NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Malam kian larut. Angin semakin dingin menusuk kulit. Nyi Lestari telah pulang ke rumah, berjanji akan kembali esok pagi membawa makanan. Tinggallah mereka di bawah langit gelap yang hanya ditemani bintang dan dengung nyamuk hutan.

Tak lama kemudian, Ki Baraya yang sempat beristirahat membuka mata. Dengan satu gerakan ringan, ia berkelebat turun dari dahan pohon sawo. Jubahnya berkibar pelan saat ia mendarat.

“Behahaha! Bagaimana, para calon pendekar? Apakah kalian menikmati pelatihan ini?” tanyanya riang, seolah yang terjadi hanyalah permainan kecil.

“Ayaah… badanku gatal sekali… tolong lepaskan aku. Aku tak kuat lagi… atau setidaknya garukkan punggungku, Yah…” keluh Laras yang kini benar-benar hampir menangis.

Ki Baraya menatap putrinya dengan sorot mata lembut, meski wajahnya tetap tegas.

“Sabar, Laras. Ini baru seperempat perjalanan. Sebenarnya Ayah pun tak tega melihatmu begini. Tapi sudah terlanjur dimulai. Kau harus menuntaskan laku ini. Ayah yakin kau bisa.”

Lalu pandangannya beralih pada Braja.

“Hehe… bagaimana, Braja? Sudah menyesal ikut latihan ini? Ayah tahu kau pasti mencoba mempergunakan ilmumu. Tapi kau tak akan mampu. Ini bukan totokan biasa. Ini adalah Ajian Totok Dewa Petir… sebuah ajian langka yang hanya diwariskan di padepokan guruku.”

Braja terdiam, matanya membulat tipis.

“Aku tak menyangka Ayah memiliki ilmu sedahsyat itu. Tapi… apakah kemampuanku telah hilang?” tanyanya hati-hati.

“Tidak,” jawab Ki Baraya tenang. “Kemampuanmu hanya terkunci. Begitu totokan ini Ayah buka, ilmumu akan kembali seperti sediakala.”

Braja menghembuskan napas lega, meski tubuhnya tetap diliputi gatal luar biasa.

Di antara mereka bertiga, yang paling mengenaskan adalah Jatisangkar. Wajahnya hampir tak berbentuk lagi. Bentol-bentol memenuhi pipi, dahi, bahkan kelopak matanya. Ia tampak seperti habis dihajar gerombolan lebah.

Ki Baraya memandangnya sambil mengangkat alis.

“Astaga naga… siluman apa ini yang berdiri di hadapanku?” ledeknya.

“Jangan menambah penderitaanku, Yah! Hancur sudah wajahku ini! Ayah memang kejam…” geram Jatisangkar dengan suara sengau karena bibirnya ikut membengkak.

“Behahaha! Sabar, Nak. Penderitaanmu akan terbayar dengan sesuatu yang istimewa.”

“Ya, setelah ini aku yakin akan punya Ajian Bentol Sejagat! Horeee…” balas Jatisangkar sarkastik.

Ki Baraya menyipitkan mata.

“Hm… kau merajuk? Mau Ayah tambah sehari lagi?”

Wajah Jatisangkar yang sudah bengkak itu langsung makin pucat.

“Oh jangan, Yah! Jangan! Ampun!” serunya panik.

Ki Baraya kembali tergelak panjang, suaranya menggema di tengah malam.

Namun di balik tawanya, matanya sesekali mengamati napas ketiga anak itu… memperhatikan aliran tenaga mereka… menunggu sesuatu mulai bangkit dari dalam.

Pagi pun tiba.

Sinar matahari yang hangat perlahan menyentuh tubuh mereka yang masih dipenuhi bentol. Kulit yang semalam merah dan bengkak kini tampak kusam kelelahan.

Tak lama kemudian, Nyi Lestari datang membawa makanan serta ramuan dedaunan yang telah dipesankan Ki Baraya sebelumnya. Dengan penuh kelembutan, ia mengoleskan ramuan itu ke seluruh tubuh anak-anaknya satu per satu.

Ramuan itu terasa sejuk begitu menyentuh kulit.

Perlahan… rasa gatal mereda.

Bentol-bentol yang semalam memenuhi wajah dan tubuh mereka mulai menyusut. Napas mereka pun menjadi lebih teratur.

Namun ujian belum selesai.

Menjelang siang, langit mendadak menggelap. Awan hitam berkumpul, lalu hujan deras turun tanpa ampun. Tubuh mereka yang masih kaku tak mampu menghindar. Air hujan mengguyur tanpa henti. Pakaian mereka basah kuyup. Angin berembus kencang membuat tubuh mereka menggigil hebat.

Gigi bergemeletuk.

Kepala pening.

Tubuh terasa seperti direndam dalam sungai es.

Ki Baraya tetap memantau dari kejauhan. Tatapannya tajam, tak pernah lepas dari ketiga anak itu.

Laku ini memang berat.

Setelah hujan reda, ujian lain datang.

Matahari muncul tanpa belas kasihan. Panasnya menyengat, membakar kulit yang masih sensitif. Uap air dari tanah naik, membuat udara terasa pengap dan menyesakkan.

“Huaaaahhh… Ayaaaah… panaaas… Yah… aku tak kuat lagi…” teriak Jatisangkar dengan suara serak.

Laras dan Braja pun tampak kepayahan. Wajah mereka pucat, napas tersengal-sengal. Beberapa kali terdengar erangan tertahan dari ketiganya.

Namun Ki Baraya tetap berdiam diri.

Ia memejamkan mata sesaat, menekan rasa iba yang berusaha muncul di dadanya.

Sore pun datang kembali.

Mereka tahu pasti apa yang akan menyusul. Malam. Dan ribuan nyamuk hutan.

Namun kali ini mereka tak lagi mengeluh. Tubuh mereka terlalu lemah. Untuk bersuara saja hampir tak mampu.

Gelap kembali meliputi.

Dengung nyamuk mulai terdengar.

Semakin lama semakin ramai.

Ribuan nyamuk datang, mengerubungi tubuh mereka seperti awan hitam yang hidup. Sayap-sayap kecil itu bergetar di sekitar wajah, tangan, dan kaki mereka.

Namun…

Aneh.

Tak ada rasa perih.

Tak ada tusukan.

Tak ada gatal.

Nyamuk-nyamuk itu hinggap, mencoba menusukkan belalainya… tapi seolah menabrak dinding tak kasat mata.

Kulit mereka terasa berbeda.

Keras.

Padat.

Bagai batu.

Ribuan nyamuk itu terus mencoba, namun tak satu pun berhasil menembus kulit mereka. Akhirnya, satu demi satu mulai menjauh.

Dengung perlahan mereda.

Hingga malam kembali sunyi.

Di bawah cahaya rembulan yang pucat, tubuh ketiga bocah itu tetap berdiri kaku… namun kini memancarkan aura berbeda.

Tanpa mereka sadari, sesuatu dalam diri mereka telah bangkit.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!