Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekar's past history
Sugeng, Sekar, Isna dan nenek Ratmi mengobrol di ruang tamu rumah itu.
Sekar menceritakan kehidupan pahitnya sebelum berpisah dengan Hendro.
Setelah kelahiran Isna hubungan rumah tangga Sekar dan Hendro baik baik saja, bahkan bisa di bilang semakin bahagia. Hingga ketika Isna kelas satu SD hendak naik kelas dua, Sekar yang ingin berusaha membuat keluarganya baik baik saja justru membuat semuanya menjadi berantakan.
Ujian menghampiri keluarga kecil yang bahagia itu, yang hakekatnya manusia tak akan pernah luput dari ujian.
Saat itu Sekar merasa bersalah menjadi seorang istri, kasusnya sama seperti Linda namun sedikit berbeda.
Setelah melahirkan Isna, Sekar mengalami nifas yang berkepanjangan, pinggulnya terasa sakit dan nyeri. Ia mengalami menstruasi yang tidak umum. Itu berlangsung selama 3 bulan. Ia yang baru pertama kali melahirkan menganggap hal ini biasa yang di alami oleh seorang wanita setelah melahirkan.. tetapi kondisinya semakin memburuk, hingga ia sampai di rawat di rumah sakit.
Disitulah Dokter memberitahu bahwa Sekar mengalami infeksi di rahimnya dan perlu tindakan histerektomi atau pengangkatan rahim yang di lakukan untuk mengobati kondisi medis tertentu yang mempengaruhi rahim. Beberapa kondisi itu yang menyebabkan rahim Sekar harus di angkat demi menyelamatkan nyawanya.
Pilihan sulit itu terpaksa Sekar ambil, suaminya kala itu menguatkannya dan tidak masalah tentang hal itu, toh mereka sudah memiliki satu anak yaitu Isna..
Setelah itu kehidupan mereka kembali normal seperti biasanya..
Di ketahui bahwa suami Sekar bekerja di Pabrik gula, pengolahan tebu. Pulang satu minggu sekali di sabtu sore.
Sekar meliat kebahagiaan di wajah suaminya pudar, dahulu setiap suaminya pulang seminggu sekali, ia akan bermain dengan Isna dan menggendong Isna, mengajak Isna jalan jalan dengan sepeda motor. Isna kian besar dan bermain dengan teman sebayanya di desa itu.
Setiap suaminya pulang Sekar berusaha bersikap seceria mungkin mengajak ngobrol suaminya dan mencoba bercanda dengannya.. hari berganti hari, sekar semakin kasihan melihat suaminya setiap pulang hanya duduk minum kopi dan termenung seperti laki laki yang kehilangan jiwa dan kebahagianya.
Di bulan maret tahun itu, semuanya berawal. Suaminya pulang dalam keadaan seperti itu. Diam tanpa ruh kebahagiaan, ia hanya memeluk Isna yang tidur sambil memeluk bonekanya.
Malam itu mereka berdua duduk di teras rumah menatap bulan yang menggantung di langit.
"Makin hari makin sepi ya mas? Isna udah gede." Ucap Sekar membuka obrolan.
Suaminya hanya diam, menatap langit sembar menghembuskan asap rokok yang tersapu udara di depannya.
"Yang penting kamu sama Isna sehat, mas udah seneng dek. Gak usah mikirin mas.. oh ya dek, kamu hemat ya. Mas di pecat.. sampe mas dapet kerja lagi kamu yang hemat pake duit."
"Di.. di pecat mas? Kok bisa mas?"
"Hufff... biasalah dek, persaingan dunia kerja. Ada satu temen devisi yang ngga suka dan cari muka sama supervisor. Mungkin dia jelek jelekin mamas."
"Jahat banget orang itu! Sama sama cari makan kok kayak begitu!"
"Orang beda beda sifatnya dek, Biarin aja pasti nanti di ganti sama rejeki lain. Kamu doain aja mas cepet dapet kerja. Mas udah tanya tanya temen soal kerjaan. Ada dek di pabrik singkong tapi agak jauh. Mas udah cek kontrakan di sana tapi mahal banget. Ada kpr juga di peruntukan untuk karyawan. Kayak kpr dari PT gitu sedangkan temen mamas udah ngga ada pengangkatan karyawan. Sekarang sistem kontrak kerja pertahun." Jelas suaminya Sekar.
"Ngga ada mes (tempat tinggal pekerja) di PT itu mas?"
"Ada tapi untuk HL (harian lepas) isinya bujang bujang dek, gak ada yang untuk sudah berkeluarga, tapi khusus mas bisa karena ada kenalan mas di sana. Satu mes bisa di isi 5-10 pekerja. Sekolah di daerah sana juga jauh banget, harus pake motor.. gimana sama sekolah Isna?"
Sekar diam tertunduk lemas...
"Terus gimana mas?"
"Ya mas ngga tau, makanya mas cerita ke kamu. Gimana pendapat kamu? Apa mas kerja di sana aja dari pada nyari nyari kerjaan yang belum tentu cepet dapatnya. Mas tinggal di mes kamu tetap di sini aja sama Isna. Tapi mas pulang seminggu sekali kayaknya berat dek, gajiannya 10 hari sekali dan lebih kecil. Gimana dek?"
"Lebih kecil mas? Jauh banget lagi.. terus kapan mas pulangnya? Kasihan Isna hubungan mas sama Isna bisa asing dan saling diem dieman karena dia ngerasa mas ngga sayang."
"Iya dek jauh, capek mas pulang perginya. Soal Isna ngga papa dek, biarin aja dia mau anggap bapaknya kayak gimana, mas ngga masalah, asal dia sehat dan bisa makan. Pulangnya mas usahain dua minggu sekali..."
"Be.. berapa gajiannya mas?"
"760 ribu/10 hari Dek."
"Hah? Kecil banget itu mas... hitungannya hampir dua minggu, soalnya minggu libur. Udah jauh lebih kecil lagi mas. Aku bukannya nggak bersyukur mas, aku kasihan sama mamas itu jauh mas. Belum biaya hidup mas di sana. Hidupku sama Isna di sini. Apa cukup mas? Dua minggu itu lama loh mas. Mas mau ngasih nafkah aku berapa? 500? Ya itu cukup mas buat 10 hari. Tapi mamasnya gimana? Emang mas gak butuh makan juga di sana? Itu cuma sisa 260 ribu. Bensin, rokok, sama makan mamas gimana?" Tanya Sekar khawatir.
Suaminya hanya bisa menunduk diam tak berkomentar, ia begitu tertekan dan bingung. Yang di ucapkan istrinya memang benar, tetapi sebagai suami ia tidak memiliki pilihan lain. Menganggur menunggu pekerjaan bukanlah solusi menurutnya.
"Mas kasih kamu 600 dek. Nanti mas cari rokok dari lemburan." Jawab suaminya.
Sekar hanya bisa menelan ludah dengan mata berkaca kaca, ia begitu sedih melihat keadaan suaminya saat itu.
Diam diam Sekar berinisiatif meringankan beban suaminya, ia membantu tetangganya menjadi MUA. Sekar kerap membantunya setiap ada acara hajatan yang memakai jasa MUAnya itu. Sekalian ia ingin belajar merias.
Suatu hari di sebuah acara hajatan, bagian MUA di minta untuk menyumbangkan lagu oleh MC acara tersebut, Sekar yang memang bisa menyanyi pun tampil.. tak di sangka banyak yang menyukai gaya Sekar bernyanyi. Semenjak saat itu Sekar kerap mendapatkan panggilan menjadi penyanyi di sebuah acara hajatan.
Sekar menceritakan semuanya kepada suaminya dan suaminya tak keberatan selama acara itu bertajuk campur sari, mungkin menurut suaminya lagu lagu dan pakaian penyanyi campur sari lebih sopan dengan kebaya dan tak ada sawer menyawer.
Sekar pun menurut dengan suaminya... tetapi kehidupan tak semulus yang ia bayangkan.