Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Cassie melangkah keluar dari lobi gedung Lopez Group dengan tumit sepatu Stiletto-nya yang berbunyi tajam di atas lantai marmer, seolah-olah ia sedang menginjak-injak wajah Zion Mateo Lopez di setiap langkahnya. Chicago sore itu sedang berangin kencang, menerbangkan rambutnya yang tertata rapi, namun badai di dalam dadanya jauh lebih besar.
Begitu ia sampai di trotoar Michigan Avenue yang padat, Cassie tidak tahan lagi. Ia tidak peduli pada tatapan orang-orang kelas atas Chicago yang melintas. Ia butuh mengeluarkan racun itu.
"Brengsek! Sialan! Bajingan narsistik!" maki Cassie setengah berteriak, suaranya tertelan deru mesin bus kota. "Bisa-bisanya dia membahas soal pengaman di tengah rapat proyek?! Apa otaknya sudah pindah ke selangkangannya?"
Ia terus berjalan dengan langkah lebar, tangannya mencengkeram tas Hermes miliknya hingga buku jarinya memutih. Amarahnya meluap-luap, terutama saat teringat bagaimana Zion mencoba bersikap pahlawan dengan narasi masa depan yang konyol itu.
"Masa depan katanya? Masa depan kepalamu, Zion!" Cassie mendesis sinis. "Kau bilang kau memakai kondom karena peduli pada cita-citaku? Kebohongan macam apa itu? Kau memakainya karena kau tahu aku menyukai rasa strawberry! Kau melakukannya demi kesenanganmu sendiri, demi membuatku tetap tinggal di ranjangmu lebih lama, bukan karena kau memikirkan masa depanku di California!"
Pikiran Cassie terlempar kembali ke sebuah apartemen kecil di dekat sekolah mereka dulu. Di sana, di bawah remang lampu jalanan Chicago sepuluh tahun lalu, Zion pernah memeluknya erat setelah mereka bercinta.
Saat itu, Zion berbisik dengan nada yang sangat meyakinkan, "Cass, aku pakai ini kondom supaya kau tidak perlu khawatir. Aku ingin kau jadi arsitek hebat dulu. Aku ingin kita ke California tanpa beban. Aku ingin kau sukses."
Dulu, Cassie yang masih berusia 17 tahun dan haus akan kasih sayang, meleleh mendengar kata-kata itu. Ia merasa dicintai, dilindungi, dan dihargai. Ia tidak tahu bahwa di balik kata-kata manis itu, Zion sedang memenangkan taruhan seratus ribu dollar.
"Dasar penipu ulung," maki Cassie lagi, kini ia berhenti di depan sebuah coffee shop. "Dan si Petter itu... Ya Tuhan, kenapa aku harus mengingat nama itu?!"
Cassie memejamkan mata, merasa mual karena ingatannya sendiri. Petter. Itu adalah nama konyol yang Zion berikan untuk kejantanannya sendiri. Nama yang sering Zion sebut dengan candaan narsis saat mereka sedang berdua.
"Petter merindukanmu, Cass," atau "Petter bilang kau sangat cantik malam ini."
"Sialan kau, Petter! Sialan kau, Zion!" teriaknya dalam hati. Cassie sangat kesal karena meskipun ia memaki, kenyataan pahitnya adalah, ia belum sepenuhnya move on. Tubuhnya masih mengingat sentuhan pria itu, dan otaknya masih menyimpan setiap detail kecil tentang Zion, termasuk nama konyol di balik celana pria itu.
Itulah yang membuatnya sangat marah. Ia benci karena dirinya masih peduli. Ia benci karena setelah sepuluh tahun dan ribuan jam kerja keras untuk menjadi wanita mandiri, satu kalimat dari Zion tentang masa lalu sanggup meruntuhkan pertahanannya.
Cassie masuk ke dalam kafe dan memesan double espresso. Ia butuh sesuatu yang pahit untuk menetralkan rasa muak di mulutnya. Saat ia menunggu, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, tapi ia tahu itu siapa.
Zion: Cass, aku serius soal California. Aku tidak pernah berbohong soal perasaanku saat itu. Tolong, beri aku waktu bicara tanpa ada Lionel dan Laxia yang mengintip.
Cassie tertawa sinis, tawanya terdengar kering dan menyakitkan. Ia langsung membalas dengan jemari yang gemetar karena emosi.
Cassie: Bicaralah pada Petter, Zion. Mungkin dia lebih punya otak daripada kau. Jangan pernah hubungi aku lagi di luar jam kerja, atau aku akan melaporkanmu atas pelecehan seksual di kantor.
Ia melempar ponselnya ke dalam tas. Ia merasa seperti akan kiamat setiap kali bertemu Zion. Hubungan mereka bukan lagi sekadar benci, tapi sudah seperti dua kutub magnet yang sama, saling tolak-menolak dengan kekuatan yang menghancurkan.
Jika Zion adalah api yang membakar masa mudanya, maka Cassie adalah es yang membeku karena pengkhianatan itu. Dan ketika api bertemu es, yang ada hanyalah uap panas yang menyesakkan dan ledakan yang menghancurkan segalanya di sekitar mereka.
Sementara itu, tak jauh dari sana, sebuah mobil SUV hitam terparkir di seberang kafe. Di dalamnya, Lionel dan Laxia masih setia menjalankan tugas mereka sebagai mata-mata Mommy.
"Lihat wajahnya," ucap Laxia sambil memegang teropong kecil. "Cassie terlihat seperti ingin membakar seluruh Chicago. Kak Zion benar-benar mengacau kali ini."
Lionel menghela napas, mencatat sesuatu di tabletnya. "Dia menyebut nama Petter tadi di jalan. Aku membaca gerak bibirnya. Siapa Petter?"
Laxia mengernyit, lalu matanya membelalak kaget saat menyadari sesuatu. Sebagai adik, dia tahu selera humor kakaknya yang aneh. "Oh, tidak... Jangan bilang itu..."
"Apa?" tanya Lionel polos.
"Lupakan, Lionel. Jangan tanya. Yang jelas, Kak Zion dalam masalah besar. Cassie bukan hanya membencinya, dia jijik padanya. Taruhanmu dua ratus dollar itu sepertinya akan menang, Kak Zion tidak akan bertahan sampai lusa."
Lionel terdiam, menatap sosok Cassie yang keluar dari kafe dengan aura yang begitu mengintimidasi. "Aku tidak yakin, Laxia. Kak Zion itu seperti kecoak. Semakin diinjak, dia semakin keras kepala. Tapi Cassie... dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Raja Chicago itu berlutut tanpa perlu disuruh."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.