NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: MENCARI TETUA

Tiga minggu sejak Yehwa pergi.

Tiga minggu terasa seperti tiga tahun bagi Yun-seo.

Setiap pagi ia bangun dengan harapan melihat Yehwa sudah kembali. Setiap malam ia tidur dengan memeluk hoodie-nya—satu-satunya peninggalan dari dunia lama yang masih tersisa—dan membayangkan kehangatan Yehwa di sampingnya.

Cheol-soo mulai khawatir. "Hyung, kau kurusan. Makan yang bener."

"Aku makan kok."

"Makan dikit, terus diem aja. Ini nggak sehat."

Yun-seo hanya tersenyum getir. Ia tidak bisa cerita pada Cheol-soo—tentang Yehwa, tentang misi, tentang semuanya. Sahabatnya itu polos dan baik hati, tapi belum siap menerima kenyataan bahwa istrinya adalah ratu iblis.

Kim Jung-soo, si jenius kacamata, juga memperhatikan. "Yun-seo, kau tahu? Dalam buku psikologi persilatan kuno, orang yang terlalu memikirkan seseorang bisa mengalami 'penyakit rindu'—gejalanya susah makan, susah tidur, berat badan turun."

Yun-seo meliriknya. "Ada buku psikologi di dunia persilatan?"

"Banyak. Para pendekar juga manusia, punya perasaan."

Park Mu-jin, si raksasa baik hati, menepuk pundaknya. "Kalau rindu istri, ya kunjungi. Masa diem aja?"

Yun-seo menghela napas. "Dia urusan keluarga. Nggak bisa diganggu."

Tiga sahabatnya itu saling pandang, lalu mengangguk paham. Mereka tidak tahu detailnya, tapi mendukung Yun-seo sebisanya.

---

Sementara itu, di Pegunungan Es, Yehwa sedang berjuang bertahan hidup.

Pegunungan Es terletak di ujung utara Murim, wilayah yang tidak pernah tersentuh manusia. Salju abadi, angin membekukan, dan binatang buas berkeliaran di mana-mana.

Yehwa telah tiga hari mendaki, mencari jejak Tetua Kelima. Informasi dari Seo Jung-won hanya samar—gua di lereng timur, dekat puncak tertinggi. Tapi di tengah badai salju, semua terlihat sama.

Malam ketiga, ia hampir mati kedinginan. Tubuhnya menggigil, pedang di tangannya terasa berat. Kekuatan 50% cukup untuk bertahan, tapi tidak untuk melawan alam.

Saat hampir pingsan, ia melihat cahaya di kejauhan. Gua.

Ia memaksakan diri berjalan. Setiap langkah terasa seperti mil. Tapi akhirnya, ia tiba di mulut gua.

Di dalam, seorang wanita tua duduk di depan api unggun. Rambutnya putih, wajahnya keriput, tapi matanya tajam—tajam seperti elang.

"Akhirnya kau datang," kata wanita itu tanpa menoleh. "Aku sudah menunggu 500 tahun, Yang Mulia."

Yehwa jatuh berlutut, kelelahan. "Tetua Kelima..."

Wanita itu bangkit, mendekat. Tangannya yang keriput menyentuh wajah Yehwa.

"Kau sangat mirip ibumu," bisiknya. "Mari, Yang Mulia. Istirahat. Besok kita bicara."

Yehwa mengangguk lemah, lalu pingsan.

---

Dua hari kemudian, Yehwa sadar dengan tubuh lebih segar.

Tetua Kelima—nama asli Hwang Eun-young—merawatnya dengan ramuan-ramuan khas iblis. Di dalam gua yang sederhana, tersembunyi peradaban kecil: rak buku, tempat tidur, dapur, bahkan taman kecil di sudut yang diterangi cahaya batu bercahaya.

"Aku tinggal di sini sejak melarikan diri," jelas Eun-young. "Tidak ada manusia atau iblis yang mencari. Aman."

Yehwa menceritakan semuanya—tentang pengkhianatan Lilian, tentang Penguasa Kegelapan, tentang Yun-seo, tentang pusaka-pusaka yang sudah didapat. Eun-young mendengarkan dengan saksama.

"Jadi kau sudah punya tiga pusaka," gumamnya. "Mahkota Iblis, Pedang Naga Iblis, Mahkota Naga Iblis. Tinggal empat lagi."

"Tapi aku tidak tahu di mana yang lain."

Eun-young tersenyum. "Aku tahu."

Yehwa menegang. "Kau tahu?"

"Aku tetua tertua setelah Hwang Cheol-soo. Aku tahu semua rahasia Dinasti Iblis." Eun-young bangkit, mengambil gulungan kuno dari rak. "Pusaka keempat—Cincin Kekaisaran—ada di dasar Laut Timur, dijaga oleh Naga Laut. Pusaka kelima—Baju Zirah Iblis—tersimpan di Kuil Matahari, markas sekte manusia. Pusaka keenam—Tombak Seribu Jiwa—ada di dimensi lain, hanya bisa dibuka dengan kunci khusus. Dan pusaka ketujuh—Mahkota Kegelapan—ada di tangan Lilian."

Yehwa mengerutkan kening. "Lilian punya satu?"

"Dia curi dari istana sebelum kabur. Itu sebabnya ia percaya diri."

Yehwa mengepalkan tangan. "Aku harus rebut."

"Tapi tidak sekarang. Kau belum cukup kuat." Eun-young menatapnya tajam. "50% kekuatan tidak cukup lawan Lilian yang punya pusaka dan pasukan. Kau perlu setidaknya 80%."

"Bagaimana caranya?"

"Kumpulkan pusaka lain. Mulai dari yang paling mudah." Eun-young menunjuk peta. "Laut Timur. Cincin Kekaisaran."

Yehwa mengangguk. "Aku akan ke sana."

"Tidak sendirian. Kau butuh teman." Eun-young tersenyum misterius. "Panggil manusia dari dunia lain itu. Cincinnya bisa membantumu melawan Naga Laut."

Yehwa membayangkan Yun-seo. Jantungnya berdebar—rindu yang selama ini ia tahan kini meluap.

"Aku akan panggil dia."

---

Di akademi, Yun-seo sedang berlatih sendiri saat cincinnya tiba-tiba bersinar.

Bukan merah—tapi biru, seperti yang belum pernah ia lihat. Dan di kepalanya, suara Yehwa terdengar.

"Yun-seo... aku butuh kau. Datanglah."

Ia tertegun. Telepati? Yehwa bisa lakukan itu?

Tanpa pikir panjang, ia berlari ke perpustakaan, mencari Seo Jung-won. Asisten guru itu sedang membaca, tapi begitu melihat ekspresi Yun-seo, ia langsung tahu ada yang serius.

"Aku harus pergi. Yehwa butuh aku."

Seo Jung-won menghela napas. "Aku atur cuti darurat. Bilang urusan keluarga."

"Cheol-soo?"

"Aku urus. Pergi."

Yun-seo mengangguk, berlari keluar. Di belakang, Seo Jung-won tersenyum tipis.

"Semoga berhasil, kawan."

---

Tiga hari kemudian, Yun-seo tiba di Pegunungan Es.

Ia hampir mati kedinginan, kudanya tidak bisa lanjut. Tapi saat hampir menyerah, Yehwa muncul dari balik badai salju, sayapnya terkembang melindungi dari angin.

"Kau datang," bisiknya.

Yun-seo tersenyum, bibir membiru. "Janji... bareng-bareng..."

Yehwa memeluknya erat, membawanya terbang ke gua.

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!