NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Serikat Nusantara

Asap dari pelontar elektromagnetik di tebing Kendal akhirnya mendingin, meninggalkan bau logam terbakar yang menyengat. Jatmika berdiri di ruang pusat komunikasi, menatap tumpukan kabel yang berantakan. Kota Kendal masih gelap, namun di dalam kegelapan itu, sebuah kesadaran baru lahir. Rakyat tidak lagi hanya melihat Jatmika sebagai "Raden" atau "Insinyur", tapi sebagai perisai yang mampu melubangi kapal baja penjajah.

"Kita tidak bisa memenangkan perang ini hanya dari satu pelabuhan," Jatmika berbicara kepada Suro dan Yusuf di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip. "Inggris akan kembali dengan armada yang lebih besar dari India dan Singapura. Perancis akan membawa legiun mereka dari Indochina. Kita butuh sekutu. Kita butuh Federasi."

Jatmika mengambil sebuah alat yang telah ia sempurnakan: Telegraf Nirkabel Jarak Jauh (Long-range Spark Gap). Ia menggunakan antena raksasa yang memanfaatkan ketinggian pohon jati tertinggi di Kendeng untuk memantulkan gelombang elektromagnetik ke lapisan ionosfer—sebuah teknik Skywave Propagation yang seharusnya baru ditemukan puluhan tahun kemudian.

"Yusuf, kirimkan pesan ini dalam kode Morse ke arah barat menuju Kesultanan Aceh, dan ke selatan menuju Yogyakarta," perintah Jatmika.

Pesan itu singkat namun mengguncang: "Raksasa laut telah dilubangi di Kendal tanpa bubuk mesiu. Sains adalah kemerdekaan. Bergabunglah dengan Serikat Bayangan, atau tenggelam satu per satu dalam kegelapan kolonial."

Tiga hari kemudian, sebuah kapal kayu bercadik cepat merapat di dermaga Kendal. Penumpangnya bukan tentara, melainkan utusan rahasia dari Kesultanan Aceh yang membawa kabar tentang blokade Belanda yang semakin mencekik di Sumatera. Tak lama kemudian, utusan dari keraton Yogyakarta pun tiba, menyamar sebagai pedagang kain.

Pertemuan rahasia diadakan di dalam bunker beton bertulang Jatmika. Di atas meja, Jatmika tidak menyajikan makanan mewah, melainkan deretan Prototipe Senapan Laras Alur dan Baterai Sel Volta.

"Apa yang Anda tawarkan, Jatmika?" tanya Panglima Polem, utusan dari Aceh, dengan mata yang penuh selidik. "Kami punya keberanian, tapi mereka punya kapal uap yang bisa menembak dari balik cakrawala."

"Saya menawarkan Standarisasi," jawab Jatmika. Ia meletakkan sebuah senapan di depan sang Panglima. "Senapan ini bisa diproduksi oleh pandai besi mana pun di Aceh jika kalian mengikuti cetak biru saya. Pelurunya bisa mengenai sasaran sejauh lima ratus meter. Dan yang lebih penting, saya menawarkan Jaringan Informasi."

Jatmika menunjukkan peta Nusantara yang telah ia hubungkan dengan garis-garis imajiner. "Jika kita memasang pemancar nirkabel di setiap titik strategis, kita akan tahu pergerakan kapal Belanda sebelum mereka meninggalkan pelabuhan Batavia. Kita akan menyerang logistik mereka, bukan tentara mereka."

Namun, di tengah negosiasi itu, Kolonel Thorne melakukan langkah politik yang jauh lebih licik. Melalui agen-agen rahasianya, ia menyebarkan pamflet ke seluruh Jawa bahwa Jatmika adalah seorang "Iblis Barat" yang menggunakan sihir untuk mengutuk tanah Jawa. Thorne memanfaatkan kepercayaan tradisional rakyat untuk menciptakan perpecahan.

"Jatmika! Rakyat di luar kota mulai terpengaruh!" lapor Suro dengan panik. "Beberapa desa di selatan menolak mengirimkan pasokan pangan. Mereka bilang lampu listrikmu adalah mata mata-mata iblis yang akan mencuri jiwa anak-anak mereka!"

Jatmika terdiam. Inilah sisi gelap dari percepatan teknologi: Shock Budaya. Masyarakat yang belum siap menerima sains akan melihatnya sebagai klenik atau ancaman terhadap spiritualitas mereka.

"Aku tidak bisa melawan takhayul dengan rumus fisika," gumam Jatmika. "Aku harus menunjukkan bahwa teknologi ini adalah Kebaikan yang Nyata."

Jatmika segera mengubah fokus produksinya. Ia memerintahkan bengkel-bengkelnya untuk berhenti membuat peluru selama tiga hari. Sebagai gantinya, mereka memproduksi Pompa Air Listrik Portabel dan Lampu Karbit Pertanian.

Ia membawa peralatan itu ke desa-desa yang paling menentangnya. Di depan para petani yang ketakutan, Jatmika menyalakan pompa airnya. Air sungai naik dengan sendirinya menuju sawah-sawah yang kering akibat musim kemarau, tanpa perlu tenaga sapi atau manusia.

"Ini bukan sihir, Bapak-bapak," ucap Jatmika sambil memegang air yang mengalir jernih. "Ini adalah doa yang dijawab melalui akal. Tuhan memberikan kita sungai, dan Dia memberikan kita akal untuk memindahkan air ini ke sawah kalian. Apakah air yang mengairi padi kalian ini adalah iblis?"

Para petani tertegun. Mereka menyentuh air itu, merasakan dingin dan nyatanya manfaat yang dibawa. Perlahan, pamflet Thorne menjadi tidak relevan di depan kenyataan perut yang kenyang dan sawah yang hijau.

Sementara itu, di Singapura, Kolonel Thorne bertemu dengan perwakilan pemerintah Inggris dan Perancis. Mereka tidak lagi meremehkan Jatmika.

"Kita akan melakukan Blokade Total," ucap Thorne. "Tidak ada garam, tidak ada tembaga, dan tidak ada bahan kimia yang boleh masuk ke Jawa Tengah. Kita akan membiarkan 'Republik' kecil ini membusuk dari dalam karena kekurangan bahan baku."

Thorne juga menyiapkan senjata rahasianya: sekelompok ilmuwan dari universitas di Eropa yang dibawa khusus untuk membedah cara kerja "senjata magnetik" Jatmika. Mereka membawa Kabel Telegraf Bawah Laut yang akan menghubungkan Batavia langsung ke London, memastikan koordinasi perang tanpa celah.

Jatmika, yang mendeteksi aktivitas elektromagnetik aneh di kabel bawah laut melalui sensor induksinya, menyadari bahwa musuhnya kini bukan lagi sekadar tentara, melainkan Institusi Sains Global.

"Mereka mengepung kita dengan kabel," kata Jatmika pada Yusuf. "Maka kita akan memotong kabel mereka dari bawah laut. Suro, siapkan proyek Kura-Kura Baja."

Jatmika mulai merancang Kapal Selam Primitif pertama di dunia—sebuah tabung baja tertutup yang digerakkan oleh motor listrik dan tangki udara bertekanan, yang dirancang khusus untuk memotong kabel telegraf bawah laut musuh dan menanam ranjau di bawah kapal perang yang sedang berlabuh.

Perang ini kini memasuki dimensi baru: Perang Bawah Air.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!