Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Hujan Darah Beku di Pelataran
Kabut pagi di Puncak Awan Berkabut biasanya membawa aroma pinus yang menyegarkan. Namun pagi ini, udara di pelataran kediaman Li Jian terasa berat dan amis, seolah badai kematian sedang tertahan di ambang pintu.
Pintu kayu kediaman Li Jian berderit pelan saat didorong terbuka. Ia melangkah keluar dengan mengenakan jubah putih bersih yang baru, rambut hitamnya diikat rapi ke belakang. Gerhana terbungkus kain hitam bersandar diam di punggungnya.
Di pelatarannya, lima belas murid Sekte Dalam berseragam Fraksi Zhao telah berdiri membentuk formasi kepungan. Semuanya berada di Kondensasi Qi Tingkat Lima, dipimpin oleh seorang pemuda jangkung bertampang bengis yang memancarkan aura Tingkat Enam puncak. Namanya Han Lin, tangan kanan utama Zhao Tian.
"Kupikir kau akan bersembunyi di bawah tempat tidurmu sampai mati kelaparan, Li Jian," kekeh Han Lin. Ia mencabut sebilah golok bergerigi yang memancarkan panas api tingkat rendah. "Kakak Zhao sangat bermurah hati. Jika kau menghancurkan Dantian-mu sendiri dan menyerahkan semua poin kontribusimu, kami akan membiarkanmu hidup sebagai pelayan rendahan."
Li Jian berdiri di undakan teras, menatap kelima belas orang itu seperti menatap hamparan ilalang liar yang menunggu untuk ditebas.
"Formasi Pengunci Suara dan Penahan Aura?" gumam Li Jian, melirik pilar-pilar cahaya tipis yang mengelilingi pelatarannya. Fraksi Zhao rupanya telah memasang formasi isolasi agar pembantaian ini tidak terdeteksi oleh para Tetua sekte.
"Mereka menggali kuburan mereka sendiri," tawa Yueyin mengalun merdu di dalam lautan kesadaran Li Jian. Nada suaranya dipenuhi arogansi yang memabukkan. "Di dalam jangkauan formasi ini, kau tidak perlu menyembunyikan Qi-mu, bocah. Perlihatkan pada mereka wujud asli dari cairan perakmu."
Li Jian menyeringai tipis. "Kalian sangat penuh perhitungan," ucapnya dingin. "Terima kasih telah menutupi tempat ini. Aku baru saja menerobos, dan aku butuh samsak yang tidak akan memancing perhatian Tetua."
Wajah Han Lin menggelap karena amarah. "Sombong! Bunuh sampah ini, potong anggota tubuhnya!"
Empat murid Tingkat Lima menerjang maju serentak dari empat arah yang berbeda. Pedang dan tombak mereka memancarkan Qi yang tajam, menargetkan titik-titik vital Li Jian.
Namun, Li Jian tidak mundur, tidak pula menghindar. Ia bahkan tidak repot-repot menarik Gerhana dari punggungnya.
Ia hanya mengangkat kaki kanannya, lalu menghentakkannya ke tanah batu giok pelataran.
"Domain Es Cermin Bintang: Embun Kematian."
WUSSS!
Ledakan Qi perak berbentuk cairan meletus dari Dantian-nya, menyapu pelataran seperti gelombang tsunami yang tak kasat mata. Suhu udara anjlok hingga puluhan derajat di bawah nol dalam sekejap mata. Kelembapan pagi membeku menjadi ribuan jarum es yang melayang di udara.
Keempat murid yang sedang melayang di udara itu mendadak kaku. Aura Qi fana mereka hancur seketika saat berbenturan dengan cairan Qi perak Li Jian. Hawa dingin absolut menembus pori-pori, membekukan darah, kinh-kinh meridian, dan organ dalam mereka sebelum senjata mereka sempat menyentuh sehelai rambut pun dari jubah Li Jian.
Prang! Prang! Prang! Prang!
Keempat murid itu jatuh ke lantai batu giok, namun tidak terdengar suara daging berdebum. Tubuh mereka hancur berkeping-keping menjadi bongkahan es berwarna merah kehitaman, pecah seperti patung kaca yang dijatuhkan dari tebing.
Keheningan yang mencekik seketika menyelimuti pelataran.
Sebelas murid yang tersisa, termasuk Han Lin, membelalakkan mata dengan kengerian yang membuat kewarasan mereka di ambang kehancuran. Napas mereka memburu, mengeluarkan uap tebal.
"T... Tingkat Lima?! Cairan Qi murni?!" jerit salah satu murid dengan suara pecah. "B-Bukan! Aura itu melampaui Tingkat Enam! Monster apa dia?!"
"Lari! Formasi ini menjebak kita bersamanya! Hancurkan formasinya!" teriak murid yang lain, berbalik dengan panik dan menyerang batas cahaya formasi mereka sendiri.
Namun terlambat. Li Jian telah menghilang dari tempatnya berdiri.
Seni Langkah Bintang Jatuh di Tingkat Lima membuat pergerakannya melebihi kecepatan suara. Ia bukan lagi ilusi; ia adalah manifestasi dari angin badai musim dingin.
Brak! Krak!
Li Jian muncul di belakang dua murid yang sedang mencoba menghancurkan formasi. Tangannya yang dilapisi Qi perak menembus dada mereka seakan menembus kertas basah, mencengkeram jantung mereka, dan membekukannya dalam satu detak. Keduanya tewas seketika tanpa sempat menjerit.
Dalam lima tarikan napas berikutnya, pelataran itu berubah menjadi rumah jagal. Li Jian tidak menggunakan teknik bela diri yang rumit. Ia menggunakan dominasi mutlak dari kekuatan fisik dan kemurnian Seni Bintang Pemakan Langit. Setiap pukulan, setiap tendangan, membuat tubuh musuhnya meledak menjadi serpihan es darah.
Gaun putih ilusi Yueyin berkibar di dalam giok. Ia mengamati pembantaian itu dengan tatapan memuja yang dingin. Pemuda fana ini menari di atas darah musuhnya dengan keanggunan seorang iblis.
Kini, hanya tersisa Han Lin.
Pemuda jangkung yang beberapa menit lalu begitu arogan itu kini jatuh terduduk di tengah genangan darah yang membeku. Pedangnya terlepas dari genggaman. Seluruh pasukannya telah berubah menjadi puing-puing es dalam waktu kurang dari satu batang dupa.
Li Jian berjalan pelan menghampirinya. Sepatu botnya menginjak serpihan es darah dengan suara krak, krak yang berirama bagai lonceng kematian.
"Kau... kau tidak bisa membunuhku..." rintih Han Lin, air mata ketakutan bercampur ingus mengalir di wajahnya. "Kakak Zhao adalah jenius Sekte Dalam... Tetua menyukainya..."
Li Jian berhenti tepat di hadapan Han Lin. Ia menunduk, menatapnya dengan kekosongan yang membekukan jiwa.
"Kakak Zhao-mu itu bersembunyi di balik pion-pion sepertimu karena dia pengecut," bisik Li Jian, suaranya sedatar permukaan danau es. Ia mengangkat tangannya, meraih leher Han Lin, dan mengangkat pria jangkung itu dari tanah hanya dengan satu tangan.
Han Lin meronta, mencekik tangan Li Jian, namun hawa dingin mulai merambat ke rahangnya, membuatnya tak bisa bersuara.
"Aku akan membiarkanmu hidup cukup lama untuk menyampaikan pesanku," ucap Li Jian. Ia mengalirkan secercah Qi Yin ke dalam tubuh Han Lin—tidak cukup untuk membunuhnya, namun cukup untuk menghancurkan dan membekukan seluruh meridian di tubuhnya secara permanen.
Han Lin menjerit tertahan saat kultivasinya dihancurkan hingga ke akar-akarnya. Ia kini lebih cacat dari manusia biasa.
Li Jian melempar tubuh Han Lin yang kejang-kejang itu menabrak pilar formasi.
"Beri tahu Zhao Tian. Aku memberinya waktu hingga matahari berada di atas kepala esok hari. Temui aku di Arena Keadilan untuk Duel Hidup dan Mati. Jika dia menolak hadir..." Li Jian menyeringai, sebuah senyuman yang sangat kejam. "...aku yang akan memburu dan memenggal kepalanya di depan seluruh sekte."
Li Jian memutar tubuhnya, menjentikkan jarinya. Hawa dingin meledak, menghancurkan formasi pengisolasi ruang tersebut berkeping-keping. Udara segar kembali masuk ke pelataran, membawa serta bau darah yang langsung menyebar ditiup angin Puncak Awan Berkabut.
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏