NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA DI BALIK JERUJI

Aris segera pergi meninggalkan Hafiz kemudian menghilang di balik lorong yang gelap, meninggalkan kesunyian yang mencekam di antara jeruji besi. Hafiz kembali ke sudut selnya, mencoba mengabaikan tatapan lapar dari empat pria yang masih mengawasinya seperti singa mengincar mangsa.

"Siniin amplopnya, Bos. Jangan pelit lah sama temen baru," suara pria bertato ular itu kembali terdengar, lebih serak dan menuntut.

Hafiz tidak bergeming, ia menyisipkan amplop itu ke dalam lipatan baju kokonya, tepat di atas jantungnya. "Ini bukan uang. Ini cuma surat dari keluarga."

"Keluarga ya? Manis banget," pria itu melangkah maju, tangannya yang besar mencoba meraih kerah baju Hafiz.

Hafiz dengan cepat berkelit, berdiri dengan sisa-sisa wibawa CEO-nya yang dulu. "Saya bilang, ini bukan uang. Kalau kalian mau masalah dengan petugas karena merusak properti tahanan, silakan coba."

Mata Hafiz yang tajam dan tenang membuat pria itu ragu sejenak. Biasanya, penghuni baru akan gemetar ketakutan, tapi pria di depannya ini memiliki ketegasan yang aneh, sesuatu yang lahir dari ketenangan masjid.

Malam semakin larut di dalam sel tahanan sementara itu. Lampu neon di koridor berkedip-kedip, menciptakan suasana horor yang membuat bulu kuduk berdiri.

Hafiz menunggu hingga teman-teman selnya tertidur lelap, atau setidaknya pura-pura tidur. Dengan gerakan sangat perlahan, ia mengeluarkan isi amplop cokelat itu di bawah cahaya lampu koridor yang remang-remang.

Bukan surat biasa. Di tangannya kini terdapat sebuah buku catatan kecil bersampul kulit warna cokelat tua yang sudah agak usang, namun terasa sangat kokoh.

Hafiz membuka halaman pertama. Di sana, tertempel sebuah foto kecil. Foto Zahra yang sedang tersenyum tipis di depan teras masjid, mengenakan kerudung putih yang sederhana namun memancarkan cahaya.

Di bawah foto itu, ada tulisan tangan yang rapi dan sangat feminin:

> "Untuk Mas Hafiz. Alif tetaplah tegak meski badai menerjang. Jangan biarkan jeruji ini memenjarakan hatimu yang mulai suci."

>

Hafiz merasakan tenggorokannya tercekat. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menetes tepat di atas tulisan itu.

Ia membuka halaman demi halaman berikutnya. Ternyata, itu bukan sekadar buku catatan kosong.

Zahra telah menuliskan ringkasan pelajaran Iqra satu hingga enam dengan tangannya sendiri. Ada gambar huruf-huruf Arab yang besar dan jelas, lengkap dengan tanda bacanya dan cara pengucapannya dalam bahasa Indonesia.

"Ini Alif, Mas. Ingat? Seperti niat Mas pagi tadi. Tegak lurus hanya kepada-Nya," tulis Zahra di samping huruf Alif yang digambarnya dengan sangat teliti.

Hafiz mengusap huruf itu dengan ibu jarinya yang masih kasar akibat luka lecet menyapu. Ia merasa Zahra seolah sedang duduk di sampingnya, membimbingnya lewat tulisan-tulisan itu di tengah kegelapan penjara.

Hafiz tidak bisa berhenti membolak-balik halaman buku itu. Zahra tidak hanya menuliskan pelajaran mengaji.

Di sela-sela pelajaran huruf, Zahra menuliskan kata-kata penyemangat yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits tentang kesabaran.

"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita," tulis Zahra di halaman tengah, mengutip sebuah ayat yang membuat dada Hafiz terasa lapang seketika.

Ia merasa seolah-olah Tuhan sedang berbicara kepadanya lewat jemari Zahra. Buku catatan kecil itu menjadi senjata yang jauh lebih kuat daripada pengacara manapun di dunia ini.

Hafiz mulai mengikuti bentuk huruf Ba dan Ta dengan jarinya di atas kertas, mengulang-ulang bunyinya dalam bisikan yang nyaris tak terdengar.

"Masih mau jadi ustadz di sini, Bos?" sebuah suara berat tiba-tiba menginterupsi.

Hafiz tersentak dan segera menutup buku catatan itu. Pria bertato ular itu ternyata belum tidur; ia bersandar di tembok, memperhatikan Hafiz dari balik bayang-bayang.

"Belajar itu nggak kenal tempat," jawab Hafiz singkat sembari menyimpan bukunya kembali.

Pria itu mendekat, tapi kali ini gerakannya tidak agresif. Ia duduk di samping Hafiz, menatap jeruji besi dengan pandangan kosong.

"Gue udah di sini tiga bulan. Kasus begal," gumam pria itu tiba-tiba. "Nggak ada yang kirimin gue buku atau surat. Boro-boro foto cewek cantik."

Hafiz menoleh sejenak. "Mungkin karena lu belum mau jujur sama diri lu sendiri."

Pria itu terkekeh getir. "Jujur? Di sini kalau jujur malah bonyok, Bos."

Hafiz menarik napas panjang. Ancaman itu nyata, tapi ketakutannya entah kenapa sudah jauh berkurang.

"Gue nggak takut sama Robi. Gue lebih takut kalau gue mati sebelum sempet bisa baca kitab ini dengan bener," ucap Hafiz sembari menepuk sakunya yang berisi buku dari Zahra.

Pria bertato itu menatap Hafiz dengan heran. "Lu beneran CEO yang di berita itu? Kok lu beda banget sama yang dibilang netizen?"

"Orang cuma liat apa yang mau mereka liat. Sama kayak lu, orang cuma liat tato ular di leher lu, bukan apa yang ada di hati lu," sahut Hafiz tenang.

Suasana di sel itu mendadak jadi canggung. Pria bertato itu tidak membalas lagi, ia hanya kembali ke tempat tidurnya dan memunggungi Hafiz.

Tapi, sebelum ia memejamkan mata, ia bergumam kecil, "Hati-hati besok pagi. Ada sipir yang dibayar Robi. Jangan makan sarapan lu."

Hafiz tertegun. Kebaikan kecil muncul di tempat yang paling tidak terduga.

Pagi buta, suara pintu besi yang dibuka paksa mengejutkan seluruh penghuni sel. Hafiz langsung terjaga, tangannya secara refleks memegang buku catatan Zahra di balik bajunya.

"Hafiz Alamsyah! Keluar!" perintah seorang petugas dengan wajah dingin yang tidak ia kenal.

Hafiz berdiri, menatap pria bertato ular itu sejenak yang memberinya kode lewat kedipan mata.

"Mau dibawa ke mana, Pak?" tanya Hafiz tenang sembari merapikan baju kokonya.

"Ruang interogasi tambahan. Ada bukti baru yang masuk dari pihak Robi Kusuma," jawab petugas itu sembari menarik lengan Hafiz kasar.

Hafiz diseret melewati lorong-lorong penjara yang masih sepi. Namun, ia tidak dibawa ke ruang interogasi semalam.

Ia dibawa ke sebuah ruangan di pojok gedung yang lampunya mati. Bau lembap dan aroma logam berkarat tercium kuat di sana.

Petugas itu mendorong Hafiz ke dalam dan segera mengunci pintu dari luar. Di dalam ruangan gelap itu, sudah menunggu dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian preman.

"Selamat pagi, Bos Hafiz," sapa salah satu dari mereka sembari memainkan sebuah pisau lipat.

Hafiz mundur, namun punggungnya menabrak tembok. "Siapa kalian? Polisi nggak mungkin ijinin orang sipil masuk ke sini."

"Duit Robi bisa buka pintu mana aja, Bos. Termasuk pintu neraka buat lu," pria itu tertawa sinis.

Mereka mulai mendekat. Salah satu dari mereka melayangkan pukulan keras ke arah perut Hafiz.

Hafiz tersungkur, rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi, di tengah rasa sakit itu, tangannya masih mendekap erat buku catatan dari Zahra di balik dadanya.

"Serahin berkas atau rahasia aset yang lu simpen, atau buku kecil ini bakal jadi bantal terakhir lu," gertak pria itu sembari merogoh saku baju Hafiz.

Hafiz menahan tangan pria itu dengan sisa tenaganya. "Gue nggak punya apa-apa lagi!"

"Bohong!"

Bugh! Pukulan kedua mendarat di rahang Hafiz, membuat sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.

Hafiz terbaring di lantai, pandangannya mulai kabur. Di tengah rasa sakitnya, ia melihat buku catatan Zahra terjatuh dari balik bajunya dan tergeletak di lantai yang kotor.

"Oh, apa ini? Jimat?" salah satu pria itu hendak menginjak buku cokelat tersebut.

"Jangan... jangan sentuh itu!" teriak Hafiz dengan sisa suaranya. Ia tidak peduli jika harus dipukuli, tapi ia tidak rela hadiah suci dari Zahra dinodai.

Tepat saat pria itu hendak menginjak buku tersebut, suara pintu ruangan didobrak dengan keras dari luar.

"Angkat tangan! Jangan bergerak!" teriak suara yang sangat Hafiz kenali.

Aris masuk bersama beberapa petugas provos bersenjata lengkap. Cahaya senter menyambar wajah kedua preman itu yang langsung pucat pasi.

"Amankan mereka! Dan panggil ambulans!" perintah Aris dengan nada tinggi.

Aris segera berlari menghampiri Hafiz yang terkapar. Ia memungut buku catatan cokelat itu dengan hati-hati dan membersihkannya dari debu sebelum menyerahkannya kembali pada Hafiz.

"Mas Hafiz? Mas nggak apa-apa?" Aris tampak sangat panik melihat kondisi Hafiz.

Hafiz terbatuk, mengeluarkan sisa darah di mulutnya. Ia menerima buku itu, memeluknya erat, dan tersenyum tipis meski wajahnya babak belur.

"Saya nggak apa-apa, Pak Aris. Alif... Alif saya masih tegak," bisik Hafiz lemah sebelum pandangannya menjadi gelap sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!