah karung yang dipanggul Li Wei. "Apa isinya? Serahkan pada kami sebagai pajak masuk."

Li Wei berhenti. Rahangnya mengeras. Secara naluriah, tangannya bergerak menuju gagang Bailong-Jian yang tersembunyi di balik kain lusuhnya.

"Tunggu," Chen Xi menahan tangan Li Wei, memberikan tatapan peringatan. "Ingat di mana kita berada. Kita bukan Komandan di sini."

Li Wei menarik napas panjang, memaksa otot-ototnya untuk rileks. Ia membungkuk sedikit, menunjukkan gestur tunduk yang terasa asing dan menyakitkan. "Hanya besi tua, Tuan-tuan. Kami hanya ingin menukarnya dengan obat untuk adik saya."

"Obat?" Preman itu tertawa kasar, mendekatkan wajahnya ke arah Xiao Hu yang gemetar. "Gadis kecil ini terlihat sehat. Bagaimana kalau kau serahkan dia saja kepada kami sebagai bayaran?"

Tangan Li Wei gemetar. Bukan karena takut, tapi karena menahan ledakan energi Qi yang ingin menghancurkan tengkorak pria di depannya. Di dalam batinnya, ia berteriak pada dirinya sendiri; Kau bukan lagi perwira tinggi yang bisa mengeksekusi siapapun yang menghinamu. Kau adalah hantu.

"Tuan," Chen Xi masuk ke tengah percakapan dengan senyum licik yang terlatih. "Kami punya sesuatu yang lebih baik dari seorang anak kecil. Di kantong kuli ini, ada chip memori terenkripsi milik patroli Sektor 7 yang baru saja 'jatuh' dari truk."

Preman itu mengalihkan perhatiannya, matanya berbinar rakus. "Chip Sektor 7? Mana?"

Chen Xi mengeluarkan sebuah chip kecil yang sebenarnya sudah rusak—hasil sisa dekripsi di ruang pompa sebelumnya. "Ambil ini, dan biarkan kami lewat. Kami tidak ingin urusan dengan penguasa pasar seperti Naga Merah."

Preman itu merampas chip tersebut dan memberikan isyarat agar mereka lewat. Setelah cukup jauh, Li Wei berbisik, "Kau memberikan data itu pada mereka?"

"Itu chip sampah, Li Wei," Chen Xi memutar bola matanya. "Tapi itu cukup untuk membuat mereka sibuk bertengkar dengan Geng Kabel Karat di blok sebelah saat mereka menyadari bahwa chip itu tidak bisa dibuka. Kita butuh pengalihan."

Mereka sampai di depan kios Paman Lao. Seorang pria tua dengan satu mata mekanik yang berkedip tidak stabil menatap mereka dari balik tumpukan sirkuit.

"Xiao Hu?" Paman Lao terbatuk, asap rokok elektriknya memenuhi ruangan sempit itu. "Kenapa kau di sini? Di mana Han?"

Xiao Hu terdiam. Ia melirik Li Wei dengan tatapan yang meminta jawaban.

"Han sedang dalam tugas khusus, Paman," Li Wei menjawab dengan suara mantap yang dipaksakan. "Dia mengirim kami. Kami butuh unit Neural Overclock seri-X."

Paman Lao menyipitkan mata mekaniknya, memindai Li Wei dari kepala hingga kaki. "Seri-X? Itu barang militer kelas atas. Hanya perwira level tinggi yang memakainya. Untuk apa kuli seperti kalian mencari barang itu?"

"Jangan banyak tanya, Lao," Chen Xi menaruh beberapa keping koin emas murni di atas meja—harta terakhir yang ia bawa dari markas Naga Laut. "Berikan barangnya, dan lupakan wajah kami."

Mata Paman Lao membelalak melihat emas itu. Ia segera merogoh ke bawah meja dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dilapisi pelindung timah. "Ini barang panas. Baru saja dicuri dari kargo Jenderal Zhao Kun. Jika kalian tertangkap dengan ini, tidak akan ada liang kubur bagi kalian."

Li Wei mengambil kotak itu. Saat menyentuhnya, ia merasakan denyut frekuensi yang selaras dengan sistem sarafnya yang mulai melemah.

"Patroli bergerak! Sektor B-13 dibersihkan!" suara sirene tiba-tiba memecah kebisingan pasar.

Di monitor raksasa di luar, wajah Li Wei kini digantikan oleh instruksi baru. "ZONA MERAH: AKTIFKAN SENSOR BIOMETRIK MASAL".

"Sial," desis Chen Xi. "Mereka meningkatkan level pindaian. Patch buatanku tidak akan cukup menahan pindaian biometrik Level 1 secara masif."

"Gunakan strategi pengalihan sekarang," Li Wei memberikan instruksi pada Xiao Hu. "Xiao Hu, bisa kau picu kelebihan beban pada gardu listrik pasar ini?"

Xiao Hu mengangguk cepat, wajahnya yang tadi pucat kini berubah serius. Ia mengeluarkan alat las kecil dan sebuah modul transmiter. "Aku butuh waktu dua menit di bawah gardu itu."

"Aku akan menjagamu," ucap Li Wei. "Chen Xi, bersiap di lorong keluar. Jika lampu mati, kita lari ke arah gudang industri."

Li Wei mengawal Xiao Hu menuju gardu listrik yang terletak di belakang kios. Di sekitar mereka, orang-orang mulai panik karena polisi pasar mulai menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan dan melakukan identifikasi satu per satu.

"Sedikit lagi..." Xiao Hu bergumam, tangannya bergerak lincah menyambungkan kabel-kabel besar yang berdenyut dengan energi Qi mentah.

Tiba-tiba, seorang petugas patroli muncul dari balik tikungan, mengarahkan senapan pulsa ke arah mereka. "Berhenti di sana! Tunjukkan tangan kalian!"

Li Wei berdiri di depan Xiao Hu, menutupi tubuh kecil itu sepenuhnya. Ia menatap petugas itu dengan mata yang dingin. Martabatnya mungkin sudah hancur, tapi tugasnya untuk melindungi jangkar kemanusiaan mereka baru saja dimulai.

"Xiao Hu, lakukan sekarang," perintah Li Wei tanpa mengalihkan pandangan dari moncong senjata musuh.

Xiao Hu menyentuhkan ujung pemantiknya ke sirkuit utama gardu. Sebuah lonjakan arus biru terang meledak, merambat melalui kabel-kabel tembaga yang menjulur seperti akar pohon di sepanjang langit-langit pasar. Dalam sekejap, pendar neon ungu dan merah yang mendominasi Sektor B-13 padam total. Kegelapan pekat menyelimuti kerumunan, diikuti oleh suara ledakan kapasitor yang beruntun.

"Sekarang!" teriak Li Wei.

Petugas patroli di depan mereka melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah asal suara, namun Li Wei sudah bergerak lebih cepat. Tanpa menggunakan pedangnya, ia menghantam ulu hati petugas itu dengan pangkal telapak tangan, menjatuhkannya sebelum peluru pulsa sempat mengenai Xiao Hu.

"Li Wei, di sini!" suara Chen Xi terdengar dari arah lorong sempit di samping kios Paman Lao.

Mereka berlari melintasi massa yang panik. Di tengah kegelapan, strategi 'Adu Domba' yang direncanakan Chen Xi mulai membuahkan hasil. Anggota Geng Naga Merah yang merasa tertipu oleh chip rusak pemberian Chen Xi mulai menyerang kelompok Geng Kabel Karat, menuduh mereka telah mencuri barang berharga dari kuli yang baru saja lewat. Baku hantam pecah di tengah pasar, menciptakan tabir asap dan kekacauan yang sempurna untuk menutupi pelarian mereka.

"Masuk ke sini!" Xiao Hu menarik mereka ke sebuah celah di balik tumpukan kontainer berkarat.

Mereka merayap masuk ke dalam lorong industri yang dingin dan lembap. Suara bising pasar perlahan menjauh, digantikan oleh dengung mesin-mesin berat yang bekerja di balik dinding beton. Li Wei berhenti sejenak, menyandarkan punggungnya pada dinding besi yang dingin. Napasnya memburu, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena tekanan mental yang luar biasa.

"Kau baik-baik saja?" Chen Xi mendekat, wajahnya terlihat pucat di bawah cahaya lampu darurat yang redup.

"Aku hanya... tidak menyangka akan berakhir seperti ini," jawab Li Wei pelan. Ia menatap tangannya yang kotor oleh oli dan debu jalanan. "Dulu aku yang memberikan perintah untuk melakukan razia seperti itu. Sekarang, aku yang diburu seperti tikus got."

"Itulah dunia, Komandan," Chen Xi bersandar di sampingnya, mencoba mengatur napasnya yang sesak akibat vertigo. "Satu hari kau adalah pedang hukum, hari berikutnya kau adalah karat yang harus dibersihkan. Tapi lihat sisi baiknya. Kita berhasil mendapatkan komponennya."

Xiao Hu mengeluarkan kotak perak dari tasnya dan membukanya. Di dalamnya, sebuah Core-Stabilizer seri-X berpendar dengan cahaya biru yang tenang. "Kak Li, duduklah. Aku harus memasang ini sekarang. Jika tidak, sarafmu akan meledak saat kau mencoba menggunakan kekuatan di babak selanjutnya."

Li Wei duduk di lantai yang dingin. Saat Xiao Hu mulai membuka plat belakang zirahnya, Li Wei menatap ke arah pintu keluar lorong yang menuju ke area gudang. Di sana, di dinding beton yang kusam, tertempel sebuah poster fisik—bukan digital—yang menampilkan wajahnya. Seseorang telah menggambar tanda silang besar di atas matanya dengan cat merah.

"Mereka sangat membencimu," gumam Xiao Hu sambil memasukkan jarum-jarum saraf mikro ke dalam soket di punggung Li Wei. "Orang-orang di pasar tadi... mereka bersorak saat melihat poster 'Eksekusi' itu."

Li Wei memejamkan mata, merasakan sengatan listrik kecil saat komponen baru itu menyatu dengan tulang belakangnya. "Aku tahu. Aku telah memberi mereka banyak alasan untuk membenciku selama bertahun-tahun."

"Tapi kau menyelamatkanku," Xiao Hu berbisik, jemarinya bergerak lembut meski sekeliling mereka terasa mencekam. "Dan kau tidak meninggalkanku saat polisi itu menodongkan senjata. Kakak Han benar, kau berbeda dari mereka."

Mendengar nama Han disebut di tengah tempat yang begitu kotor dan jauh dari kehormatan, Li Wei merasa dadanya sesak. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak pantas mendapatkan kepercayaan itu, namun ia hanya bisa membisu. Keheningan itu menjadi satu-satunya pelindung bagi kewarasannya.

"Selesai," ucap Xiao Hu setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya. "Sinkronisasi mencapai sembilan puluh persen. Kau akan merasa lebih kuat sekarang, tapi ingat, komponen ini adalah barang curian. Jika kau mengaktifkan radar penuh, Kekaisaran bisa melacak tanda energinya."

"Terima kasih, Kecil," Chen Xi menepuk bahu Xiao Hu, lalu menatap Li Wei dengan tatapan serius. "Kita tidak bisa tinggal di sini. Patroli akan segera menyisir lorong industri ini setelah mereka menenangkan kerusuhan di pasar. Kita harus menuju Gudang Karat. Aku punya kontak di sana yang bisa membawa kita keluar dari sektor ini."

"Gudang Karat adalah wilayah bebas hukum," Li Wei berdiri, merasakan kekuatan baru mengalir di sepanjang sarafnya. Vertigonya hilang, digantikan oleh ketajaman sensorik yang sudah lama tidak ia rasakan. "Artinya, kita tidak perlu lagi bersembunyi jika bertemu musuh."

"Jangan terlalu percaya diri," peringat Chen Xi. "Wilayah bebas hukum berarti siapa pun bisa membunuhmu tanpa alasan. Termasuk orang-orang seperti Kapten Feng yang menguasai area itu."

Mereka mulai berjalan menyusuri lorong yang semakin menyempit dan gelap. Cahaya neon dari Pasar Neon kini hanya tinggal kenangan samar di belakang mereka. Di depan, bau karat yang pekat dan hawa panas dari tungku peleburan mulai menyambut.

Li Wei menatap poster terakhir di ujung lorong sebelum mereka benar-benar masuk ke wilayah gudang. Poster itu adalah pengumuman hadiah besar bagi siapa saja yang bisa membawa kepalanya—hidup atau mati. Ia merobek poster itu dengan satu gerakan cepat, meremasnya, dan membuangnya ke dalam genangan air limbah yang hitam.

"Selamat tinggal, perwira," bisik Li Wei pada dirinya sendiri.

Langkah kaki mereka bergema di lantai logam yang tidak stabil. Mereka tidak lagi berpura-pura menjadi kuli. Li Wei berjalan dengan punggung tegak, tangannya sudah berada di dekat pedangnya. Mereka sedang menuju jantung kegelapan Sektor B-13, tempat di mana hukum Kekaisaran tidak berlaku, namun hukum rimba akan menguji seberapa jauh mereka bisa bertahan demi sebuah tujuan yang masih tertutup kabut.

Di kejauhan, pintu besi besar Gudang Karat mulai terlihat, mengeluarkan uap panas yang membubung ke langit malam yang merah. Di sana, ancaman baru telah menunggu, dan kali ini, penyamaran tidak akan lagi berguna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!