Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Solusi pamit Pergi makarya( atau bekerja)
Suasana langit malam sedang cerah, suara jangkrik terdengar samar di kejauhan. Aku dan Mas Yadi duduk di kursi rotan balkon sambil memegang gelas minuman hangat.
Mas Yadi sedang menyesap kopinya, memandang kedepan lalu ia membuka percakapan terlebih dulu.
"Gimana? Jadi sudah bulat tekadmu mau berangkat merantau?" Ujarnya sambil melirik kearahku
"Iya, Mas. Kayaknya memang harus sekarang. Aku pengen cari pengalaman baru, pengen tahu rasanya mandiri di kota orang." Mas yadi terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan lalu
"Merantau itu nggak cuma soal cari uang atau kerja, sih. Itu sekolah kehidupan yang paling keras. Kamu bakal ketemu banyak jenis orang, ngerasain kangen rumah yang luar biasa, sampai belajar ngatur duit biar nggak habis di tengah bulan." Aku mengangguk
"Itu dia yang bikin aku agak deg-degan, Mas. Takut nggak bisa betah disana."
"Wajar kalau takut. Tapi inget, rumah ini selalu terbuka kalau kamu capek. Yang penting di sana nanti, jaga diri baik-baik, jangan lepas ibadah, dan cari lingkungan yang positif. Mas percaya kamu bisa kok, kamu kan anak yang tangguh." Ucapnya sambil menepuk pelan bahuku. Aku tersenyum setelah mendapatkan respon baik dari kakakku
"Makasih ya, Mas, dukungannya. Doain biar di sana lancar semua."
Mas Yadi: "Pasti. Jangan lupa sering-sering kasih kabar, jangan pas butuh duit aja baru telepon," Mas Yadi terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana yang mulai haru. Berbeda dengan heni dan salman selaku kedua orang tuanya, yang sedang asyik mengobrol diruang tamu lalu.
Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah, dan suara pintu pagar dibuka. Setelah memakirkan mobil adi dan tiya serta menggendong anaknya, mereka juga disambut hangat oleh Mamak, dan Bapak yang memang sudah menunggu didepan pintu.
Mamak: "Alhamdulillah, sudah sampai toh? Gimana perjalanannya, Di? Capek banget ya?"
Adi: "Iya, Mak. Lumayan macet tadi dari bandara, tapi untung selamat sampai rumah."
Bapak: "Rendy sudah tidur ya, Tiya? Sini biar Bapak bantu bawa tasnya."
Tiya: "Sudah tidur pulas di mobil tadi, Pak. Ini Tiya mau taruh Rendy ke kamar dulu ya sebentar. Oh iya, si Kakak sama Mas Yadi mana, Mak? Kok nggak kelihatan?"
Mamak: "Itu, lagi di balkon atas dari tadi. Kayaknya lagi ngobrol serius berdua, mending kamu susul sana kalau sudah selesai taruh Rendy."
Tiya pun mengangguk lalu membawa rendy kelantai atas, kemudian disusul oleh suaminya dari belakang. Beberapa saat kemudian, setelah memastikan Rendy nyaman di tempat tidurnya, Tiya melangkah naik ke balkon dan memecah suasana sunyi di antara kamu dan Mas Yadi.
Tiya: "Wah, asyik banget nih dua orang ini. Ngobrol serius banget kayaknya sampai suara mobil masuk nggak kedengeran!" Ujarnya aku dan mas pun menoleh kearah pintu.
"Oalah... pantesan di bawah sepi, ternyata pusat rapatnya ada di sini toh?" Sambung adi dari balik punggung istrinya.
"Eh, udah sampai kalian? Gimana perjalanannya? Lancar jemput Adi?" Tanyaku pada tiya
Adi menyalami Mas Yadi dan aku bergantian "Lancar, tapi macetnya itu lho bikin betek. Kayaknya semua orang lagi turun ke jalan malam ini. Padahal cuma dinas tiga hari tapi rasanya kayak sebulan."
Mas Yadi: "Namanya juga baru kangen-kangenan, Di. Duduk sini, minum dulu. Kita lagi bahas si adek nih, yang katanya mau belajar jadi anak rantau."
Tiya: Langsung duduk di sampingku, wajahnya berubah serius tapi perhatian
"Oh, jadi benar mau berangkat? Kirain kemarin cuma rencana aja. Jadi ambil yang ke luar kota itu?"
"Jadi, Tiya. Tadi lagi minta wejangan sama Mas Yadi." Jawabku
Adi: "Wah, bagus itu. Mumpung masih muda, hajar aja dulu. Yang penting di sana nanti pinter-pinter jaga kesehatan. Pengalaman aku dinas kemarin aja, kalau badan drop di tempat orang itu rasanya nggak enak banget."
Tiya: "Iya, jangan kayak Mas Adi, telat makan dikit langsung asam lambung. Tapi beneran nih, kalau kamu berangkat, rumah makin sepi dong ya? Nanti nggak ada lagi yang aku jailin tiap pagi."
Mas Yadi: "Makanya, malam ini kita puas-puasin ngobrol. Jarang-jarang kan kita kumpul lengkap gini?"
Aku merendahkan suara, menatap Mas Yadi, Tiya, dan Adi secara bergantian dengan serius. Mereka yang mengetaui gerak gerikku pun ikut menatapku dengan serius
"Tapi mas, Ti, Di... ada satu hal lagi yang paling penting. Tolong banget, jangan sampai Mamak sama Bapak tahu kalau aku perginya jauh sampai terbang pakai pesawat." Kataku sambil meremas remas jemariku karna gugup.
Tiya yang mendengarnya agak kaget "Loh, terus kalau Mamak tanya? Mbak kerja di mana?. Kami jawab apa?"
"Bilang aja aku kerja di daerah Ungaran atau paling jauh Ambarawa. Pokoknya daerah sini-sini aja yang masih bisa dijangkau. Aku belum siap lihat Mamak kepikiran atau Bapak jadi nggak tenang kalau tahu anak perempuannya merantau jauh ke luar pulau." Jawabku
Mas Yadi mengangguk paham
"Oh, jadi kamu mau rahasiain dulu soal lokasi kamu dimana? Mas ngerti sih, Mamak kan orangnya perasa banget. Kalau tahu kamu jauh, mungkin tiap malam bakal ditungguin di depan pintu."
Adi: "Iya Kak, saya setuju. Kadang untuk kebaikan, kita memang harus mengatur informasi. Kalau Mamak tahunya mbak cuma di Ungaran, hatinya bakal jauh lebih tenang. Yang penting mbak di sana jaga diri baik-baik."
"Iya, Di. Makanya besok pas aku berangkat pagi-pagi, jangan ada yang keceplosan soal bandara atau tiket pesawat ya. Bilang aja aku berangkat bareng Puji teman lamaku, dan mau ngelamar ke tempat kerja baru di arah Ungaran."
Tiya: "Tapi Kak, nanti kalau Mamak pengen main ke tempat kerja Kakak gimana? Atau kalau Mamak tiba-tiba minta Kakak pulang pas hari Minggu?"
"Nanti aku cari alasan, bilang kalau di mess nggak boleh sembarangan orang masuk, atau kerjanya lagi lembur terus. Intinya, aku pengen mereka tenang dulu di masa awal aku merintis ini. Biar aku fokus cari uang tanpa rasa bersalah ninggalin mereka jauh-jauh." Usulku
Mas Yadi: "Oke, rahasia aman. Mas, Tiya, sama Adi bakal tutup mulut. Pokoknya di depan Mamak sama Bapak, mbakmu ini cuma kerja di tetangga kecamatan, bukan di luar pulau." Katanya sambil tersenyum, aku pun mengangguk mengiyakan.
"Pokoknya kalian tenang saja, jangan ada yang mendahului berbicara sama mamak. Nanti biar aku sendiri aja yang kabari Mamak sama Bapak kalau aku sudah benar-benar sampai di lokasi." Ujarku
Mas Yadi: "Maksudmu, nanti kamu bakal langsung jujur pas sudah sampai di sana?"
"Iya, tapi nunggu waktu yang pas. Mungkin setelah aku dapet mess atau setelah mulai kerja satu-dua hari. Biar pas aku telepon dan bilang kalau aku sebenarnya di luar pulau, aku bisa sekalian bilang: 'Mamak jangan khawatir, ini buktinya aku sudah sampai, sudah makan, dan tempat kerjanya bagus'. Kalau aku bilang sekarang sebelum berangkat, yang ada malah aku nggak dibolehin pergi." Kataku sambil memanyunkan bibir 5 senti
Tiya: "Bener juga sih mbak. Kalau sudah sampai kan Mamak nggak bisa narik mbak pulang lagi saat itu juga. Pasti beliau cuma bisa mendoakan." Sahut tiya
"Nah, itu dia. Jadi, tugas kalian sekarang cuma satu: bantu aku jaga rahasia besok pagi. Kalau aku sudah kasih tanda atau sudah telepon mereka dari sana, baru kalian boleh ikut bicara soal ini."
Adi: "Siap mbak!?. Kami dukung dari sini. Memang lebih bagus kalau mbak sendiri yang jelasin langsung ke orang tua, supaya suaranya kedengeran tenang dan nggak bikin mereka panik."
"Makasih ya semuanya. Aku merasa lebih aman begini. Aku nggak mau berangkat dengan perasaan tertekan gara-gara harus debat sama Mamak. Biarlah besok mereka melepas aku dengan tenang, tahunya aku cuma kerja di dekat sini."
Mas Yadi: "Ya sudah, janji ya? Langsung kabari kami begitu sampai. Biar kami yang di sini juga nggak ikutan 'senam jantung' nunggu kabar dari kamu." Ucapnya terkekeh
"Pasti Mas. Kabar pertama pasti ke grup kita dulu, Sekarang, ayo kita masuk. Aku harus nabung tenaga buat sandiwara besok pagi sekaligus buat perjalanan jauh nanti."
Tiya: "Ayo mbak! Semangat ya pejuang rahasiaku!" Semua pun terkekeh akhirnya semua masuk kekamar masing-masing..
Bersambung...