Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Baru
Dua minggu telah berlalu sejak Arsa siuman. Hari ini, akhirnya Arsa diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Asha datang pagi-pagi sekali untuk membantu Arsa membereskan barang-barangnya.
Ia begitu bersemangat karena akhirnya Arsa bisa keluar dari rumah sakit.
"Arsa, ini bajunya udah kumasukin semua" kata Asha sembari menutup tas Arsa.
"Makasih ya, Asha" ucap Arsa dengan senyuman. "Maaf ya ngerepotin kamu terus."
Asha menggeleng cepat. "Gak kok. Aku seneng bisa bantuin kamu malahan."
Tak lama kemudian, ayah Arsa datang untuk menjemput. Pria itu masuk dengan wajah datar seperti biasa, tanpa menunjukkan kegembiraan apapun meskipun anaknya sudah sembuh.
"Udah siap?" tanya ayah Arsa dengan nada dingin.
"Sudah, Pak" jawab Arsa.
Ayah Arsa lalu menatap Asha dengan tatapan yang tidak bersahabat. "Kamu siapa?"
Asha meneguk ludahnya. Ia masih ingat betul bagaimana ayah Arsa memarahinya waktu itu di rumah sakit.
"Saya... Saya Asha, pacarnya Arsa" jawab Asha dengan suara yang pelan.
"Oh, kamu ya yang waktu itu berani teriak-teriak ke saya" sindir ayah Arsa dengan nada sinis.
Asha menunduk, tidak berani menatap mata pria itu.
"Pak, jangan gini dong" bela Arsa tiba-tiba. "Asha baik kok. Dia yang jagain aku selama di rumah sakit."
Ayah Arsa mendengus. "Terserah. Ayo cepat pulang. Jangan buang-buang waktu lagi!"
Sebelum pergi, Arsa berbalik ke arah Asha. "Asha, makasih banyak ya udah nemenin aku selama ini."
Asha tersenyum hangat meskipun hatinya sedih karena harus berpisah dari Arsa.
"Sama-sama. Nanti kalau udah di rumah, kabarin aku ya."
Arsa mengangguk. Namun, sebelum ia sempat pergi, tiba-tiba ia mendekat ke Asha dan berbisik pelan.
"Asha... Boleh gak aku minta nomor WA kamu? Aku kan gak inget nomor kamu soalnya, hehe."
Hati Asha langsung tersentak mendengarnya. Dulu, nomor Asha adalah nomor pertama yang selalu Arsa hubungi. Tapi sekarang, Arsa bahkan tidak ingat nomor itu.
Meskipun begitu, Asha tetap tersenyum. "Boleh kok."
Mereka bertukar nomor, dan Arsa pun akhirnya pulang bersama ayahnya.
Asha menatap kepergian Arsa dengan hati yang campur aduk. Senang karena Arsa sudah sembuh, tapi sedih karena Arsa masih belum mengingatnya.
🌷🌷🌷🌷
Di dalam mobil, Arsa menatap keluar jendela dengan pikiran yang melayang. Ia memikirkan Asha, yaitu gadis yang katanya adalah pacarnya.
'Kenapa ya... Kenapa setiap kali lihat dia, dadaku selalu terasa hangat?' batin Arsa dengan bingung, tangannya memegang dada.
"Arsa" panggil ayahnya dengan nada keras.
"Ya, Pak?"
"Mulai sekarang, kamu fokus belajar. Jangan buang-buang waktu buat pacaran atau hal-hal gak penting lainnya."
Arsa terdiam mendengar ucapan ayahnya.
"Kamu tuh udah kehilangan banyak banget waktu gara-gara kecelakaan ini. Kalau kamu gak belajar keras, mustahil kamu bisa masuk kedokteran."
"Iya, Pak" jawab Arsa pelan.
"Dan soal cewek yang tadi itu... Putus saja sama dia. Dia cuma ngeganggu kamu doang."
Arsa tersentak. "Tapi Pak, kat—"
"Gak ada tapi-tapian!" bentak ayahnya. "Kamu dengar kata saya gak??"
Arsa menunduk dan tidak menjawab lagi. Di dalam hatinya, ada perasaan tidak nyaman dengan ucapan ayahnya.
Sesampainya di rumah, Arsa langsung masuk ke kamarnya. Ia merebahkan diri di kasur sembari menatap langit-langit kamarnya.
Kring...
Hp-nya berbunyi. Sebuah pesan dari nomor yang baru saja ia simpan tadi, Asha.
Asha
Arsa, udah sampe rumah belum?
Arsa tersenyum tipis melihat pesan itu. Tanpa sadar, jari-jarinya langsung mengetik balasan.
^^^Arsa^^^
^^^Udah kok. Makasih ya Asha udah perhatian.^^^
Asha
Sama-sama, gmna kabar kmu? Capek gak di jalan?
^^^Arsa^^^
^^^Gak kok. Aku baik-baik aja.^^^
Asha
Syukur deh kalau gitu. Istirahat yang cukup ya! Besok kamu udah mau sekolah lagi kan?
^^^Arsa^^^
^^^Iya kayanya besok aku masuk. Deg-degan sih... Soalnya gak tau mesti gimana hadapin temen-temen.^^^
Asha
Tenang aja! Temen-temen pasti seneng kok kamu udah balik. Lagian ada aku juga yang bakal bantuin kamu 😊
Arsa menatap layar hp-nya dengan perasaan hangat. Ada sesuatu di dalam hatinya yang membuatnya merasa nyaman setiap kali berbicara dengan Asha.
Tapi di sisi lain, ia merasa bersalah karena tidak bisa mengingat gadis itu.
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya, Arsa kembali ke sekolah. Ia berjalan di koridor dengan perasaan gugup karena tidak ingat sebagian besar teman-temannya.
"Arsa!" teriak seseorang dari kejauhan.
Arsa menoleh dan melihat segerombolan teman-temannya berlari ke arahnya dengan wajah senang.
"Gila lu bro! Akhirnya balik juga!" sapa salah seorang temannya sembari menepuk pundak Arsa.
"Iya nih... Maaf ya, aku... Aku gak begitu inget kalian" ucap Arsa dengan canggung.
"Gapapa lah! Yang penting lu sehat. Emangnya beneran kah lu amnesia?" tanya temannya yang lain.
Arsa mengangguk pelan. "Iya... Beberapa bulan terakhir, aku gak inget apa-apa."
Teman-temannya saling pandang dengan tatapan simpati.
"Yaudah gapapa. Kita kenalan lagi aja!" kata salah satu dari mereka dengan senyum lebar.
Arsa tersenyum tipis. Setidaknya teman-temannya menerima kondisinya dengan baik.
Saat Arsa berjalan menuju kelasnya, matanya menangkap sosok Asha yang berdiri di depan kelas. Gadis itu tersenyum lebar ketika melihatnya.
"Arsa! Selamat datang kembali!" sapa Asha dengan suara yang riang.
"Makasih, Asha" balas Arsa sembari tersenyum.
Namun, senyuman Arsa tiba-tiba luntur ketika ia masuk ke kelas dan disambut dengan tatapan penasaran dari seluruh teman sekelasnya.
Mereka semua menatapnya, ada yang tersenyum, ada yang terlihat simpati, dan ada pula yang berbisik-bisik.
Arsa merasa tidak nyaman dengan perhatian itu. Ia cepat-cepat duduk di kursinya dan menundukkan kepala.
Asha yang melihat itu langsung mengerti. Ia lalu berdiri dan berkata dengan suara nyaring.
"Heh lu lu pada bisa gak sih jangan meliatin Arsa terus. Kasian tau gak!"
Semua orang langsung menoleh ke arah Asha. Beberapa dari mereka tertawa kecil dan akhirnya kembali ke aktivitas masing-masing.
Arsa menatap Asha dengan tatapan berterima kasih. Asha hanya membalas dengan senyuman hangat.
🌷🌷🌷🌷
Saat istirahat pertama, Asha menghampiri Arsa yang tengah duduk sendirian di kursinya.
"Arsa, ayo makan bareng" ajak Asha sembari mengeluarkan bekal dari tasnya.
"Gak usah repot-repot, Asha. Aku udah bawa bekal kok" tolak Arsa halus.
"Yaudah, makan bareng aja. Kan enak punya temen ngobrol" bujuk Asha lagi.
Arsa akhirnya mengangguk. Mereka berdua lalu makan bersama di kelas.
"Gimana? Gak terlalu berat kan hari pertama masuk?" tanya Asha sembari menyuapi nasi ke mulutnya.
"Lumayan sih... Agak canggung aja gara-gara banyak yang aku gak inget."
Asha mengangguk mengerti. "Tenang aja. Nanti juga lama-lama kebiasa kok."
Arsa menatap Asha dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Asha... Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh. Apa aja boleh kok."
"Kita dulu... Kita dulu pacaran di sekolah ini kan?"
Asha mengangguk.
"Terus... Terus gimana sih aku waktu dulu? Maksudnya, aku orangnya gimana kalau sama kamu?"
Asha tersenyum tipis mengingat kenangan masa lalu.
"Kamu... Kamu itu orangnya super perhatian. Setiap pagi kamu pasti nunggu aku di depan kelas. Terus kamu juga sering beliin aku susu atau makanan kesukaan aku."
"Kamu juga suka banget gombalin aku. Kadang-kadang bikin aku malu, tapi... Tapi aku suka sih" lanjut Asha dengan pipi yang sedikit merona.
Arsa terdiam mendengar cerita itu. Ia mencoba membayangkan dirinya yang melakukan semua hal itu.
"Kedengarannya... Kedengarannya aku dulu bener-bener sayang sama kamu ya?"
"Iya" jawab Asha pelan. "Kamu sangat sayang sama aku."
"Dan aku juga... Sangat sayang sama kamu."
Arsa merasakan dadanya berdegup kencang mendengar pernyataan Asha. Ada perasaan aneh yang ia rasakan: hangat, nyaman, tapi juga bingung.
"Arsa..." panggil Asha dengan suara yang pelan.
"Ya?"
"Aku... Aku mau cerita sesuatu ke kamu. Tentang kita."
Arsa mengangguk, memberi tanda agar Asha melanjutkan.
Asha menarik nafas panjang. Ia lalu mulai bercerita tentang hubungan mereka, mulai dari bagaimana mereka awalnya bertemu, tentang moment-moment manis yang mereka lewati, dan juga...
Tentang pertengkaran mereka sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Aku... Aku mau minta maaf, Arsa" ucap Asha dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku dulu egois banget. Aku selalu marah-marah sama kamu, padahal kamu gak salah apa-apa."
"Dan... Dan gara-gara aku, kamu jadi kecelakaan. Kamu kehilangan ingatan."
Air mata Asha mulai jatuh.
"Aku nyesal banget, Arsa. Nyesal banget..."
Arsa terdiam melihat Asha yang menangis di hadapannya. Tanpa sadar, tangannya terangkat dan menghapus air mata di pipi Asha.
"Asha... Jangan nangis" ucap Arsa dengan lembut.
"Aku gak marah kok sama kamu. Lagian... Lagian kecelakaan itu bukan salah kamu."
Asha menatap mata Arsa dengan tatapan terkejut.
"Tapi kalau aku gak egois, kamu pasti gak akan kec—"
"Ssstt..." Arsa meletakkan jari telunjuknya di bibir Asha, meminta gadis itu untuk diam.
"Udah gak usah nyalahin diri sendiri lagi. Yang penting sekarang, kita sama-sama berusaha untuk maju ya?"
Asha mengangguk pelan. Hatinya terasa begitu hangat mendengar kata-kata Arsa.
Meskipun Arsa sudah tidak mengingatnya, tapi kebaikan hati Arsa tetap sama seperti dulu.
"Arsa... Aku boleh minta sesuatu gak?" tanya Asha dengan hati-hati.
"Boleh. Apa?"
"Kita... Kita bisa mulai dari awal lagi gak? Maksudnya... Kita kenalan lagi, jadi temen dulu, terus... Terus pelan-pelan kita coba lagi?"
Arsa terdiam mendengar permintaan Asha. Ia menatap mata gadis itu dengan tatapan serius.
Di dalam hatinya, ada perasaan ragu. Ia tidak yakin apakah ia bisa jatuh cinta lagi dengan Asha seperti dulu.
Tapi di sisi lain, ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin mencoba.
"Oke" jawab Arsa akhirnya dengan senyuman tipis.
"Kita mulai dari awal lagi."
Mata Asha langsung berbinar mendengar jawaban itu. Ia tersenyum lebar, begitu lebar hingga pipinya terasa sakit.
"Makasih Arsa... Makasih banget..."
Arsa membalas senyuman itu. "Sama-sama, Asha."
"Tapi..." lanjut Arsa dengan nada hati-hati. "Aku gak bisa janji kalau nanti aku bakalan jadi Arsa yang dulu. Aku... Aku takut mengecewakan kamu."
Asha cepat-cepat menggeleng. "Gak apa-apa. Yang penting kamu mau kasih aku kesempatan. Itu udah lebih dari cukup."
Arsa mengangguk. Dalam hatinya, ia berharap bahwa keputusannya ini adalah keputusan yang tepat.
Dan Asha... Asha hanya bisa berdoa dalam hati.
'Ya Tuhan, kumohon... Bantulah aku untuk bisa membuat Arsa jatuh cinta lagi sama aku.'
'Aku janji, kali ini aku gak akan sia-siain dia lagi.'
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Akhirnya Asha dan Arsa sepakat untuk mulai dari awal lagi! Tapi kira-kira mereka bisa kayak dulu lagi gak ya? Atau malah hubungan mereka jadi lebih rumit?
Penasaran gak sih kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku