Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Darah di Tangan Sendiri
Kota masih berasap dan penuh reruntuhan saat Raka berdiri di tengah jalan. Aroma logam terbakar dan debu bercampur dengan udara malam. Cahaya biru Alpha menyelimuti tubuhnya, namun aura itu terasa lebih berat dari biasanya. Setiap detak jantungnya berdenyut kencang, menandakan energi Alpha yang menuntut konsentrasi penuh.
Di sekelilingnya, suara makhluk Eclipse terdengar dari reruntuhan. Warga yang selamat masih panik, beberapa bersembunyi di gedung yang tersisa. Kayla duduk di sisi jalan, bahu terbalut perban darurat yang dibuat Damar. Matanya menatap Raka dengan cemas.
“Rak… kau terlihat berbeda,” Kayla berseru pelan. “Seperti… sesuatu ada di pikiranmu.”
Raka menatap kota yang retak di depannya. Napasnya berat. “Aku harus mengakui… ini lebih dari sekadar pertarungan fisik. Setiap makhluk yang jatuh… setiap reruntuhan yang kubuat… ada nyawa yang mungkin terluka. Darah itu… seakan menempel di tanganku.”
Damar berdiri di samping mereka, matanya tajam. “Kau merasa bersalah, Rak? Kau sudah melakukan segalanya untuk melindungi mereka. Tidak semua bisa diselamatkan.”
Raka menggeleng. “Tidak, ini lebih dari itu. Aku melihat warga yang terluka karena seranganku… bukan hanya makhluk Eclipse. Setiap pukulan energi Alpha, setiap ledakan yang kubuat… mereka membahayakan orang-orang yang ada di sekitarku. Aku merasa… berdosa.”
Kayla meraih tangannya, menatap lurus ke mata Raka. “Rak… kau melindungi kota ini dengan nyawamu sendiri. Kalau bukan karena keberanianmu, lebih banyak yang akan mati. Darah yang kau lihat… bukan kesalahanmu. Itu konsekuensi perang.”
Raka menunduk, menahan aura biru yang berkedip tidak stabil. “Tapi… aku tidak bisa menahan rasa bersalah ini. Bagaimana aku bisa tetap memimpin Helios jika aku terus merasakan ini setiap kali ada yang terluka?”
Damar menepuk pundaknya. “Itulah harga menjadi pemimpin, Rak. Tapi rasa bersalahmu juga yang membuatmu berhati-hati dan bijaksana. Alpha-mu bukan hanya kekuatan fisik—tapi kemampuan untuk menanggung tanggung jawab ini.”
Pertempuran Mendadak
Tiba-tiba, makhluk Eclipse muncul dari sisi jalan, lebih besar dan lebih agresif. Raka mengangkat tangan, cahaya biru Alpha menyala lebih terang, membentuk perisai energi besar.
Makhluk itu menyerang, menghantam perisai dengan kekuatan penuh. Gelombang kejut membuat jalanan bergetar dan puing-puing beterbangan. Raka menahan napas, menyalurkan seluruh konsentrasi untuk mempertahankan energi Alpha.
Kayla menahan tubuhnya agar tidak terserang, sambil menatap Raka. “Rak… jangan terlalu dipaksakan! Kau tidak bisa menahan semuanya sendiri!”
Raka menggigit bibir. “Aku… harus. Kalau aku mundur, kota ini… warga ini…”
Ledakan energi biru meledak, menghancurkan makhluk itu menjadi serpihan cahaya. Gelombang energi menghantam reruntuhan di sekeliling, membuat beberapa dinding gedung roboh. Warga yang bersembunyi tersentak, beberapa terluka ringan.
Raka menunduk, menatap reruntuhan. “Darah ini… di tanganku. Aku harus bertanggung jawab. Aku harus lebih berhati-hati.”
Kesadaran Moral
Kayla maju pelan, menepuk bahunya. “Rak… kau tidak sendiri. Kita semua ada di sini bersamamu. Setiap keputusanmu untuk bertahan, untuk menyerang… itu demi mereka. Bukan kesalahanmu kalau ada yang terluka. Kau harus percaya pada dirimu sendiri.”
Raka menutup mata sejenak, menenangkan aura Alpha yang berkedip. Ia menarik napas panjang, menyadari bahwa rasa bersalahnya bukan kelemahan—tapi tanda kepedulian dan tanggung jawab yang luar biasa.
Damar menambahkan, “Ini juga pelajaran. Kadang, menjadi Alpha berarti mengambil risiko dan menghadapi konsekuensi. Darah yang kau lihat bukan milikmu… tapi pengingat bahwa kau berjuang untuk melindungi kota ini.”
Raka membuka mata, cahaya Alpha di tubuhnya kini stabil dan penuh kendali. “Kau benar… aku tidak akan terjebak oleh rasa bersalah. Aku harus bangkit, untuk mereka semua.”
Akhir Bab
Malam menutup kota yang terluka, namun cahaya biru Alpha Raka tetap menyala terang. Ia menatap reruntuhan, warga yang selamat, dan langit yang gelap.
“Darah di tangan sendiri… aku akan menjadikannya kekuatan, bukan beban,” gumamnya.
Kayla menggenggam tangannya. “Bersama kita bisa menghadapi apapun, Rak.”
Damar mengangguk. “Ini baru permulaan. Arc 2 masih panjang, dan kota ini membutuhkan kita.”
Cahaya biru Alpha Raka menjadi simbol perlawanan yang lebih matang—seorang pahlawan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan, tapi juga hati dan tanggung jawab.