NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Di dalam mobil sport mewah milik Awan, udara terasa sangat mencekam. Hanya ada suara deru mesin yang halus dan denting notifikasi dari ponsel Celine yang tak henti-hentinya berbunyi. Awan mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya masih tertinggal di kamar 402, pada wajah pucat Hero yang seolah sudah menyerah pada takdir.

Celine, yang sama sekali tidak memiliki empati, terus menggeser layar ponselnya. Ia menyodorkan katalog tas Hermès edisi terbaru ke depan wajah Awan yang sedang fokus menatap jalanan Jakarta yang padat.

"Awan, liat deh! Warna mauve ini bagus banget kan? Cocok banget kalau aku pakai buat arisan bareng temen-temen besok. Kamu belum transfer bulanan aku lho, ini kan udah lewat tanggal lima," rengek Celine dengan nada manja yang biasanya berhasil meluluhkan pria, tapi tidak hari ini.

Awan hanya diam, rahangnya mengeras. Fokusnya terbagi antara kemacetan di depan mata dan kalimat titipan Hero yang terus berdengung di telinganya.

"Awan! Kamu denger nggak sih?" Celine mulai kesal karena diabaikan. Ia melipat tangannya di depan dada, bibirnya mengerucut. "Kamu berubah banget tahu nggak hari ini. Kenapa sih? Masih mikirin tagihan rumah sakit itu?"

Awan masih bergeming, membuat Celine kehilangan kesabaran. Perempuan itu mendengus kasar dan mengeluarkan kalimat yang paling tidak ingin didengar Awan.

"Ini pasti gara-gara Hero kan? Kamu sibuk bayarin pengobatan dia yang mahal itu, terus sekarang kamu nyuekin aku dan pelit sama aku, ya kan?! Lagian dia itu udah parah, Wan. Mau dibayar semahal apa pun, kalau udah kanker ya—"

CIIIITT!!

Ban mobil berdecit keras di aspal saat Awan menginjak rem secara mendadak. Tubuh Celine terdorong ke depan, hampir saja wajahnya membentur dasbor kalau bukan karena sabuk pengaman.

"Turun!" suara Awan rendah, namun penuh penekanan yang mematikan.

Celine terbelalak. Ia menoleh ke arah Awan dengan tatapan tidak percaya. "Ha? Apa sih Awan?? Kok kamu... Kamu mau nurunin aku di pinggir jalan gini? Ini panas banget, Wan!"

Awan menoleh perlahan. Matanya yang tajam dan sedingin es menatap langsung ke manik mata Celine. Tidak ada cinta di sana, hanya ada kemarahan yang tertahan. "Gue bilang turun!! Sekarang!"

Bentakan itu menggelegar di dalam ruang mobil yang sempit. Celine gemetar. Ia tahu jika Awan sudah menggunakan kata 'Gue' dan membentak, itu artinya kesabarannya sudah habis. Dengan wajah merah padam karena malu dan marah, Celine menyambar tasnya dan keluar dari mobil. Begitu pintu tertutup, Awan langsung menginjak gas, meninggalkan Celine yang berteriak histeris di pinggir jalan.

Setibanya di kantor, Awan tidak langsung bekerja. Ia duduk di kursi kebesarannya, menatap pemandangan gedung pencakar langit dari balik kaca besar di ruangannya. Bayangan masa kecil mereka berdua melintas. Hero yang selalu melindunginya, Hero yang selalu memberikan mainan terbaik untuknya, dan kini Hero yang tergeletak tak berdaya.

Awan memijat pangkal hidungnya. Kalimat "Gue titip Jasmine ya" terasa seperti beban ribuan ton yang diletakkan di pundaknya.

"Nggak," gumam Awan pada dirinya sendiri. "Hero pasti sembuh. Dia yang harus jagain Jasmine sama anaknya, bukan gue."

Awan sangat mengenal dirinya sendiri. Ia pria yang kaku, tidak sabaran, dan kasar. Ia tidak punya kelembutan seperti Hero. Membayangkan dirinya harus mengurus Jasmine—perempuan yang selalu tampak rapuh dan mudah menangis itu—membuat Awan merasa frustrasi. Ia merasa tidak layak dan tidak mau memikul tanggung jawab yang seharusnya menjadi milik kembarannya.

"Lo harus sehat, Hero. Jangan jadi pengecut dengan nitipin istri lo ke orang kayak gue," bisiknya pelan pada keheningan ruangan.

Di sisi lain kota, di dalam keheningan rumah sakit yang hanya dihiasi suara mesin bedside monitor, Hero sedang menggenggam tangan Jasmine dengan sisa tenaga yang ia miliki. Cahaya sore yang masuk lewat jendela memberikan bayangan jingga di wajah mereka yang letih.

"Jas," panggil Hero. Suaranya serak, namun tetap lembut seperti biasanya.

Jasmine menoleh, mencoba memberikan senyum terbaiknya meski hatinya hancur. "Ya, Mas? Kamu butuh sesuatu? Mau minum?"

Hero menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam, seolah ingin merekam setiap inci wajah Jasmine dalam ingatannya.

"Kamu harus janji sama aku satu hal," ucap Hero. "Apa pun yang terjadi nanti, kamu harus kuat. Kamu nggak boleh menyerah demi anak kita."

Mata Jasmine mulai berkaca-kaca. "Mas, jangan mulai lagi..."

"Dengerin aku dulu, Sayang," potong Hero dengan lembut. "Awan... dia memang terlihat keras dari luar. Dia judes, dia kaku, dan mungkin dia sering bikin orang sakit hati sama omongannya. Tapi aku kenal dia. Dia punya hati yang paling tulus kalau sudah menyayangi seseorang. Nanti ada Awan yang akan jagain kamu. Dia bakal gantiin posisi aku buat lindungin kamu dan bayi kita."

Hati Jasmine mencelos. Rasanya seperti ada petir di siang bolong. Ia melepaskan genggaman tangan Hero secara perlahan, wajahnya berubah pucat.

"Maksud Mas apa sih? Nggak usah ngomong aneh-aneh. Aku nggak mau denger apapun!" Jasmine berdiri dari kursinya, napasnya memburu. "Mas bakal sembuh! Mas bakal liat anak kita lahir, kita bakal gendong dia bareng-bareng. Jangan pernah sebut nama Kak Awan seolah-olah dia bakal gantiin posisi Mas!"

Jasmine mulai terisak. Ketakutan terbesarnya adalah kehilangan Hero, dan mendengar Hero sendiri yang membicarakan kematian seolah itu adalah rencana yang sudah matang membuat Jasmine merasa sesak.

"Jas, aku cuma mau kamu aman—"

"Aku nggak akan merasa aman kalau bukan sama kamu, Mas!" Jasmine memotong dengan suara bergetar. "Kak Awan itu orangnya dingin. Dia nggak pernah suka sama aku, dia selalu menganggap aku beban. Dan Celine? Kamu tahu sendiri dia benci aku. Jadi tolong... jangan pernah titip aku ke siapa pun. Mas harus berjuang buat kita sendiri."

Hero hanya bisa terdiam, melihat istrinya yang hancur di depan matanya. Ia ingin memeluk Jasmine, namun tubuhnya terlalu lemah bahkan hanya untuk bangkit dari ranjang. Di dalam hatinya, Hero terus berdoa agar Awan benar-benar bisa memenuhi janji yang ia minta, karena Hero tahu, waktu yang ia miliki tidak lebih dari hitungan hari.

Sementara itu, Celine yang ditinggalkan di pinggir jalan tadi akhirnya sampai di apartemennya dengan taksi. Wajahnya semrawut, maskaranya luntur karena menangis kesal. Ia membanting tasnya ke sofa.

"Sialan! Semua gara-gara perempuan itu dan suaminya yang sekarat!" teriak Celine.

Ia mengambil ponselnya, menatap foto Awan dan Hero. Celine tahu, jika Hero meninggal, seluruh perhatian dan harta Awan mungkin akan teralih untuk mengurus Jasmine dan bayinya. Sebagai perempuan yang haus materi, Celine tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia harus mencari cara agar Awan tetap berada di bawah kendalinya, atau setidaknya memastikan Jasmine tidak mendapatkan tempat di hidup Awan.

"Kita liat aja nanti, Jasmine. Lo boleh punya Hero sekarang, tapi jangan harap lo bisa ambil Awan dari gue," gumam Celine dengan senyum licik yang menyembunyikan rencana busuk di kepalanya.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!