NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUTUKAN DAN HARAPAN

Tiga hari setelah percakapan malam itu...

Wei Chen tidak bisa melupakan kata-kata Mei Ling.

"Tahun depan 25."

Setiap kali dia melihat Mei Ling tersenyum — senyum hangat yang selalu dia berikan setiap pagi — di benaknya terbayang hitungan mundur. Berapa hari lagi? Berapa minggu lagi?

Dia tidak tahu kenapa dia begitu peduli.

Di bumi, dia tidak pernah peduli pada siapa pun. Karyawan? Mereka cuma angka. Mitra bisnis? Cuma alat. Bahkan Hartono — orang yang paling lama bersamanya — tidak pernah masuk ke hatinya.

Tapi Mei Ling... berbeda.

Mungkin karena dia tulus. Mungkin karena dia tidak minta apa-apa. Mungkin karena saat dia memeluknya malam itu, Wei Chen merasa... hangat. Hangat yang tidak pernah dia rasakan selama 40 tahun.

Wei Chen duduk di gubuknya, menatap langit-langit bambu. Pikirannya bekerja — kebiasaan lama sebagai CEO.

Kutukan. Kalau ini kutukan, pasti ada penyebabnya. Kalau ada penyebab, pasti ada cara memutusnya.

Dia tidak tahu apa-apa tentang kultivasi. Tapi dia tahu tentang sistem. Dan kutukan ini — kalau di-analisis secara logis — adalah semacam "kerusakan" pada sistem tubuh.

Mungkin di gen. Mungkin di aliran energi. Mungkin di sesuatu yang lain.

Dia harus mencari tahu.

Pagi harinya, Wei Chen memutuskan untuk tidak ke sawah.

"Ada perlu ke perpustakaan desa," katanya pada Mei Ling.

Mei Ling mengerutkan kening. "Perpustakaan? Desa kita punya perpustakaan?"

"Rumah Kakek Tio. Katanya dia punya banyak buku tua."

Mei Ling mengangguk. "Aku antar?"

"Bisa kerja sendiri?"

"Bisa." Dia tersenyum. "Aku sudah kerja sendiri bertahun-tahun sebelum kau datang."

Wei Chen mengangguk. Lalu pergi.

Rumah Kakek Tio terletak di ujung desa, dekat hutan. Rumah panggung kayu tua, atap ilalang, tapi halamannya rapi. Di beranda, Kakek Tio duduk di kursi rotan, mengunyah sirih.

"Wah, anak muda." Matanya menyipit melihat Wei Chen. "Kemari, kemari."

Wei Chen duduk di kursi sebelahnya.

"Kakek, aku dengar Kakek punya banyak buku."

"Buku? Punya sedikit. Peninggalan orang tua." Kakek Tio mengamatinya. "Mau baca?"

"Mau. Tentang... kutukan."

Kakek Tio mengangkat alis. "Kutukan? Kau kena kutukan?"

"Bukan aku. Temanku."

Kakek Tio diam. Lalu menghela napas.

"Mei Ling?"

Wei Chen terkejut. "Kakek tahu?"

"Semua orang di desa ini tahu." Suara Kakek Tio pelan. "Keluarga ibunya memang terkutuk. Sudah tiga generasi." Dia menggeleng. "Kasihan gadis itu. Dia tahu umurnya pendek, tapi tetap bekerja keras, tetap tersenyum."

Wei Chen diam.

"Kau mau cari cara menyembuhkannya?" tanya Kakek Tio.

"Mau."

Kakek Tio menatapnya lama. Lalu tertawa kecil.

"Kau benar-benar aneh, Nak. Orang baru, belum kenal apa-apa, sudah mau lawan takdir." Dia berdiri, masuk ke rumah. "Tunggu di sini."

Setelah beberapa menit, Kakek Tio keluar dengan setumpuk buku tua. Sampulnya sudah lusuh, halamannya menguning.

"Ini semua yang aku punya. Buku tentang kultivasi, tentang penyakit, tentang kutukan." Dia meletakkannya di depan Wei Chen. "Baca. Tapi jangan harap banyak. Tidak ada yang pernah berhasil sembuh dari kutukan Mei Ling."

Wei Chen mengambil buku paling atas. Membuka halaman pertama.

"Terima kasih, Kakek."

Kakek Tio duduk kembali, mengunyah sirih.

"Kau suka Mei Ling?"

Wei Chen mengangkat kepala. "Apa?"

"Kau suka dia?" Kakek Tio tersenyum. "Tidak perlu malu. Aku tua, tapi mataku masih awas. Aku lihat caranya kau lihat dia."

Wei Chen diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

Suka? Apa itu suka? Di bumi, dia tidak pernah punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu.

"Aku... tidak tahu," jawabnya jujur.

Kakek Tio tertawa. "Tidak tahu? Bagaimana bisa tidak tahu?"

"Karena aku belum pernah merasakannya."

Kakek Tio berhenti tertawa. Menatap Wei Chen dengan serius.

"Kau belum pernah jatuh cinta? Seumur hidupmu?"

"Belum."

Kakek Tio diam lama. Lalu menghela napas.

"Kasihan." Bukan ejekan, tapi sungguh-sungguh. "Cinta itu... anugerah, Nak. Kalau kau belum pernah merasakannya, kau belum pernah hidup."

Wei Chen menatap buku di tangannya. Kata-kata Kakek Tio mengiang.

Belum pernah hidup.

Sore harinya, Wei Chen kembali ke rumah dengan setumpuk buku.

Mei Ling melihatnya dan terkejut. "Kau pinjam semua itu?"

"Kakek Tio baik."

Mei Ling mendekat, melihat judul-judul buku. "Buku tentang kultivasi... tentang penyakit... tentang kutukan..." Dia berhenti. Menatap Wei Chen.

"Ini... untukku?"

Wei Chen mengangguk.

Mei Ling diam. Matanya berkaca-kaca.

"Chen... kau tidak perlu—"

"Aku mau." Suaranya tegas. "Kalau ada cara, aku akan cari."

Tapi Mei Ling menggeleng. "Tidak ada cara. Sudah ribuan orang coba. Semua gagal."

"Ribuan orang belum pernah bertemu aku."

Mei Ling tertawa — tawa getir. "Kau percaya diri sekali."

"Aku selalu percaya diri."

Mereka beradu pandang. Lama. Hingga akhirnya Mei Ling menunduk.

"Makasih, Chen." Suaranya bergetar. "Makasih sudah peduli."

Wei Chen tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, ada tekad yang mulai tumbuh.

Malam harinya, Wei Chen membaca buku-buku itu sampai matanya perih.

Banyak istilah asing. Qi. Meridian. Dantian. Inti Emas. Jiwa Lahir Baru. Tapi perlahan, dia mulai memahami polanya.

Kultivasi pada dasarnya adalah sistem — sistem pengolahan energi. Tubuh manusia punya jalur-jalur energi, dan kultivasi bertugas membersihkan dan memperkuat jalur itu.

Kutukan Mei Ling — menurut satu buku — adalah "penyumbatan" pada jalur energi keturunan. Bukan karena mereka tidak bisa kultivasi, tapi karena energi di jalur tertentu justru meracuni mereka seiring waktu.

Seperti akumulasi limbah dalam sistem, pikir Wei Chen. Kalau bisa dibersihkan secara teratur, mungkin kutukan itu bisa ditunda. Atau bahkan dihentikan.

Tapi buku itu tidak menjelaskan caranya.

Dia menghela napas. Meletakkan buku.

Di luar, bulan bersinar terang. Wei Chen keluar, duduk di beranda.

Mei Ling ada di sana, duduk sendiri.

"Tidak tidur?" tanyanya.

"Tidak bisa." Mei Ling menatap bulan. "Aku sering tidak bisa tidur kalau bulan purnama. Ibu bilang aku kebanyakan mimpi."

"Mimpi apa?"

"Tentang masa depan. Tentang... hal-hal yang tidak akan pernah kucapai."

Wei Chen duduk di sampingnya.

"Kau tahu, di tempat asalku, ada orang-orang yang hidup sampai 80, 90, bahkan 100 tahun. Dan mereka tetap tidak puas. Tetap merasa kurang."

Mei Ling menoleh. "Masa?"

"Iya. Mereka punya umur panjang, tapi tidak punya tujuan. Hidup hanya untuk hidup." Wei Chen menatap bulan. "Mungkin umur panjang tidak berarti kalau tidak diisi dengan sesuatu yang berarti."

Mei Ling diam. Lalu, "Jadi kau pikir umur pendek itu tidak masalah?"

"Bukan tidak masalah. Tapi mungkin... yang penting bukan berapa lama, tapi bagaimana menjalaninya."

Mei Ling tersenyum — senyum yang berbeda. Lebih tenang.

"Kau bijak, Chen. Untuk seusiamu."

Aku 40 tahun, pikir Wei Chen. Tapi tidak dia katakan.

Mereka diam. Menikmati malam.

Tiga hari kemudian, Wei Chen menemukan sesuatu.

Di salah satu buku tua, ada catatan pinggir — tulisan tangan yang sudah pudar. Bunyinya:

"Kutukan garis keturunan sering terkait dengan 'darah terkutuk' — energi negatif yang diwariskan. Cara satu-satunya: membersihkan darah itu dengan energi murni dari kultivator level tinggi. Atau dengan 'pil pemurni' yang dibuat dari bahan-bahan langka. Tapi tidak ada jaminan."

Wei Chen membaca ulang. Lalu membaca lagi.

Energi murni dari kultivator level tinggi. Pil pemurni dari bahan langka.

Dia tidak tahu apa itu pil pemurni. Tapi dia tahu tentang energi murni.

Di kultivasi, semakin tinggi level seseorang, semakin murni energinya. Level 1, 2, 3 — masih kasar. Level 4 ke atas — mulai murni. Level 7 ke atas — sangat murni.

Dan level tertinggi — level 9, Penakluk Takdir — katanya energinya bisa menyembuhkan apa saja.

Tapi level 9? Belum pernah ada yang mencapainya dalam 10.000 tahun.

Berarti harus lewat jalan lain.

Pil pemurni. Itu mungkin lebih realistis. Tapi bahan langka pasti mahal. Dan dia tidak punya uang.

Wei Chen memejamkan mata.

Kalau di bumi, aku bisa bangun perusahaan dari nol. Di sini, kenapa tidak?

Sebuah ide mulai terbentuk.

Malam harinya, saat kultivasi, Wei Chen bertanya pada Mei Ling.

"Mei Ling, di desa ini, orang jual beli apa?"

Mei Ling mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Mata pencaharian. Petani jual padi. Tukang kayu jual meja. Lalu uangnya dipakai beli kebutuhan lain."

"Oh." Mei Ling berpikir. "Padi, sayur, buah. Kadang anyaman bambu. Hasil hutan — kayu, rotan, madu. Itu yang biasa dijual ke kota."

"Kota terdekat di mana?"

"Timur. Naik gerobak setengah hari. Namanya Kota Rembang."

Wei Chen mengangguk. Mengingat.

"Kau pernah ke sana?"

"Pernah. Ikut Pak Harto jual padi." Dia tersenyum. "Kota ramai. Banyak toko, banyak orang. Aku suka."

Wei Chen diam. Memikirkan sesuatu.

"Chen... kenapa tanya-tanya ini?"

"Karena aku punya ide." Dia menatap Mei Ling. "Tapi masih terlalu pagi untuk bicara."

Mei Ling ingin bertanya lebih lanjut. Tapi Wei Chen sudah kembali memejamkan mata, berkultivasi.

Dia hanya bisa menghela napas dan mengikutinya.

Keesokan harinya, Wei Chen pergi ke rumah Pak Harto.

Pak Harto sedang duduk di beranda, minum teh. Melihat Wei Chen, dia mengangkat alis.

"Wei Chen? Ada perlu?"

"Pak Harto, aku mau tanya sesuatu."

"Duduk."

Wei Chen duduk. Langsung ke inti.

"Di desa ini, siapa yang paling sukses secara ekonomi?"

Pak Harto tertawa. "Langsung, ya." Dia berpikir. "Yang paling sukses? Mungkin Toke Wijaya. Dia punya toko di pasar, jual beli hasil tani. Dia juga punya sawah paling luas. Rumahnya paling besar di desa ini."

"Boleh aku kenalan?"

Pak Harto mengamatinya. "Kau mau jadi pedagang?"

"Mungkin."

Pak Harto diam. Lalu mengangguk.

"Nanti sore aku antar." Dia menyesap tehnya. "Tapi ingat, Toke Wijaya orangnya... licin. Hati-hati."

Wei Chen tersenyum tipis. Licin? Dia sudah berurusan dengan orang jauh lebih licin dari itu.

"Terima kasih, Pak Harto."

Sore harinya, Wei Chen dan Pak Harto pergi ke rumah Toke Wijaya.

Rumah itu memang besar — dua lantai, tembok bata, halaman luas. Di depan, beberapa gerobak terparkir, penuh dengan karung-karung.

Toke Wijaya — pria gemuk dengan kumis tebal — menerima mereka di ruang tamu.

"Pak Harto! Ada angin apa?" Suaranya keras, ramah di luar. Tapi matanya — matanya menghitung.

"Ini Wei Chen." Pak Harto menunjuk. "Anak muda baru di desa. Mau kenalan."

Toke Wijaya mengamati Wei Chen. "Muda. Tampan." Dia tersenyum. "Mau apa?"

Wei Chen langsung ke inti. "Mau belajar dagang."

Toke Wijaya tertawa. "Belajar dagang? Datang ke sini, minta ajar?"

"Bukan minta ajar gratis." Wei Chen mengeluarkan sesuatu dari sakunya — sebuah batu kecil yang dia temukan di sungai, tapi diasah sampai halus. "Ini. Untuk ganti."

Toke Wijaya mengambil batu itu. Memeriksanya. Matanya berbinar.

"Ini batu akik? Kualitas bagus."

"Bukan dagang, tapi contoh." Wei Chen menatapnya. "Aku tahu tempat-tempat yang punya batu seperti ini. Kalau kau ajar aku dagang, aku tunjukkan tempatnya."

Toke Wijaya diam. Lalu tertawa keras.

"Kau anak muda menarik!" Dia menepuk meja. "Setuju. Besok kau mulai kerja di tokoku."

Pak Harto terkejut. Melihat Wei Chen dengan rasa hormat baru.

Wei Chen hanya tersenyum tipis.

Langkah pertama.

Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.

Mei Ling terbelalak. "Kau... kau mau kerja di toko Toke Wijaya?"

"Iya."

"Tapi dia... dia terkenal licik. Banyak orang bilang dia suka curang."

"Karena itu aku mau belajar." Wei Chen menatapnya. "Curang itu juga ilmu. Kalau aku tahu ilmunya, aku bisa hindari atau gunakan."

Mei Ling menggeleng. "Kau benar-benar aneh."

"Sudah kubilang."

Mereka tertawa kecil. Lalu diam.

"Chen..." Mei Ling ragu. "Kau melakukan semua ini... untuk apa?"

Wei Chen menatapnya. Jujur.

"Untuk cari uang. Untuk cari bahan-bahan yang bisa sembuhkan kutukanmu."

Mei Ling membeku.

"Chen... kau serius?"

"Aku tidak pernah main-main soal ini."

Mei Ling menatapnya lama. Lalu, tanpa bicara, dia memeluk Wei Chen.

Wei Chen diam. Merasakan hangatnya.

"Aku tidak tahu harus bilang apa," bisik Mei Ling.

"Tidak usah bilang apa-apa."

Mereka berpelukan di bawah cahaya bulan. Dua insan yang terluka oleh takdir, saling menguatkan.

Dan di dalam hati Wei Chen, sesuatu tumbuh — sesuatu yang tidak pernah dia rasakan selama 40 tahun di bumi.

Mungkin ini yang disebut... cinta.

Tapi dia belum tahu.

Chapter 4 END.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!