NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: RAHASIA GUA NEKMESE

Mulut Gua Nekmese tampak seperti rahang raksasa yang menganga, hitam dan dingin di bawah cahaya bulan yang pucat. Bagi warga Oetimu, tempat ini adalah Su’u—tempat keramat yang dihuni oleh roh-roh penjaga air yang tidak boleh diganggu. Namun bagi Jonatan, gua ini adalah harapan terakhir yang tersisa di tengah kepungan segel kuning pemerintah.

Jonatan menarik napas panjang, menyesuaikan ranselnya yang terasa semakin berat oleh tumpukan kabel, sensor ultrasonik, dan pompa rendam (submersible) kecil yang ia ambil dari bengkel secara sembunyi-sembunyi lewat pintu belakang. Ia menyalakan senter kepalanya. Cahaya putih tajam membelah kegelapan, memperlihatkan stalaktit yang meneteskan air dengan irama yang konstan, seolah detak jantung bumi yang sedang menunggu.

"Jon, kau gila?" suara bisikan Matheus terdengar dari belakang. Pemuda itu akhirnya menyusul, meski tubuhnya masih gemetar karena rasa takut yang tertanam sejak kecil tentang gua ini. "Kalau Tuan Markus tahu kita di sini, kita bukan cuma dipenjara, tapi kita bisa dikutuk nenek moyang."

"Kutuk yang sebenarnya adalah membiarkan anak-anak kita minum air parit besok pagi, Theus," jawab Jonatan tanpa menoleh. "Bantu aku bawa gulungan selang ini. Kita harus sampai ke titik sump terdalam sebelum fajar."

Mereka merangkak melewati lorong-lorong sempit yang licin dan berlumut. Udara di dalam gua semakin tipis, digantikan oleh aroma tanah basah dan kotoran kelelawar yang menyengat. Jonatan terus menatap layar tabletnya yang memuat pemetaan Ground Penetrating Radar (GPR) yang pernah ia kerjakan sebagai skripsi. Ia tahu, di bawah lapisan batu gamping ini, mengalir sungai bawah tanah yang tidak akan pernah terpengaruh oleh penyegelan di atas bukit.

Setelah hampir satu jam berjuang melawan gravitasi dan kegelapan, mereka sampai di sebuah ruangan besar. Cahaya senter Jonatan menyapu permukaan air yang sangat tenang, bening seperti kaca, namun memiliki kedalaman yang tak terduga. Ini adalah jantung air Nekmese.

"Theus, pasang pasaknya di sini. Kita akan pakai sistem siphon darurat," instruksi Jonatan cepat. Tangannya mulai bekerja dengan cekatan, menyambung kabel-kabel ke baterai litium portabel.

Sementara itu, di permukaan bumi, situasi tidak kalah mencekam. Di balai desa, massa mulai berkumpul. Hasutan dari grup WhatsApp dan provokasi orang-orang Tuan Markus mulai membuahkan hasil. Warga yang haus mulai kehilangan akal sehat.

"Di mana Jonatan? Kenapa dia sembunyi?!" teriak seorang pemuda yang biasanya menjadi tangan kanan Tuan Markus. "Gara-gara alatnya, pemerintah segel sumur kita! Sekarang kita tidak punya air sama sekali!"

Sarah berdiri di depan pintu balai desa, mencoba menahan emosi warga. "Jonatan sedang mencari solusi! Tolong bersabar, ini semua adalah jebakan Tirta Abadi agar kita menyerah!"

"Sabar tidak bisa diminum, Nona!" sahut seorang ibu sambil mengangkat jerigen kosongnya. "Kalau besok pagi kran tidak nyala, kami sendiri yang akan bongkar panel itu dan kasih ke Tuan Markus supaya dia mau kasih kita air lagi!"

Sarah merasa hatinya hancur. Ia melihat bagaimana perjuangan berbulan-bulan bisa runtuh hanya dalam satu malam oleh rasa haus dan fitnah. Ia terus melirik jam tangannya, berdoa agar Jonatan berhasil dengan rencana gilanya di dalam gua.

Di kedalaman gua, Jonatan sedang bertarung dengan teknis. Pompa rendamnya sempat macet karena tersumbat sedimen halus. Ia harus menyelam ke dalam air yang sedingin es untuk membersihkan katupnya. Saat kepalanya muncul ke permukaan, ia terengah-engah, bibirnya membiru karena hipotermia yang mulai menyerang.

"Jon! Cepat! Fajar sudah mau pecah!" teriak Matheus dari ujung lorong tempat ia menarik selang.

"Tunggu... satu sambungan lagi..." tangan Jonatan yang gemetar berusaha menyolder kabel sensor. Ia menggunakan korek api gas untuk memanaskan timah, sebuah cara darurat yang sangat berisiko di lingkungan lembap.

Klik. Lampu indikator pada modul kontroler darurat itu menyala hijau.

"Nyalakan kompresornya, Theus!"

Suara desis udara mulai terdengar, mendorong air masuk ke dalam selang-selang fleksibel yang mereka selipkan lewat celah-celah batu karst menuju jalur pipa distribusi desa yang tidak tersegel. Jonatan menggunakan prinsip tekanan diferensial—hukum alam yang tidak membutuhkan izin dari Dinas Lingkungan Hidup.

Saat cahaya matahari pertama mulai menyentuh puncak-puncak pohon asam di Oetimu, warga yang sudah berkumpul di depan kran komunal dengan wajah penuh amarah tiba-tiba terdiam. Sebuah suara desis udara terdengar dari dalam pipa besi.

Gluk... gluk... srrrtttt!

Air bening menyembur keluar. Awalnya kecokelatan karena membawa karat lama, namun perlahan berubah menjadi sejernih kristal. Satu kran terbuka, lalu kran lainnya di ujung desa ikut mengalirkan air.

Warga yang tadi berteriak caci maki mendadak lunglai. Mereka menjatuhkan jerigen mereka, berebut membasuh wajah dan meminum air itu langsung dari kran. Sarah, yang hampir menangis karena lega, melihat dari kejauhan dua sosok berlumpur keluar dari semak-semak di belakang gua. Jonatan dan Matheus berjalan terhuyung-huyung, tubuh mereka penuh luka gores dan lumpur hitam, namun mata mereka menyala.

Petugas Satpol PP yang berjaga di atas bukit tampak bingung. Mereka melihat segel kuning mereka masih utuh di pompa utama, namun air di bawah mengalir deras. Mereka berlari ke sana kemari, mencoba mencari dari mana asal air itu, namun Jonatan sudah menanam pipanya terlalu dalam dan rahasia.

Tuan Markus, yang menyaksikan kejadian itu dari balkon rumahnya lewat teropong, membanting gelas kopinya hingga hancur. "Bagaimana mungkin?! Aku sudah kunci semua pintunya!"

Jonatan berjalan melewati kerumunan warga yang kini menatapnya dengan rasa bersalah yang amat dalam. Ia tidak berkata apa-apa. Ia terus berjalan menuju kran utama, mengambil air dengan tangannya, dan meminumnya perlahan.

"Jon..." Pak Berto mendekati anaknya, air mata mengalir di pipi keriputnya. "Maafkan kami, Jon. Kami orang-orang bodoh yang mudah ditipu."

Jonatan menyeka mulutnya, lalu menatap seluruh warga desa. "Air ini bukan dari mesin yang mereka segel. Air ini dari jantung tanah kita sendiri. Mereka bisa segel besi, mereka bisa segel pipa, tapi mereka tidak bisa segel berkah Tuhan yang ada di bawah kaki kita."

Ia menoleh ke arah petugas Satpol PP yang mendekat dengan wajah garang. "Bapak-bapak mau segel apa lagi? Silakan masuk ke dalam gua Nekmese jika berani. Tapi saya peringatkan, di sana tidak ada pasal hukum, yang ada hanya keadilan alam."

Petugas itu terhenti. Mereka tahu tentang legenda gua itu, dan melihat Jonatan yang tampak seperti hantu lumpur dengan tatapan mata yang begitu tajam, keberanian mereka menciut.

Namun, Jonatan tahu ini hanyalah kemenangan kecil. Segel kuning itu masih ada, dan PT Tirta Abadi pasti akan mengirimkan pasukan yang lebih besar. Ia menoleh ke arah Sarah dan membisikkan sesuatu.

"Sar, panggil wartawan dari Surabaya. Sekarang. Jangan cuma media lokal yang bisa disuap Markus. Kita harus buat gua ini menjadi kawasan cagar budaya nasional sebelum mereka sempat menemboknya dengan semen."

Bab 32 ditutup dengan pemandangan desa Oetimu yang kembali hidup, namun dengan ketegangan baru yang menggantung di udara. Jonatan telah menemukan "jalur bawah tanah" untuk rakyatnya, namun ia juga telah membuka pintu bagi konflik yang lebih besar: perang memperebutkan rahasia kuno Gua Nekmese.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!