Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adanya penyusup
"B-baik,"
Anubis mengangguk patuh berjalan menuntun, diikuti puluhan siluman yang masih diam penuh tanda tanya.
Sampai akhirnya mata mereka terpukau oleh pemandangan kebun penuh bunga yang Sura cipatakan.
"A-apa ini? Bunga tumbuh di dalam istana?"
"Bagaimana bisa? Ditengah miasma sebanyak ini..."
"Anubis! Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" sontak Tetua menuntut penjelasan,
Dengan susah payah Anubis mencegah berita ini keluar dan mengancam para pelayan untuk tetap diam.
Tak disangka reaksi mereka seperti menemukan emas di tumpukan pasir,
"Padahal cuma hiasan busuk yang tak ada gunanya!" cibir Anubis bersuara lirih,
"Dia-lah yang menumbuhkan semua tanaman ini." tegas Raja menunjuk manusia yang berdiri di belakang mereka,
"Hehe..." Sura tersenyum kikuk saat puluhan mata menatap padanya.
Para siluman itu mulai berbisik, setengah dari mereka tampak ragu lalu yang lain hanya diam tak berkomentar.
"Anu---sihir apa yang kamu gunakan?" celetuk Tapu antusias,
Siluman berkacamata dalam wujud tupai besar setinggi manusia, merupakan menteri istana yang bertugas mengatur ketersediaan bahan pangan.
"Aku hanya menggunakan sihir ruang dan berkebun di dalamnya."
Siluman lain terkejut, langsung memastikan kembali sihir tipis bercahaya yang terbangun disekeliling tanaman.
"Memang benar, ini mirip dengan sihir tadi..."
"Jadi benar manusia itu yang melakukannya?"
Raja tersenyum melihat keributan disana, raut di wajah mereka tak lagi merendahkan, tatapannya justru menunjuk pada kekaguman.
Namun perubahan mereka justru menimbulkan kebencian bagi beberapa pihak,
"Apa kamu bisa mengajariku, sihir pembatas yang kamu gunakan tadi?" ucap Tapu penuh harap,
"Aku sudah sering membuat ramuan penyubur tanah. Aku juga menyuntikkan hormon pada benih tanaman...tapi tidak ada yang berhasil,"
"Ternyata ada siluman pintar sepertinya?" batin Sura tercengang,
Terkejut mendengar penelitian yang telah tupai itu lakukan. Suntik hormon memang tak bisa berhasil tanpa adanya percobaan, orang yang takut gagal tak mungkin mau mencobanya lagi,
"Ng...? Tapi aku tak tahu apa aku bisa mengajarinya? Gambaran sihir itu muncul begitu saja di kepalaku," batin Sura sambil tersenyum kikuk.
"Aku juga mau! Bisa tolong ajarkan kepadaku?"
"Aku juga. Aku ingin menghadiahkannya pada istriku...tolong ajarkan cara menanamnya,"
Beberapa dari mereka tak ragu mendekat, berbincang penuh semangat sampai membuat Sura kewalahan.
"Tu-tunggu! Aku butuh ruang untuk menjelaskan!"
"Pft..." Raja tertawa lega,
Sejenak mengingat bagaimana Sura menyemangatinya untuk mencoba jadi penguasa yang membawa perdamaian.
Mungkin pemandangan di depannya adalah langkah awal dari perjuangan.
1 jam berlalu,
Pertemuan berakhir begitu saja, tanpa ada kejelasan yang pasti tentang pertandingan tadi. Sura justru disibukkan mengurus beberapa siluman yang tertarik meneliti tanaman,
Setelah lama berbincang, akhirnya Sura berhasil keluar dari gerombolan dengan langkah tertatih-tatih.
"Arghh...ini lebih melelahkan dari pertarungan tadi."
Sura menganga merasakan energi di tubuhnya tersedot habis, wajahnya tampak pucat, dengan raut lesu melewati lorong istana.
"Kamu terlihat seperti mayat hidup, Sura!" ejek Kelelawar bertengger rapi di kedua bahu,
"Kalian habis dari mana?" jawab Sura dengan nafas tersenggal,
"Saat pertandingan, aku sama sekali tidak melihat kalian..."
"Iya, Raja tadi menyuruh kami berjaga di luar istana. Katanya ada penyusup yang berhasil melewati perbatasan,"
"Penyusup? Terus bagaimana? Apa sudah ketemu?" tanya Sura langsung berdiri tegak,
"Tidak. Aku tidak menemukan apapun," Kele menggeleng singkat.
"Aku juga. Sepertinya manusia itu belum sampai ke istana,"
"Kalian berdua!" pekik Raja dari kejauhan,
Berjalan mendekat, menghampiri siluman kalong yang telah lama dicari. Dengan alis bertaut Raja menatap mereka,
"Hih!" keduanya bergidik ngeri, reflek menyembunyikan diri di balik lengan kekar Sura.
"Bukannya pergi menemuiku, kalian malah asik disini!"
"M-maaf, ka-kami baru---saja-sampai..."
"Bantulah kami," bisik Lawar memohon bantuan.
"Ng...aku tidak sengaja berpapasan dengan mereka, kebetulan aku mau menemuimu jadi---"
"Jangan alasan! Aku tahu kalian berdua berbohong." ketus Raja membulatkan mata,
"A-ampun Raja. Kami janji tidak akan mengulanginya!"
Mereka panik langsung terbang mendarat, bersimpuh di atas telapak kaki sang Raja.
"Eh?! Sudah-sudah, jangan berlebihan!"
Raja tertekan melihat perbuatan mereka. Padahal hanya sedikit teguran tapi kenapa setakut itu...
Mungkinkah nada dan wajahnya sangat menakutkan?
Sebelumnya dia tak pernah mengurus hal semacam ini, tapi entah mengapa Raja penasaran tentang anggapan Sura.
Matanya melirik ragu berusaha memastikan, seakan takut kalau Sura menganggapnya sebagai wanita pemarah.
"Ng...?" alis Sura terangkat, menatap dengan raut polos.
Raja reflek membuang muka, "A-aku hanya ingin bertanya, apa kalian menemukan sesuatu?"
"Kami sudah mengawasi seluruh sudut istana, tapi belum menemukan apapun."
"Kalian yakin?" Raja mengernyit,
"Kami yakin, Raja!"
"Kalau begitu pergilah. Teruskan pencarian...kali ini laporkan dulu kepadaku sebelum mampir ke TEMPAT LAIN." ancam Raja tersenyum kaku,
Taring tajamnya membuat mereka takut, mengira Raja sedang mengerang seakan siap menelan mereka bulat-bulat.
"Hihh...Baik!"
Keduanya terbang melesat, seketika menghilang dari pandangan.
"Ada apa?" Sura bertanya lirih,
Raja terkejut, padahal dia sudah bersikap tenang, lalu bagaimana manusia itu tahu tentang kegelisahan yang sedang dia rasakan.
"Mm...aku baru saja dapat laporan, dua penjaga ditemukan pingsan dengan panah racun di tubuh mereka."
"Untung saja, racunnya tidak mematikan bagi bangsa siluman. Hanya membuat kami tertidur selama beberapa hari,"
"Apa mungkin, semacam obat bius?" batin Sura, dibuat penasaran.
Kira-kira siapakah orang gila yang berani memasuki kandang singa?
"Selama ini, belum pernah ada yang berhasil menyusup." bergumam lirih,
"Setelah melihatmu, aku jadi tahu kalau bangsa manusia sudah semakin berkembang. Penyusup itu pasti masih disini...entah apa alasannya kemari,"
"Belum ada korban, padahal dia bisa membunuh 2 pengawal itu. Apa ini semacam peringatan?" menatap dengan raut gelisah,
"Bagaimana kalau bangsa manusia, mulai menuntut balas dan menyerang kerajaan siluman?"
"Tenang saja. Itu tidak akan terjadi," sanggah Sura menenangkan.
Tangannya terulur meraih tangan Raja. Digenggamnya erat sambil menepuk lembut,
Puk...Puk...
Sura yakin bangsa manusia tidak akan menyerang dengan cara seceroboh itu. Setelah masuk ke dunia ini, Sura selalu menggali informasi.
Bisa dibilang wilayah manusia tak lebih baik dari kerajaan siluman. Perbudakan, penindasan, penggolongan kasta, bahkan rakyat miskin juga ada dimana-mana,
Raja mereka juga dipilih dari keturunan, dan kali ini wilayah manusia dipimpin oleh Raja mesum yang suka berganti-ganti wanita.
Ingatan tubuh asli, memperlihatkan bahwa dirinya pernah melayani Raja dan dipaksa bermain dengan 5 selirnya sambil menahan cambukan.
"Lagipula aku bukan dari dunia ini. Pengetahuan dan kekuatanku...sepertinya belum ada manusia lain yang memilikinya," Sura bergumam dalam hati.
Kembali melirik Raja yang masih bungkam. Mungkin ucapan tadi belum cukup,
"..." Sura mengernyit, mengerahkan seluruh otaknya.
"Oh iya, semalam aku memikirkan sebuah nama untukmu!"
"Nama?" Raja menoleh,
"Iya, aku menemukan nama yang pas untukmu." angguk Sura mulai berbisik, "Areel---"
"Artinya adalah singa tuhan yang cantik jelita."