NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 10

Mobil Porsche itu membelah jalanan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu jalan. Di dalam kabin yang kedap suara,

Aria mencoba menata napasnya yang masih memburu. Matanya melirik ke arah Sasha yang dengan lihai memindahkan gigi dan mengendalikan kemudi, seolah mobil sport itu adalah bagian dari tubuhnya sendiri.

"Kau... kau membawa mobil secepat ini, memangnya kau punya SIM?" tanya Aria, mencoba mengalihkan rasa ngeri yang masih tersisa dari insiden di gang tadi. "Kita masih kelas tiga, Sasha."

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, Sasha merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah kartu plastik ke pangkuan Aria.

Aria memungutnya dan memperhatikannya di bawah temaram lampu dasbor. Itu benar-benar Surat Izin Mengemudi yang sah. Di sana terpampang foto Sasha dengan ekspresi wajah yang sangat tengil—menyeringai tipis dengan tatapan mata yang seolah menantang dunia.

Aria terpaku sejenak melihat foto itu sebelum mengembalikan kartu tersebut ke atas dasbor. "Ternyata kau benar-benar mempersiapkan segalanya untuk menjadi berandalan yang legal," gumam Aria pelan.

"Di mana alamatmu? Biar aku antar sampai depan pintu," tanya Sasha tanpa memedulikan sindiran Aria.

"Tidak perlu. Turunkan saja aku di depan terminal bus itu," jawab Aria cepat.

Sasha mendengus, ia justru menambah kecepatan. "Jangan membantah. Anggap saja ini layanan antar jemput khusus. Aku juga sekalian mau pulang lewat arah sana. Cepat, sebutkan saja."

Aria menghela napas kalah. "Perumahan Melati Indah, Blok C Nomor 14. Di daerah pinggiran dekat pasar induk."

Sasha memutar kemudi menuju alamat yang disebutkan.

Keheningan kembali menyelimuti mereka sebelum Sasha memecahnya dengan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di kepalanya. "Jadi... kau benar-benar bekerja paruh waktu di restoran itu setiap hari?"

Aria menatap ke luar jendela. "Iya. Setelah jam sekolah selesai."

"Padahal kau sekolah di sekolah elite seperti Garuda Bangsa," lanjut Sasha dengan nada heran. "Maksudku, kebanyakan anak di sana hanya tahu cara menghabiskan uang orang tua mereka, tapi kau—"

"Aku mendapat beasiswa penuh di sana," potong Aria cepat, suaranya terdengar kaku namun bangga.

"Aku tidak punya kemewahan seperti kalian. Dan mengenai jabatanku sebagai Ketua OSIS serta Ketua Kelas... itu bukan sekadar gelar. Itu akan memberiku pengalaman manajemen yang kuat untuk portofolio universitas nanti. Aku melakukan keduanya karena aku harus sukses, Sasha. Aku tidak punya pilihan lain."

Sasha hanya mengangguk pelan. Ia tidak memberikan komentar sinis, tidak juga memberikan simpati.

Ia hanya terdiam, mencerna kenyataan bahwa gadis yang selama ini ia anggap sebagai 'robot sekolah' ternyata memikul beban yang jauh lebih berat daripada sekadar tugas matematika.

Beberapa menit kemudian, mobil mewah itu berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil berlantai dua yang sangat sederhana.

Pagar besinya sedikit berkarat, namun tanaman di halamannya tertata sangat rapi. Perbedaan antara Porsche abu-abu metalik itu dengan lingkungan sekitar terasa sangat mencolok.

Aria segera membuka pintu dan turun. Ia berdiri di samping jendela mobil, menatap Sasha dengan tatapan dinginnya yang kembali pulih.

"Aku tidak akan mengucapkan terima kasih untuk semua ini," ujar Aria tegas. "Karena pada dasarnya aku tidak pernah meminta bantuanmu, baik di restoran maupun di gang tadi. Dan jangan pikir ini akan mengubah caraku memperlakukanmu di sekolah. Besok, aku tetap akan menagih tugas fisikamu."

Sasha hanya menatapnya datar, lalu menyunggingkan senyum miring yang tipis. "Sama-sama, Tuan Putri. Tidurlah yang nyenyak, besok jangan sampai telat bekerja lagi."

Aria membalikkan badan dan berjalan masuk ke rumahnya tanpa menoleh lagi. Sasha terdiam sejenak di depan rumah itu, menatap lampu kamar di lantai dua yang baru saja menyala.

Ia kemudian menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu mobilnya pulang menuju istananya yang luas namun sepi.

Malam itu, di dua tempat yang berbeda, benang takdir antara sang Ketua OSIS dan sang berandalan mulai terjalin lebih rumit dari yang pernah mereka bayangkan.

----

Pagi itu, sinar matahari baru saja menyapu aspal jalanan menuju SMA Garuda Bangsa. Sasha Arka berjalan kaki dengan santai, kedua tangannya tenggelam di saku seragamnya yang tidak terkancing sempurna.

Meskipun di garasi rumahnya berderet mobil mewah yang siap mengantarnya kapan saja, ia sedang malas berurusan dengan supir atau kebisingan mesin.

Ia lebih memilih berjalan kaki, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya.

Namun, langkahnya terhenti saat melewati sebuah halte bus yang agak sepi.

Ia melihat seorang siswi berseragam SMA Garuda Bangsa sedang dikepung oleh dua siswa dari **SMA Rajawali**, sekolah yang memang dikenal memiliki reputasi buruk.

Kedua siswa itu, **Doni** dan **tangan kanannya**, tampak sedang menggoda siswi tersebut dengan kata-kata cabul sambil sesekali mencoba menarik tasnya.

"Ini masih pagi, kenapa pula kalian sudah cabul di sini?" suara Sasha menggelegar dingin, memecah ketakutan siswi tersebut.

Doni menoleh dengan wajah garang. "Hoi, siapa kau? Berani sekali mencampuri urusan kami! Cari mati?"

Sasha melangkah maju tanpa ragu, tatapannya tajam dan menusuk. Namun, sebelum Doni sempat melakukan gerakan apa pun, temannya menarik lengannya dengan gemetar.

"Don, tunggu! Dia... dia Sasha Arka dari Garuda Bangsa! Berandalan yang menghajar tiga puluh orang sendirian itu!" bisik temannya dengan nada ketakutan yang nyata.

Wajah Doni seketika pucat pasi. Tanpa sepatah kata pun lagi, mereka berdua langsung mengambil langkah seribu, lari terbirit-birit menjauh dari sana seolah-olah baru saja melihat malaikat maut.

Sasha menghela napas malas, lalu menoleh ke arah siswi yang tadi ketakutan. "Kau tidak apa-apa?"

Siswi itu mengangguk pelan, matanya masih berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Kak. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Kakak tidak datang."

"Sudahlah, tidak apa-apa. Ayo jalan, sudah hampir bel," ajak Sasha singkat.

Siswi itu berjalan di samping Sasha, mencoba mensejajarkan langkah. "Namaku **Indah**, dari kelas 3-2. Kakak sangat keren tadi."

"Sasha. Kelas 3-1," jawab Sasha singkat tanpa menoleh. Meski singkat, perkenalan itu terasa hangat bagi Indah. Mereka berjalan bersama hingga mencapai gerbang utama sekolah yang megah.

---

Di depan gerbang, suasana mendadak mencekam. Aria Putri berdiri tegak dengan buku catatan di tangan, matanya menyapu setiap murid yang masuk.

Ini adalah hari razia atribut lengkap. Saat Sasha berjalan melewati gerbang dengan senyum miring yang sinis, ia pikir ia sudah aman.

"Berhenti di sana, Sasha Arka," suara Aria terdengar seperti vonis hakim.

Sasha menghentikan langkahnya, memutar bola matanya malas. "Ada apa lagi? Lihat, aku memakai rok sekarang, baju sekolahku juga ada. Tidak melanggar aturan, bukan? Aku bahkan tidak memakai celana hari ini."

Aria melangkah mendekat, matanya menatap Sasha dari atas ke bawah dengan tatapan penuh kedisiplinan. "Benar, kau memakai rok. Tapi di mana jas almamater dan dasimu?"

Sasha mengerutkan kening, tampak bingung secara tulus. "Hah? Memangnya sekolah ini punya hal seperti itu? Kau jangan mengada-ada, Aria."

Aria menghela napas panjang, lalu ia menggunakan tangannya untuk menunjuk ke arah kerumunan murid yang sedang berjalan masuk. "Kau punya mata, kan? Lihat mereka semua."

Sasha menoleh dan baru menyadari pemandangan yang selama ini tidak pernah ia perhatikan.

Ratusan murid berjalan masuk dengan rapi; mereka semua mengenakan jas biru tua dengan logo sekolah yang mengkilap di dada kiri, serta dasi merah marun yang terpasang sempurna di kerah baju mereka.

Hanya Sasha yang berdiri di sana dengan kemeja putih yang sedikit lecek dan tanpa atribut tambahan apa pun.

"Selama tiga tahun kau di sini, apa kau pikir jas dan dasi itu hanya hiasan di gudang?" tanya Aria dengan nada sarkastik yang tajam. "Masuk ke barisan pelanggaran sekarang. Kau tidak boleh masuk kelas sebelum atributmu lengkap."

Sasha terdiam membeku di tengah gerbang, baru menyadari bahwa selama ini ia benar-benar hidup di dunianya sendiri sampai-sampai tidak tahu seragam resmi sekolahnya sendiri.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!