NovelToon NovelToon
Be The Antagonist'S Wife

Be The Antagonist'S Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Sistem / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: lailararista

Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.

"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan mati tapi bunuh diri

Di rumah sederhana namun elegan, Jordan dan Annabella hidup berdua, memulai hidup baru mereka, Jordan bukan lagi pengusaha terkenal dan kaya raya, dia saat ini bekerja di perusahaan milik orang lain, menjadi kariawan biasa.

Tapi dia bersyukur, karena setelah kehancuran hidupnya, wanita yang dulu dia sakiti, mau menolong dan menemani prosesnya. Kali ini dia akan memulai dari nol, dan dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Sedangkan orang tua Annabella awalnya tidak menyetujui mereka kembali, tapi lama-kelamaan mereka sedikit menerima Jordan karena melihat kesungguhannya untuk berbaikan dengan Annabella. Bahkan Annabella meminta papanya untuk membiarkan Jordan mengurus perusahaan miliknya, tapi Jordan menolak, dia tidak mau lagi menyusahkan orang lain, dia akan berusaha dengan jerih payahnya sendiri. Anggap saja ini bayaran atas penderitaan Georgio dulu, penderitaan yang disebabkan olehnya.

Annabella yang dulu selalu mencintai Georgio, kini dia tidak melihat lagi Annabella yang seperti itu, sekarang Annabella terlihat tulus kepadanya, setiap gerak-gerik Annabella tidak luput dari pandangan Jordan.

Dari dulu Jordan memang menyukai Annabella, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi dulu niat awalnya bukan benar-benar untuk Annabella, tapi untuk kehancuran Georgio, karena dulu Annabella dan Georgio saling mencintai. Jordan selalu berfikir, kenapa Georgio selalu beruntung, dia sudah berhasil membuat Georgio tidak nyaman dirumah nya dan berakhir pergi, tapi bukannya menjadi gelandangan, dia malah bisa hidup sukses, tanpa bantuan Adrian. Dulu Jordan sangat iri, kenapa orang yang merebut kebahagiaannya masih bisa tetap beruntung?

Karena itu dia merebut Annabella, agar Georgio menderita. Keinginannya terkabul, Georgio menderita. Tapi Annabella, wanita yang dia suka terus menerus memikirkan Georgio. Hingga akhirnya dia termakan omongan seseorang untuk memberikan pelajaran kepada Annabella, agar wanita itu takut dan berhenti memikirkan Georgio.

Namun, dengan cara apa pun, dia tidak bisa membuat Annabella melupakan Georgio. Hingga akhirnya dia kehilangan akal dan membuang Annabella kerumah sakit jiwa. Karena saat itu Annabella benar-benar seperti orang gila, manangis dan tertawa secara bersamaan.

Karena dendamnya kepada Georgio dia membiarkan Annabella menderita begitu saja, wajar saja orang tua Annabella sulit menerimanya.

Dan kali ini, Jordan bertekad akan memperbaiki kesalahannya, membuat Annabella merasa dicintai olehnya, menciptakan keluarga bahagia untuk anak-anak mereka nanti. Mereka akan melupakan orang-orang yang pernah menjadi masalah dalam hidup mereka, menciptakan keluarga baru yang bahagia.

Sementara disisi lain, tepatnya dirumah sakit jiwa. seorang pria paruh baya diam-diam masuk keruangan bercat putih dengan satu tempat tidur pasien. Terlihat seorang wanita paruh baya duduk di atas ranjang dengan menatap boneka kecil di genggamannya.

Wanita itu beralih memalingkan wajahnya ke arah pintu saat menyadari pintu terbuka, senyumnya mengembang saat melihat orang yang sangat dia kenali masuk kedalam kamarnya.

"Suamiku? Kamu mau menjemput ku?"tanyanya dengan senyum mengembang.

Pria itu berjalan mendekati wanita itu, dengan tatapan tajam. "Iya, aku akan menjemputmu."

Wanita itu mengangguk dan turun dari atas ranjang. "Ayo, aku tidak sabar ingin bertemu anakku."ucapnya.

Pria itu menggenggam tangan wanita itu saat dia hendak berjalan menuju pintu, wanita itu menatap suaminya heran. "Kenapa? Bukannya kita akan pulang."

"Pulang kemana? Aku akan membawamu bertemu Clara, kamu mau?"mendengar itu, Sonia, wanita itu terkejut.

"Adrian! Kamu mau membunuh ku?"tanyanya sambil berusaha melepaskan tangannya yang digenggam Adrian.

"Iya! Kenapa? Gara-gara kamu, aku kehilangan segalanya, kamu jahat Sonia! Kamu jahat! Kamu pantas mati!"Sonia diam, lalu tiba-tiba tertawa mengejek Adrian.

"Aku jahat?"tanya nya sambil menunjuk dirinya sendiri. "Kalau aku jahat kamu apa?"

Sonia kembali tertawa. Dengan paksa dia melepaskan tangannya yang digenggam Adrian. Sonia berjalan pelan kearah jendela sambil terkekeh kecil.

"Adrian, Adrian. Bukan aku yang jahat, kamu yang bodoh."Sonia berbalik, dengan jarak satu meter dia menatap Adrian mengejek. "Kenapa kamu langsung percaya saat aku datang membawa Jordan, padahal aku sudah bertahun-tahun menghilang dari hidupmu."

Ucapan Sonia membuat Adrian mengepalkan tangannya erat. "Semua ini bukan sepenuhnya salahku, kamu juga salah, Adrian! Kamu yang membunuh Clara, kamu yang membuat dia jantungan dan mati."lanjut Sonia dan tertawa melengking.

"Sonia!"geram Adrian, dengan langkah lebar dia mendekati Sonia, lalu menarik kasar rambutnya. "Kalau bukan karena kamu tiba-tiba hadir dalam hidup ku, semua ini tidak akan terjadi. Sonia! Kamu sudah meninggalkan ku begitu saja, dengan seenaknya kamu kembali dan menghancurkan keluarga ku! Kamu benar-benar keji Sonia!"

Adrian menghempas kasar Sonia hingga dia terjatuh ke lantai. Sonia menunduk, menatap ubin, lalu kembali tertawa lirih. "Sudah begini kamu masih mengingat kesalahan ku, kenapa kamu tidak ingat saat kamu memperlakukan buruk anak mu sendiri? Kamu memarahinya dengan kasalahan yang tidak pernah dia lakukan, kamu bahkan mengusir nya, membiarkannya hidup sebatang kara."Sonia mendongak, menatap Adrian dengan mata merahnya. "Saat itu kamu sama sekali tidak merasa bersalah, dia hidup sendiri diluar sana, dulu kamu sama sekali tidak peduli, Adrian. Kamu lupa itu?"

Sonia dengan susah payah berdiri, terkekeh lirih kepada Adrian. "Adrian! Kamu tidak pernah menyayangi anakmu, kamu hanya menyayangi Jordan, anakku bersama orang lain."lanjut Sonia dan kembali tertawa.

"Sonia! Aku bunuh kamu!"geramnya sambil mengeluarkan pisau kecil dari balik jaketnya.

Sonia yang melihat itu melotot. Tidak menyangka Andira benar-benar akan membunuhnya sampai-sampai harus membawa pisau.

"Adrian, kamu tidak akan membunuh ku kan?"tanya Sonia sambil menelan Silva nya susah payah.

"Kenapa tidak? Orang seperti mu pantas mati, kamu sudah menghancurkan hidup ku Sonia! Aku tidak akan membiarkan mu hidup."Sonia mundur saat Adrian perlahan mendekat.

"Kamu juga pantas mati, Adrian! Clara sudah menunggu mu di pintu neraka, dia pasti sudah tidak sabar melihat mu masuk kesana."ucap Sonia sambil terus mundur hingga tubuhnya mentok ke dinding.

"Dia juga tidak sabar melihat mu disana, Sonia. kamu harus sadar, kamu orang yang paling Clara benci, dari dia kecil, kamu selalu menganggu hidupnya, sampai mati pun, dia tidak akan melupakan semua perlakuan mu padanya. Sonia, aku akan membantunya menjemput mu."Sonia menggeleng keras, jaraknya dengan Adrian sudah sangat dekat, Adrian mengangkat dagu Sonia menggunakan pisaunya, membuat Sonia bergetar hebat.

"Kamu harus membayar semua perbuatan mu!"Sonia menggeleng.

"Kenapa hanya aku? Kamu juga tidak mau membayar kesalahan mu?"Sonia menggapai tangan Adrian yang memegang pisau. "Mari kita menyusul Clara bersama, biar dia melihat kita berdua bergandengan tangan masuk kedalam pintu neraka. Clara harus tau, sampai mati pun kita tetap bersama, kamu dan aku akan hidup di neraka."ucap Sonia sambil tersenyum miring.

Adrian menatap tajam Sonia.

"Kamu gila!"

"Aku berada disini, dirumah sakit jiwa, berati aku memang gila. Aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku, Adrian. Kalau kamu mau aku mati, kamu juga harus mati, karena disini bukan hanya aku yang salah, kamu juga." Dengan kasar Sonia merampas pisau dari tangan Adrian.

Adrian menatap panik Sonia, dia hendak mundur tapi Sonia lebih cepat, menusuk perut nya dengan pisau itu. Sonia tertawa lantang saat Adrian terjatuh, dia menghampiri Adrian, mendorong kuat bahunya dan kembali menusuk perut Adrian berkali-kali. Wajah Sonia bahkan terkena percikan dari Adrian. Sonia tertawa keras melihat Adrian terkulai lemas. Dia membelai wajah Adrian dengan tanyanya yang penuh darah.

"Tunggu aku ya, kita akan menemui Clara, aku akan menertawakan dia, karena kamu selamanya akan bersama ku, bukan bersamanya. Aku tidak bisa merebut orang tuanya, tapi aku bisa merebut mu darinya."Sonia tertawa lirih dan setelah itu menangis sesenggukan.

"Baik didunia maupun diakhirat, kita tetap bersama, Adrian."Ucap Sonia pelan lalu kembali tertawa lirih, dia beralih menyayat pergelangan tangannya. Hingga tidak lama setelah itu, dia terbaring disebelah Adrian, mereka berdua akhirnya meninggal mengenaskan di ruangan itu.

Kehancuran hidup Adrian dan Sonia bukan karena salah siapa-siapa, tapi karena kesalahan mereka sendiri, mereka tidak bisa menyadari, karena sejatinya mereka sama-sama salah. Harusnya mereka memperbaiki diri, bukan malah saling menyalahkan, kehancuran itu akibat dari keegoisan diri sendiri. Jadi, itulah bayaran dari semua keegoisan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!